MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

PERANAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN ETIKA SOSIAL PERSAUDARAAN DAN PERDAMAIAN (Studi di Indonesia)




BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Berbagai permasalahan menimpa Bangsa Indonesia seperti masih adanya konflik social di berbagai tempat, seringnya terjadi tindak kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, masih banyaknya praktek korupsi, masih sering terjadi perkelahian antar pelajar, pelanggaran etika dan susila, demokrasi liberal yang kebablasan sehingga melanggar nilainilai moral dan akhlakul karimah sebagai bangsa Timur dan bangsa yang religius. Permasalahan yang hampir sama tetapi dalam skala yang kecil dan masih terkendali juga terjadi di Malaysia. Ironisnya, pelanggaran etika sosial dan tindakan kekerasan dalam berbagai bentuknya juga terjadi di lingkungan sekolah terutama di Sekolah Menengah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor: biologis dan psikologis siswa yang sedang dalam kondisi pancaroba, peran kontrol keluarga semakin berkurang, perubahan sosial budaya dengan berbagai fasilitas telekomunikasi dan informasi yang semakin canggih dan massif, tindakan pelanggaran etika sosial dan tindakan kekerasan yang semakin marak di masyarakat yang ditayangkan secara visual di banyak stasiun TV baik dalam kemasan berita maupun laporan khusus. Era globalisasi seperti saat ini menjadikan pemerintah maupun keluarga tidak dapat mengontrol sepenuhnya tayangan telivisi. Ada kecenderungan menggunakan kekerasan sebagai bahasa ketertindasan, bahasa kesenjangan, bahasa politik, Bahasa kekuasaan dan bahkan bahasa agama. Hal yang lebih memprihatinkan lagi, kekerasan yang muncul seringkali dihadapi dengan kekerasan sehingga melahirkan kekerasan yang lebih luas. Berbagai permasalahan tersebut lantas memunculkan pertanyaan tentang peranan dan sumbangan Pendidikan Agama Islam dalam membentuk etika sosial. Walaupun variable berkembangnya permasalahan tersebut sesungguhnya sangat kompleks, namun seringkali secara langsung maupun tidak langsung dihubungkan dengan kegagalan pendidikan agama di sekolah. Pertanyaan seperti ini dianggap sah-sah saja karena sumber dari berbagai permasalahan tersebut adalah akibat adanya krisis etika dan moral, sedangkan peranan pendidikan agama adalah membentuk anak didik memiliki moralitas dan akhlak budi pekerti yang mulia. Kondisi tersebut tentu saja sangat memprihatinkan. Kondisi ini menuntut semua pihak untuk mengambil peran masing-masing guna menyelamatkan generasi muda dan bangsa. Kaum agamawan sebagai penjaga moral etis masyarakat termasuk di dalamnya guru agama harus diberdayakan agar dapat mengambil peran secara signifikan. Demikian juga pendidikan agama yang memiliki peran strategis harus semakin ditingkatkan mutu dan relevansinya bagi upaya pembangunan moral bangsa. Guna meningkatkan mutu dan relevansi PAI dengan persoalan aktual bangsa dan dalam rangka pemberdayaan kaum agamawan khususnya guru agama, penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan di sekolah-sekolah menengah di Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia secara purposif dilakukan di sekolah-sekolah di Malaysia Barat meliputi: Kuala Lumpur, Selangor, Malaka, Kelantan, Terengganu dan Pahang. Sedang di Indonesia dibagi dalam dua wilayah yaitu wilayah damai dan wilayah konflik. Wilayah damai meliputi: Jawa Timur terutama Malang dan Surabaya, Jakarta, Sumatera Barat dan Selatan; sementara untuk wilayah konflik meliputi sulawesi Tengah terutama Poso dan Maluku terutama Ambon.

Kajian tentang Etika dan Moral
            Kehadiran Islam di muka bumi adalah sebagai pedoman hidup manusia dan untuk memberikan solusi yang tegas terhadap berbagai persoalan kemanusiaan. Salah satu persoalan kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian besar dari umat Islam adalah persoalan etika sosial persaudaraan dan perdamaian. Namun menurut Susanto, tema ini kurang mendapatkan perhatian secara memadai dalam hazanah pemikiran Islam. Kalaupun sekiranya ada, umumnya membahas etika secara individual, yaitu bagaimana memperbaiki diri dan kepribadian dalam berkata, bersikap, dan berbuat terutama dikaji dalam perspektif fiqh (Susanto, 2005) dan akhlak tasawuf, karena itu tema tentang etika sosial persaudaraan dan perdamaian yang dikaji dalam perspektif filosofis, sosial serta implementasinya dalam pendidikan menjadi sangat penting. Istilah etika pada tulisan ini digunakan dalam pengertian sebagai kajian tentang nilai baik dan buruk. Istilah “etika” dan “moral” adalah dua istilah yang pengertiannya sukar dipisahkan antara satu dengan lainnya karena keduanya dapat dipakai dalam pengertian yang hamper mirip bahkan seringkali diartikan sama sehingga keduanya dapat dipakai secara bergantian. Namun sesungguhnya dua kata tersebut dapat dibedakan. Curtzer mengatakan bahwa: ”morality is code of conduct or system of values providing guidance about right or wrong, action as well as the passions, desires, beliefs, words, character traits, and other such thinks related to these actions...etics is some time thought of as the study of morality, a theoretical investigation of morality (Curzer, 1999: 6). Heydarpoor mengatakan, “etika” berasal dari kata Yunani yang dipakai untuk pengertian karakter pribadi, sedangkan “moral” berasal dari kata Latin untuk kebiasaan sosial (Heydarpoor, 2004:31). Sementara itu Paul Foulquie mendefinisikan etika sama dengan moral dalam arti sebagai “aturan kebiasaan, yang apabila ditaati dan dipatuhi, akan mengantarkan manusia meraih segenap tujuannya. Melalui seperangkat nilai baik dan buruk yang dimiliki manusia diharapkan mampu mengatasi sifat-sifat jahatnya dan mengembangkan sifat-sifat baik dalam dirinya (Heydarpoor, 2004: 32). Kesimpulannya menurut penulis, ”etika” cabang filsafat yang mengkaji tentang baik dan buruk, sedangkan ”moral” nilai baik atau buruk menurut suatu masyarakat, dengan kata lain, ”moral” adalah etika terapan. Ada tiga jenis etika, yaitu: etika deskriptif, etika normatif, dan meta-etika. Etika deskriptif adalah sebuah kajian empiris atas berbagai aturan dan kebiasaan moral seorang individu, sebuah kelompok atau masyarakat, agama tertentu, atau sejenisnya. Etika normatif mengkaji dan menela’ah teoriteori moral tentang kebenaran dan kesalahan, sedang meta-etika atau etika analitis tidak berkaitan fakta-fakta empiris atau historis, dan juga tidak melakukan penilaian evaluasi atau normatif. Meta-etika lebih suka mengkaji persoalan-persoalan etika, seperti pertanyaan: apa makna dari penggunaan ungkapan ”benar” atau ”salah” (Heydarpoor, 2004:33-4). Menurut Susanto (2005), pembicaraan tentang agama dan moralitas, biasanya muncul pertanyaan tentang hubungan antara keduanya, yaitu: apakah agama identik dengan moralitas? Seringkali agama diidentikkan dengan moralitas. Bagi agamawan, kaidah-kaidah moralitas itu berkaitan erat dengan agama, tidak mungkin orang yang sungguh-sungguh bermoral tanpa didasarkan pada agama tertentu. Orang yang bermoral pasti memegang teguh keyakinan agamanya. Demikian hal sebaliknya, orang yang beragama mengarah pada tujuan-tujuan moralitas. Menurut Sudarminto ada tiga alasan: (1) moralitas pada hakikatnya bersangkut paut pada persoalan bagaimana manusia dapat hidup dengan baik; (2) agama merupakan salah satu pranata kehidupan manusia yang paling kuno; dan (3) dalam praktek keberagamaan ada kepercayaan bahwa Tuhan akan memberikan pahala kepada orang yang baik dan menjatuhkan hukuman bagi orang yang jahat, sehingga secara psikologis agama dapat menjadi penjamin yang kuat bagi hidup yang bermoral (Sudarminto 2001). Salah satu contoh pandangan agamawan ini adalah pendapat AlGhazali sebagaimana dikemukakan oleh Abdullah. Bagi Al-Ghazali, keutamaan (etika dan moralitas) selalu berhubungan dengan Tuhan. Tidak ada keutamaan lain yang dapat dicapai tanpa pertolongan Tuhan. Bahkan, alGhazali menegaskan bahwa tanpa pertolongan Tuhan usaha untuk mendapatkan tindakan moral dan etis hanyalah sia-sia (Abdullah, 2001: 137-8). Dalam perspektif lain (mis. filosofis dan sosiologis), antara agama dan moralitas tidak selalu seiring sejalan. Menurut Sudarminta, walaupun logika hubungan positip antara keberagamaan dan moralitas dapat dipahami, namun prinsip-prinsip dasar moralitas dapat pula dikenali dan dipraktikkan oleh manusia yang tidak beragama yang menggunakan pemikiran atau akal budinya. Bahkan, sering terjadi perilaku orang yang mengaku beragama tapi perbuatannya sering tidak mengindahkan kaidah-kaidah moral yang diajarkan dalam agama itu sendiri (Sudarminta, 2001:13) seperti mereka yang mengaku memperjuangkan agama tetapi dengan menghalalkan segala cara. Tentang hubungan agama dan etika/ moral ini, Shubhi berpendapat yang dapat dikatakan sebagai jalan tegah. Meskipun agama dan etika memiliki tujuan sama, yakni kemaslahatan manusia, namun hukum-hukum agama tampak bersifat ritualistik, sementara etika berlandaskan pada nilai-nilai analitik dan menuntut adanya kebebasan manusia. Inilah yang memisahkan agama dan etika. Walaupun terkadang hukum-hukum agama bersifat ritualistik dan menuntut ketaatan total kepada Tuhan dan tanpa mempertanyakan kandungan etisnya, namun ide moralnya juga pada tindakan etis (Shubhi, 1999).

Islam Agama Etis dan Moralitas
            Etika dan moralitas adalah puncak nilai keberagamaan seorang muslim. Hal ini sejalan dengan Hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (etika dan moralitas tertinggi/universal). Atinya, berislam yang tidak membuahkan akhlak adalah sia-sia. Menurut Susanto, Memahami Islam dengan kandungan ajaran moralitasnya perlu dilacak secara historis bagaimana konstruksi bangunan pemikiran Islam ketika Nabi Muhammad mengembangkan Islam pada saat itu. Hal ini penting agar kita mampu menangkap pesan-pesan moralitas Islam dengan baik. Karena, oleh sebagian besar masyarakat Muslim, konstruksi pemahaman tentang Islam selalu dirujuk pada produk aturan syariat yang didirikan Nabi pada saat beliau sudah menetap di kota Madinah. Kita sering melupakan prosesi sejarah di mana Islam sebenarnya terkonstruksi melalui sebuah proses yang bertahap dan disesuaikan dengan konteks zaman pada saat itu (Susanto, 2005). Thaha, membagi Islam pada dua periodesasi, yaitu periode Mekkah (610-622 M) yang disebut dengan “ar-risalah al-ula” dan periode Madinah (622-632 M) yang disebut dengan “ar-risalah ats-tsaniyah”. Karakter Islam yang terbangun dalam misi pertama adalah ajaran-ajaran yang bernuansa universal dan sangat sarat dengan pesan-pesan moral etis, sedangkan Islam pada misi kedua merupakan bangunan keislaman yang cenderung mapan, berorientasi penuh ke dalam, dan penuh dengan aturan-aturan “syariat” kolektif (Thaha, 2003). Menurut Raghib al-Isfahani, etika social Islam berbentuk ethical individual social egoism dalam motivasi moral. Maksudnya, pengejaran perilaku moral individu tidak mesti mengorbankan perilaku moral etis soaial. Etika sosial Islam tidak hendak memasung otoritas individu untuk sosial seperti paham komutarianisme atau pengorbanan sosial untuk individu sebagaimana paham universalisme (Amril M. 200: 2ix). Etika sosial Islam harus berlandaskan pada cita-cita keadilan dan kebebasan bagi individu untuk melakukan kebaikan sosial. Etika sosial Islam adalah sebuah pandangan moralitas agama yang mengarahkan manusia untuk berbuat baik antar sesamanya agar tercipta masyarakat yang baik dan teratur. Etika sosial Islam juga harus menjamin adanya kebebasan individu. Menurut Thaha, aturan dasar Islam adalah bahwa setiap orang bebas hingga secara praksis dia terlihat tidak mampu dalam menjalankan kebebasannya (Thaha, 2003: 155). Kebebasan itu harus diimbangi dengan keharusan menunaikan kewajiban, yaitu bagaimana menjalankan kebebasan secara baik. Jika tidak mampu menjalankan kebebasannya maka kewajibannya harus dicabut melalui “hukum”, dengan menyeimbangkan antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif. Mengenai hubungan antara individu dan kelompok dalam Islam, Thaha menjelaskan dengan sangat menarik sekali. Islam menjadikan individu sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Individu diberi kebebasan sebagai pengampu moralitas. Kebutuhan individu terhadap kebebasan mutlak individualnya merupakan perpanjangan dari kebutuhan kelompok terhadap keadilan sosial yang menyeluruh. Islam menata masyarakat sebagai sarana untuk menuju kebebasan dengan landasan tauhid. Sehingga, syariat dijadikan “jalan dan metode” yang terbagi atas dua tingkatan, yaitu tingkatan individual yang berbentuk ibadah dan tingkatan kelompok yang dimanifestasikan dalam bentuk mu’amalah (Thaha, 2003: 50). Sebagai kesimpulan tentang etika social dalam Islam, Susanto (2005) mengemukakan bahwa etika sosial Islam memiliki peran yang sangat besar bagi perbaikan atas kehidupan umat manusia. Etika sosial Islam mempunyai dua ciri yang sangat mendasar, yaitu keadilan dan kebebasan. Dua ciri ini penting untuk menggerakkan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Perbuatan kita mesti diorientasikan pada tindakan-tindakan yang mengarah pada keadilan dan juga memandang kebebasan mutlak setiap individu. Karena, kebebasan individu ini berimplikasi pada tindakan social dan syariat kolektif.

Pendidikan Etika Sosial Persaudaraan
            Dalam perspektif filosofis-sosiologis, keberagamaan menurut Stark dan Glock sedikitnya memiliki 5 dimensi: theological (keimanan), ritual (peibadatan, kebaktian), eksperiental (pengalaman), intelektual (pengetahuan dan pemikiran), dan ethical (konsekunsi) (Sobertson, Ed. 1988: 291-312). Sedangkan secara normatif, Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim mengemukakan sebuah Hadits yang menjelaskan tentang intisari Islam melalui proses dialog antara Nabi Muhammad saw. dengan Jibril as. Dari dialog itu dipahami bahwa inti agama Islam meliputi tiga dimensi: iman (akidah), islam (syariah), dan ihsan (akhlak). (shahih Muslim, hal 23-24). Dari kajian filosofis-sosiologis dan normatif tersebut dipahami bahwa dimensi akhlak (moral-etik) merupakan aspek fundamental dalam beragama, bahkan secara khusus Nabi Muhammad saw bersabda bahwa Ia diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Salah satu aspek penting dalam etika Islam adalah etika social persaudaraan.

Konsep tentang Persaudaraan
            Menurut Syihab, Ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai "persaudaraan", terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara (Syihab, 2003:486. Orang yang memiliki perhatian satu sama lain disebabkan karena adanya kedekatan, persamaan dan rasa senasip seperjuangan. Hal itu terjadi karena faktor geneologis, suku, agama, profesi, dan tempat tinggal. Karena itu kata ”akh” bisa berarti saudara, teman akrab atau sahabat. Sedangkan kata bentukannya yaitu ”ukhuwah” dapat berarti persaudaraan karena faktor kemanusiaan ukhuwah basyariah atau ukhuwah insaniah), faktor sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathaniah), dan karena faktor keimanan (ukhuwah imaniah. Menurut Syihab, istilah ”ukhuwah islamiah” yang bermakna eksklusif yaitu persaudaraan sesama muslim, dianggap kurang tepat, karena (1) istilah ini tidak dikenal dalam al-Qur’an dan (2) dari sudut pandang tata bahasa Arab, istilah ”islamiyah” kedudukannya sebagai sifat, sehingga berarti persaudaraan yang islami. "Ukhûwah" (persaudaraan) yaitu semangat persaudaraan universal diantara sesama manusia yang memiliki keragaman budaya (agama, bahasa, dan adat-istiadat),peradaban, suku bangsa, bahasa dan politik. Keragaman itu sudah merupakan keharusan universal dan merupakan hazanah kehidupan manusia yang sangat indah dan menakjubkan. Dalam al-Qur'an dikatakan semangat persaudaraan itu memiliki makna tindakan positip dan negatip. Makna tindakan positif berupa keharusan untuk saling mengenal, saling menghargai, saling menghormati, saling mendamaikan bila terjadi perselisihan atau konflik (QS.al-Hujrat:10-13), saling menolong dalam kebajikan dan taqwa (QS.al-Maidah:2), saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran (QS.al-‘Asr:3), bersilaturrahmi, mendoakan, dan saling belajar (al-Hadis). Sedang makna tidakan negatipnya adalah tidak saling mudah merendahkan golongan lain, tidak saling menghina, saling mengejek, mengadu domba, memfitnah, menggunjung, banyak berprasangka, suka mencari-cari kesalahan orang lain, dan suka mengumpat (QS al-Hujrat:10-12). Semangat persaudaraan itu dilakukan secara proporsional dan mengikuti skala prioritas. Prioritas pertama adalah persaudaraan sesama orang beriman (ukhûwah islamîyah), kemudian persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan sesame manusia (ukhûwah insaniyah / ukhûwah basyârîyah). Ukhûwah islâmîyah harus diprioritaskan kepada keluarga dekat dan jauh, tetangga dan handaitolan, bangsa dan baru ukhuwah islamiayah secara universal. Artinya tidak dibenarkan membela saudara seiman di tempat yang jauh dengan mengabaikan nasib (menelantarkan) saudara seiman yang lebih dekat baik karena ikatan darah (keluarga) geografis dan kebangsaan. Misalnya demi membela saudara seiman di Palestina, Afganistan atau Iraq dengan cara meninggalkan anak-istri sehingga keluarga menjadi berantakan, atau dengan cara melakukan tindak kekerasan yang juga berakibat kesengsaraan dan permusuhan. Menjaga persaudaraan yang sudah terjalin lebih utama dan harus diutamakan dari pada menjalin persaudaraan baru. Dar'ul mafâsid muqaddam 'alâ jalbi 'l-mashâlih (menolak kerusakan lebih diutamakan dari pada menggapai kemaslahatan). Ikatan persaudaraan yang bermacam-macam (darah, agama suku dan sebagainya) juga tidak untuk saling menjustifikasi untuk tidak bersaudara. Beda iman diantara sesame anggota keluarga tidak lantas menghilangkan persaudaraan. Dal;am al-Qur'an dikemukakan kalau ada orangtua yang memaksa anaknya untuk berbuat syirik sekalipun, maka anak tidak wajib taat pada ajakannya itu. Akan tetapi sebagai orangtua, mereka tetap harus dihormati dan ditaati perintah yang selain itu1. Di muka telah dikemukakan bahwa persaudaraan itu sangat indah, damai, terhormat, menyenangkan, memudahkan dan menjadi kekuatan dalam berbagai kegiatan dan perjuangan. Sebaliknya permusuhan adalah sesuatu yang sangat tercela, menyusahkan, menyulitkan dan melemahkan dalam berbagai kegiatan dan perjuangan. Kata hikmah mengingatkan: "bersatu kita teguh bercerai kita runtuh". Persaudaraan semut dan lebahpun indah dan melahirkan kekuatan yang luarbiasa, apalagi persaudaraan sesama manusia. Walaupun persaudaraan itu sangat indah, membahagiakan dan menguatkan serta didambakan oleh seluruh umat manusia, namun mewujudkan persaudaraan itu tidak mudah. Terdapat hambatan-hambatan yang menjadi tantangan dan persyaratan-persyaratan yang harus diperjuangkan. Hambatan-hambatan itu antara lain: (1) kenyataan bahwa kehidupan ini bersifat plural (keperibadian, agama, suku, golongan) dengan segala akibat yang ditimbulkan; (2) adanya energi negatip dalam diri manusia seperti: serakah, dengki, dan sombong; (3) kepicikan dalam beragama atau dalam berideologi sehingga merasa paling benar, tidak ada ruang bagi kebenaran oranglain atau tidak ada toleransi; (4) adanya kemiskinan dan ketidak-adilan. Sedangkan persyaratan terciptanya persaudaraan antara lain: (1) perlunya sikap dewasa, arif dan berkeadaban dalam beragama. Sikap ini mesti dapat diwujudkan apabila pola keberagamaannya tidak bersifat eksklusif, tidak anti intelektual dalam memahami agama; (2) perlunya sikap multikulturalisme, yaitu kesediaan untuk hidup berdampingan dan saling menghormati dan bekerjasama dalam masyarakat yang plural; (3) adanya kesejahteraan dan keadilan sehingga tidak ada kelompok yang merasa dipinggirkan dan didlolimi.

Peranan PAI dalam Membangun Generasi Etika Sosial dan Persaudaraan Siswa
          Berikut ini dikemukakan bentuk-benuk etika sosial yang dikembangkan di sekolah menengah di Indonesia. Nilai-nilai etika social ini diderivasi secara langsung dari kurikulum formal (formal curriculum) maupun kurikulum yang tidak diformalkan (hidden curriculum) yang merupakan wujud dari visi-misi, komitmen dan dedikasi sekolah dan terus diupayakan dapat dipelajari, ditanamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi budaya sekolah.

1. Sillaturrahim (menyambung tali kasih)
            Nilai cinta kasih sesama manusia merupakan nilai etika sosial yang sangat fundamental dalam membangun persaudaraan dan perdamaian. Nilai cinta kasih merupakan sifat utama Tuhan dan menjadi ajaran fundamental dalam agama Islam. Untuk menerapkan nilai cinta kasih dalam kehidupan nyata diwujudkan antara lain dalam bentuk silaturrahim (shilât alrahm). Silaturrahim adalah pertalian rasa cinta kasih antar sesama manusia khusus-nya antara saudara, kerabat, handaitolan, tetangga, mitra dan sesama teman. Hubungan dan komunikasi antar sesama teman haruslah didasarkan atas cinta kasih. Dengan cinta kasih semua persoalan dapat diselesaikan secara win-win solution dan happy ending (khusn-u'l khâtimah). Dengan silaturrahim dapat menumbuhkan rasa toleransi, empati dan cinta kasih, dan sebaliknya hilanglah prasangka buruk (sû' al-dhân), curiga, perselisihan, kebencian dan permusuhan antar sesama sehingga persaudaraan, komunikasi yang tanpa beban, bebas dan fairness dapat tercipta. Bersilaturrahim lebih dari sekedar berkomunikasi dan saling tegur sapa, beruluk salam (assalâmu 'alaikum) melainkan lebih dari itu "menyambung" atau "menghubungkan kembali" tali persaudaraan, kekeluargaan dan kemitraan yang terputus. Dalam silaturrahmi terdapat misi kemanusiaan seperti cinta kasih (rahmah), perdamaian (ishlâh), kerukunan dan kebersamaan (ukhûwah) dan seterusnya. Inti dari silaturrahmi adalah mewujudkan sifat utama Tuhan yaitu Maha Pengasih (alRahmân) dan sifat itu diwajibkan atas diriNya (kataba 'alâ nafsih al-rahmah). Rasulullah bersabda: "Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya". Untuk mewujudkan cinta kasih kepada sesama, sekolah melakukan: pertama, menganjurkan budaya tiga S yaitu senyum, salam dan sapa ketika bertemu sesama sekolah. Ucapan salam dapat berupa “assalamu’alaikum” atau “selamat pagi”. Kepala sekolah dan guru dalam hal ini memberikan contoh dengan menyambut kedatangan siswa setiap pagi, siswa mengucapkan salam dan berjabat tangan disertai hormat kepada guru, dan guru menyambut hangat kehadiran siswa dengan senyum dan sapa. Budaya tiga S ini memiliki dampak yang kuat untuk mengembangkan saling mencintai dan mengasihi, saling peduli dan pada gilirannya dapat meningkatkan kedisiplinan semangat pembelajaran. Kedua, pada awal siswa baru masuk sekolah diadakan program masa ta’aruf atau masa perkenalan. Tujuan program ini adalah agar siswa baru dapat dengan cepat mengenal guru-guru mereka, siswa senior atau kakak kelas dan sesama siswa baru, lingkungan sekolah, fasilitas sekolah, sistem administrasi, sistem pembelajaran, visi dan misi sekolah dan budaya sekolah. Produk dari program ta’aruf ini adalah agar cepat tumbuh rasa saling menyayangi dan mencintai, siswa cepat merasa at home, cepat menyesuaikan diri dengan iklim sekolah yang baru sehingga pada gilirannya tercipta hubungan sosial persaudaraan yang baik. Ketiga, untuk meningkatkan rasa saling mencintai sesama teman, sekolah juga mengadakan out bond atau camp. Salah satu tujuan dari program ini antara lain juga untuk memberikan latihan dan penguatan untuk saling mencitai dan menyayangi sesama, membangun persaudaraan dan kerjasama dan effective team, dan kemampuan mengatasi atau menyelesaikan perselisihan dan konflik.
2. Husnudzon (berbaik sangka)
            Husn-u'zh-zhan (positive thinking, respect for each other) adalah pandangan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah berkecenderungan baik (hanîf), makhluk yang paling mulia dan paling potensial diantara ciptaan Tuhan dan paling dipercaya Tuhan untuk mengelola alam semesta ini. Kebalikan dari husn-u'zh-zhan yaitu su-u'zh-zhan yaitu pandangan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah berkecenderungan jahat yang harus diwaspadai/dicurigai. Dalam hubungan kemanusiaan sikap husn-u'zh-zhan mendasarkan diri pada sikap saling percaya (trust), saling menghormati, saling tukar informasi dan saling menasehati. Paradigma husn-u'zh-zhan dalam kehidupan bersama akan melahirkan sikap percaya pada diri sendiri, sikap prakarsa, kreatif dan inovatif, rasa tanggung jawab, sikap mengontrol diri sendiri dan pada gilirannya akan melahirkan kemandirian dan keberdayaan. Sebaliknya sikap su’udlon (buruk sangka) atau stereotype (citra negatif yang melekat pada suatu kelompok) akan menghambat komunikasi, rasa saling percaya dan ketulusan, dan pada akhirnya persaudaraan tidak dapat dibangun dengan tulus. Dalam rangka membangun persaudaraan dan perdamaian diantara sesama, sikap husnudlon memegang peranan penting. Agar sikap husnudlon ini menjadi nilai inti dalam pergaulan sehari-hari, sekolah terutama guru agama melakukan: Pertama, moral knowing, dalam arti memberikan pengetahuan yang memadai tentang konsep, fungsi, bentuk-bentuk dan makna husnudlon dalam kehidupan sesama; Kedua, membiasakan sikap khusnudlon dalam kehidupan sehari-hari seperti menunjukkan sikap positip dan menghormati murid, menghindari sedapat mungkin bersikap kasar apalagi merendahkan martabat murid, dan melakukan teguran terhadap siswa yang memperolok atau tidak sopan kepada sesama teman. Ketiga, memberikan keteladanan dengan bersikap positif kepada sesama guru dihadapan murid dengan tidak menjelekkan atau membangkitkan sikap tidak percaya atau tidak hormat terhadap orang tertentu.
3. Tasamuh (menenggang rasa, merajut harmoni)
            Toleransi (Arab: tasamuh) adalah sikap saling menghormati, saling peduli dan saling bekerjasama di antara kelompokkelompok masyarakat yang berbeda baik etnik, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Toleransi memiliki nilai luhur dan mulia, apabila dilaksanakan akan membuat hidup itu menjadi indah, damai, harmoni dan maju. Agama maupun para filosof
agung menempatkan ajaran toleransi ini sebagai bagian dari ajaran yang fundamental. Sebagai nilai luhur, toleransi tidak mudah untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi toleransi beragama yang menyangkut keyakinan akan keselamatan hidup di dunia dan akhirat kelak. Menurut Syekh Salim bin Hilali, untuk mewujudkan toleransi diperlukan keadaan sebagai berikut:
1. Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
2. Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
3. Kelemah lembutan karena kemudahan
4. Muka yang ceria karena kegembiraan
5. Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
6. Mudah dalam berhubungan social (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
7. Menggampangkan dalam berda'wah ke jalan Allah tanpa basa basi
8. Terikat dan tunduk kepada agama Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa ada rasa
keberatan.
            Bagaimana sekolah mengajarkan dan mempraktekkan toleransi? Sikap toleransi diajarkan dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan. Jadi ajaran toleransi masuk dalam formal curricullum atau intra kulikuler. Dalam Pendidikan Agama Islam, ajaran toleransi meliputi toleransi intern pemeluk agama karena perbedaan pemikiran dan aliran, maupun antarumat beragama yang memiliki agama berbeda. Toleransi dalam intern agama dalam hal ini intern umat Islam antara lain diwujudkan dengan adanya fiqh multikulturalisme. Dalam fiqh multikulturalisme dijelaskan adanya perbedaan penafsiran terhadap teks-teks kitab suci, perbedaan mazhab fiqh dan perbedaan akibat latar belakang dan konteks sosio historis yang berbeda. Dalam fiqh multikulturalisme tidak hanya dijelaskan adanya perbedaan, tetapi juga ditanamkan sikap bahwa perbedaan dalam masalah cabang (furu’iyyah) adalah sesuatu yang wajar, tidak perlu dibesar-besarkan dan bahkan dapat membawa rahmat, memperkaya hazanah, dan memberikan kemudahan apabila disikapi secara dewasa. Misalnya dalam doa iftitah shalat, siswa dapat memilihi memakai Allahumma ba’id atau kabirau. Dalam shalat tarawih siswa dapat memilih apakah delapan roka’at plus witir atau 20 rokaat plus witir. Dalam Shalat Subuh siswa dapat tanpa do’a qunud atau mengamalkan do’a qunud. Jadi masalah khilafiyah furu’iyyah tidak dibawa dalam konteks benar-salah (sah-tidak sah), atau salah-salah, melainkan benar-benar sehingga melahirkan keleluasaan untuk memilih. Sedangkan toleransi antar pemeluk agama yang berbeda adalah sikap saling menghormati, menghargai terhadap keyakinan dan ajaran yang berbeda, dan tolong-menolong dalam urusan kemanusiaan. Toleransi antar pemeluk agama tidak dimaksudkan untuk melakukan toleransi dalam urusan keyakinan dan ubudiyah (peribadatan), tetapi dalam urusan muamalah dan akhlak. Semua agama adalah baik dan benar menurut keyakinan pemeluknya, tetapi hal ini tidak dapat dipaksakan terhadap pemeluk agama lain. Toleransi antar pemeluk agama juga tidak dimaksudkan untuk saling mengamalkan ibadah atau kebaktian, misalnya siswa Muslim diajak natalan bersama atau siswa Kristen diajak puasa bersama. Karena hal ini sudah masuk wilayah keyakinan dan ibadah. Tetapi saling berkunjung ke rumah siswa agama lain yang sedang merayakan hari besar agama dan memberikan ucapan selamat adalah di-perbolehkan sebagai wujud saling meng-hormati, menghargai, tolongmenolong dan saling peduli antar sesama.
4.Ihtiram (saling hormat-menghormati)
            Ihtiram artinya saling menghargai atau saling hormat menghormati kepada sesama manusia melalui tutur kata, sikap dan tingkah laku, cara berpakaian, cara bergaul yang lebih bagus daripada orang lain. Contoh perilaku saling menghormati adalah menjaga kesopanan, bersikap rendah hati (tawadhu), toleran (tasamuh), menjaga harga diri (muru’ah), pemaaf, menepati janji, dan berlaku ‘adil. Saling hormat-menghormati adalah salah satu nilai-nilai luhur yang harus dimiliki dan perjuangkan oleh setiap muslim untuk mewujudkan misi Islam yang utama yaitu menyempurnakan akhlak yang mulia. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia“ (HR .Ahmad dan Baihaqi). Ihtiram merupakan aspek yang sangat essensi ditengah-tengah pergaulan antar sesama lebih-lebih dalam tata pegaulan antar sesama muslim. Sikap saling hormat menghormati itu meliputi kepada orangtua, guru, orang yang lebih tua, dan kepada sesama. Namun sayangnya banyak kaum muslimin yang kurang perhatian masalah ini dalam sikap dan perilakunya, sehingga timbul kesan, citra dan bahkan stigma bahwa muslim itu kurang memiliki high culture (akhlakul karimah) dan agama Islam seakan tidak memperhatikan atau kurang memberikan tekanan dalam masalah ihtiram ini dalam pergaulan antar sesama. Yang sering menjadi pertanyaan dalam masalah ini adalah adanya kesenjangan yang lebar antara Islam sebagai das sollen (normative/seharusnya) dan Islam sebagai das sain (sosiologis/senyatanya). Atas dasar keprihatinan inilah Amir Sakib Arselan, seorang pembaharu mesir mengatakan: “AlIslam mahjubun bil muslimin” artinya bahwa Islam itu terhijab oleh (perilaku) kaum muslimin (….). Ajaran saling hormat menghormati terdapat pada pelajaran Pendidikan Agama terutama subpelajaran akhlak dan kurang pada sub mata pelajaran yang lain seperti akidah. Padahal sesungguhnya antara akhlak dan akidah itu tidak dapat dipisahkan. Karena dalam pandangan Islam antara akhlak yang terpuji dan akidah atau keimanan yang benar ibarat dua sisi mata uang. Akidah yang benar akan membuahkan akhlak yang mulia dan akhlak yang mulia bersumber dari akidah yang benar. Sikap ihtiram ini semakin lama semakin memudar dalam pergaulan termasuk di lingkungan sekolah antara lain akibat maraknya paham demokrasi liberal, kecuali di sekolah-sekolah yang berbasiskan agama. Sikap tawadlu’, hurmah siswa terhadap guru dan terhadap orangtua, sikap ihtiram antar sesama siswa semakin memudar. Di Indonesia banyak terjadi kasus siswa melaporkan gurunya ke polisi karena sang guru menghukum siswa atau memberi nilai tidak lulus untuk mata pelajarannya. Banyak perkelaian antar siswa yang harus diselesaikan di pengadilan. Kalau guru menghukum muridnya yang melakukan kesalahan dalam batas yang tidak dapat ditoleransi merupakan sebuah keharusan karena hukuman itu bagian integral dari proses pendidikan yang meliputi: membacakan (tilawah), pengajaran (ta’lim), bimbingan (tarbiyah), penyucian (tazkiyah), pembiasaan (ta’dib), pelatihan (tadlrib), ganjaran dan hukuman. Fenomena diatas menggambarkan sikap ihtiram, persaudaraan dan nilai-nilai luhur benar-benar dikalahkan dengan keangkuhan dan kebencian. Keterampilan siswa, orangtua dan guru untuk mengembangkan budaya ihtiram, persaudaraan dan perdamaian perlu dikembangkan. Hal ini antara lain disebabkan adanya kapitalisme pendidikan yang lebih mengagungkan kecerdasan intelektual, karena kelebihan pada kecerdasan intelektual lebih memungkinkan untuk lebih banyak menghasilkan uang, kedudukan dan jabatan. Fenomena yang ada di sekolah adalah: anak IPA merasa lebih hebat dan tidak jarang memandang rendah atau bersikap sombong terhadap anak IPS, bahasa dan agama.
5. Ta’aruf, Tafahum dan ta’awun (saling Mengenal, saling memahami dan tolong menolong)
            Antara ta’aruf, tafahum dan ta’awun merupakan satu rangkaian dalam membangun persaudaraan dan perdamaian. Sebelum adanya tafahum, biasanya didahului dengan ta’ruf (saling kenalmengenal) yang sifatnya elementer seperti nama, asal daerah keadaan keluarga, dan setelah tafahum perlu dilanjutkan dengan ta’awun. Ta’aruf akan melahirkan kenalan. Setelah ta’ruf kemudian meningkat menjadi tafahum. Tafahum adalah sikap saling pengertian dan saling memahami keadaan orang lain secara komprehensif, khususnya mengerti dan memahami kekurangan dan kelebihan orang lain yang meliputi: sifat, karakter, kebiasaan, hobi dan lain sebagainya. Dengan adanya sikap tafahum ini, hubungan sosial dapat lebih harmonis, lebih terjaga dari ketegangan dan konflik akibat kesalahpahaman. Kalau ta’aruf melahirkan kenalan, maka tafahum melahirkan sahabat bahkan sahabat karib. Setelah tafahum sesungguhnya masih ada satu tahap lagi yang penting yaitu ta’awun (saling tolong-menolong) takaful (saling mencukupi). Dengan ta’awun akan merubah yang lemah menjadi kuat dan yang kuat akan semakin kokoh. Dalam takaful, hubungan social tidak lagi bersifat transaksional, melainkan hubungan kasih sayang yang sangat indah yang melampaui segala perbedaan, kesenjangan dan kepentingan. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar pada masa Nabi Muhammad masih hidup barangkali dapat menjadi contoh. Permasalahan yang terjadi di kalangan umat Islam adalah kurang adanya sikap tafahum antara satu dengan lainnya sehingga mudah sekali terjadi gesekan, mudah diadu domba, mudah konflik, dan mudah dihancurkan. Perbedaan dalam masalah khilafiah yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun masih saja menimbulkan konflik. Perbedaan-perbedaan kecil seperti metode penentuan awal Ramadhan antara yang menggunakan metode Hisab dan Ru’yah, perbedaan jumlah raka’at dalam shalat Tarawih dan lain sebagainya masih saja menjadi pemicu adanya konflik. Dalam Pendidikan Agama Islam, tidak ditemukan ajaran tentang tafahum ini dalam kurikulum, akan tetapi dalam hidden curriculum sikap saling memahami antar sesame teman dan antar murid dengan guru selalu ditanamkan. Namun demikian, membangun budaya saling memahami tidak mudah karena dalam kehidupan siswa juga terjadi persaingan, sikap terlalu menjaga gengsi dan status sosial seringkali menjadi hambatan. Bukan hanya saling memahami yang terjadi, tetapi juga jarak sosial. Misalnya siswa dari etnik atau agama tertentu pada umumnya jarang yang berkawan dengan siswa etnik atau agama lain. Demikian juga siswa dari golongan berkecukupan berkecenderungan berkawan siswa yang berasal dari keluarga yang sama. Upaya sekolah melalui  Pendidikan Agama Islam untuk mengembangkan sikap tafahum dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui shalat berjamaah, berdo’a bersama, peringatan hari besar Islam, menyantuni fakir miskin, program pesantren kilat pada musim liburan, program ramadhan in school dan lain sebagainya. Melalui program-program tersebut terbukti jarak sosial, sikap jaga gengsi, dan sikap yang menunjukkan status sosial tertentu dapat dikurangi bahkan dapat dihilangkan, dan sebaliknya sikap saling memahami, kebersamaan dan perasaan senasip dan seperjuangan dapat ditumbuhkembangkan.
6. ’Afw (memberikan maaf)
            Terbayang dalam pikiran kita, bagaimana kebesaran jiwa, kelapangan dada, keluasan wawasan, pikiran yang selalu positif, mental berlimpah, keindahan budi pekerti dan kemuliaan serta keagungan akhlak orang yang memberi maaf. Nabi saw bersabda : “Mahukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (HR. Baihaqi). Perintah agama baik dalam al-Qur’an maupun Hadis adalah menyuruh kita untuk memberikan maaf terhadap orag yang telah menyakiti kita, mendzalimi kita bahkan terhadap orang yang telah membunuh kerabat kita sebelum mereka meminta maaf. Dalam al-Qur’an tidak dijumpai perintah untuk meminta maaf, malainkan perintah untuk memberi maaf. Allah berfirman yang artinya: Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]: 22). Memberi maaf merupakan sikap yang fundamental dalam membangun persaudaraan dan perdamaian. Tanpa maaf tidak ada persaudaraan dan perdamaian. Hal ini karena manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang lemah, yaitu tempatnya salah dan lupa. Karena itu tanpa adanya maaf, maka yag terjadi adalah permusuhan, konflik dan pertumpahan darah yang tiada henti dan bahkan dengan eskalasi yang semakin dahsyat. Melalui pemberian maaf, berarti kita melakukan penyembuhan, pembersihan diri dan pengampunan. Ketika pemerintah Amerika Serikat (dan sebagian masyarakat pendukungnya) mendapat serangan pada 9 september 2001, George Bush menyikapi serangan tersebut dengan sikap "balas dendam dan serang balik," yang kemudian melahirkan korban yang dahsyat yang sebagian besar mereka yang tidak berdosa. Demikian juga Yahudi Israel yang terus meluapkan api dendamnya terhadap Bangsa Palestina sebagai luapan dendam atas pembantaian bangsa Yahudi oleh tentara Nazi dan sekutunya. Sikap memberi maaf, pengampunan, penyembuhan dan membersihkan diri pernah dicontohkan oleh Baginda nabi Muhammad pasca Perang Uhud. Sebagai Panglima Perang, Muhammad telah dikhianati, bahkan dijerumuskan oleh para pemanah dan para pasukan yang ikut berperang hanya untuk mendapatkan rampasan perang. Muhammad SAW sangat kecewa, terluka dan kehilangan para Sahabat terbaiknya termasuk paman beliau Sayyidina Hamzah. Tetapi Muhammad tidak dendam dan marah melainkan memberikan maaf. Sikap yang sangat berat untuk dilakukan tetapi sangat indah dan agung ini diabadikan dalam al-Qur’an. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Sikap yang ditunjukkan Nabi tersebut menunjukkan sikap yang dewasa, lapang dada, kebesaran jiwa, mental berlimpah dan bijaksana, serta menunjukkan sikap indah dan mulia. Dalam era kontemporer, sikap memberi maaf pernah ditunjukkan oleh masyarakat Bali Indonesia. Ketika Bali mendapatkan serangan teror bom tahun 2002 dan 2003 yang menelan korban ratusan meninggal dunia dan ratusan orang cacat dan luka-luka, melahirkan ketakutan yang dahsyat dan luka batin serta kepedihan yang sangat mendalam, dan menghancurkan infra struktur perekonomian, tatanan sosial, dan budaya Bali dan Indonesia. Menghadapi keadaan yang seperti itu, orang Bali justru melakukan refleksi kultural-spiritual dan pembersihan diri. Mereka tidak melakukan balas dendam melainkan memberi maaf, melakukan penyembuhan, membangun rekonsiliasi, menyambung kembali tali persaudaraan dan persatuan yang terputus, menyulam kembali lembaran kehidupan yang terkoyak. Seandainya masyarakat Bali tidak mampu memberikan maaf, mungkin akan terjadi tindak kekerasan dan konflik serta kehancuran berbagai dimensi kehidupan Bali secara berkepanjangan. Inilah indahnya memberi maaf. Alangkah indahnya apabila nilai-nilai kearifan yang sangat indah dan memberikan manfaat yang sangat besar bagi terciptanya persaudaraan dan perdamaian itu juga diajarkan, dibiasakan dan dikembangkan di sekolah melalui pendidikan agama. Tetapi tampaknya yang terjadi di sekolah belum sesuai harapan. Kata dan tindakan “memberi maaf” masih sulit diwujudkan atau memang kurang mendapatkan perhatian. Terbukti masih banyaknya perkelaian antar pelajar, hubungan yang kurang harmoni antara guru dan murid, dan banyaknya kasus-kasus yang konflik dan kekerasan yang terjadi antar sesame murid dan antar murid dengan guru yang harus diselesaikan di pengadilan. Semua itu menggambarkan mereka tidak mampu memberi maaf. Tidak ada pokok bahasan tentang “memberi maaf” dalam kurikulum formal pendidikan agama, tetapi dalam hidden curriculum diajarkan dalam bentuk nasehat bila terjadi perselisihan atau perkelaian. Karena itu, dalam membangun persaudaraan dan perdamaian di lingkungan sekolah dan kehidupan sosial pada umumnya, siswa bukan hanya diberi pengetahuan yang cukup seputar konsep dan perilaku memberi maaf dan saling memaafkan dan hal-hal yang berkaitan dengannya, melainkan juga diberi kemampuan dan keterampilan untuk saling memaafkan dan mampu mendamaikan saudaranya atau melakukan resolusi konflik dengan mengembangkan sikap memberi maaf melalui refleksi, rekonsiliasi dan penyembuhan.


BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari ulasan diatas dikemukakan bentuk-benuk etika sosial yang dikembangkan di sekolah menengah di Indonesia. Nilai-nilai etika sosial ini diderivasi secara langsung dari kurikulum formal (formal curriculum) maupun kurikulum yang tidak diformalkan (hidden curriculum) yang merupakan wujud dari visi-misi, komitmen dan dedikasi sekolah dan terus diupayakan dapat dipelajari, ditanamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi budaya sekolah.



Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. 2002. Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam, Bandung:
            Mizan.
Amril, M., 2002. Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib AlIsfahani. Yogyakarta:    Pustaka Pelajar.
Ayyoub, Mahmoud M. The Crisis of Muslim History, terj. Munir A. Mun’im, (Bandung: Mizan.
Azimabadi, Badr. 2000. Etiquettes of Islamic Life, Delhi: Adam Publisher & Distributor)
Azizy, A. Qodri. 2002. Pendidikan (Agama) untuk Membangun Etika Sosial. Semarang: Aneka   Ilmu.
Balogun, S.U., 1992. Islamic Foundation of Peace, Kuala Lumpur: Quill Publisher Curzer,
Howard J.. 1999. Ethical Theory and Moral Problems. Canada: Wadsworth Publishing     Company.
Fakhry, Majid. 1996. Ethical Theories in Islam (terj. Zakiyuddin Baidhawy). Yogyakarta:            Pustaka Pelajar dan Pusat Studi Islam UM Surakarta.
Fakhry, Majid, 1983. Etika dalam Islam, terj. Zakiuddin Baidhawy, Surakarta: Penerbit Pustaka   Pelajar.
Fazlurrahman, 1980. Major Themes of the Quran. Chicago: Bibliotheca Islamica.
Heydarpoor, Manhaz, 2004. Wajah Cinta Islam dan Kristen, terj. M. Habib Wijaksana Bandung: Mizan.
Haqqi, Ahmad Mu’adz. 1421 H.. Al-Arba’una Hadîtsan fi al-Akhlaq Ma’a Syarhiha. Beirut: Dar Thuwaiq. Izutsu, Toshihiko. Ethico Religious Concepts in the Qur’an. Montreal: McGill       University Institute of Islamic Studies McGill University Press. 1966.
Kanungo, Rabindra N. and Manuel Mendonca. 1996. Ethical Dimensions of Leadership. London: Sage.

Keller, Suzanne. Beyond the Ruling Class, the Role of the strategic Elites in Modern Societies     (terj. Zahara D. Noer). Jakarta: Rajawali Pers.
Khan, Mohammad Wasiullah. 1981. Education and Society in the Muslim World. Jeddah:            Hodder and Stoughton King Abdulaziz University.
Leaman, 2001. Pengantar Filsafat Islam, terj.Musa Kadhim dan Arif Mulyadi Bandung: Mizan.
Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Mafri, Amir, 1999. Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam. Jakarta: Logos.
Mahali, Mudjab A. 1984. Al-Ghazali tentang Etika Kehidupan. Yogyakarta: BPFE.
May, Larry et. all.. 1998. Applied Ethics A Multicultural Approach. New Jersey: Prentice Hall.
Miskawaih, Ibn. 1968. Tahdzîbu ‘l-Akhlâq. Beirut: The American University of Beirut. Muslim, Imam. Tt, Shahih Muslim, juz. I, Bandung: PT. al-Ma'arif.
Singh, N.K., 1996. Peace Through NonViolent Action in Islam, Delhi: Adam Publisher &            Distributor.
Sucipto, Hery, 2007. Islam Mazhab Tengah, Jakarta: Grafindo
Sudarminta, J. 2001. Etika Umum (Diktat Kuliah), Jakarta: STF Driyarkara.
Shubhi, Ahmad Mahmud, 1993. al-Falsafah al-Akhlâqiyyah fi al-Fikr al-Islâmi: al- ’Aqliyyûn     wa al-Dzauqiyyun aw alNadzar wa al-Amal. Beirut: Dar anNahdhah al-Arabiyah.
Susanto, Happy, 2005. Etika Sosial dalam Islam, Jurnal FAI Universitas Islam '45 (UNISMA)     Bekasi
Suseno, Franz Magnis. 1991. Etika Politik, Jakarta: Gramedia
Syaifullah, Asep, 2007. Merukunkan Umat Beragama, Jakarta: Grafindo
Thaha, Mahmud Muhammad, 2003. Arus Balik Syariah, terj. Khoiron Nahdiyyin Yogyakarta:LKIS.
Talukdar, Mohammad H.R.. 2003. Science in the Sublime Morals and Manners of Prophet           Muhammad (SAW), Kuala Lumpur: A.S. Noordeen.
Tobroni dan Syamsul Arifin. 1994. Islam Pluralisme Budaya dan Politik. Yogyakarta: SI Press.
-------, 2009. Pendidikan Islam: Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualitas, Malang: UMM Press
-------,2009. Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan, Malang: UMM Press.
Ulwan, Abdullah Nasih. 1992. Tarbiyatu ‘lAulâd fi al-Islâm. Terj. Khalilullah Ahmas Maskur      Hakim. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zohar, Danah dan Ian Marshal. 2000. SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence.           London: Bloomsbury.
Syeikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Toleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah,   terj. Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi (Misra: Penerbit Maktabah Salafy        Press,t.t.).

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>