MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

OPTIMALISASI PEMBELAJARAN GEOGRAFI MELAJU METODE BELAJAR MEMBACA DAN MENDENGARKAN




BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Proses pembelajaran geografi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Namun kenyatan di lapangan seringkali hasil proses pembelajaran tidak sesuai dengan harapan. Proses pembelajaran masih banyak menghadapi kendala diantaranya pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran geografi masih dijumpai proses pembealjaran yang belum optimal. Banyak siswa yang mengeluh terhadap materi geografi, sebagian siswa menganggap materi sulit, sebagian menganggap geografi bukan pembelajaran yang menyenangkan dan sebagian siswa merasa kesulitan dalam penerapan materinya.
Dengan adanya kondisi di lapangan yang terdapat kendala pada proses pembelajaran geografi, penulis ining merubah paradigma siswa dengan mengoptimalkan pembelajaran geografi melalui metode Contextual Teaching and Learning (CTL) sehingga siswa mampu memahami sepenuhnya pembelajaran geografi Contextual. Siswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran dan paradigma siswa berubah, geografi menjadi mata pelajaran yang menyenangkan.
Era globalisasi saat ini semakin beragam metode pembelajaran atau model-model pembelajaran dan media pembelajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran. Dalam memperbaiki proses pembelajaran diantaranya dapat digunakan metode CTL. Guru dalam pendekatan kontekstual dituntut dapat mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Meski dengan keterbatasan fasilitas di lingkungan MAN Dewantara namun guru tetap dituntut untuk dapat mengoptimalkan proses pembelajaran.
Metode CTL memungkinkan pembelajaran yang tenang dan menyenangkan karena pembelajaran dapat dilakukan secara alamiah, sehingga siswa dapat mempraktekkan secara langsung dipelajarinya.
Pembelajaran kontekstual mendorong sisiwa memahami kakekat, makna dan manfaat belajar sehingga memungkinkan siswa rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar. Kondisi tersebut terwujud, ketika siswa menyadari tentang apa yang mereka perlukan dalam hidup dan bagaimana cara menanggapinya.
Hal ini senada dengan Mulyasa (2003 : 1988) siswa memiliki rasa ingin tahu dan memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Oleh karena itu, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua siswa sehingga tumbuh minat atau siswa termotivasi untuk belajar. Dengan menggunakan metode CTL di MAN Dewantara diharapkan dapat merubah proses pembelajaran geografi menjadi lebih optimal. Siswa menjadi termotivasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran sehingga hasil pembelajaran menjadi lebih baik.

1.2.  Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang diangkat dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana mengoptimalkan pembelajaran geografi melalui metode CTL ?

1.3.  Tujuan Penelitian
Memperhatikan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian tindakan kelas ini secara khusus adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam mempelajari geografi dengan pengoptimalan metode CTL atau dengan optimalisasi pembelajaran geografi melalui metode CTL diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa.
Penelitian tindakan kelas secara umum juga bertujuan untuk ; (1) memperbaiki dan meningkatkan kondisi serta kualitas pembelajaran di kelas; (2) meningkatkan layanan professional dalam konteks pembelajaran di kelas; (3) memberikan kesempatan guru untuk melakukan tindakan dalam pembelajaran yang direncanakan di kelas; dan (4) memberikan kesempatan guru untuk melakukan pengkajian terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

1.4 Manfaat Hasil Penelitian
a.       Bagi siswa, dapat meningkatkan minat dalam mempelajari geografi, sehingga geografi menjadi mata pelajaran yang menarik dan akhirnya ilmu geografi akan semakin berkembang.
b.      Bagi peneliti, dapat dijadikan sebagai pengalaman penelitian tindakan kelas dan menambah poin dalam kenaikan pangkat serta untuk meningkatkan profesionalisme guru melaui upaya penelitian yang dilakukannya.
c.       Bagi guru, dapat dijadikan sebagai saran untuk mengevaluasi terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung. Juga merupakan upaya pengembangan kurikulum di tingkat kelas, serta untuk mengembangkan dan melakukan inovasi pembelajaran.
d.      Bagi Sekolah, dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memotivasi guru untuk melaksanakan prose pembelajaran yang efektif dan efisien dengan menerapkan CTL.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN

2.1 Kajian Pustaka
            Optimalisasi kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor metode atau teknik mengajar guru. Guru dapat menggunkan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga tidak jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi yang terdapat dalam kurikulum dengan kondisi lingkungan atau sesuai dengan dunia nyata sehingga siswa merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna atau memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
            Dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan guru harus dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajaran atau pembelajaran yang partisipatif. Peserta didik dibantu oleh pendidik dalam melibatkan diri untuk mengembangkan atau memodifikasi kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2005:69) dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, peserta didik dibantu oleh pendidik melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Proses ini mencakup kegiatan untuk menyiapkan fasilitas atau alat Bantu pembelajaran, menerima informasi tentang materi / bahan belajar dan prosedur pembelajaran, membahas materi / bahan belajar dan melakukan saling tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi atau memecahkan masalah.

2.1.1 Pengertian Optimalisasi Pembelajaran
            Menurut tim penyusun kamus bahasa (1994:705) Optimalisasi merupakan proses, cara atau peerbuatan mengoptimalkan. Mengoptimalkan berarti menjadikan paling baik, paling tinggi atau paling menguntungkan. Sedangkan Pembelajaran menurut Sudjana (2005:8) adalah setiap upaya yang sistematik dan disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dalam kegiatan ini terjadi interaksi edukatif antara peserta didik atau siswa dengan pendidik atau guru. Jadi kegiatan pembelajaran ditandai adanya upaya disengaja, terencana dan sistematik dan dilakukan oleh pendidik untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
            Dengan demikian optimalisasi proses pembelajaran yaitu proses atau cara mengoptimalkan kegiatan siswa untuk belajar sedangkan guru berperan untuk membantu siswa dalam melakukan kegiatan belajar atau membelajarkan siswa. Upaya guru dalam mengoptimalkan pembelajaran dapat beragam penerapannya, antara lain berupa bantuan dorongan / motivasi dan bimbingan belajar. Penerapannya tergantung pada situasi kegiatan belajar yang akan atua sedang dilakukan. Namun arah yang ditempuh guru adalah agar siswa aktif melakukan kegiatan belajar dan bukan sebaliknya guru yang lebih mengutamakan kegiatan untuk mengajar. Jadi interaksi pembelajaran yang aktif antara siswa dan guru adalah faktor penting dalam kegiatan pembelajaran.

2.1.2 Pengertian Metode Contextual Teaching And Learning (CTL)
            Metode merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan. Metode mengandung unsur prosedur yang disusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan. Menurut Knowles (1977:133) dalam Sudjana (2005:14) Metode adalah pengorganisasian peserta didik di dalam upaya mencapai tujuan. Metode berkaitan dengan teknik yaitu langkah-langkah yang ditempuh dalam metode untuk mengelola kegiatan pembelajaran.
            Hal ini sesuai dengan Abdul Majid (2006:136-137) metode dalam pendidikan merupakan cara yang ditempuh atau dipergunakan dalam upaya memberikan pemahaman pada siswa. Metode yang dipergunakan oleh guru dalam proses pembelajaran dapat beragam, yang perlu diperhatikan adalah akomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar yaitu ; (1) berpusat pada siswa atau student oriented ; (2) belajar dengan melakukan atau learning by doing; (3) mengembangkan kemampuan sosial atau learning to live together ; (4) Mengembangkan keingintahuan dan imajinasi; (5) mengembangkan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah.
            Pembelajaran Kontekstual atau dikenal dengan istilah Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Mulyasa (2006:102) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehiduipan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan merasakan pentingnya belajar dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanajaya (2006:109)
            CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran apa yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan.
            Dari pengertian tersebut terdapat tiga kosep dasar CTL yaitu : (1) CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan pda proses pengalaman secara langsung; (2) CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata sehingga materi akan bermakna dan tertanam erat siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari akan tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
            Jadi pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan sedikit demi sedikit dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
            Dalam pembelajaran konteksutal tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai saran adan sumber pembelajaran yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran berupa hafalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan menunjang pembelajaran kontekstual. Hal ini senada dengan Mulyasa (2006:103) mengemukakan : pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual; (1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru acting di depan kelas, siswa menonton ke siswa aktif bekerja dan berkarya, guru mengarahkan; (2) pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya; (3) umpan balik amat penting bagi siswa; (4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
            Sementara itu menurut Nurhadi (2004:148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah; (1) real word learning; (2) mengutamakan pengalaman nyata; (3) berpikir tingkat tinggi; (4) berpusat pada siswa; (5) siswa aktif, kritis dan kreatif; (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan (7) pendidikan atau education bukan pengajaran atau instruction; (8) memecahkan masalah; (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.
            Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki ciri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siwa kritis dan guru kreatif. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.


2.13 Komponen Utama atau Aspek-Aspek Pembelajaran Kontekstual
            Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas adalah kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assement). Kelas dapat dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan komponen-komponen tersebut dalam pembelajarannya (Nurhadi, 2004:31-51). Kontruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Inkuiri adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencairan dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Bertanya adalah menggali kemampuan, membangkitkan motivasi dan merangsang keingintahuan siswa. Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Refleksi adalah proses mengendapkan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. Penilaian nyata adalah proses mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar siswa yang diarahkan pada proses belajar bukan hasil belajar. (Sanjaya, 2006:118-122).
            Dalam komponen kontruktivisme sebagai filosofi dapat dikembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Dengan demikian siswa belajar sedikit demi sedikit dari konteks terbatas, siswa mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Pemahaman yang mendalam diperoleh melalui pengalaman belajar yang bermakna. Komponen inkuiri sebaga strategi belajar dapat dilaksanakan untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori baik perorangan maupun kelompok. Diawali dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep / fenomena. Dalam hal ini mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.
            Komponen bertanya sebagai keahlian dasar yang dikembangkan, bertanya sebagai alat belajar mengembangkan sifat ingin tahu siswa. Mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, digunakan untuk menilai kemampuan siswa berfikir kritis dan melatih siswa untuk berfikir kritis.
            Komponen masyarakat belajar sebagai penciptaan lingkungan belajar yaitu menciptakan masyarakat belajar atau belajar dalam kelompok-kelompok. Dalam hal ini berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain. Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.
            Komponen permodelan, model sebagai acuan pencapaian kompetensi yaitu menunjukkan model sebagai contoh pembelajaran (benda-benda, guru, siswa lain, karya inovasi dll). Membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana menginginkan siswa untuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan agar siswa untuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan agar siswa melakukannya. Komponen refleksi sebagai langkah akhir dari belajar yaitu melakukan refleksi di akhir pertemuan agar siswa merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu. Dalam hal ini refleksi berarti cara-cara berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Menelaah dan merespon terhadap kejadian, aktivitas dan pengalaman. Mencatat apa yang telah dipelajari dan merasakan ide-ide baru. Komponen penilaiannya sebenarnya dalah melakukan penilaian yang sebenarnya dari berbagai sumber dan dengan berbagai cara. Dalam hal ini mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau pengalaman. Tugas-tugas yang kontekstual dan relevan. Proses dan produk kedua-duanya dapat diukur.
            Jadi dalam pembelajaran kontekstual berarti melaksanakan komponen-komponen atau aspek-aspek pembelajaran kontekstual, dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang menggairahkan atau menyenangkan sehingga guru harus kreatif memilih metode pembelajaran yang efektif dalam menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar siwa secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari segi hasil guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikan mampu mengubah perilaku sebagian besar siswa kea rah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik.

2.2 Rencana Tindakan
            Rencana tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran geografi agar dapat menarik, siswa menjadi termotivasi, minta belajar siswa tinggi adalah dengan metode pembelajaran kontekstual atau CTL. Dengan optimalisasi pembelajaran geografi melalui metode CTL merupakan alternative proses pembelajaran agar lebih menyenangkan dan bermakna. Sebagai pedoman langkah dalam memberikan tindakan kelas maka kegiatan dalam proses pembelajaran kontekstual dapat diurutkan sebagai berikut :
a.       Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang dilaksanakan atau guru menjelaskan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
b.      Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL.
c.       Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah siswa.
d.      Guru melakukan pre test untuk mengukur kemampuan dasar siswa.
e.       Guru membagi tugas siswa untuk melakukan pengamatan atau observasi. Guru dapat memberi lembar pengambatan dan menunjukkan materi yang harus dipersiapkan.
f.        Guru melakukan Tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan siswa.
g.      Siswa melakukan pengamatan sesuai dengan pembagian tugas kelompok dan mencatat hal-hal yang mereka temukan.
h.      Siswa yang melakukan diskusi kelompok dari hasil temuan mereka sesuai materi yang ditugaskan guru.
i.        Siswa menyerahkan hasil diskusi kelompok ke guru sebelum presentasi di depan kelas.
j.        Siswa melakukan forum diskusi kelas atau mendiskusikan hasil temuan mereka dengan adanya kelompok yang presentasi secara bergantian di depan kelas.
k.      Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain.
l.        Selama presentasi dan diskusi kelas, guru mengevaluasi dan mencatat point-point yang perlu dipertegas.
m.    Guru melakukan pemantapan dengan memberikan tambahan point-point yang perlu dipertegas.
n.      Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasi atau pengamatan.
o.      Guru bersama-sama siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar.
p.      Guru memberikan post test untuk mengukur pemahaman hasil belajar.
q.      Dari proses tersebut guru dapat mengetahui apakah proses pembelajaran geografi sudah optimal.
Rencana tindakan itu tidak hanya diberikan dalam satu kali tatap muka tetapi dapat dilaksanakan lebih dari satu pertemuan dalam tiap siklus. Setelah siswa melakukan kunjungan studi ke luar atau observasi lapangan sampai siswa mengerjakan tugas dan menghasilkan sebuah karya serta mempresentasikannya.


BAB III
METODE  PENEILITAN

            Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sedangkan jenis penelitian termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

3.1 Setting Penelitian
            Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kedamean Gresik. Alamat sekolah di Jalan Raya Slempit Kedamean Gresik. Lokasi sekolah tepatnya di desa slempit, Kecamatan Kedamean dan Kabupaten Gresik. SMA Negeri 1 Kedamean Gresik ini terletak di perbatasan selatan kabupaten Gresik, perbatasan Krian dan perbatasan Mojokerto Penelitian ini dilaksanakan berkolaborasi dengan dua orang guru mata pelajaran geografi. Subjek penelitian yang dibambil adalah kelas XI IS 1. Waktu pelaksanaan semester 1 tahun pelajaran 2006/2007.
            Kelas XI IS 1 berjumlah 38 siswa, laki-laki 18 dan perempuan 20 siswa. Dengan karakteristik siswa yang lebih menyukai proses pembelajaran dengan metode bervariasi, tidak hanya di dalam ruangan kelas saja. Siswa cepat merasa jenuh jika harus terus memperhatikan ceramah guru, siswa lebih senang proses pembelajaran yang memberik kesempatan siswa untuk eksistensi diri melihat tampilan teman-temannya. Namun siswa yang aktif dalam diskusi hanya siswa tertentu saja, sebagian besar masih kurang aktif dan kurang kreatif dalam belajar.
            Latar belakang sosial-ekonomi siswa mayoritas anak petani dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah. Buku-buku pembelajaran yang dimiliki sendiri masih terbatas, namun rata-rata mereka memanfaatkan sarana perpustakaan sekolah yang cukup memadai. Kemampuan akademik siswa masih terbatas karena motivasi belajar siswa yang rendah. Situasi kelas saat pembelajaran masih belum optimal, siswa masih belum seluruhnya mempunyai keaktifan dalam belajar.

3.2 Persiapan Penelitian
            Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan persiapan :
a.       Pembuatan lembar instrument penelitian.
b.      Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi.
c.       Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran atau membuat Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah dipahami siswa.
d.      Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran.
e.       Persiapan pre test, post tes dan pembuatan perangkat penilaian.
f.        Lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan, kemandirian, kompetensi, kelancaran dan ketepatan.
g.      Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran dan untuk mengetahui optimalisasi pembelajaran kontekstual.

3.3. Siklus Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan tiga siklus. Menurut model classroom action research Kemmis dan Tanggart, maka tahap awal atau siklus 1 yang kita lakukan adalah :
a.       Perencanaan
1.      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau scenario Pembelajaran dengan metode CTL agar pembelajaran menarik.
2.      Mempersiapkan media pembelajaran sebagai model dalam pembelajaran dan lokasi pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.
3.      Membuat lembar observasi atau instrument penelitian untuk memantau proses pembelajaran berbasis CTL.
4.      Membuat alat evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran atau penilaian proses pembelajaran.

b.      Pelaksanaan dan Pengamatan (Action dan Observasi)
1.      Pendahuluan
1.1.Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pembelajaran.
1.2.Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL
-          Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa. Tiap kelompok 5-6 siswa
-          Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi atau pengamatan sesuai dengan materi yang diterima dan guru juga dapat memberi lembar pengamatan.
-          Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan.
1.3.Guru melakukan Tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
2.      Inti
2.1. Di Lapangan
- Siswa melakukan observasi atau pengamatan sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
-  Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di lapangan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
2.2. Di Dalam Kelas
- Siswa mendiskusikan hasil temuan sesuai dengan kelompoknya masing-masing dan mengumpulkan hasil diskusi.
- Siswa melakukan diskusi kelas dari hasil temuan di lapangan sesuai dengan materi yang ditugaskan guru. Adanya presentasi secara bergantian di depan kelas tiap kelompok.
- Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.

3.      Penutup
3.1. Guru dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar hari itu atau dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sesuai dengan indicator hasil belajar.
3.2. Guru memberi kesempatan siswa untuk mengungkapkan pengalaman belajar mereka.

c.       Refleksi
Guru memberikan penilaian kelompok-kelompok siswa yang melakukan diskusi  dan presentasi. Selain itu guru menyimpulkan hasil analisa yang diamati pada siklus pertama.
Dalam siklus pertama ini apabila masih kurang masksimal maka akan dilanjutkan dengan pelaksanaan siklus 2 dengan tetap menggunakan metode CTL. Pelaksanaan siklus 2 tetap melalui tiga tahap yaitu perencanaan, action/observasi dan refleksi. Jika hasil masih belum maksimal maka dilaksanakan siklus 3 juga melalui tahap perencanaan, action/observasi dan refleksi. Pada penelitian ini kami membatasi 3 siklus saja.

3.4. Pembuatan Instrumen
            Pengamatan yang dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru mata pelajaran yang sejenis sebagai pengamat di kelas ini menggunaan instrument penelitian sebagai berikut :
a.       Lembar pertanyaan atau wawancara.
b.      Lembar observasi dan Lembar Cek list
c.       Lembar evaluasi atau penilaian.

3.5. Analisis dan Refleksi
            Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah memanfaatkan analisa deskriptif dari proses dan hasil belajar. Analisis juga dilakukan dari hasil observasi dan wawancara. Analisis berdasarkan siklus yang secara bertahap. Analisis 1 dalam siklus yang hasilnya direfleksikan ke siklus 2 begitu juga ke siklus 3. sedangkan refleksi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan.
            Penelitian dengan metode pembelajaran kontekstual ini, peneliti berharap siswa akan menjadi lebih termotivasi dalam proses pembelajaran. Tindak lanjut dalam penelitian ini siswa dapat menjadi lebih aktif dan pembelajaran kontekstual akan dilakukan secara kontinyu oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA / RUJUKAN

Majid, Abdul. (2006). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.
______. (2006). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Nurhadi. Yasin, Burhan. Gerrad, Agus. (2004). Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.
Sanjaya, Wina. (2006). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Siberman, Mel. (1996). Active Learning. United States of America : Allyn and Bacon.
Sudjana. (2005). Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung : Falah Production.
_______. (2005). Strategi Pembelajaran. Bandung : Falah Production.
Tim Pelatih Penelitian Tindakan. (2006). Teknis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Sekolah Menengah Atas. Surabaya : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sub Din Dikmenum Perluasan dan Peningkatan Mutu SMA.
_______. (2006).  Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Surabaya : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sub Din Dikmenum Perluasan dan Peningkatan Mutu SMA.
Wiriatmadja, Rochiati. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas untu Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung : Remaja Rosda Karya.




Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>