MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

TELAAH HUBUNGAN SEBAB AKIBAT ANTARA SUKU BUNGA DAN INVESTASI




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Investasi bersama komponen permintaan agregat lainnya berperan penting tidak hanya dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. Bahkan lebih jauh dari itu, investasi berperan besar dalam menentukan daya saing produk Indonesia di pasar dalam negeri maupun luar negeri serta dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Permasalahan yang timbul adalah begitu sulitnya negara Indonesia dalam menggalang dana guna investasi di Indonesia. Hal ini menjadi problema yang tidak ringan karena masih banyaknya variable ekonomi Indonesia yang relatif tidak stabil sebagai ciri dari negara yang sedang berkembang terhadap keputusan investor asing dalam menanamkan modalnya di Indonesia. Di samping itu, adanya fenomena ketertarikan pemilik dana domestik untuk menanamkan modalnya di luar negeri karena dianggap lebih menjanjikan daripada menanamkan modalnya di dalam negeri.
Sumber pendanaan investasi dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Artinya adalah pemerintah harus dapat membuat para investor luar negeri tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia serta bagaimana membuat para pemilik modal di dalam negeri untuk tetap mau melakukan investasinya di Indonesia sehingga tidak menginvestasikan modal yang dimilikinya di luar negeri. Berkenaan dengan hal tersebut, pemerintah harus mampu menyiapkan iklim investasi yang kondusif di dalam negeri agar pelaku ekonomi merasa aman dalam melakukan aktivitasnya. Berbagai langkah yang telah diupayakan pemerintah dalam rangka perbaikan iklim investasi di Indonesia, di antaranya tercermin dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (INPRES) No. 3 tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi pada bulan Februari 2006. Paket ini terdiri dari kebijakan umum, kepabeanan dan cukai, perpajakan, ketenagakerjaan, dan Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi (UKMK). Selain itu, pada awal tahun 2006, pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Infrastruktur untuk meningkatkan investasi di bidang infrastruktur. Pada bulan Juli 2006, Pemerintah dan Bank Indonesia mengeluarkan Paket Kebijakan Sektor Keuangan. Bahkan, secara khusus pemerintah telah mengesahkan UU No. 25 Tahun 2007, tentang Penanaman Modal dan beberapa kebijakan turunannya, yang semua itu dalam rangka mendorong investasi Indonesia.
Namun, disadari pula bahwa krisis keuangan global saat ini yang diikuti kebijakan perbaikan ekonomi di berbagai negara merupakan tantangan yang tidak kecil dalam prospek pengembangan investasi di Indonesia. Sebagai lanjutan dari krisis global tersebut, IMF (World Economic Outlook database) memperkirakan pertumbuhan ekonomi advanced economies akan turun dari 2.7% di tahun 2007, diestimasikan menjadi 1.0% di tahun 2008, dan diproyeksikan menjadi -1.8% di tahun 2009.
Selain itu, berbagai indikator makro ekonomi pada negara-negara pesaing seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku bunga yang lebih kondusif dibandingkan Indonesia akan mempersulit usaha Indonesia untuk pengembangan investasi. Kondisi iklim investasi di Indonesia dinilai masih memprihatinkan. Hasil survei lembaga internasional, World Economic Forum dalam laporannya yang berjudul “The Global Competitiveness Report 2006– 2007” menyatakan bahwa peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness Index sudah meningkat, peringkat ke 50 pada tahun 2006. Peringkat Indonesia pada tahun 2006 ini lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam (peringkat 77), tetapi masih lebih rendah dibandingkan dengan Singapura (peringkat 5), Malaysia (peringkat 26), dan Thailand (peringkat 35). Hal ini menunjukkan seriusnya persoalan iklim investasi di Indonesia.yang harus segera disikapi.
            B. Rumusan Masalah
                        Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah:
1. Sebutkan metode pembebanan tingkat suku bunga?
2.  Apa saja perilaku tingkat suku bunga?
3. Sebutkan dampak tingkat suku bunga bank dalam perekonomian?
4. Apa saja teori struktur tingkat bunga?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Suku Bunga
Tingkat suku bunga adalah harga yang harus dibayar oleh peminjam untuk memperoleh dana dari pemberi pinjaman untuk jangka waktu yang disepakati.
Bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dengan yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjaman).
Menurut Kamus lengkap ekonomi, suku bunga (interest rate) adalah kompensasi yang dibayar peminjam dana kepada yang meminjam. Suku bunga merupakan salah satu variabel dalam perekonomian yang senantiasa diamati secara cermat karena dampaknya yang luas dan mempengaruhi secara langsung kehidupan masyarakat keseharian serta mempunyai dampak penting terhadap kesehatan perekonomian. Biasanya suku bunga diekspresikan sebagai persentase pertahun yang dibebankan atas uang yang dipinjam[1].
B.     Macam-Macam Bunga
Dalam kegiatan perbankan sehari-hari ada 2 macam bunga yang diberikan kepada nasabahnya yaitu :
1.      Bunga Simpanan
Bunga yang diberikan sebagai balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Bunga simpanan merupakan harga yang harus dibayar bank kepada nasabahnya. Contohnya : jasa giro, bunga tabungan, dan bunga deposito.
2.      Bunga Pinjaman
Adalah bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank. Contohnya : bunga kredit.
C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Suku Bunga
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya penetapan suku bunga secara garis besar yaitu sebagai berikut:
1.      Kebutuhan Dana
Apabila bank kekurangan dana, sementara permohonan pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat terpenuhi  dengan meningkatkan suku bunga simpanan. Peningkatan bunga simpanan secara otomatis akan pula meningkatkan bunga pinjaman. Namun apabila dana yang ada simpanan banyak sementara permohonan simpanan sedikit maka bunga simpanan akan turun[2].
2.      Persaingan
Dalam memperebutkan dana simpanan, maka disampingfaktor promosi yang paling utama pihak perbankan harus memperhatikan pesaing. Dalam arti jika untuk bunga simpanan rata-rata 16% maka hendak membutuhkan dana cepat sebaiknya bunga pinjaman dinaikkan diatas bunga pesaing misalnya 16%. Namun sebaliknya untuk bunga pinjaman harus berada dibawah bunga pesaing.
3.      Kebijaksanaan Pemerintah
Dalam arti baik untuk bunga simpanan maupun bunga pinjaman tidak boleh melebihi yang sudah ditetapkan pemerintah.
4.      Target Laba yang diinginkan
Sesuai dengan target laba yang diinginkan, jika laba yang diinginkan besar maka bunga pinjaman ikut besar dan sebaliknya.
5.      Jangka Waktu
Semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka akan semakin tinggi bunganya. Hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko dimasa mendatang. Demikian pula sebaliknya jika pinjaman berjangka pendek, maka bunganya relatif lebih rendah.
6.      Kualitas Jaminan
Semakin likuid jaminan yang diberikan, maka semakin rendah bunga kredit yang dibebankan dan sebaliknya. Sebagai contoh jaminan sertifikat deposito berbeda dengan jaminan sertifikat tanah. Alasan utama perbedaan ini adalah dalam hal pencairan jaminan apabila kredit yang diberikan bermasalah. Bagi jaminan yang likuid seperti sertifikat deposito atau rekening giro yang dibekukan akan lebih mudah untuk dicairkan jika dibandingkan dengan jaminan tanah.
7.      Reputasi Perusahaan
Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya perusahaan yang bonafid kemungkinan resiko kredit macet dimasa mendatang relatif kecil dan sebaliknya[3].
8.      Produk yang Kompetitif
Maksunya adalah produk yang dibiayai tersebut laku di pasaran. Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif.
9.      Hubungan Baik
Biasanya bank menggolongkan nasabahnya antara nasabah utama (primer) dan nasabah biasa (sekunder). Penggolongan ini didasarkan kepada keaktifan serta loyalitas nasabah yang bersangkutan terhadap bank. Nasabah utama biasanya mempunyai hubungan yang baik dengan pihak bank, sehingga dalam penentuan suku bunganya pun berbeda dengan nasabah biasa.
10.  Jaminan Pihak Ketiga
Dalam hal ini pihak yang memberikan jaminan kepada penerima kredit. Biasanya jika pihak yang memberikan jaminan bonafid, baik dari segi kemampuan membayar, nama baik maupun loyalitasnya terhadap bank, maka bunga yang dibebankannya pun juga berbeda. Demikian pula jika penjamin pada pihak ketiganya kurang bonafid atau tidak dapat dipercaya maka mungkin tidak dapat digunakan sebagai jaminan pihak ketiga oleh pihak bank.[5]


D.    Fungsi Tingkat Suku Bunga dalam Perekonomian
Tingkat bunga melaksanakan beberapa fungsi penting dalam perekonomian yaitu :
1.      Menjamin tabungan akan mengalir kedalam investasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
2.      Merupakan alat kebijaksanaan pemerintah yang penting untuk mempengaruhi volume tabungan dan investasi.
3.      Menjatahkan penawaran kredit kepada proyek investasi dengan harapan penghasilan paling tinggi.[6]
4.      Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
5.       Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian.
6.      Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar.
E.     Metode Pembebanan Suku Bunga
1.      Sliding Rate
Merupakan perhitungan bunga kredit dengan total angsuran yang akan menurun setiap setiap kali angsuran. Total angsuran menurun tersebut karena angsuran pokok akan sama setiap kali angsuran, sementara angsuran bunga akan menurun.
Contoh :
      Wina mendapat kredit dari Bank ABC sebesar Rp 120.000.000,- jangka waktu satu tahun. Suku bunga kredit 12% pertahun, sliding rate dan angsuran dilakukan setiap bulan. Hitunglah jumlah angsuran perbulan !
Angsuran Bulan Pertama
Angsuran pokok = 120.000.000/12                                  = Rp 10.000.000,-
Angsuran Bunga Bulan I = 12% x 1/12 x 120.000.000    = Rp   1.200.000,-
Angsuran Total pada Bulan I                                            = Rp 11.200.000,-
Angsuran Bulan Kedua
Angsuran Pokok = 120.000.000/12                                  = Rp 10.000.000,-
Angsuran Bunga Bulan II = 12% x 1/12 x 110.000.000  = Rp   1.100.000,-
Angsuran Total pada Bulan II                                          = Rp 11.100.000,-
      Dari angsuran tersebut dapat diketahui bahwa total angsuran akan menurun setiap bulan, sehingga metode pembebanan bunga dengan total angsuran yang menurun disebut dengan Sliding Rate.

2.      Flat Rate
Merupakan metode pembebanan suku bunga kredit yang rata setiap kali angsuran, atau total angsuran pokok, maupun angsuran bunga sama setiap kali angsuran atau setiap bulan.
Contoh :
      Wina mendapat kredit dari Bank ABC sebesar Rp 120.000.000,-  jangka waktu dua tahun. Suku bunga kredit 12% pertahun flat rate, dan angsuran dilakukan setiap bulan. Hitunglah jumlah angsuran perbulan!
Angsuran perbulan = 120.000.000 + (120.000.000 x 12% x 2)
                                                                  24
Angsuran perbulan = 148.800.000  = Rp 6.200.000,-
                                          24
Atau
Angsuran Pokok Perbulan = 120.000.000/24                   = Rp 5.000.000,-
Angsuran Bunga perbulan = 12% x 1/12 x 120.000.000  = Rp 1.200.000,-
Total Angsuran perbulan                                                   = Rp 6.200.000,-
3.      Floating Rate
Jenis ini pembebanan bunga dikaitkan dengan bunga yang ada di pasar uang sehingga bunga yang dibayar setiap bulan sangat tergantung dari bunga pasar uang bulan tersebut. Jumlah bunga yang dibayarkan dapat lebih tinggi atau lebih rendah dari bulan yang bersangkutan.
4.      Annuity
Merupakan perhitungan bunga dengan mengalikan persentase bunga dikalikan dengan saldo akhir pinjaman secara tahunan. Dalam metode annuity ini, total angsuran pertahun akan sama, sementara angsuran pokok dan bunga akan berubah. Angsuran pokok akan meningkat setiap tahun dan angsuran bunga akan menurun karena bunga dihitung dari saldo akhir kredit.
Contoh :
      Wina mendapat kredit dari Bank ABC sebesar Rp 120.000.000,- jangka waktu 5 tahun. Suku bunga kredit 12% pertahun annuity (anuitas), dan angsuran dilakukan setiap bulan. Hitunglah jumlah angsuran perbulan dan angsuran pertahun!

Angsuran pertahun = 120.000.000 x 12%
                                      1 – (1 + 12%)-5
                                =  33.289.168
Angsuran perbulan  = 33.289.168  = 2.774. 097
Pembayaran angsuran perbulan dilakukan dengan membagi hasil angsuran pertahun dengan
Angsuran pokok tahun I
Angsuran pertahun                                                = Rp 33.289.168,-
Angsuran bunga tahun I = 12% x 120.000.000    = Rp 14.400.000,-
Angsuran pokok tahun I                                       = Rp 18.889.168,-
Angsuran pokok tahun II
Angsuran pertahun                                                = Rp 33.289.168,-
Angsuran bunga tahun II = 12% x 101.110.832  = Rp 12.133.300,-
Angsuran pokok tahun II                                      = Rp 21.155.868,-
      Angsuran pokok tahun ketiga sampai tahun kelima dapat dilakukan seperti pada angsuran pertama dan kedua dan pada akhir tahun kelima saldo akhir pinjaman sama dengan nol.
5.      Efective Rate
Merupakan beban bunga efektif yang ditanggung oleh debitur. Dalam metode efective rate, total angsuran akan sama setiap bulan akan tetapi angsuran pokok akan meningkat dan angsuran bunga akan menurun.
Contoh :
      Pada tanggal 1 April 2006, Wina mendapat kredit dari Bank ABC sebesar
Rp 120.000.000,- jangka waktu 20 bulan. Bunga 12% pertahun efective rate  dan angsuran dilakukan setiap bulan dan dimulai sejak tanggal 1 Mei 2006.
Angsuran = 120.000.000 x 1%
                      1 – (1 + 1%)-20
Angsuran = 6.649.838
Angsuran Bulan I
Angsuran total akan sama setiap bulan sebesar    = Rp 6.649.838,-
Angsuran Bunga = 1% x 120.000.000                  = Rp 1.200.000,-
Angsuran Pokok Bulan I                                      = Rp 5.449.838
Angsuran Bulan II
Angsuran total akan sama setiap bulan sebesar    = Rp 6.649.838,-
Angsuran Bunga = 1% x 114.550.162                  = Rp 1.145.502,-
Angsuran Pokok Bulan II                                     = Rp 5.504.336,-
            Perhitungan angsuran pokok dan bunga bulan ketiga dan seterusnya dapt dihitung dengan menggunakan perhitungan seperti di atas.[8]
F.     Perilaku Tingkat Suku Bunga
1.      Faktor penentu permintaan aset
Aset (aktiva) adalah bagian dari kekayaan yang bernilai. Ada empat faktor yang mempengaruhi permintaan aset, yaitu kekayaan, ekspektasi imbal hasil, resiko dan likuiditas. Kekayaan adalah total sumber dana yang dimiliki oleh individu atau badan. Ekspektasi imbal hasil adalah imbal hasil relatif suatu aset terhadap aset lainnya dari suatu periode ke periode berikutnya. Risiko adalah derajat ketidakpastian yang berhubungan dengan imbal hasil dari satu aset relatif terhadap aset lainnya. Likuiditas adalah kemudahan atau kecepatan suatu aset dikonversi kedalam bentuk kas tanpa biaya yang besar.
2.      Permintaan dan penawaran obligasi
            Analisis penentuan tingkat bunga digunakan untuk menurunkan permintaan dan penawaran obligasi. Tingkat bunga berbagai sekuritas bergerak secara searah atau berhubungan positif sehingga analisis penentuan tingkat bunga cukup pada satu sekuritas, yaitu obligasi. Analisis permintaan obligasi digunakan untuk memperoleh kurva permintaan obligasi, yaitu hubungan antara jumlah permintaan dengan harga obligasi.
3.      Perubahan keseimbangan tingkat bunga
Perubahan keseimbangan tingkat bunga terjadi akibat perubahan permintaan dan penawaran obligasi. Ada empat faktor yang berpengaruh terhadap permintaan obligasi yaitu : kekayaan, perkiraan imbal hasil obligasi relatif terhadap aset lainnya,  risiko obligasi relatif terhadap aset lainnya, dan likuiditas obligasi relatif terhadap aset lainnya. Faktor lain yang mempengaruhi kekayaan adalah kecenderungan menabung dari masyarakat. Peningkatan kecenderungan menabung dari masyarakat mengakibatkan kekayaan semakin tinggi dan akhirnya meningkatkan harga obligasi dan menurunkan tingkat bunga obligasi.
4.      Preferensi likuiditas : penawaran dan permintaan uang
Analisis preferensi likuiditas menjelaskan penentuan tingkat bunga melalui keseimbangan penawaran dan permintaan uang. Analisis prefensi likuiditas dari pasar uang dihubungkan dengan penawaran dana pinjaman pada pasar obligasi. Peningkatan pendapatan menyebabkan peningkatan permintaan uang dan kemudian meningkatkan tingkat bunga. Kenaikan tingkat harga akan menurunkan biaya beli riil barang atau jasa. Untuk mempertahan nilai uang riil yang dipegang masyarakat akan meminta uang nominal lebih banyak sehingga peningkatan harga akan meningkatkan permintaan uang dan tingkat bunga.[9]
G.    Dampak Tingkat Suku Bunga Bank dalam Perekonomian
1.      Tingkat suku bunga akan mempengaruhi keputusan melakukan investasiyang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi.
2.      Tingkat suku bunga juga akan mempengaruhi pengambilan keputusan pemilik modal.
3.      Tingkat suku bunga akan mempengaruhi kelangsungan usaha pihak bank dan lembaga keuangan lainnya.
4.      Tingkat suku bunga dapat mempengaruhi volume uang beredar.[10]
H.    Teori Mengenai Struktur Tingkat Bunga
Teori pokok mengenai struktur tingkat bunga menurut jangka waktu, yaitu sebagai berikut :
1.      Teori Liquidity Preference
Teori ini mengatakan bahwa tingkat bunga pertahun untuk pinjaman yang berjangka waktu lebih lama selalu lebih tinggi dari pada tingkat  bunga pertahun untuk pinjaman berjangka waktu lebih pendek.
2.      Teori Kelompok Pasar (the preferred market habitat theory)
Teori ini mengatakan bahwa tingkat bunga yang berlaku bagi suatu “kelompok” pinjaman dengan jangka waktu tertentu ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran dana untuk kelompok tersebut. Masing-masing “kelompok” seakan-akan mempunyai “pasar” sendiri, dan situasi pasar masing-masing kelompok yang terutama menentukan tingkat bunga untuk kelompok tersebut. Tetapi teori ini tidak mengatakan bahwa tingkat bunga untuk suatu kelompok hanya dipengaruhi oleh situasi pasar kelompok tersebut. Teori ini mengakui adanya hubungan antar pasar-pasar tersebut.
3.      Teori Klasik
Teori ini menekankan bahwa :
·         peranan “harapan masyarakat” mengenai pola perkembangan tingkat bunga di masa mendatang dalam menentukan struktur tingkat bunga[4].
·         Bahwa kalaupun ada pasar “kelompok” seperti yang digambarkan oleh teori kelompok pasar tersebut di atas, tetapi antara kelompok satu dengan yang lain sangat menentukan situasi pasar lain (substitusi antara satu kelompok dana dengan kelompok dana lain sangat dekat).
HUBUNGAN TINGKAT SUKU BUNGA DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Menaikkan suku bunga adalah alat utama bank sentral untuk memerangi inflasi. Dengan membuat biaya pinjaman semakin mahal maka jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang dan aktivitas perekonomian akan menurun. Kejadian sebaliknya bisa terjadi. Turunnya suku bunga akan menyebabkan biaya pinjaman menjadi makin murah. Para investor akan cenderung terdorong untuk melakukan ekspansi bisnis atau investasi baru, dan para konsumen akan menaikkan pengeluarannya. Dengan demikian output perekonomian akan meningkat dan lebih banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. Selain itu investasi ke pasar saham juga akan naik[5].
Namun demikian, aktivitas perekonomian yang terlalu tinggi akan menyebabkan meningkatnya inflasi. Makin tinggi tingkat inflasi akan menyebabkan makin mahalnya harga barang dan jasa. Daya beli uang akan menurun. Akibat lain dari rendahnya suku bunga adalah turunnya penjualan bond karena yield yang diberikan relatif akan rendah. Namun demikian bank sentral tidak akan serta merta menaikkan tingkat suku bunga. Bank sentral akan melihat apakah keadaan akan lebih baik jika suku bunga dinaikkan, terutama jika sedang terjadi resesi.
Perubahan suku bunga BI Rate juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini sering disebut jalur nilai tukar. Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri. Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrument-instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.
Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui  perubahan harga aset. Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi sehingga mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang  pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi.[6]
Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi). Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi. Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga.
Kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh bank Sentral, maka akan direspon oleh para pelaku pasar dan para penanam modal untuk memanfaatkan moment tersebut guna meningkatkan produksi dan menanamkan investasinya.[7]
Seiring dengan itu, akan berdampak juga pada jumlah produksi yang bertambah dan tenaga kerja yang juga akan semakin bertambah. Akibatnya ekspor bertambah dan jumlah pengangguran menurun, sehingga devisa yang masuk ke negara tersebut semakin menguatkan dollar terhadap mata uang lain. Demikian pula sebaliknya, bila saja suku bunga menurun, produksi industri akan berkurang karena produsen akan membatasi kerugian. Apabila jumlah produksi berkurang, maka akan melemahkan mata uang tersebut.
Kenaikan suku bunga sangatlah  dikhawatirkan oleh para kreditur dan tingkat penjualan perumahan yang semakin menurun karena membuat pajak pinjaman modal dan kredit perumahan semakin meningkat, tanpa didukung dalam kelancaran produksi dan bisnis yang menunjang, akan berimbas pada kredit macet.
Tingkat bunga akan naik apabila individu ingin  meminjam lebih banyak dan sebaliknya, apabila keinginan meminjam menurun tingkat bunga juga akan turun. Dan jelas bahwa tingkat bungalah yang menyelesaikan masalah alokasi waktu sekarang dan nanti.
HUBUNGAN TINGKAT SUKU BUNGA DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Menaikkan suku bunga adalah alat utama bank sentral untuk memerangi inflasi. Dengan membuat biaya pinjaman semakin mahal maka jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang dan aktivitas perekonomian akan menurun. Kejadian sebaliknya bisa terjadi. Turunnya suku bunga akan menyebabkan biaya pinjaman menjadi makin murah. Para investor akan cenderung terdorong untuk melakukan ekspansi bisnis atau investasi baru, dan para konsumen akan menaikkan pengeluarannya. Dengan demikian output perekonomian akan meningkat dan lebih banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. Selain itu investasi ke pasar saham juga akan naik.
Namun demikian, aktivitas perekonomian yang terlalu tinggi akan menyebabkan meningkatnya inflasi. Makin tinggi tingkat inflasi akan menyebabkan makin mahalnya harga barang dan jasa. Daya beli uang akan menurun. Akibat lain dari rendahnya suku bunga adalah turunnya penjualan bond karena yield yang diberikan relatif akan rendah. Namun demikian bank sentral tidak akan serta merta menaikkan tingkat suku bunga. Bank sentral akan melihat apakah keadaan akan lebih baik jika suku bunga dinaikkan, terutama jika sedang terjadi resesi.
Perubahan suku bunga BI Rate juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini sering disebut jalur nilai tukar. Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri. Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrument-instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.

Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui  perubahan harga aset. Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi sehingga mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang  pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi.
Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi). Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi. Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga.
Kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh bank Sentral, maka akan direspon oleh para pelaku pasar dan para penanam modal untuk memanfaatkan moment tersebut guna meningkatkan produksi dan menanamkan investasinya.
Seiring dengan itu, akan berdampak juga pada jumlah produksi yang bertambah dan tenaga kerja yang juga akan semakin bertambah. Akibatnya ekspor bertambah dan jumlah pengangguran menurun, sehingga devisa yang masuk ke negara tersebut semakin menguatkan dollar terhadap mata uang lain. Demikian pula sebaliknya, bila saja suku bunga menurun, produksi industri akan berkurang karena produsen akan membatasi kerugian. Apabila jumlah produksi berkurang, maka akan melemahkan mata uang tersebut.
Kenaikan suku bunga sangatlah  dikhawatirkan oleh para kreditur dan tingkat penjualan perumahan yang semakin menurun karena membuat pajak pinjaman modal dan kredit perumahan semakin meningkat, tanpa didukung dalam kelancaran produksi dan bisnis yang menunjang, akan berimbas pada kredit macet.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada prinsipnya suku bunga adalah harga atas penggunaan uang atau sebagai sewa atas penggunaan uang dalam jangka waktu tertentu, yang umumkan dalam  'persentase'. Suku bunga berhubungan negatif terhadap Investasi. Semakin rendah tingkat bunga semakin banyak investasi yang dilakukan para pengusaha. Tingkat investasi yang tinggi akan mendorong pendapatan nasional sehingga pertumbuhan ekonomi akan meningkat.

Setiap masyarakat (atau investor)  yang melakukan interaksi dengan bank, baik interaksi dalam bentuk simpanan, maupun pinjaman (kredit), akan selalu terkait dan dikenakan dengan yang namanya bunga. Bagi masyarakat  (atau investor) yang menanamkan dananya pada bank, baik itu simpanan tabungan, deposito dan giro akan diberikan suku bunga simpanan (dalam bentuk %).

Suku bunga ini merupakan rangsangan dari bank agar masyarakat mau menanamkan dananya pada bank. Semakin tinggi suku bunga simpanan, maka masyarakat akan semakin giat untuk menanamkan dananya pada bank, dikarenakan harapan mereka untuk memperoleh keuntungan. Dan begitu sebaliknya, semakin rendah suku bunga simpanan, maka minat masyarakat (atau investor) dalam menabung akan berkurang sebab masyarakat berpandangan tingkat keuntungan yang akan mereka peroleh dimasa yang akan datang dari bunga adalah sangat  kecil.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan tingkat suku bunga dengan investasi adalah negative yaitu ketika tingkat suku bunga naik, maka investasi akan berkurang dan demikian sebaliknya jika tingkat suku bunga turun maka investasi akan bertambah. Tetapi pengaruh tingkat suku bunga terhadap investasi tidak terlalu besar yakni hanya 31% dimana sisanya yaitu 69 % dipengaruhi oleh faktor lain selain tingkat suku bunga. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat suku bunga berhubungan negatif dengan kegiatan investasi benar akan tetapi tidak berlaku lagi di masa sekarang ini. Kegiatan investasi tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga akan tetapi dipengaruhi oleh faktor lain seperti situasi politik dan keamanan dalam negeri, keadaan ekonomi (inflasi, kondisi nilai tukar, infrastruktur) , ketidakpastian hukum, dan pergantian kepemimpinan negara dan pejabat yang terkait. Selain itu perubahan tingkat suku bunga hanya berpengaruh pada investor domestik akan tetapi investor asing dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Saran
Peran serta pemerintah sangat berpengaruh terhadap iklim investasi di Indonesia terutama dalam penentuan kebijakan-kebijakan dan perundang-undangan. Pemerintah dalam menciptakan keadaan yang kondusif di dalam negeri dapat meningkatkan kepercayaan investor dalam menanamkan modalnya sehingga tingkat investasi dapat meningkat. Kestabilan ekonomi juga perlu diciptakan guna meningkatkan investasi sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tercapai dengan tingkat kemiskinan yang rendah, dan pengangguran yang sedikit.






DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim (2005). Analisis Investasi. Edisi Dua. Jakarta: Salemba Empat.
Ang, Robert. (1997). Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, Jakarta: Mediasoft.
Adi Nugroho. (2005). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Dengan Metodologi Berorientasi Objek. Bandung: Informatika.
Algifari. (2000). Analisis Regresi, Teori, Kasus & Solusi. Yogyakarta: BPFE UGM.
Aldiningsih Sri. (1998). STATISTIK. Yogyakarta. BPFE.
Arikunto, S., (1996). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Asep Hermawan (2008). “ Penelitian Bisnis Paradigma Kuantitatif ”.
Boediono. (1992). Ekonomi Moneter. Edisi ketiga, BPFE Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Teori Moneter. Yogyakarta: BPFE UGM.
Cahyono, J. E. (2000). Menjadi Manajer Investasi Bagi Diri Sendiri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fabozzi, Frank, J & Franco Modigliani. (1996). Capital Market, Second Edition New Jersey Printice: Hall inc.




[1] Abdul Halim (2005). Analisis Investasi. Edisi Dua. Jakarta: Salemba Empat.

[2] Ang, Robert. (1997). Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, Jakarta: Mediasoft.

[3] Asep Hermawan (2008). “ Penelitian Bisnis Paradigma Kuantitatif ”.

[4] Aldiningsih Sri. (1998). STATISTIK. Yogyakarta. BPFE.

[5] Fabozzi, Frank, J & Franco Modigliani. (1996). Capital Market, Second Edition New Jersey Printice: Hall inc.

[6] Boediono. (1992). Ekonomi Moneter. Edisi ketiga, BPFE Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Teori Moneter. Yogyakarta: BPFE UGM.

[7] Cahyono, J. E. (2000). Menjadi Manajer Investasi Bagi Diri Sendiri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753