MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

PENATALAKSANAAN DIABETES MELITUS




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Istilah Diabetes Melitus diperoleh dari bahasa latin yang berasal dari kata Yunani, yaitu Diabetes yang berarti pancuran dan Melitus yang berarti madu. Jika diterjemahkan, Diabetes Melitus adalah pancuran madu. Istilah pancuran madu berkaitan dengan kondisi penderita yang mengeluarkan sejumlah besar urin dengan kadar gula yang tinggi. (Wijayakusuma, 2004)
Diabetes (kencing manis) adalah penyakit dimana tubuh penderitannya tidak bisa mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Jadi penderita mengalami gangguan metabolisme dari distribusi gula oleh tubuh sehingga tubuh tidak bisa memproduksi insulin secara efektif. Akibatnya, terjadi kelebihan gula di dalam darah sehingga menjadi racun bagi tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan dalam darah tersebut melimpah ke sistem urin.
Ditinjau dari segi ilmiah, Diabetes Melitus merupakan penyakit kelainan metabolik glukosa (molekul gula paling sederhana yang merupakan hasil pemecahan karbohidrat) akibat defisiensi atau penurunan efektifitas insulin. Kurangnya sekresi insulin menyebabkan kadar glukosa darah meningkat dan melebihi batas normal jumlah glukosa yang seharusnya ada dalam darah. Kelebihan gula dalam darah tersebut dibuang melalui urin.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Dapat melakukan penatalaksaan manajemen keperawatan pada kasus DM (Diabetes Mellitus) di RSU Iskandar Muda TNI AD Kabupaten Aceh Utara.

2.      Tujuan Khusus
a.       Dapat melakukan pengkajian pada Pris yang mengalami Diabetes Mellitus.
b.      Dapat membuat Diagnosa dan masalah kebutuhan berdasarkan pengkajian data.
c.       Dapat mengidentifikasikan diagnosa dan masalah potensial yang kemungkinan akan terjadi.
d.      Dapat melakukan penatalaksaan asuhan kebidanan pada kasus Penyakit Diabetes Mellitus.

C.    Manfaat
Dengan terselesaikannya makalah tentang Diabetes Mellitus mampu memberikan manfaat bagi pembaca semuanya.
1.      Manfaat untuk penulis : Untuk menambahkan wawasan / pengetahuan dan menulis makalah ini dan bisa mengarahkan pembaca bahwasanya kesehatan itu sangatlah penting.
2.      Untuk Instansi Pendidikan : sebagai bahan masukan untuk pustaka STIKES Darussalam Lhokseumawe dan bahan bacaan semua.
3.      Untuk Pelayanan Kesehatan : sebagai bahan masukan di RSU Cut Mutia tentang pelaksanaan penyakit TB Paru dan dapat memberikan penyuluhan kepada pasien dank lien.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Pengertian
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B.     Etiologi
1.      Diabetes tipe I:
a. Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.

2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b.  Obesitas
c.   Riwayat keluarga

C.    Tanda dan Gejala
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
  1. Katarak
  2. Glaukoma
  3. Retinopati
  4. Gatal seluruh badan
  5. Pruritus Vulvae
  6. Infeksi bakteri kulit
  7. Infeksi jamur di kulit
  8. Dermatopati
  9. Neuropati perifer
  10.  Neuropati visceral
  11. Amiotropi
  12. Ulkus Neurotropik
  13. Penyakit ginjal
  14. Penyakit pembuluh darah perifer
  15. Penyakit koroner
  16. Penyakit pembuluh darah otak
  17. Hipertensi

Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.

D.    Komplikasi
Komplikasi-komplikasi Diabetes Melitus antara lain:
a.   Komplikasi Akut merupakan keadaan gawat darurat yang terjadi pada perjalanan penyakit Diabetes Melitus. Menurut Subekti (2004), komplikasi akut dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
(1). Hipoglikemia
Suatu keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan penurunan gukosa darah. Gejala ini dapat ringan berupa koma dengan kejang.


 (2). Ketoasidosis Diabetik
Merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan penyakit Diabetes Melitus.

b. Komplikasi Kronik merupakan komplikasi yang terjadi dalam waktu yang lama.
Menurut Waspadji (2004), komplikasi kronik dibagi menjadi :
(1). Mikrovaskuler
a. Ginjal
Mengalami kegagalan ginjal karena fungsi ginjal makin menurun ditandai sembab muka, tekanan darah tinggi dan pucat.
b. Retina mata
Mengalami kebutaan atau pengurangan penglihatan karena terjadi kelainan yang timbul pada retina akibat proses retinopati diabetic menyebabkan lensa, saraf, otot, selaput pembuluh darah mata dapat terganggu fungsinya.
(2). Makrovaskuler
a. Jantung koroner atau penyakit jantung arteriosklerotik karena otot jantung  kurang mendapatkan darah (makanan) dari pembuluh darah jantung.
b.  Pembuluh darah kaki karena penyempitan hingga penutupan pembuluh darah sehingga terjadi berkurangnya sampai berhentinya peredaran darah didalam tungkai dan kaki menyebabkan kematian jaringan tungkai dan kaki dihilir pembuluh darah tersebut.

E.     Terapi
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.

F.     Penatalaksanaan
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
2. Latihan
3. Pemantauan
4. Terapi (jika diperlukan)
5. Pendidikan

BAB III
TINJAUAN KHUSUS

A.    Pengumpulan Data
1.      Data Subjektif
a.       Identitas / Biodata
Nama                           : Tn. I
Umur                           : 42 Tahun
Suku / Bahasa             : Aceh / Indonesia
Agama                         : Islam
Pendidikan                  : SD
Pekerjaan                     : Tani
Alamat                        : Meunasah Balee Kecamatan Simpang Bayu
b.      Anamnesa
Tanggal Masuk           :
Jam                              :

2.      Data Objektif
Pemeriksaan Fisik
K / U Lemah
                  TD                   : 100 / 70 mm Hg
                  RR                   :
                  Pols                 :
                  Temp               :
Pemeriksaan Sistematis
Rambut                             :
Conjung tiva (Mata)          :
Wajah                                : Maringis



B.     Interprestasi Data
Diagnosa                     : DM (Diabetes Mellitus)
Data Dasar                  : Os Mengatakan merasa adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot
Kebutuhan                  :  -    Dukungan Moril
-          Istirahat yang cukup
-          Cairan dan nutrisi
-          Terapi

C.    Antisipasi Diagnosa dan Masalah Potensial
-          Syok

D.    Tindakan Segera atau Kolaborasi
Masih perlu perawatan yang rutin.

E.     Rencana Manajemen
1.      Berikan dukungan moril.
2.      Anjurkan kepada Os untuk istirahat yang cukup
3.      Penuhi kebutuhan cairan.
4.      Anjurkan kepada Os untuk makan yang teratur
5.      Atur posisi senyaman mungkin
6.      Perbaiki keadaan K/U Os

F.     Pelaksanaan
1.      Memberikan dukungan Moril Kepada Os
2.      Mengajarkan Kepada Os untuk istirahat yang cukup.
3.      Memenuhi kebutuhan cairan.
4.      Menganjurkan kepada Os untuk makan yang teratur.
5.      Mengatur posisi senyaman mungkin
6.      Memperbaiki keadaan K/U Os.


G.    Evaluasi
1. Memenuhi Kebutuhan Cairan
    SOAP
S                : Os Mengeluh merasa adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot
O               : K/U Lemah
        TD     : 100/70 mm Hg
RR    :
Pols  :
Temp :
A               : Diabetes Mellitus
P                :
-   Berikan dukungan moril.
-   Menganjurkan kepada Os untuk istirahat yang cukup.
-   Penuhi Kebutuhan cairan
-   Mengatur posisi

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
Katarak, Glaukoma, Retinopati, Gatal seluruh badan, Pruritus Vulvae, Infeksi bakteri kulit, Infeksi jamur di kulit, Dermatopati, Neuropati perifer,  Neuropati visceral, Amiotropi, Ulkus Neurotropik, Penyakit ginjal, Penyakit pembuluh darah perifer, Penyakit koroner, Penyakit pembuluh darah otak, Hipertensi.

B.     Saran
1.      Untuk Petugas Kesehatan
Agar dapat memberikan pengobatan dan pelayanan yang baik kepada pasien yang mengalami penyakit Diabetes Mellitus dan juga bisa memberikan penyuluhan tentang apa itu Diabetes Mellitus.

2.      Untuk Masyarakat
Agar menjaga kesehatan dengan baik dan bila ada tanda-tanda perubahan pada dirinya segera periksa kesehatan ke Rumah Sakit terdekat agar penyakit cepat bisa dicegah.

3.      Untuk Lembaga Pendidikan
Kepada Pendidikan Khususnya Akbid Darussalam Lhokseumawe agar meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang penyuluhan kepada masyarakat.

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>