MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

TELA’AH FULL DAY SCHOOL DALAM MEMBANGUN KARAKTERISTIK SISWA MILENIAL YANG AGAMIS DAN BERKARAKTER MANDIRI




“Indonesia ini kacau karena kesalahan pendidikannya. Untuk cari 11 pesepakbola saja susah dan ini kesalahan dari pendidikan,” ujar Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Pernyataan ini muncul pada Senin (3/7), saat Muhadjir menjadi Pembina Upacara di Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru. Pada kesempatan itu pula Muhadjir mencoba mengklarifikasi mengenai polemik wacana “full day school” yang berkembang di masyarakat sejak digulirkan sekitar Agustus tahun lalu.
            Kutipan diatas merupakan bentuk penjelasan hakiki mengenai kondisi pro kontra yang sedang dialami dunia pendidikan di Indonesia. Seharusnya, Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini berkaitan dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, saleh, sabar, jujur, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari penjelasan tentang tujuan pendidikan tersebut yaitu berkaitan dengan pembentukan karakter siswa agar siswa dapat berbuat baik dan berbudi pekerti luhur.
            Karakter merupakan kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak. Pada tahun 2011, Kemendiknas menyebutkan bahwa pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakikat karakter, implementasi, menggali pengetahuan serta niai-nilai yang harus dikembangkan dalam lingkup pribadi, kelompok dan bangsa.
            Pendidikan karakter merupakan usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilainilai yang telah menjadi kepribadiannya, sehingga pendidikan karakter menjadi tanggung jawab bersama bagi semua pendidik. Pendidikan karakter di lingkungan sekolah sangat diharapkan berbagai pihak, karena fenomena berbagai kasus rendahnya moral yang dilakukan oleh anak usia sekolah. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam membentuk kepribadian peserta didik melalui pendidikan karakter.
            Dalam prespektif karakter terdapat 18 nilai yang harus dimiliki oleh setiap individu, guna menciptakan individu yang memiliki karakter yang baik. Nilai-nilai karakter tersebut tidaklah mudah untuk menanamkan disetiap individu, dibutuhkan kerja keras dari semua pihak, baik keluarga, para pendidik, dan masyarakat.
            Salah satu upaya pemerintah untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik/anak adalah penerapanpendidikan berbasis fuul day school yang saat ini sudah sebagian sekolah yang telah menerapkannya. Pendidikan full day school secara umum adalah program sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh. Umumnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai 07.00 sampai 16.00.
            Dengan adanya program ini, diharapkan para pendidik memiliki waktu lebih banyak untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik dibarengi dengan praktek yang dilihat oleh peserta didik secara nyata, dan kelak mereka akan mengikuti dan menanamkan pada diri mereka masing-masing.
            Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, maksud dari full day school adalah pemberian jam tambahan. Namun, pada jam tambahan ini siswa tidak akan dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan seusai jam belajar-mengajar di kelas selesai adalah ekstrakurikuler (ekskul). Dari kegiatan ekskul ini, diharapkan dapat melatih 18 karakter, beberapa di antaranya jujur, toleransi, displin, hingga cinta tanah air.
            Usai belajar setengah hari, hendaknya para peserta didik (siswa) tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka," kata Muhadjir. Dengan demikian, kemungkinan siswa ikut arus pergaulan negatif akan sangat kecil karena berada di bawah pengawasan sekolah. Misalnya, penyalahgunaan narkoba, tawuran, pergaulan bebas, dan sebagainya.
            Pertimbangan lainnya adalah faktor hubungan antara orangtua dan anak. Biasanya siswa sudah bisa pulang pukul 1. Tidak dipungkiri, di daerah perkotaan, umumnya para orangtua bekerja hingga pukul 5 sore.  "Antara jam 1 sampai jam 5 kita nggak tahu siapa yang bertanggung jawab pada anak, karena sekolah juga sudah melepas, sementara keluarga belum ada," pungkas beliau menambahkan.


            Indonesia memerlukan sumberdaya manusia yang memadai sebagai pilar utama dalam pembangunan nasional. Dalam kerangka itu, maka pendidikan formal (Pendidikan Sekolah) memiliki peran yang sangat penting. Pendidikan sekolah dalam domainnya sendiri, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupansetiap orang.
            Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang besar memiliki kemampuan dan interaksi sosial yang baik. Interaksi sosial bertujuan membangun komunikasi antar ras, etnis, dan suku yang ada di daerah itu. Oleh karena itu membutuhkan karakter yang baik sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.Karakter dianggap sebagai bagian dari elemen psiko-sosial yang terkait dengan konteks sekitarnya.
            Membangun karakter suatu bangsa membutuhkan waktu yang lama dan harus dilakukan secara berkesinambungan dan menyeluruh. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan periode yang baru tiada henti-hentinya melakukan upayauntuk perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, namun belum semuanya berhasil, terutama menghasilkan insan Indonesia yang berkarakter. Salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan yang seperti di atas, para peserta didik harus dibekali dengan pendidikan khusus yang membawa misi pokok dalam pembinaan karakter atau akhlak mulia.
            Pendidikan karakter akan lebih bermakna jika dilakukan sejak usia dini. Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat pesat hingga 80 persen. Pada usia itu otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, baik dan buruk. Usia tersebut adalah periode di mana fisik, mental dan spiritual anak akan mulai terbentuk (Itstyarini, 2015). Oleh sebab itu penanaman nilai karakter di usia dini sangat penting sehingga anak ketika dewasa memiliki karakter dan integritas yang baik. Di sisi lain sejumlah mata pelajaran pendidikan telah diintegrasikan dalam sejumlah mata pelajaran dan masuk pada kegiatan inti (KI. 1 dan KI.2), tetapi hal ini belum cukup. Sekolah yang merupakan motor penggerak pendidikan berupaya semaksimal mungkin agar peserta didik menjadi lebih baik.
            Wacana pendidikan karakter di Indonesia menjadi headline utama dalam masyarakat pluralistik. Ciri masyarakat yang berkarakter antara lain cinta perdamaian, hidup harmoni, toleransi, integritas, rasa hormat, kerjasama, menghormati nilai-nilai, keyakinan, taat hukum, hubungan baik sesama sebagai warga negara Agustinova menyatakan bahwa pendidikan yang selama ini masih kelirudalam pengelolaan dan salah arah.
            Pendidikan saat ini belum mampu melahirkan pribadi-pribadi unggul, jujur, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bertakwa, serta manusiawi. Kalaupun ada akan tetapi masih dalam jumlah yang sedikit. Penyimpangan arah ini menjadi hambatan dalam usaha mewujudkan pembangunan karakter bagi seluruh warga negara melalui pendidikan. Dunia pendidikan belum bisa memberikan alokasi yang memadai bagi tumbuhnya nilai-nilai kebajikan (virtues). Pendidikan hanya mampu melahirkan ahli ilmu pengetahuan (agama, matematika, biologi, fisika, kimia dan teknologi) tetapi miskin etika serta integritas.
            Penyebab gagalnya pendidikan karakter di masyarakat khususnya masyarakat sekolah yaitu sekolah masih terbatas pada penyampaian moral knowing dan morang training, tetapi kurang menyentuh moral being, yaitu membiasakan anak untuk terus-menerus melakukan perbuatan moral. Sekolah harus memiliki kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mengimplementasikan pendidikan karakter. Budimansyah & Sapriya mengungkapkan untuk dapat berperilaku mandiri secara kontinue, salah satu hal yang perlu dikembangkan adalah adanya lingkungan sekolah kondusif. Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mengajarkan nilai-nilai moral kepada siswa. Inisiatif karakter telah diperkenalkan kembali di sekolah umum, dari jenjang SD hingga perguruan tinggi dalam menanggapi kekhawatiran tentang penurunan moral,keamanan sekolah, kohesi sosial, keterlibatan sipil, dan prestasi akademik.
            Upaya untuk memaksimalkan kegiatan pembinaan karakter adalah dengan kegiatan full day school (FDS). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyatakan bahwa, ada tiga alasan pemberlakuan kegiatan FDS antara lain, (1) Tidak ada mata pelajaran dengan pengertian FDS adalah pemberian jam tambahan. Tapi dalam jam tambahan tersebut tidak ada mata pelajaran yang bisa membuat para siswa bosan. Kegiatan yang dilakukan adalah ekstrakulikuler. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut akan merangkum hingga 18 karakter, seperti jujur, toleransi, disiplin, hingga cinta tanah air.
            Dengan kegiatan tersebut, para siswa bisa dijauhkan dari pergaulan yang negatif; (2) Orang tua bisa menjemput anak ke sekolah, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, pada umumnya orang tua bekerja hingga pukul 5 sore. Dengan program tersebut, orang tua bisa menjemput anak mereka di sekolah saat pulang kerja; dan (3) Membantu sertifikasi guru artinya membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar 24 jam per minggu sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru.
            Berdasarkan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan saat ini, maka yang menjadi saran dari penulis adalah program pendidikan dalam system full day school lebih terarah dan terprogram agar system pendidikan dalam menciptakan generasi yang memiliki nilai-nilai karakter akan lebih terarah, selain itu tanggung jawab dari setiap stakeholder dibutuhkan agar setiap perubahan system pendidikan akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Dimana pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, saleh, sabar, jujur, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753