MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

TINJAUAN PUSTAKA Jenis dan Sifat Tanah di Indonesia




BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Tanah adalah  hasil pengalih ragaman (transformation) bahan mineral dan organik yang belangsung di muka daratan bumi di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja selama waktu sangat panjang, dan maujud suatu tubuh dengan organisasi dan morfologi teraktifkan (definable) (Schroeder, 1984). Gejala-gejala organisasi dan morfologi yang tertampekkan pada potongan tegak sepanjang tubuh tanah dinamakan profil tanah. Pada dasarnya tanah merupakan suatu tubuh alam. Namun demikian banyak tanah memperlihatkan tanda-tanda pengaruh antropogen karena beban lalulintas, susunan kimia tanah berubah karena pemupukan atau irigasi, irigasi dan pengaturan mengubah regim lenga, tanah, dan morfologi tanah mengalami turbasi karena pengolahan tanah, karena organisasi dan morfologinya yang khusus, tanah terbedakan jelas dengan tubuh alam lain, seperti misalnya hamparan batuan, bahan endapan atau Lumpur, tubuh air darat, atau longgokan serasah.
Faktor lingkungan pembentuk tanah berbeda dari tempat ke tempat. Perbedaan dalam suatu faktor biasanya tidak proposional dengan perbedaan dalam faktor yang lain. Maka nasabah antara faktor menjadi berbeda pula dari tempat ke tempat, yang menyebabkan tanah terbentuk berbeda-beda. Perubahan ke samping faktor-faktor lingkungan pembentuk tanah dan nasabah antar faktor terjadi secara berangsur. Akibatnya, batas macam tanah yang satu dengan yang lain tidak tajam, akan tetapi baur berupa suatu jalur peralihan

BAB II
PEMBAHASAN

II. 1. Pengertian dan Proses Terjadinya Tanah
Tanah adalah lapisan litosfer (kerak bumi) paing atas yang terdiri atas batuan lapuk, air, udara, dan sisa-sisa organisme (bahan organik). Proses pelapukan batuan terjadi melalui tiga cara, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.

a.      Pelapukan Mekanis (Fisika)
Pelapukan mekanis adalah proses hancurnya batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil karena perubahan suhu batuan yang sangat mencolok antara siang dan malam akibat pemanasan oleh sinar matahari sehingga batuan menjadi retak dan pecah.

b.      Pelapukan Biologis
Pelapukan biologis adalah proses hancurrnya batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil karena aktivitas makhluk hidup. Aktivitas tersebut, antara lain penembusan batuan dan penghancuran batuan oleh hewan-hewan tanah.

c.       Pelapukan Kimiawi
Pelapuhan kimiawi adalah proses hancurnya batuan karena reaksi unsure-unsur kimia yang larut di dalam air. Proses pelapukan kimia banyak terjadi di daerah-daerah beriklim basah dan daerah berkapur.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pembentukan tanah, antara lain batuan induk, vegetasi / tumbuh-tumbuhan, hewan, topografi iklim, dan waktu. Adapun macam-macam batuan pembentuk tanah antara lain batuan beku, batuan sediment, dan batuan metamorf.
a.       Batuan beku adalah batuan yang terbentuk oleh pembekuan magma pijar. Batuan beku ini dapat terjadi di dalam bumi (batuan beku dalam) atau di permukaan bumi (batuan beku luar).

b.      Batuan sediment terjadi karena proses pengendapan mataerial batuan hasil pengikisan air (sungai, laut, es), dan angina. Pada awal pergerakannya air sungai, laut, es, dan angina mengikis batuan yang dilaluinya, kemudian diangkut oleh air dan angina ke tempat lain. Apabila kekuatan air (sungai, laut, es) dan angina berkurang, material batuan tersebut diendapkan dan membentuk batuan sediment.

c.       Batuan Metamorf terbentuk oleh batuan beku dan batuan sediment yang berubah sifat kebatuannya karena pengaruh panas yang tinggi atau tekanan yang berat.
Berdasarkan bahan pembentuk tanah, terdapat dua jenis batuan, yaitu batuan organik dan anorganik.
1.      Batuan Organik adalah batuan yang berasal dari jasad hidup, misalnya batu kapur dan batu bara.
2.      Batuan anorganik adalah batuan yang berasal bukan dari jasad hidup, misalnya batu vulkanis, batu andesit, pasir dan emas.

II. 2. Profil Tanah
Perbedaan jenis batuan dan iklim di setiap tempat mengakibatkan adanya perbedaan jenis tanah. Tanah terdiri atas mineral, sisa-sia organisme, air, udara, serta tersusun atas beberapa lapisan. Lapisan tanah dapat dilihat dari penampang atau profil tanah. Sebuah profil tanah merupakan sample yang diambil dari permukaan tanah sampai kedalaman tertentu. Tiap-tiap profil dibagi menjadi beberapa lapisan yang disebut horizon. Horizon tanah tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Horizon O (Lapisan tanah atas/Top Soil) banyak terdapat akar tanaman dan hewan tanah. Lapisan ini kaya akan humus dan bewarna gelap.
  2. Horizon A (lapisan tanah atas/ Top Soil) mempunyai banyak humus berwarna keabu-abuan dan lebih pucat karena sebagian besar kandungan mineralnya sudah larut bersama air hujan (mengalami proses pencuncian).
  3. Horizon B (Lapisan tanah bawah / Subsoil) berisi sedikit sekali humus tetapi sebagian dari mineral yang terlarut dari horizon A diendapkan di sini. Jika tanah di horizon B tidak terlalu basah, unsure besi yang tertinggal akan teroksidasi sehingga berwarna cokelat kekuning-kuningan atau cokelat kemerah-merahan.
  4. Horizon C (Lapisan bahan induk tanah) merupakan tempat terjadinya pelapukan. Batuan induk mengalami proses pelapukan di horizon C.
  5. Horizon R (Lapisan batuan Induk) adalah batuan induk (bedrock).

II. 3. Komposisi Tanah
            Komposisi tanah terdiri atas bahan mineral, bahan organic, udara dan air. Ahan mineral dan bahan organic merupakan komponen padat, sedangkan udara dan air merupakan komponen tak padat yang mengisi pori-pori tanah.
Komposisi tanah di alam pada umumnya terdiri atas 90% bahan mineral (anorganik), bahan organic 1 – 5 %, serta udara dan air 1 – 5%. Pengertian lebih lanjut tentang komposisi tanah adalah sebagai berikut.

a.       Bahan Mineral (Hara)
Bahan mineral ini berasal dari pelapukan batuan, baik pelapukan mekanis maupun biologis, dilanjutkan dengan proses kimia dan akhirnya membentuk mineral tanah.
Unsur-unsur hara penyubur tanah, antara lain karbon (C), hydrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), belerang (S), forpor (P), kalium (K), Klor (Cl), dan kapur (Ca). Untuk lahan pertanian yang kekurangan unsure hara, biasanya para petani memberikan pupuk buatan, misalnya urea, KCl, NPK, atau pupuk buatan lainnya.

b.      Bahan Organik
Bahan organic merupakan sisa jasad hidup di dalam tanah. Bahan organik (humus) terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan, misalnya batang pohon, ranting, dan daun-daunan. Selain itu, pembusukan hewan mati oleh bakteri dan cacing tanah akan membentuk bahan organik berupa humus. Humus sangat membantu dalam proses penyuburan tanah. Tanah yang kurang subur kerena kekurangan humus diberi pupuk kandang atau pupuk alam.

c.       Udara.
Selain terdapat di atas permukaan bumi, udara terdapat di dalam tanah dan dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada didalamnya.
d.       Air Tanah
Air meresap (infiltrasi) ke dalam tanah serta mengisi pori-pori tanah dan batuan sehingga akan membentuk air tanah. Air tanah ini sangat diperlukan oleh makhluk hidup.

II. 4. Jenis dan Sifat Tanah di Indonesia
            Apabila kamu pergi ke suatu daerah, perhatikanlah tanah di tempatmu berada ! jika kamu bandingkan, jenis tanah di setiap daerah tidak selalu sama. Untuk membedakan jenis tanah di tiap daerah perlu diperhatikan bahan pembentuk dan hal-hal yang mempengaruhinya. Jenis tanah dipengaruhi oleh tenaga dari luar bumi, seperti angina, curah hujan, dan suhu udara. Jenis-jenis tanah di Indonesia sebagai berikut.

a.       Tanah Vulkanik
Tanah vulkanik terbentuk dari proses pelapukan material atau bahan-bahan gunung api, misalnya pasir, kerikil, dan abu vulkanik. Jenis tanah ini sangat subur karena material gunung api mengandung mineral-mineral penyubur yang dinamakan hara. Oleh karena itu, tanah vulkanik yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra Bali, Nusa Tenggara hingga Maluku memiliki tingkat kesuburan yang tinggi.
Tanah vulkanik banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai area pertanian dan perkebunan. Contoh daerah pertanian adalah kawasan Lembang (Bandung, Jawa Barat), kawasan daratan tinggi Dieng (Jawa Tengah), perkebunan tembakau di Deli (Sumatera Utara), dan perkebunan the di Puncak (Bogor, Jawa Barat).

b.      Tanah Podzolik
Tanah podzolik terbentuk dari pelapukan batuan yang mengandung kuarsa. Pembentukan tanah ini didukung oleh curah hujan tinggi, suhu rendah, dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Jenis tanah podzolik mengandung humus tinggi dan mudah basah. Jika terkena air, tanah ini menjadi subur dan warnanya kuning, kadang-kadang kuning kelabu. Batuan induk pembentuk tanah podzolik adalahy tufa vulkanik yang terdapat di ketinggian 0 – 2.000 meter di atas permukaan laut.
Di wilayah Indonesia, tanah podzolik tersebar di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Pulau Bangka, Pulau Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Irian (Papua). Sebagian besar jenis tanah ini tertutup hutan tropika.
Penduduk memanfaatkan tanah podzolik, antara lain sebagai area perladangan (huma).

c.       Tanah Laterit
Tanah laterit merupakan tanah kurang subur karena mineral tanahnya hilang karena proses pencucian (leaching). Penanaman tanaman yang kurang tepat dapat menyebabkan tanah ini menjadi tandus karena humus akan hilang akibat terkikis air atau proses tenaga alam lainnya. Tanah laterit berwarna kekuning-kuningan dan ada pula yang berwarna merah. Di Indonesia, tanah laterit terdapat di Kalimatan Barat, Banten dan Pacitan (Jawa Timur).
 
d.       Tanah Gambut
Bahan induk tanah gambut ialah bahan organik berupa hutan atau rumput-rumputan yang terendam air sehingga mengalami penghancuran (pelapukan). Unsur hara bagi tanaman yang terkandung di dalam tanah gambut sangat sedikit sehingga tanah kurang subur dan tidak baik untuk lahan pertanian. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan tanah gambut perlu diperaikan drainase. Tanah gambut terdapat di daerah pantai timur, Sumatera, Pantai Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, serta Irian (Papua). Tanah gambut relatif kurang baik untuk area perkebunan sebab bersifat sangat asam.
             
e.       Tanah Aluvial
Tanah alluvial berasal dari Lumpur yang terbawa air sungai, kemudian diendapkan. Tanah ini kaya unsure hara yang sangat dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan. Tanah alluvial biasanya terdapat di dataran banjir (Flood Plains) dan delta di sekitar sungai.
Tanah alluvial merupakan daerah pertanian utama untuk pertanian sawah dan palawija, misalnya jagung, kedelai, ketela pohon, dan ketela rambat.


f.        Tanah Latosol
Tanah latosol terdapat di daerah bergelombang, berbukit hingga bergunung-gunung. Bahan induk tanah latosol terdiri atas abu vulkanik berwarna hitam hingga kuning, bersifat relative asam serta mengandung bahan organik tidak terlalu tinggi. Tanah ini terbentuk akibat tekanan, suhu dan curah hujan yang relatif tinggi.
Tanah latosol terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Tengah, dan Irian (Papua). Tanah latosol dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai areal sawah, tanaman palawija, pertanian hortikultura, dan perkebunan.

g.       Tanah Grumosol
Tanah grumosol terdapat di daerah yang memiliki rata-rata curah hujan tahunan 1.000 hingga 2.000 mm di ketinggian tempat tidak lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, dan topografinya landai hingga bergelombang. Jenis tanah ini berasal dari abu vulkanik dan tanah liat. Oleh karena itu tanah grumosol berwarna kelabu kehitam-hitaman dan kandungan bahan organiknya relative rendah. Tanah jenis ini cocok untuk pertanian kapas, padi, jagung, dan kedelai. Tanah grumosol sering disebut tanah margalit. Di Indonesia, jenis tanah ini tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Sulawesi Selatan.
             
h.      Tanah Kapur
Tanah kapur berasal dari batu kapur yang mengalami pelapukan. Tanah kapur sangat miskin unsur hara. Tanah kapur banyak terdapat di Gunung Kidul (Yogyakarta). Jenis tanah ini cocok untuk tanaman jati.

II. 5. Tingkat Kesuburan Tanah di Indonesia
            Tanah yang baik untuk pertanian ialah tanah gembur, cukup bahan makanan untuk tanaman (unsur hara), dan udara di dalamnya cukup banyak untuk keperluan pernapasan akar tanaman. Wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang memiliki tingkat kesuburan tanah berbeda.


            Tingkat kesuburan tanah di Indonesia adalah sebagai berikut :
a.       Tanah Vulkanik memiliki tingkat kesuburan tinggi, termasuk tanah podzolik dan alluvial. Tanah ini terdapat di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan.
b.      Tanah kurang subur, antara lain tanah pasir, tanah gambut, dan tanah kapur. Tanah ini terdapat di sebagian kecil Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
c.       Tanah tidak subur ialah jenis tanah laterit yang tandus karena kesuburannya hilang oleh proses pencucian (leaching). Tanah laterit terdapat di Pulau Kalimantan bagian barat, Pulau Jawa bagian barat (Banten), dan Pulau Jawa bagian selatan.

II. 6. Potensi Ekonomi Sumber Daya Alam
Banyaknya jenis tanah di Indonesia menyebabkan variasi penggunaan lahan. Bervariasinya penggunaan lahan mengakibatkan potensi ekonomi yang beraneka pula.
a.       Dataran pantai dengan kemiringan lereng  0% - 3% dan beda tinggi 0 – 5 meter, umumnya untuk usaha tambak udang, banding, garam, dan objek wisata. Usaha tambak udang dan tambak banding memerlukan hutan mangrove (Hutan Bakau) yang berfungsi sebagai tempat perkembangbiakan ikan tersebut.
b.      Dataran rendah dengan kemiringan lereng 3% - 15% dan beda tinggi 10 – 75  meter merupakan daerah timbunan tanah alluvial yang subur. Kesuburan tanah di dataran rendah erat kaitannya dengan aliran sungai, misalnya di Indramayu terdapat tanah endapan dari Sungai Cimanuk. Selain untuk areal pertanian, dataran rendah dimanfaatkan untuk permukiman dan perindustrian.
c.       Daerah pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan lereng 15% - 30% dan beda tinggi 10 – 300 meter memiliki kesuburan tanah yang bergantung kepada batuan induknya dan tingkat pelapukan batuan. Apabila batuan tersebut berasal dari hasil kegiatan gunung api, tanahnya akan subur.

Ketinggian tempat juga berpengaruh terhadap aktivitas penduduk, khususnya dalam menentukan jenis tanaman pertanian. Berikut ini contoh pengaruh ketinggian tempat terhadap jenis tanaman pertanian (berdasarkan Junghuhn).
a.       Daerah di ketinggian 0 – 700 meter di atas permukaan laut (dpl) dimanfaatkan untuk budidaya tanaman padi, kelapa, karet, kopi, dan tebu.
b.      Daerah ketinggian 700 – 1.500 meter dpl,cocok untuk budi daya tanaman kina dan the.
c.       Daerah di ketinggian 1.500 – 2.500 meter dpl, cocok untuk tanaman pinus, sayuran, buah-buahan, serta bunga-bungaan.
d.      Daerah di ketinggian 2.500 meter dpl biasanya hanya ditumbuhi oleh lumut dan pepohonan kerdil.

Berdasarkan keempat contoh tersebut, wilayah yang baik untuk budi daya pertanian ketinggian 0 – 1.500 meter di atas permukaan laut, misalnya daerah Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu. Daerah-daerah tersebut dijadikan sebagai lumbung padi di Pulau Jawa.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
            Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat bermanfaat bagi manusia. Tanah merupakan media tumbuhnya tanaman dari tempat sebagian besar kegiatan hiduip manusia. Misalnya , bertani, berkebun, mendirikan rumah, sarana olahraga, transportasi, dan membangun kawasan industri.
            Di permukaan bumi, tanah tersebar di kawasan pantai, dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan sampai wilayah pegunungan. Keseluruhan daerah persebaran tanah ini dinamakan lahan.
            Wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang memiliki jenis dan tingkat kesuburan tanah yang berbeda. Jenis-jenis tanah yang terdapat di Indonesia adalah tanah vulkanik, tanah podzolik, tanah laterit, tanah gambut, tanah alluvial, tanah latosol, tanah gromosol dan tanah kapur.

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>