MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

TINJAUAN KUALITAS PENDUDUK




I.       PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
            Penduduk dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi penduduk yang besar dan berkualitas akan menjadi asset yang sangat bermanfaat bagi pembangunan, namun sebaliknya penduduk yang besar akan tapi rendah kualitasnya justru akan menjadi beban yang berat bagi pembangunan.
            Berbagai bukti empiris menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan bukan oleh sumber daya alamnya. Sementara kualitas penduduk Indonesia masih memprihatinkan.
Kriteria kualitas penduduk secara internasional ditetapkan oleh organisasi United Nations Development Programme (UNDP). Organiasi ini setiap tahun mengumumkan Negara-negara menurut peringkat Human Development Index (HDI)-nya. Pada tahun 2004, peringkat Indonesia menurut UNDP hanya menduduki urutan ke 111 dari 175 negara. Sementara negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina di peringkat yang lebih tinggi. Singapura, menempati peringkat 25, Brunei Darussalam menduduki peringkat 33, Malaysia di peringkat 58, Thailand dan Filipina yang tujuh tahun lalu sama-sama mengalami krisis ekonomi di peringkat 76 dan 83.
            Human Development index adalah angka yang diolah berdasarkan tiga dimensi, yaitu angka harapan hidup atau panjang usia penduduknay, pengetahuannya, dan standar hidup suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa indicator, yaitu kesehatan dan kependudukan, pendidikan, serta ekonomi.
1.      Kesehatan penduduk dapat dilihat dari angka kematian bayi, angka kematian balita, dan usia harapan hidup penduduk.
2.      Kriteria tingkat pengetahuan dilihat dari tingkat pendidikannya, angka melek huruf (literacy rate), lama mengikuti berpendidikan formal, dan angka partisipasi pendidikan (enrolment ratio).
3.      Indikator standar hidup dilihat dari tingkat ekonominya seperti indeks kemiskinan (poverty index) dan daya beli masyarakatnya.

Negara-negara dengan HDI yang tinggi menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Sebaliknya, negara yang HDInya rendah menunjukkan ketidakberhasilan pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi suatu negara.

II.    PEMBAHASAN

II.1. Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia
            Kualitas sumber daya manusia adalah kemampuan manusia untuk dapat memenuhi kehidupan secara layak, baik perorangan maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam cakupan yang lebih luas, kualitas sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Kualitas sumber daya manusia dapat diperhatikan dari beberapa factor, antara lain :
a.       Tingkat pendidikan baik formal maupun nonformal.
b.      Tingkat Kesehatan, dan
c.       Mata Pencarian

Namun, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia masih mengalami beberapa hambatan.
a.       Masalah Kependudukan Indonesia
Setiap negara memiliki masalah kependudukan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing. Pada umumnya terdapat perbedaan mencolok antara masalah kependudukan yang dihadapi kelompok negara maju dan masalah kependudukan yang dihadapi negara sedang berkembang.
Masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia yaitu tingkat pertumbuhan penduduk tinggi, persebaran penduduk tidak merata, kualitas penduduk masih rendah, dan beban tanggungan tinggi.

b.      Upaya Penanggulangan Masalah Kependudukan
Perhatian pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya menanggulangi masalah kependudukan. Berbagai program terus dikembangkan dan ditingkatkan pelaksanaannya untuk menekan sekecil mungkin masalah yang dihadapi. Adapun bentuk upaya yang dilaksanakan pemerintah, antara lain sebagai berikut :
1)      Melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) yang menitikberatkan pada norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) dengan pola caturwarga (ayah, ibu, dan dua orang anak);
2)      Meningkatkan pelaksanaan program transmigrasi;
3)      Meningkatkan produksi pertanian melalui program ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian;
4)      Meningkatkan pembangunan industri, terutama industri yang banyak menyerap tenaga kerja (padat karya)’
5)      Menyebarluaskan pendidikan kependudukan  ke berbagai jenjang tingkat pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan kependudukan.

II.2.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.
            Setiap negara memiliki kualitas atau mutu sumber daya manusia (SDM) yang berbeda. Kualitas penduduk di negara maju pada umumnya lebih baik dibandingkan di negara berkembang. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penting yang menentukan tinggi-rendah kualitas sumber daya manusia, antara lain tingkat pendidikan, kesehatan, pendapatan penduduk, dan kesempatan kerja. Tingkat kesejahteraan dan kemakmuran penduduk di negara maju pada umumnya lebih tinggi daripada di negara berkembang karena mereka memiliki kualitas SDM yang lebih baik.

A.    Bidang Pendidikan
Walaupun sudah lebih dari 90 persen anak-anak Indonesia mengenyam tingkat pendidikan dasar 6 tahun tapi yang bias melanjutkan pendidikannya ke sekolah lanjutan pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi sangat sedikit. Hambatan utama yang dihadapi adalah kemiskinan. Walaupun pemerintah sudah memberlakukan wajib belajar 9 tahun dan membebaskan uang sekolah serta memberi berbagai kemudahan dan beasiswa, tapi kemiskinan membuat banyak keluarga memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya lebih lanjut. Hal ini dapat dipahami mengingat sekolah tidak hanya bayar uang sekolah tapi juga membeli seragam, biaya transport, uang jajan dan pungutan sekolah.
Rendahnya tingkat pendidikan dan kualitas pendidikan orang-orang Indonesia membuat mereka tak bias bersaing di bursa tenaga kerja local dan internasional. Walaupun Indonesia sudah mekmpunyai lebih dari 2800 perguruan tinggi (hanya 82 perguruan tinggi negeri) dan meluluskan ribuan sarjana tapi karena kualitasnya kurang memadai sehinga banyak sarjana yang menganggur. Saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 40 ribu sarjana yang menganggur atau pengangguran terselubung. Sebuah survey internasional baru-baru ini menunjukkan bahwa peringkat Universitas Indonesia menurun menjadi ke urutan 250 diantara 8000 universitas terkemuka di dunia. Tingkat ini berasa di bawah ITB dan UGM. Kualitas perguruan tinggi lainnya di Indonesia tentu lebih rendah. Jadi tidak heran banyak keluarga yang menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi di luar negeri. Ini suatu pemborosan yang nyata dalam pendidikan. Dalam kancah internasional, rendahnya pendidikan dan kualitas tenaga kerja Indonesia hanya laku sebagai pembantu rumah tangga di negara-negara lain. Ini tentu saja mengurangi citra dan martabat Indonesia di negara-negara tujuan tempat orang-orang Indonesia bekerja.

Untuk mengatasi rendahnya tingkat pendidikan, pemerintah terus berupaya melaksanakan program-program yang dapat meningkatkan tingkat pendidikan, antara lain sebagai berikut :
a.       Pemerataan kesempatan pendidikan yaitu berusaha agar setiap warga negara memperoleh pendidikan, minimal 9 tahun (Program Wajib Belajar 9 tahun), mengikis buta huruf, dan bagi mereka yang tidak sempat mengikuti pendidikan di sekolahan, maka dianjurkan untuk mengikuti program Paket A (setingkat SD), Paket B (Setingkat SMP), dan Paket C (Setingkat SMA).
b.      Peningkatan relevansi dan kualitas pendidikan. Bentuk usaha pemerintah dalam meningkatkan relevansi pendidikan yaitu dengan cara menyelenggarakan sekolah kejuruan (SMK) dan berombak kurikulum lama menjadi kurikulum berbasis kompetensi. Adapun program peningkatan mutu pendidikan yaitu dengan cara menyediakan sumber belajar yang baik, buku paket yang baik, alat peraga, laboratorium, ruang kelas yang nyaman, dan lain-lain.
c.       Peningkatan kualitas manajemen pendidikan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas manajemen pendidikan yaitu dengan cara otonomi pendidikan. Warga sekolah (guru-guru), bersama masyarakat dan orang tua murid bersama-sama bergabung dalam wadah Komite Sekolah.

Berdasarkan tingkat pendidikan, kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah. Hampir 50% angkatan kerja di Indonesia pada 1990 berpendidikan SD (sekolah dasar) dan buta huruf. Adapun penduduk yang memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi hanya 4%.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan sumber daya manusia Indonesia, antara lain sebagai berikut :
a.       Tingkat pendapatan penduduk rendah sehingga agak sulit untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang pendidikan tinggi;
b.      Biaya pendidikan relative mahal;
c.       Kesempatan sekolah bagi anak (terutama di pedesaan) rendah karena harus membantu orang tua mencari nafkah;
d.      Kesadaran masyarakat (terutama yang tinggal di desa) tentang pentingnya pendidikan bagi anak masih rendah;
e.       Jumlah fasilitas pendidikan masih sangat kurang dibandingkan penduduk Indonesia usia sekolah, seperti gedung sekolah, tenaga guru, dan alat-alat pengajaran.

Untuk mengatasi rendahnya tingkat pendidikan, pemerintah terus berupaya melaksanakan program-program yang dapat meningkatkan tingkat pendidikan, antara lain sebagai berikut :
a.       Meningkatkan pembangunan sarana pendidikan, seperti gedung sekolah, laboratorium, buku-buku pelajaran, alat peraga, dan penataran-penataran yang meningkatkan profesi kependidikan;
b.       Mengeluarkan Undang-Undang nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
c.       Meningkatkan dan memperbarui bobot kurikulum di setiap jenjang tingkatan pendidikan;
d.       Menggalakkan program wajib belajar 9 tahun bagi anak-anak berusia di atas 7 tahun dan pada jalur pendidikan luar sekolah dilakukan melalui program paket A (setara SD) dan paket B (setara SLTP);
e.       Program pembebasan uang sekolah (SPP) di tingkat SD sampai SLTP;
f.        Menggalakkan program SLTP terbuka di beberapa daerah untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak yang tidak tertampung di sekolah umum;
g.       Memberikan beasiswa bagi anak-anak sekolah berprestasi atau kurang mampu;
h.       Mengadakan ujian persamaan di tingkat sekolah dasar dan lanjutan.

B.     Bidang Kesehatan
Rendahnya tingkat kesehatan orang Indonesia bias dilihat dari tingginya angka kematian bayi dan tingkat kematian ibu melahirkan, keadan gizi masyarakat yang rendah, dan banyaknya orang-orang berpenyakit berat, seperti ginjal, penyakit gula, tekanan darah tinggi, HIV / AIDS, TBC, malaria serta penyakit menular berbahaya lainnya. Angka kematian bayi. Indonesia adalah 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Dalam hal kesehatan reproduksi ibu Indonesia keadaannya jauh lebih memuaskan. Tingkat kematian ibu melahirkan masih sangat tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) dan keadaan ini juga sangat memprihatinkan. Kedua hal tersebut termasuk yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Keadaan gizi masyarakat juga buruk. Banyak anak-anak yang menderita kekurangan gizi. Keadaan ini tentu berpengaruh kepada masa depan anak-anak itu sehingga mereka tidak tumbuh dan berkembang baik serta daya berpikirnya juga kurang. Ini semua akan mempengaruhi tingkat pendidikan manusia Indonesia. Sementara itu penularan HIV / AIDS di Indonesia makin meningkat khususnya di antara pengguna narkoba jarum suntik. Keadaan ini sudah pada tingkat waspada dan Indonesia diharapkan masih dapat mengendalikan persebarannya.
Bangsa Indonesia sedang “berperang” melawan tantangan gejala kekurangan gizi (Gizi Buruk) bagi anak-anak dan memperbaiki kesehatan ibu. Selain itu, itu juga sedang dihadapkan pada pencegahan virus polio dan campak. Karena itu baru-baru ini kita melaksanakan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang menunjukkan kemajuan sejak 1990-an yaitu ketika jumlah anak usia 12 – 23 bulan mendapat imunisasi campak mencapai 72 persen.
Buruknya kesehatan masyarakat Indonesia tidak terlepas dari keadaan ekonomi masyarakat. Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan naik dengan tajam, sehingga pelayanan kesehatan tidak lagi mampu dijangkau. Artinya, ketika sakit mereka tidak berobat ke puskesmas atau rumah sakit karena tidak memiliki biaya untuk berobat. Karena itu, sejak tahun 1998, jaringan pengaman sosial (JPS) bagi kesehatan disiapkan untuk mengatasi masalah pelayanan kesehatan terutama bagi fakir miskin. Data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2001 menunjukkan bahwa 32% dari penduduk berada di bawah garis kemiskinan dan 57% tinggal di daerah pedesaan.
Upaya pemerintah lainnya untuk melindungi kesehatan masyarakat adalah dikeluarkannya program-program jaminan pemeliharaan kesehatan seperti :
a.       Pemerintah bagi pengawal negeri (Askes)
b.      Asuransi kesehatan bagi buruh (Astek)
c.       Asuransi perusahaan
d.      Asuransi kesehatan lainnya (asuransi swasta)
e.       Program jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh masyarakat (Dana Sehat)
f.        Kartu sehat bagi fakir miskin.
g.      Program jaminan pemeliharaan kesehatan oleh pemerintah bagi nonpegawai negeri.

C.    Tingkat Pendapatan
            Kualitas sumber daya manusia berdasarkan tingkat pendapatan dapat diketahui dari rata-rata pendapatan enduduk di dalam suatu negara pertahun. Rata-rata pendapatan penduduk dinamakan pendapatan per kapita (per capita income).
            Berdasarkan tingkat pendapatan, penduduk Indonesia termasuk rendah dibandingkan negara maju. Akan tetapi, hal ini lebih tinggi dibandingkan kelompok negara miskin. Menurut perkiraan para ahli ekonomi, penghasilan rata-rata penduduk Indonesia pada 1998 mencapa 640 dolar amerika per tahun.
            Upaya pemerintah  Indonesia dalam meningkatkan pendapatan penduduk, antara lain sebagai berikut :
a.       Memberikan bantuan modal usaha dengan dalam bentuk kredit kepada masyarakat;
b.      Memberikan bantuan bagi desa-desa tertinggal, baik dalam bentuk subsidi maupun inpres desa tertinggal (IDT).
c.       Meningkatkan dan memperluas lapangan kerja melalui berbagai sector usaha, seperti industri, pertambangan, pertanian, dan perikanan;
d.      Meningkatkan pendidikan kejuruan, baik melalui lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

D.    Mata Pencaharian
Lebih dari 50% penduduk Indonesia bekerja pada sector pertanian yang tingkat penghasilannya masih rendah, karena sebagian besar merupakan pekerja penggarap, bukan pemilik yang sekaligus mengolah lahan pertanian sendiri. Sebaliknya, penduduk yang bekerja di bidang indurstri dan jasa (perdagangan dan perbankan) masih relatif kecil. Akibatnya walaupun sebagian besar penduduk memiliki mata pencarian di bidang pertanian, tingkat kesejahteraannya masih rendah bila dibandingkan dengan penduduk yang bekerja di sektor industri dan jasa.
Disamping itu, stiap tahun angkatan kerja yang belum mendapat pekerjaan terus bertambah jumlahnya terutama di kota-kota besar, sebab lapangan kerja yang tersedia sangat terbatas daya serapnya. Oleh karena itu, pemerintah berupaya dalam menanggulangi masalah yang berkaitan dengan mata pencarian ini, antara lain sebagai berikut :
a.       Meningkatkan dan menyebarluaskan pelayanan lembaga pendidikan keterampilan seperti Balai Latihan Kerja (BLK), baik keterampilan pertanian maupun yang lainnya;
b.      Memperluas lapangan kerja baru di sektor industri, pertanian, maupun sektor-sektor lainnya;
c.       Memberikan kesempatan bagi pencari kerja yang mempunyai keahlian tertentu untuk bekerja di luar negeri;
d.      Meningkatkan pendidikan dan semangat kewirausahaan agar tidak bergantung pada pemerintah, seperti mejadi pegawain negeri;
e.       Memberikan berbagai macam kredit usaha, baik melalui bank pemerintah maupun bank swasta.

Mata pencarian penduduk Indonesia
Jenis Pekerjaan
Jumlah Penduduk (%)
1990
1988
Pertanian
Perdagangan dan jasa
Industri
Lain-lain
53,9
24,7
10,1
11,3
43,0
40,0
17,0
-
Jumlah
100,0
100,0




III.       PENUTUP

III. 1. Kesimpulan
            Kualitas penduduk adalah kemampuan manusia untuk dapat memenuhi kehidupan secara layak, baik perorangan maupun sebagai anggota masyarakat.
            Maju mundurnya sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kualitas penduduk. Di negara kita banyak rakyat yang miskin dan pengangguran, salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas penduduk di pengaruhi oleh beberapa faktor penting antara lain tingkat pendidikan, kesehatan, pendapatan penduduk, dan kesempatan kerja.
            Manusia yang berkualitas unggul akan mampu bersaing dengan orang lain dan biasanya mereka akan lebih sejahtera, lebih sehat, dan memiliki pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan yang memadai.






Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>