MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

STRATEGI PEMANFAATAN RAYAP SEBAGAI FOOD SUPLEMEN UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK DI INDONESIA


 



RINGKASAN
STRATEGI PEMANFAATAN RAYAP SEBAGAI FOOD SUPLEMEN UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK DI INDONESIA
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat diambil rumusan permasalahan diantaranya Bagaimanakah potensi rayap sebagai alternative pengentas gizi buruk dan Bagaimanakah strategi pemanfaatan rayap untuk menjadi food suplemen.
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan  informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Dari kurang gizi hingga busung lapar. Secara umum kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein(MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi. Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat.
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh didalam kulit, dan selebihnya didalam jaringan lain, dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intra seluler dan sebagainya adalah protein. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul yang essensial untuk kehidupan.  Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantika oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
vii
 
Di Indonesia gizi buruk ini melanda 27 persen balita atau mencapai 175 ribu penderita di seluruh indonesia(Tjuk, 2008). Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai macam cara diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. Selain itu, pemerintah akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif  adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat (Eko, 2008).
Penulisan karya ilmiah ini menggunakan teknik analisa data, analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature.
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989). Strategi pemanfaatan rayap dapat dibagi ke dalam 3 cara yaitu pembuatan tepung rayap, biskuit rayap, dan permen rayap.
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Dengan demikian masyarakat diharapkan agar membudidayakan rayap sebagai alternative panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat rayap selain itu juga dapat menambah penghasilan masyarakat dan juga diharapkan untuk mulai mengkonsumsi rayap sebagai alternative sumber protein, sedangkan pemerintah diharapkan giat untuk melakukan sosialisasi budidaya rayap sebagai alternatif sebagai panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi jumlah penderita gizi buruk.


  


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM.
Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi (Atmarita, 2008). Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada  tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup.
Di Indonesia gizi buruk ini melanda 27 persen balita atau mencapai 175 ribu penderita di seluruh indonesia (Tjuk, 2008). Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai macam cara diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. Selain itu, pemerintah akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif  adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat (Eko, 2008).
Penyebab kekurangan gizi pada masyarakat ini adalah kurangnya makanan yang cukup mengandung hidrat arang, lemak, protein serta vitamin dan mineral yang sering menjadi masalah adalah protein. Berkat protein, tubuh manusia bisa tumbuh dan terpelihara Oleh karena itu dibutuhkan sumber alternatif gizi yang mudah, murah, dan banyak terdapat di masyarakat.
Rayap sebagai salah satu alternatif sumber protein banyak tersedia di masyarakat dan harganya murah. Namun banyak masyarakat hanya kenal rayap sebagai hewan perusak. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan makannya yang sangat cepat. Makanan rayap adalah selulosa baik berbentuk arsip  kantor, buku, perabotan, kayu bagian konsruksi, sampah, dan tunggak. Kayu-kayu yang tertimbun di bawah fondasi bangunan (ini merupakan bahan sarang yang baik karena kelak mereka dimungkinkan untuk "naik"), kayu sisa cetakan beton yang tidak dikeluarkan dari konstruksi, dan lain-lain.
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein tinggi dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti membuat aneka panganan, seperti rempeyek rayap, hingga mengolahnya menjadi permen. Bahkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di tanah air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal masyarakat.
Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka perlu adanya, budidaya atau pemanfaatan rayap sebagai upaya untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh serangan rayap yang mencapai 3,73 juta dollar AS. Selain itu, dengan membudidayakan rayap juga bermanfaat untuk mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengganguran yang ada di Indonesia karena, akan membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan sampingan bagi mereka.    
1.1  Rumusan Masalah   
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu
1.Bagaimanakah potensi rayap sebagai alternative pengentas gizi buruk ?
2. Bagaimanakah strategi pemanfaatan rayap untuk menjadi food suplemen?
1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan  informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
1.3  Manfaat penulisan
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah dan tujuan di atas maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:
a.       Masyarakat dapat memanfaatkan potensi rayap yang begitu besar terdapat di sekitar lingkungan masyarakat.
b.      Mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran pada masyarakat karena, dengan membudidayakan rayap dan membuat macam aneka food suplemen rayap berarti dapat menciptakan lapangan kerja yang baru.












BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Gizi Buruk
      Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Dari kurang gizi hingga busung lapar. Secara umum kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein(MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi. Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat.
Tabel1. Data penderita gizi kurang dan buruk di Indonesia dari tahun 1989-2004 (Susenas):
Tahun
Jumlah Penduduk
Jumlah Balita Gizi Kurang dan Buruk
Jumlah Balita Gizi Buruk
1989
177.614.965
7.986.279
1.324.769
1992
185.323.456
7.910.346
1.607.866
1995
95.860.899
6.803.816
2.490.567
1998
206.398.340
6.090.815
2.169.247
1999
209.910.821
5.256.587
1.617.258
2000
203.456.005
4.415.158
1.348.181
2001
206.070.000
4.733.028
1.142.455
2002
208.749.460
5.014.028
1.469.596
2004
211.567.577
5.119.935
1.528.676
Sumber: www. depkes.go.id

 

            Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penderita gizi buruk di Indonesia masih besar.
BAGAN 1.
Skema Terjadinya Gizi Buruk
2.2  Kurang Gizi
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain :
1). Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun.
2). Ukuran lingkaran lengan atas menurun.
3). Maturasi tulang terlambat
4). Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun.
5). Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.
2.3 Faktor Penyebab
            Secara umum masalah malnutrisi energi-protein (MEP) disebabkan beberapa factor yang paling dominant adalah tanggung jawab  negara terhadap rakyatnya karena bagaimanapun MEP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi. Berikut faktor-faktor   penyebab terjadinya gizi buruk:
     1). Faktor sosial, yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan “sekedarnya” atau asal kenyang padahal miskin gizi.
     2). Kemiskinan, hal ini sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di Negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun seringkali tak bisa terpenuhi.
     3). Laju pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit MEP.
     4). Infeksi, tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengagruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah masuknya beragam penyakit.
            Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila factor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, serta pentingnya sosialisasi makanan bergizi terutama bagi balita
2.3 Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh didalam kulit, dan selebihnya didalam jaringan lain, dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intra seluler dan sebagainya adalah protein. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul yang essensial untuk kehidupan.  Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantika oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Protein yang dibentuk dengan hanya menggunakan satu polipeptida dinamakan sebagai protein monomerik dan yang dibentuk oleh beberapa polipeptida contohnya hemoglobin pula dikenali sebagai protein multimerik.
Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipida, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosoma. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.
Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting, proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim yang berfungsi sebagai biokatalis. Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau disebut antigen, juga suatu protein.   
      Di Indonesia gizi buruk ini melanda 27 persen balita atau mencapai 175 ribu penderita di seluruh indonesia(Tjuk, 2008). Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai macam cara diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. Selain itu, pemerintah akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif  adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat (Eko, 2008).






BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Sumber Data
Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.
            Data potensi rayap yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat,  melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut  berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan
3.2 Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini  menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaa atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.
3.3 Reduksi Data
            Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penulisan karya tulis ini dibuat hingga sampai karya tulis ini berakhir lengkap tersusun. Reduksi data dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengkoordinasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan dapat diverifikasi.
3.4 Penyajian Data
            Sekumpulan informasi disusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data penulis dapat memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.














BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1 Analisis
     4.1.1Penyebaran Rayap di Indonesia
            Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
            Di Indonesia sampai dengan tahun 1970 sudah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap dari berbagai genus ( Tarumingkeng, 1971). Menurut Roonwal dan Maiti (1976) dalam Tambunan dan Nandika (1989) jenis-jenis rayap banyak dijumpai di daerah tropika seperti di Indonesia adalah sebagai berikut :
Famili Kalotermitidae
     1.Genus                  : Neotermes Holmgren
        Jenis                     : N. dalbergia Kalshoven
                                      N.tectonae
     2. Genus                 : Cryptotermes Banks
         Jenis                   : C.cynocephalus Light
                                      C. domesticus Haviland
                                      C. dudleyi Banks
            Penyebaran rayap berhubungan dengan suhu dan curah hujan sehingga sebagian besar jenis rayap terdapat di dataran rendah tropika dan hanya sebagian kecil ditemukan di dataran tinggi . Namun demikian, rayap menyebar tidak hanya di daerah- daerah tropika tapi juga mencakup sebagian besar negara-negara sub tropika
     4.1.2 Kandungan Gizi Rayap
             Rayap sebagai alternative sumber gizi mempunyai banyak kandungan gizi seperti yang tertera dalam table di bawah ini:
Tabel 2. Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga
Energi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
Semut
· Mentah
· Kering


3.0

10.1

9.5

1.3


Kumbang
192
27.1
3.7
11.2
6.4
Larva
·  Mentah

86

10.6

2.7

4.2

2.8
Jangkrik
· Mentah

117

13.7

5.3

2.9

2.9
Rayap
·  Mentah
·  Kering

356
656

20.4
35.7

28.0
54.3

4.2
3.5

2.7

            Dari data ini diketahui bahwa dari berbagai perbandingan macam jenis serangga, rayap memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama pada protein yang dimilikinya apalagi jika rayap itu berada dalam keadaan kering yaitu sebesar 35,7.
4.2 Sintesis
4.2.1 Strategi Pemmanfaatan Rayap Sebagai Pengentas Gizi Buruk
            Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti rempeyek hingga permen.
Rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di Tanah Air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal warga. Jika perlu, rayap juga diternakkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam.
Di daerah tropis, rayap terdapat dimana-mana dalam jumlah yang banyak. Mereka dengan mudah dapat dikumpulkan dari sarang rayap atau dengan cara memancing mereka menggunakan lampu pada malam hari, biasanya setelah hujan. Pada saat keluar sarang, rayap yang masih bersayap akan tertarik pada cahaya lampu atau api dan terbangdisekitar sumber sinar tersebut. Hawa panas disekitar sumber cahaya menyebabkan sayap rayap terlepas sehingga tubuhnya jatuh ke bawah. Rayap yang sudah tidak bersayap ini sangat mudah untuk ditangkap dan dikumpulkan.
Ratu rayap ternyata mempunyai rasa yang enak, panjangnya dapat mencapai 10-12 cm. Mereka tidak keluar dari sarangnya, tetapi tetap berada ditempat ruangan khusus tempat mengeluarkan ribuan telur tiap hari. Jika gundukan tanah sarang rayap dihancurkan, ratu rayap dapat ditangkap dan dimasak dengan cara disangrai (digoreng tanpa minyak). Rayap yang masih bersayap dapat digoreng kering dalam panci karena mereka kaya akan minyak. Selama penggorengan, sayapnya akan lepas dan dapat dipisahkan dengan hembusan angin. Kemudian diberi garam dan dimakan sebagai snack. Di Afrika Barat, rayap digoreng dalam minyak sawit, sedangkan di Malawi dan Zimbabwe rayap dipanaskan sebentar, dikeringkan dan kemudian dijual.

4.2.2Pembuatan Permen Rayap
Menurut Dodi Nandika, (2008) pembuatan permen berprotein rayap ini tidak sulit. Yang harus dilakukan adalah membuat pekatan protein dan pembuatan formulasi permen. Proses pembuatan pekatan protein ini dimulai dengan penghancuran tubuh rayap, disusul dengan pemisahan proteinnya melalui metoda pengaturan pH dan pengendapan. 
Pekatan protein tersebut dicampur dengan HFS (sirup fruktoa tinggi) dan kemudian dimasak pada suhu 70-100 derajat celcius. Setelah itu ke dalam campuran ditambahkan gelatin, dan selanjutnya dilakukan proses penghilangan busa, pendinginan dan pencetakan. 
Pemanfaatan rayap menjadi permen jelas sangat menarik. Bukan saja karena dapat menunjang upaya pengendalian hama perusak kayu, tetapi juga karena merupakan proses nilai tambah. 
Dari organisme perusak yang secara ekonomis tidak berharga, diubah menjadi bahan makanan yang bergizi dan berpenampilan menarik, sehingga sesuai bagi konsumen menengah ke atas.

4.2.3 Pembuatan Biskuit Rayap
            Salah satu contoh lain pemanfaatan rayap adalah pembuatan biscuit rayap, ada beberapa langkah yang harus dilakukan diantaranya adalah: Rayap dicuci bersih dan didiamkan, Di wadah 1 campur mentega, tepung gula, air, garam, dan telur kemudian di mixer Di wadah 2 campur tepung terigu, soda kue, dan susu bubuk Campurkan semua bahan dalam satu wadah lalu diaduk hingga tercampur rata Siapkan loyang yang sudah disemir margarin Ambil adonan lalu cetak Taburi rayap di atas adonan yang sudah dicetak Oven hingga matang pada suhu 160-1650 C Setelah matang, angkat lalu dinginkan lalu dan dilakukan pengemasan

4.2.4 Pembuatan Tepung Rayap
Cara pembuata tepung rayap sangat mudah seperti dengan pembuatan berbagai macam tepung secara umumnya langkah-langkahnya dimulai darai: Potong tipis daging rayap siap olah; Keringkan dengan sinar matahari selama 16 jam atau menggunakan oven dengan suhu 500 ~ 550 C selama 6 jam. Pengeringan dianggap selesai bila daging bekicot dapat dipatahkan dengan tangan. Tumbuk sampai halus, kemudian ayak sampai diperoleh tepung bekicot

           
           





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
 Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk seperti dimanfaatkan menjadi tepung rayap, permen rayap, dan biskuit rayap, selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

5.2 Saran
Dengan demikian masyarakat diharapkan agar membudidayakan rayap sebagai alternative panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat rayap selain itu juga dapat menambah penghasilan masyarakat dan juga diharapkan untuk mulai mengkonsumsi rayap sebagai alternative sumber protein, sedangkan pemerintah diharapkan giat untuk melakukan sosialisasi budidaya rayap sebagai alternatif sebagai panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi jumlah penderita gizi buruk.
           


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2008. Permen Rayap Ala IPB. (Online). http://www.smallcrab.com/jengkol/46-jengkol/257-permen-rayap-ala-ipb. Diakses Tanggal 27 Januari 2009.
Anonymous, 2008. Penderita Gizi Buruk Di Indonesia Capai 8%. (Online). http://zubersafawi.blogspot.com/2008/03/penderita-gizi-buruk-di-indonesia-capai.html. Diakses Tanggal 27 Januari 2009.
Anonymous, 2008. Penderita Gizi Buruk Seperti Gunung Es. (Online). http://id.wordpress.com/tag/berbagi-informasi/. Diakses Tanggal 28 Februari 2009.
Anonymous, 2007. Asupan Gizi Anak Rendah. (Online). http://www.p3gizi.litbang.depkes.go.id/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1. Diakses 27 Ferari 2009.
Koswara, Sutrisno. 2007. Serangga Sebagai Bahan Makanan. http://www.ebookpangan.com/ARTIKEL/SERANGGA%20SEBAGAI%20BAHAN%20PANGAN.pdf. Diakses Tanggal 01 Maret 2009.
Nandika, Dodi. 2007. Rayap. ITB Press. Bandung
Poedjiad, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta.
Sibuea, Posman. 2003. Gizi Buruk Masih Mengintai Anak Anda. (Online). http://www.sinarharapan.co.id/tajuk/index.html. Diakses Tanggal 01 Maret 2009.
Tarumingkang, Rudi. 2001. Biologi dan Perilaku Rayap. (Online). www.psihipb.com./biologi/rayap. Diakses Tanggal 28 Maret 2009.

           

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>