MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PEDAGANG ASONGAN BERBASIS PAGUYUBAN DI TERMINAL PURABAYA



RINGKASAN
          Angka penggangguran di Indonesia masih cukup tinggi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada periode Februari 2014-Februari 2015 jumlah pengangguran di Indonesia meningkat 300 ribu orang, sehingga total mencapai 7,45 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) didominasi penduduk berpendidikan Sekolah Dasar sebesar 3,61%, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 9,05% disusul jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) 8,17%, dan Diploma I/II/III sebesar 7,49%. (http://ekbis.sindonews.com/read/ ).
Perkembangan kota yang semakin pesat tidak diikuti dengan pertambahan lapangan pekerjaan yang memadai, sehingga mengakibatkan jumlah yang menganggur dan yang setengah menganggur akan meningkat. Sehingga permasalahan tersebut akan mendorong mereka untuk menerima pekerjaan apa adanya walaupun dengan penghasilan yang tidak menentu yaitu disektor informal. Hal ini dikarenakan sector informal tidak banyak dibutuhkan keahlian dan pendidikan yang memadai.
Saat ini sektor informal berkembang pesat di Indonesia, khusus di kota-kota besar seperti Surabaya. Hal ini disebabkan sektor informal memberikan ruang kepada masyarakat yang tidak memiliki ketrampilan dalam sector ekonomi formal. Di satu sisi kegiatan ekonomi dan sosial penduduk yang dibarengi dengan kebutuhan yang tinggi semakin memerlukan ruang untuk meningkatkan kegiatan penduduk sehingga menyebabkan semakin bertambahnya ruang untuk mendukung kegiatan di sektor informal. Sektor informal yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia adalah pedagang. Terminal Purabaya (Bungurasih) merupakan salah satu tempat banyaknya para pelaku sector informal yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemberdayaan masyarakat dalam mengelola pedagangang asongan liar yang ada di Surabaya melalui paguyuban resmi dengan menggunakan data kualitatif. Target dari penelitian ini adalah dapat menjadikan program PAP sebagai salah satu program yang berhasil memberdayakan pedagang asongan liar yang ada di terminal Purabaya.
Keywords : Pemberdayaan Masyarakat, Pedagang Asongan, Paguyuban



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Angka penggangguran di Indonesia masih cukup tinggi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada periode Februari 2014-Februari 2015 jumlah pengangguran di Indonesia meningkat 300 ribu orang, sehingga total mencapai 7,45 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) didominasi penduduk berpendidikan Sekolah Dasar sebesar 3,61%, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 9,05% disusul jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) 8,17%, dan Diploma I/II/III sebesar 7,49%. (http://ekbis.sindonews.com/read/ )
Perkembangan kota yang semakin pesat tidak diikuti dengan pertambahan lapangan pekerjaan yang memadai, sehingga mengakibatkan jumlah yang menganggur dan yang setengah menganggur akan meningkat. Pertambahan penduduk yang semakin pesat menyebabkan pemerintah tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan, perumahan, transportasi maupun fasilitas-fasilitas lain yang memadai. Sehingga permasalahan tersebut akan mendorong mereka untuk menerima pekerjaan apa adanya walaupun dengan penghasilan yang tidak menentu yaitu disektor informal. Hal ini dikarenakan sector informal tidak banyak dibutuhkan keahlian dan pendidikan yang memadai. Sector informal yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia adalah pedagang.
Beberapa jenis pekerjaan yang termasuk di sector informal, yaitu pedagang asongan dan pedagang kaki lima. Keputusan Menteri Keuangan RI No. 597/KMK.04/2001 TANGGAL 23 NOVEMBER 2001 Kaki Lima atau Asongan adalah tempat-tempat penjualan eceran yang terbuat dari bangunan tidak permanen, yang sewaktu-waktu dapat dipindahkan sesuai dengan keinginan pemiliknya. Pedagang Kaki Lima atau Pedagang Asongan adalah orang yang mengusahakan atau yang menguasai Kaki Lima atau asongan. (http://shipo-margareth.blogspot.co.id/2012 )
Barang yang dijual oleh pedagang asongan merupakan barang yang mudah dibawa. Keberadaan pedagang asongaan dianggap tidak penting dan sering kali dianggap menganggu ketertiban umum sehingga banyak diantaranya upaya untuk menggeser keberadaan pelaku sector informal sperti operasi penertiban dan penetapan aturan yang melarang eksistensi pedagang asongan.
Terminal Purabaya (Bungurasih) merupakan salah satu tempat banyaknya para pelaku sector informal yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terminal Purabaya turut berperan dalam upaya (pemaksaan) penyesuaian secara cepat tanpa diimbangi penyesuaian Sumber Daya Manusia sehingga pada akhirnya SDM yang merupakan warga Desa Bungurasih yang kurang siap hanya menjadi bagian 'tidak penting' di Purabaya, seperti pedagang asongan, tukang ojek bahkan pengamen. (http://digilib.uinsby.ac.id/ )
Pada tahun 2013 terdapat lebih dari 350 orang yang bekerja sebagai pedagang asongan di terminal Purabaya. Banyak juga diantaranya yang terkena razia satpol PP karena menjadi pedagang tidak resmi di terminal Purabaya.
Atas dasar tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemberdayaan masyarakat terutama pedagang asongangan liar melalui sebuah paguyuban. Diharapkan dengan adanya PAP ( Paguyuban  Asongan Purabaya) para pedagang asongan dapat dikelola dan dibina agar tidak menjadi pedagang asongan liar lagi. Sehingga para pedagang asongan bisa menjadi resmi dan diperbolehkan untuk berjualan di terminal Purabaya. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dikaji secara komprehensif.
1.2 Permasalahan Penelitian :
Saat ini sektor informal berkembang pesat di Indonesia, khusus di kota-kota besar seperti Surabaya. Hal ini disebabkan sector informal memberikan ruang kepada masyarakat yang tidak memiliki ketrampilan dalam sector ekonomi formal. Di satu sisi kegiatan ekonomi dan sosial penduduk yang dibarengi dengan kebutuhan yang tinggi semakin memerlukan ruang untuk meningkatkan kegiatan penduduk sehingga menyebabkan semakin bertambahnya ruang untuk mendukung kegiatan di sector informal.
Dari latar belakang dan asumsi tersebut penelitian ini akan mengkaji permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1.      Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendorong adanya pedagang asongan ?
2.      Bagaimana upaya yang tepat dalam penanganan pedagang asongan liar yang ada di terminal Purabaya?
3.      Apa tujuan diadakannya pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan pedagang asongan liar yang ada di terminal purabaya?


1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan judul, latar belakang serta permasalahan dalam penelitian ini, maka dari itu peneliti memiliki tujuan khusus dilakukannya penelitian terkait pola pemberdayaan dalam penanganan pedagang asongan yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendorong masyarakat menjadi pedagang asongan liar.
2.      Untuk mengetahui upaya yang tepat dalam menangani pedagang asongan yang liar agar tidak merugikan diri sendiri (pedagang asongan) maupun masyarakat.
3.      Untuk mengetahui apa tujuan dilakukannya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan pedagang asongan liar.
1.4 Manfaat Penelitian
1.      Manfaat bagi Lembaga
Tingkat pengangguran di Indonesia masih cukup tinggi, hal ini akan mempengaruhi perekonomian masyarakat. Terlebih lagi, masyarakat harus pandai-pandai dalam mencukupi kebutuhan mereka. Banyak diantaranya masyarakat yang kemudian menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya penelitian diharapkan diperoleh informasi tentang pola pemberdayaan masyarakat dalam penanganan pedagang asongan liar secara tepat.
Jika ditinjau dari dampak negative yang di timbulkan adanya pedagang asongan,   penelitian ini dapat memberikan informasi dalam penanganan pedagang asongan liar secara tepat seperti dapat mengurangi tingkat kriminalitas yang ditimbulkan akibat kurang terkoordinirnya pedagang asongan dalam berjualan.
Jika ditinjau dari dampak positive yang ditimbulkan, walaupun pedagang asongan hanya sebaagai sektor informal saja, profesi ini dapat mengurangi tingkat pengangguran serta membuka lapangan pekerjaan.
2.       Manfaat bagi Masyarakat
Bagi pedagang asongan, penelitian ini dapat memberikan informasi terkait pentingnya sebuah organisasi dalam pekerjaan. Karena dalam berorganisasi para pedagang akan memiliki aturan dalam bekerja sehingga dapat terkoordinir dengan baik. Serta akan memberikan manfaat seperti terjaminnya keselamatan dalam bekerja tanpa harus takut ditangkap satpol PP pada saat berjualan. Juga dapat memberikan kepercayaan pada konsumen terkait barang dagangan yang dijual.
Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan masyarakat mengetahui terkait pentingnya penanganan pedagang asongan liar. Serta mendukung adanya paguyuban asongan purabaya untuk diterapkan di wilayah masing-masing. Dengan adanya paguyuban ini, masyarakat tidak perlu takut dengan kualitas barang yang diperjualbelikan.
3.      Manfaat bagi Mahasiswa
Dengan adanya penelitian ini diharapkan mahasiswa terutama penulis memperoleh informasi terkait pemberdayaan pedagang asongan liar yang ada saat ini dihadapkan dalam tantangan kejahatan dalam berdagang. Mahasiswa sebagai penerus bangsa juga harus mengerti bahwa pemberdayaan dalam bentuk paguyuban ini sangat berpengaruh pada etika dan moral pedagang asongan karena pedagang asongaan telah memiliki aturan dan tat tertib dalam bekerja. serta penelitian ini dapat menambaah wawasan bagi mahasiswa terkait masalah social yang terjadi masyarakat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Roadmap Penelitian
Peneliti
Hasil penelitian
Deddy bayu setiyawan, 2016
Pemberdayaan asongan sangat baik dan perlu dilakukan, agar pedagang asongan lebih terkoordinir dengan baik dan sebagai waadah pedagang untuk berjualan di wilayah tertentu. Pemberdayaan ini dibutuhkan karena merupakan suatu bentuk kepedulian terhadap sesaama pedagang dan untuk menghindari adanya tindak kejahatan dalam berdagang.
Evi anggraini, 2016
Pedagang asongan mrupakan contoh profesi di sector informal yang dipilih karena dianggap tidak memerlukan pendidikan yang tinggi, hanya saja ketrampilan dan pengalaman sebagai modalnya. Pedagang asongan diaanggap sangat menganggu ketertiban umum sehingga banyak upaya yang dilakukan dalam penataannya. Pola pemberdayaan dalam bentuk paguyuban ertujuan untuk mengkoordinir para pedagang asongan liar agar mereka memiliki batasan serta aturan dalam bekerja.
Riza Nur Azizah, 2016
Hampir semua masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang asongan merupakan masyarakat yang berpendidikan rendah bahkan ada yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Faktor putus sekolah merupakan salah satu faktor yang menghambat masyarakat untuk mendapat pekerjaan yang lebih layak. Pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat miskin. Orang yang bekerja di sector informal merupakan masyarakat kelas bawah.
Hana Aini Firdausi, 2016
Pemberdayaan pedagang asongaan itu penting dikarenakan setiap pedagang harus dibawah kendali lembaga yang resmi guna untuk menjamin pelayanan serta produk yang ditawarkan. Dalam pemberdayaan itu, pedagang asongan memiliki kepastian dalam penghasilan tidak seperti pedagang asongan yang berdagang sendiri dengan laba sendiri yang belum pasti penghasilannya.
Nia Paramitha Wahyuni, 2016
Saat ini banyak dijumpai bahwa pedagang asongan liar mengganggu kepercayaan masyarakat. Dengan adanya paguyuban ini menjadikan pedagang asongan nakal tidak lagi dapat kita jumpai.
Penelitian selanjutnya
Diharapkan dengan adanya paguyuban ini memberikan inspirasi pihak-pihak lain untuk mengimplementasikan pola pemberdayaan pedagang asongan liar di wilayah lain. Agar pedagang asongan tidak lagi dianggap menganggu ketertiban umum serta untuk memotivasi masyarakat yang berpenddikan rendah untuk beralih ke sector informal dibandingkan menganggur.

2.2 Konsep Pemberdayaan Pedagang Asongan
Penerapan pemberdayaan paling banyak digunakan dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Upaya penanggulangan kemiskinan secara konseptual dapat dilakukan oleh empat jalur strategis, yaitu perluasan kesempatan, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, dan perlindungan sosial. Strategi perluasan kesempatan ditujukan menciptakan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik, dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh kesempatan seluas-luasnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan. Strategi pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memperkuat kelembagaan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat, dan memperluas partisipasi masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan dasar.
Pedagang Asongan merupakan salah satu bentuk sektor usaha informal yang paling banyak ditemukan di masyarakat. Bentuk usaha ini banyak dilakukan oleh masyarakat yang tidak berpendidikan, bermodal kecil, masyarakat golongan bawah dan serta masyarakat yang tidak mempunyai tempat usaha yang tetap. Sektor usaha informal terbuka bagi siapa saja dan sangat mudah mendirikannya, sehingga jumlahnya tidak dapat di hitung, dengan banyaknya usaha ini berarti akan menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.
Tempat penjualan pedagang asongan adalah di terminal stasiun, bus, kereta api, di lampu merah lalu lintas (traffic light), dan tempat-tempat strategis lainnya. Salah satu tempat yang sering dijumpai pedagang asongan adalah di terminal Purabaya. Di terminal ini banyak sekali pedagang asongan yang berjualan di sekitar terminal maupun di bus-bus yang sedang beroperasi. Produk yang dijual sangat beraneka ragam baik itu berupa pangan seperti nasi kotak, air minum, buah, camilan, oleh-oleh khas Surabaya dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu pedagang asongan di terminal Purabaya juga ada yang menjual buku, alat tulis menulis, mainan, dan produk lainnya.
Di terminal Purabaya pedagang asongan terbagi menjadi 2 jenis yaitu
1.      Pedagang asongan resmi
adalah pedagang asongan yang dibayar dan digaji oleh pihak pemilik bus, hanya saja keuntungan dari penjualan tersebut harus disetorkan kepada pihak pemilik bus.
2.      Pedagang asongan tidak resmi
adalah pedagang asongan yang bekerja sendiri, jadi berbeda dengan pedagang asongan yang resmi yang harus menyetorkan keuntungannya kepada pihak pemilik bus, pedagang asongan tidak resmi mengambil keuntungannya sendiri tanpa harus disetorkan kepada bos.
Sebagai pedagang asongan resmi wilayah yang bisa dijangkau sangat luas tanpa harus takut ada yang merazia, berbeda dengan pedagang asongan yang tidak resmi yang memiliki batas-batas yang tidak boleh dilewati. Walaupun pedagang asongan resmi tidak boleh melewati batas-batas yang sudah ditetapkan oleh dinas perhubungan.
2.3 Faktor Pendorong Adanya Pedagang Asongan
Faktor pendorong adanya pedagang asongan menjamur di kota-kota besar yaitu sebagai berikut :
1.      Minimnya lapangan pekerjaaan. Pertumbuhan masyarakat Indonesia sangatlah pesat. Banyak diantaranya masyarakat yang sudah siap bekerja, namun karena terbatasnya jumlah lapangan pekerjaan membuat masyarakat berfikir dengan memanfaatkan situasi yang ada. Jika lapangan pekerjaan tidak tersedia, hal ini akan membuat masyarakat menjadi pengangguran.  Misalnya menjadi pedagang asongan di kota-kota besar. Walaupun gaji yang didapatkan tidak berjumlah besar, namun setidaknya setiap bulannya masih ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi bagi masyarakat yang sudah memiliki tanggung jawab berumah tangga. Perlu adanya pemasukan setiap harinya untuk menafkahi keluarga.
2.      Tingkat pendidikan yang rendah. Pendidikan sangat penting dalam memperoleh pekerjaan yang layak karena tingkat pendidikan seseorang akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebuah perusahaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin memudahkan masyarakat dalam memperoleh pekerjaan. Pedagang asongan merupakan sector usaha informal yang tidak memerlukan pendidikan tinggi, hanya saja pekerjaan ini membutuhkan ketrampilan, modal yang minim serta pengalaman pedagang dalam berjualan. 
3.      Adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia berdampak pada banyak perusahaan tidak beroperasi lagi seperti sedia kala oleh karena ketidakmampuan perusahaan menutupi biaya operasionalnya sehingga timbul kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini juga memberi kontribusi terhadap peningkatan jumlah pengangguran yang umumnya bermukim di wilayah perkotaan. Demi mempertahankan hidup, orang-orang yang tidak tertampung dalam sektor formal maupun yang terkena dampak PHK tersebut kemudian masuk ke dalam sektor salah satunya adalah menjadi pedagang asongan.
4.      Perencanaan ruang tata kota yang hanya terfokus pada ruang-ruang formal saja yang menampung kegiatan formal. Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan ruang-ruang fomal kota tersebut mendorong munculnya kegiatan informal kota salah satunya di sektor perdagangan, yaitu Pedagang asongan sebagai kegiatan pendukung (activity support). 
5.      Pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat di Indonesia lebih banyak disebabkan adanya arus urbanisasi dan pembengkakan kota. Keadaan semacam ini menyebabkan kebutuhan lapangan kerja di perkotaan semakin tinggi. Seiring dengan hal tersebut, ternyata sektor formal tidak mampu menyerap seluruh pertambahan angkatan kerja. Akibatnya terjadi kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung, mengalir dan mempercepat tumbuhnya sektor informal. Salah satu bentuk perdagangan informal yang penting adalah Pedagang asongan.
2.4 Pola Pemberdayaan Pedagang Asongan Liar
Paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin murni yang bersifat alamiah dan kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang sudah dikodratkan. Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organisir.
Paguyuban merupakan salah satu pemberdayaan masyarakat dalam bentuk organisasi. Dengan adanya paguyuban masyarakat akan memiliki aturan dan tata tertib yang dibuat dan disepakati bersama serta harus dipatuhi. Dalam paguyuban ini masyarakat akan diajak untuk berorganisasi khususnya anggota paguyuban untuk bersosialisasi dengan anggota lainnya. Misalnya ketua paguyuban dapat mengkoordinidir, memimpin serta bertanggung jawab pada anggotanya. Sedangkan untuk para anggota paguyuban dapat bertanggung jawab pada tugas masing-masing yang telah ditentukan.
Paguyuban Asongan Purabaya ( PAP ) adalah salah satu wujud pemberdayaan masyarakat dalam bentuk perkumpulan yang digunakan sebagai sarana untuk mengelola para pedagang asongan liar agar menjadi pedagang asongan yang resmi untuk berjualan barang dagangannya di sekitar terminal Purabaya. Dalam paguyuban ini para pedagang asongan bebas untuk menjajakan barang dagangannya di bus-bus yang sedang beroperasi maupun di sekitar terminal baik berupa makanan ringan, minuman, buah, mainan, buku dan masih banyak lagi. Paguyuban ini adalah paguyuban resmi yang ada di terminal Purabaya sehingga para pedagang asongan tersebut aman dari razia satpol PP.
Dampak Positif :
1.      Pedagang asongan menjadi sabuk penyelamat bagi masyarakat perekonomian lemah baik sebagai profesi maupun bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama akibat krisis ekonomi.
2.      Pedagang asongan menyediakan kebutuhan barang dan jasa yang relatif murah bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah.
3.      Jumlah yang besar, ragam bentuk usaha dan keunikan merupakan potensi yang besar untuk menghias wajah kota, apabila ditata dan diatur dengan baik.
Dampak Negatif
1.      Kualitas barang yang dijual kurang terjamin, sehingga menimbulkan kekhawatiran konsumen yang hendak membeli.
2.      Tingkat kriminalitasnya cukup tinggi. Pedagang asongan cenderung bersaing dalam menjual barang dagangannya. Ketika pedagang asongan menawarkan barang dagangannya secara bersama-sama kondisi yang seperti ini dapat menimbulkan tindak kejahatan seperti pencopetan.
3.      Rendahnya etika dalam berdagang, beberapa pedagang ada yang tidak memiliki etika dalam berdagang. Misal ketika barang dagangannya tidak ada yang beli, ada pedagang asongan yang mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.
4.      Menganggu ketertiban umum. Keberadaan pedagang asongan sering kali dianggap menganggu ketertiban umum dan penataan kota karena tidak memiliki aturan, batasan-batasan dan lokasi yang tetap dalam berjualan



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di terminal Purabaya atau yang lebih dikenal sebagai terminal bungurasih. Jangka waktu penelitian adalah 5 bulan dari waktu penelitian hingga pembuatan proposal
3.2 Target Penelitian
Target utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemberdayaan masyarakat Surabaya dalam mengelola pedagang asongan. Program yang digunakan adalah penerapan PAP (Paguyuban Asongan Purabaya) sebagai salah satu program yang digunakan dalam pengelolaan pedagang asongan di terminal Purabaya.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Observasi
                  Metode observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang mengharuskan si peneliti melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya untuk dapat melihat, mendengar, dan memahami gejala-gejala yang ada, sesuai dengan makna yang diberikan atau yang dipahami oleh masyarakat yang diteliti. Teknik ini digunakan untuk meneliti dan mengetahui sejauh mana perkembangan program pemberdayaan masyarakat melalui Paguyuban Asongan Purabaya ( PAP). Penelitian ini dilakukan di terminal Purabaya.
3.3.2 Menentukan Sumber Informasi
Penentuan informan penelitian dilakukan dengan menggunakan purposive (subyek penelitian ditentukan berdasarkan pertimbangan pertimbangan tertentu) dan teknik snowball (data semakin lama semakin banyak). Dalam penelitian ini subyek penelitian ditentukan secara purposive hal ini disebabkan karena orientasi penelitian yang dituju adalah pedagang asongan yang sudah menjadi anggota paguyuban. Hal ini bertujuan agar peneliti memiliki pengetahuan yang cukup serta mampu menjelaskan keadaan yang sebenarnya tentang fokus penelitian. Selanjutnya dilakukan dengan menggunakan informasi dari subyek penelitian sebelumnya, dalam artian peneliti mulai mewawancarai orang yang sudah dikenal. Proses ini akan terus bergulir seperti bola salju yaitu dari narasumber satu ke narasumber lainnya untuk mendapatkan kelengkapan data. Lokasi yang digunakan sebagai penelitian adalah Terminal Purabaya yang beralamatkan di Jalan Letjen Sutoyo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, dengan pertimbangan yaitu adanya paguyuban pedagang asongan. Sehingga dengan adanya kelebihan yang dimiliki Terminal Purabaya diharapkan dapat memberikan data yang baik mengenai paguyuban tersebut.
       3.3.3 Wawancara Mendalam
Wawancara adalah teknik penelitian yang paling sosiologis dari semua teknik-teknik penelitian social. Ini karena bentuknya yang berasal dari interaksi verbal antara peneliti dan responden. Esterberg, dalam Sugiyono (2012:231) mendefinisikan interview sebagai berikut: “a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about a particular topic”. Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.( Sugiyono, 2012 )
Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Maka untuk memperoleh data digunakan teknik wawancara mendalam. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh informasi berkaitan dengan implementasi program pemberdayaan masyarakat melalui PAP dalam penanganan pedagang asongan di Surabaya. Teknik ini dipakai untukk memperoleh data karena teknik ini sangat tepat untuk memperoleh data yang berkaitan dengan organisasi, perilaku, motivasi, dan sebagainya.
Wawancara ini dilakukan di terminal Purabaya dengan pihak paguyuban seperti ketua paguyuban dan anggota paguyuban.
3.3.4 Focus Group Discussion (FGD)
Setelah dilakukan wawancara mendalam  maka hasil dari wawancara akan didiskusikan dengan teknik Focus Group Discussion. Teknik ini dinilai cocok untuk menggali informasi terkait dengan Problem Solving. Dengan FGD diharapkan peneliti  dapat menemukan Pola yang tepat; karena dengan melakukan FGD akan dapat melibatkan semua pihak yang terlibat dalam implementasi program keluarga. Dalam penelitian ini FGD  digunakan  untuk menjaring informasi dari berbagai pihak yang terlibat langsung yaitu ketua paguyuban dan anggota paguyuban. Data  yang  dikumpulkan  berupa  data  primer  dan  data  sekunder. Data primer yang dikumpulkan  meliputi :
1.              peranan  lembaga  atau  kelompok (paguyuban)
2.              potensi  dan permasalahan paguyuban
3.              alternatif  strategi  pengembangan  kelompok paguyuban  kedepan.
Data sekunder  yang dikumpulkan diperoleh melalui studi literatur dan penelusuran  data  pada  instansi  terkait,  yaitu  Badan  Pusat  Statistik  Surabaya dan data dari paguyuban yang bersangkutan.
       3.3.5 Editing, Koding, dan Analisis Data
Editing dan koding data dilakukan sejak peneliti melakukan observasi lapangan, hal ini sesuai dengan pedekatan penelitian kualitatif dimana editing dan koding dilakukan sepanjang proses observasi lapangan dan tidak menunggu data harus terkumpul seluruhnya.
Teknik Analisis Data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa proses, yakni:
1.      Pengumpulan Data : Pada proses analisis data dilakukan sejak awal penelitian dan selama proses penelitian dilaksanakan. Sedangkan observasi dilakukan dengan mengamati pedagang asongan yang sudah resmi di terminal purabaya.
2.      Reduksi Data : Reduksi data yaitu merangkum, memilih, hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan mencari tema serta polanya. Reduksi data diawali dengan memilah data-data pokok dan difokuskan pada hal-hal yang penting sehingga data penelitian menjadi lebih jelas dan sistematis.
3.      penyajian data merupakan analisis merancang deretan dan kolom-kolom dalam sebuah matriks untuk data kualitatif dan menentukan jenis dan bentuk yang dimasukkan dalam kotak-kotak matriks. Dalam penelitian ini, data disajikan berupa naratif yang mendeskripsikan mengenai subjek penelitian
4.      Simpulan/Verifikasi Data : Tahap terakhir analisis data model interaktif adalah penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.


BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya
No.
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp)
1.
Peralatan Penunjang
1.500.000
2.
Bahan Habis Pakai
5.870.000
3.
Perjalanan
3.400.000
4.
Lain-lain
1.580.000
Jumlah
12. 350.000

4.2 Jadwal Kegiatan
No.
Jenis Kegiatan
Bulan
1
2
3
4
5
1.
Diskusi tim dan persiapan lapangan





2.
Pembekalan lapangan





3.
Observasi





4.
Mencari sumber informasi





5.
Wawancara mendalam





7.
FGD





8.
Pengolahan data





9.
Analisis data





10.
Penyusunan laporan dan publikasi ilmiah





11.
Penyampaian laporan








DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.Cetakan ke-17. Bandung: Alfabeta
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Internet :
Candra, Robi (2014), tersedia di
[diakses pada tanggal 9 Mei 2016]
Damanik, Ericson (2015), Bandung, tersedia di
Fahri, Aushaf (2015), tersedia di
Fitwiethayalisyi (2009), tersedia di
Glienmourinsie, Disfiyant (2015)
Hamzah, Amir (2014), tersedia di
Kurniawan, Arief (2014), tersedia di
Margaretha, Silvy (2012) tersedia di 
Ridwan, Muhammad (2014) tersedia di
Shidiq, Ahmad  (2012) tersedia di
Urplan, Lina (2011) tersedia di
Vetronius, Andre (2013) tersedia di




Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>