MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

METODE BIMBINGAN DAN KONSELING




BAB I
PENDAHULUAN

Yang dimaksud Metode bimbingan dan konseling disini adalah cara-cara tertentu yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling.

Implementasi dari cara-cara tertentu biasanya terkait dengan pendekatan yang digunakan oleh Pengguna Metode.

Dalam kaitan ini, secara umum ada dua metode dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu : pertama, metode bimbingan kelompok, dan kedua, metode bimbingan individual. Metode bimbingan kelompok dikenal juga dengan bimbingan kelompok (group guidance) sedangkan metode bimbingan individual dikenal dengan individual konseling.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode Bimbingan Kelompok (Group Guidance)
Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok. Masalah yang dipecahkan bisa bersifat kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok (beberapa orang siswa) atau bersifat indivial atau perseorangan, yaitu masalah yang dirasakan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok beberapa jenis metode bimbingan kelompok. Penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah bersama atau membantu seorang individu yang menghadapi masalah dengan menempatkan dalam suatu kehidupan kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan kelompok adalah : 
(1) program home room, 
(2) Karyawisata, 
(3) Diskusi Kelompok,
 (4) Kegiatan Kelompok, 
(5) Organisasi Siswa, 
(6) Sosio drama, 
(7) Psikodrama, dan 
(8) Pengajaran Remedial. 

1. Program Home Room
Program ini dilakukan di sekolah dan madrasah (di dalam kelas) di luar jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Program ini dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah; sehingga tercipta suatu kondisi yang bebas dan menyenangkan. Dengan kondisi tersebut para siswa dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah. Komunikasi seperti di rumah sehingga timbul suasana keakraban.
2. Karya Wisata
Cara ini bisa dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat atau objek-objek tertentu misalnya PLTA Koto panjang atau istana Siak Riau, dan lain sebagainya. Melalui karya wisata para siswa memperoleh kesempatan meninjau objek-objek yang menarik dan mereka memperoleh informasi yang lebih baik tentang objek itu. Ketika guru sejarah menceritakan tentang Istana Siak Riau, mungkin siswa tidak akan memperoleh pesan atau informasi yang seutuhnya tentang istana Siak Riau, hal ini bisa menimbulkan masalah pada siswa. Melalui layanan bimbingan dan konseling dengan metode karya wisata hal itu bisa diatasi.

3. Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pikirannya masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dalam melakukan diskusi para siswa diberi peran-peran tertentu seperti pimpinan diskusi (moderator) dan notulis. Tugas pimpinan diskusi adalah memimpin jalannya diskusi sehingga diskusi tidak menyimpang, sedangkan tugas notulis adalah mencatat hasil-hasil diskusi. Siswa yang lain menjadi peserta atau anggota. Dengan demikian akan timbul rasa tanggung jawab dan harga diri.

4. Kegiatan Kelompok
Kegiatan kelompok dapat menjadi suatu teknik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu (para siswa) untuk berpartisipasi secara baik. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil apabila dilakukan dengan secara berkelompok. Melalui kegiatan kelompok dapat mengembangkan bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan tertentu. Selain itu, setiap siswa memperoleh kesempatan untuk menyumbangkan pikirannya. Dengan demikian akan muncul rasa tanggung jawab. Seorang siswa diberi kesempatan untuk memimpin teman-temannya dalam membuat pekerjaan bersama, sehingga kepercayaan dirinya tumbuh dan karenanya ia memperoleh harga diri.
5. Organisasi siswa
Organisasi siswa khususnya di lingkungan sekolah dan madrasah dapat menjadi salah satu teknik dalam bimbingan kelompok. Melalui organisasi siswa banyak masalah-masalah siswa baik sifatnya individual maupun kelompok dapat dipecahkan.

6. Sosiodrama
Sosiodrama dapat digunakan sebagai salah satu cara bimbingan kelompok. Sosiodrama merupakan suatu cara membantu memecahkan masalah siswa melalui drama. Sesuai namanya, masalah-masalah yang dramakan adalah masalah-masalah social. Metode ini dilakukan melalui kegiatan bermain peran.

7. Psikodrama
Hampir sama dengan sosio drama Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui drama. Bedanya adalah masalah yang didramakan.

8. Pengajaran remedial.
Pengajaran remedial (Remedial Teaching) merupakan suatu bentuk pembelajaran yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa untuk membantu kesulitan belajar yang dihadapinya. Pengajaran remedial merupakan salah satu teknik pemberian bimbingan yang dapat dilakukan secara individual maupun kelompok tergantung kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

B. Metode Bimbingan Individual (Konseling Individual)
Seperti telah disebutkan dalam bab terdahulu, bahwa konseling merupakan salah satu teknik bimbingan. Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan secara individual dan langsung bertatap muka. (berkomunikasi) antara pembimbing (konselor) dengan siswa (klien).Dengan perkataan lain pemberian bantuan diberikan dilakukan melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata), yang dilaksanakan dengan wawancara antara (pembimbing) konselor dengan siswa (klien). Masalah-masalah yang dipecahkan melalui teknik konseling, adalah masalah-masalah yang bersifat pribadi.
1. Konseling Direktif (Directive Counselling)
Konseling yang menggunakan metode ini, dalam prosesnya yang aktif atau paling berperan adalah konselor dalam praktiknya konselor berusaha menyaraknkan klien sesuai dengan masalahnya. Selain itu, konselor juga memberikan saran, anjuran dan nasihat kepada klien. Praktik konseling yang dilakukan oleh para penganut teori Behavioral counseling umumnya menerapkan cara-cara di atas dalam konselingnya. Karena praktik yang demikian, konseling ini juga dikenal dengan konseling yang berpusat pada konselor.

2. Konseling Nondirektif (Non-Directive Counselling).
Seperti telah disebutkan di atas, konseling nondirektif atau konseling yang berpusat pada siswa. Muncul akibat kritik terhadap konseling direktif (konseling berpusat pada konselor). Konseling non direktif dikembangkan berdasarkan teori client centered (Konseling yang berpusat pada konselor). Klien atau konseling bebas berbicara sedangkan konselor menampung dan mengarahkan. 
Metode ini tentu sulit diterapkan untuk siswa yang berkepribadian tertutup (introvert) karena klient (siswa) dengan kepribadian tertutup biasanya pendiam dan sulit diajak berbicara. Cara ini juga belum bisa diterapkan secara efektif untuk murid sekolah dasar dan dalam keadaan tentu siswa SMP. Metode ini bisa diterapkan secara efektif untuk siswa tingkatan SMA dan Mahasiswa di Perguruan Tinggi.

3. Konseling Eklektif (Eclectif Counseling)
Kenyataan bahwa tidak semua teori cocok untuk semua individu, semua masalah siswa dan semua situasi konseling. Siswa di sekolah atau madrasah memiliki tipe-tipe kepribadian yang tidak sama. Oleh sebab itu, tidak mungkin diterapkan metode konseling direktif saja atau nondirektif saja. Agar konseling berhasil secara efektif dan efesien, tentu harus melihat siapa siswa (klien) yang akan dibantu atau dibimbing dan melihat masalah yang dihadapi siswa dan melihat situasi konseling. Apabila terhadap siswa tertentu tidak bisa diterapkan metode direktif, maka mungkin bisa diterapkan metode non direktif begitu juga sebaliknya. Atau apabila mungkin adalah dengan cara menggabungkan kedia metode di atas. Penggabungan kedua metode konseling di atas disebut metode Eklektif (Eclective Counselling). 

DAFTAR PUSTAKA

Natawidjaja, Rochman. (1987). Pendekatan-Pendekatan Penyuluhan Kelompok. Bandung di Penogoro

_,(ed).(1981). Pedoman Pembinaan Program bimbingan di sekolah. Jakarta : Depdikbud.

Nurihsan, Juntika. (2003). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung : Mutiara

Prayitno dan Anti, Erman. (2003). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdikbud.

Rahmat, Jalaluddin dan Muhtar, G (ed). (1992). Keluarga Muslim dan Masyarakat Modern. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Semiawan, Conny. (1984). Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta : Gramedia.

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>