MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

PERAN KOPERASI WANITA KARTIKA CANDRA DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN KELUARGA DI DESA KARANG JATI PANDAAN KABUPATEN PASURUAN




A. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah
Semangat dan komitmen pemerintah untuk melaksanakan strategi pengintegrasian  dalam   pembangunan   tidak   pernah   kendur. Salah satunya bidang yang menggambarkan kesetaraan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Tantangan utama yaitu mengatasi permasalahan di bidang ekonomi. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan sebesar 51,39 persen lebih rendah dibandingkan TPAK laki- laki 84,42 persen. Fakta bahwa sebagian besar penduduk miskin adalah perempuan juga harus disadari oleh semua pihak (Bapppenas, 2015).
Pemerintah terus mendorong perkembangan wirausaha yang dikelola kaum perempuan karena mempunyai nilai strategis dalam meningkatkan kesejahteraan Keluarga, memperluas lapangan dan kesempatan kerja baru serta menopang perekonomian Negara. Apalagi sekitar 60% pelaku usaha kecil menengah adalah perempuan sehingga peranannya sebagai pelaku wirausaha harus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam rangka mensinergikan kebijakan pemberdayaan perempuan antarinstitusi pemerintah, maka Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bersama-sama Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berupaya mengejawantahkan komitmen pemberdayaan kaum perempuan.
Masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan. Salah satu mengatasi kemiskinan adalah dengan menjadi masyarakat yang produktif. Masyarakat agar menjadi produktif maka diperlukan usaha-usaha. Usaha tersebut salah satunya dengan diberdayakannya masyarakat khususnya perempuan. Pergeseran waktu, emansipasi, perkembangan teknologi dan pendidikan serta tuntutan zaman membuat tidak hanya laki-laki yang menjadi pencari nafkah dan dengan adanya persaingan yang ketat dalam bidang ekonomi, seorang suami saja tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehingga seorang ibu juga dituntut untuk mendukung penghasilan keluarga (Nofita, 2015). Kurangnya kesempatan ekonomi bagi perempuan menciptakan ketergantungan ekonomi pada suami. Ini membuat wanita sangat rentan jika sesuatu terjadi kepada suami atau pernikahan mereka. Maka dari perempuan diharapkan dapat memiliki peran dalam membantu perekonomian keluarganya (Ghebremichael, 2013).
Kondisi dan posisi perempuan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, antara lain di bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan budaya. Fenomena di atas menunjukkan pemberdayaan perempuan memiliki bidang garapan yang luas. Salah satu bidang yang menarik untuk dibahas adalah peran Kopwan dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Dimana pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi adalah salah satu indikator meningkatnya kesejahteraan keluarga. Saat perempuan menjadi kaum terdidik, mempunyai hak-hak kepemilikan, dan bebas untuk bekerja di luar rumah serta mempunyai pendapatan mandiri, inilah tanda kesejahteraan rumah tangga meningkat (Dreze and Sen, 1995)
Dengan memberdayakan perempuan melalui sejumlah program  yang di gagas Pemprov Jawa Timur seperti Koperasi diharapkan perempuan mampu mendongkrak perekonomian di Jawa Timur lebih baik lagi.
Untuk memancing semangat perempuan agar mau berwirausaha, maka pemerintahan  Jawa Timur harus dan sudah membuat program berupa pemberian modal bagi kaum perempuan yang berkeinginan untuk memulai Usaha. Di mana akan bentuk Koperasi Wanita (Kopwan) yang baru memulai akan diberikan bantuan modal sebesar Rp 25 Juta. Dan jika koperasi tersebut berkembang dengan baik maka Pemprov Jawa Timur pun akan menambah modal tersebut.
Kabupaten Pasuruan adalah salah satu Kabupaten yang ada di Jawa timur dan pendapat sorotan tentang masalah perekonomian Seperti diketahui dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Pasuruan per September 2016 mencatat hingga Triwulan I jumlah penduduk miskin di Jatim mencapai lebih dari 168.060 jiwa atau sekitar 10.57 persen dari total penduduk Kab. Pasuruan.

Tabel 1.1
Angka Kemiskinan Kabupaten Pasuruan

             http://pasuruankab.go.id/pages-1-gambaran-umum.html di akses tgl 15
             November 2017

Upaya Kabupaten Pasuruan dalam menciptakan kemandirian bagi perempuan dengan melakukan program pemberdayaan ekonomi perempuan untuk meningkatkan perekomonian Keluarga. Program meningkatkan perekomonian Keluarga tersebut berupaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi perempuan miskin di Pasuruan serta mensejahtrakan keluarga. Program meningkatkan perekomonian Keluarga miskin, mempunyai tujuan salah satunya adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Suatu diskursus pemberdayaan selalu akan dihadapkan pada fenomena ketidakberdayaan sebagai titik tolak dari aktivitas pembedayaan. Ketidakberdayaan yang dialami oleh sekelompok masyarakat telah menjadi bahan diskusi dan wacana akademis dalam beberapa dekade terakhir ini. Pendekatan untuk meningkatkan perekomonian Keluarga melalui program yang masih bersifat sporadis karena berbagai keterbatasan baik dari pemerintah itu sendiri maupun perempuan binaan yang bersangkutan. Penelitian ini berupaya menggali permasalahan - permasalahan dasar meningkatkan perekomonian Keluarga melalui Peran Koperasi Wanita.
Sehingga pemerintah membentuk Koperasi dan Koperasi Wanita yang merupakan salah satu usaha sekaligus gerakan ekonomi rakyat. Pada awalnya, koperasi merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki ekonomi tingkat bawah, dimana melalui koperasi mereka sama-sama berkeinginan atau punya tujuan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, koperasi tidak hanya merupakan kumpulan orang- orang yang berekonomi lemah saja, akan tetapi mereka yang tingkat ekonominya sudah tinggipun ikut bergabung dengan koperasi. Hal ini karena atas dasar koperasi sesuai dengan sifat dasar bangsa Indonesia yang bersifat gotong royong dan kekeluargaan, yang merupakan pencerminan dari nilai- nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Dengan adanya penjelasan UUD 1945 Pasal 33 ayat (1) koperasi berkedudukan sebagai soko guru perekonomian nasional dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem perekonomian nasional.

     Sebagai salah satu pelaku ekonomi, koperasi merupakan organisasi ekonomi yang berusaha menggerakkan potensi sumber daya ekonomi demi memajukan kesejahteraan keluarga. Karena sumber daya ekonomi tersebut terbatas, dan dalam mengembangkan koperasi harus mengutamakan kepentingan anggota, maka koperasi harus mampu bekerja seefisien mungkin dan mengikuti prinsip-prinsip koperasi dan kaidah-kaidah ekonomi.


Gambar Grafik 1.1
Jumlah Koperasi yang masih aktif dan tidak aktif
                    
Sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/06/09/084045026/umkm.dan.ketidakberdayaannya di akses tgl 1Desember 2017

Koperasi merupakan organisasi yang dicanangkan dan didukung oleh pemerintah dengan tujuan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu kabupaten yang terdapat di provinsi Jawa Timur memiliki potensi secara ekonomi yang perlu diperhitungkan. Sama halnya dengan kabupaten/kota di seluruh Indonesia keberadaan koperasi di Kabupaten Pasuruan dalam pengembangan dan pembangunan ekonomi rakyat diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan peningkatan pendapatan.
Salah satu Koperasi primer di Kabupaten Pasuruan dengan bentuk KOPWAN yang mampu bertahan dari tahun 1981 hingga saat ini dan mampu menjadi KOPWAN terbaik no 1 se-Kabupaten Pasuruan pada tahun 2017 yakni KOPWAN “Kartika Candra” di Kecamatan. KOPWAN “Kartika Candra” merupakan KOPWAN yang dapat dikatakan maju karena sejak berdiri pada tahun 1981 hingga saat ini masih berjalan serta mengukir prestasi dengan memiliki jumlah unit yang banyak, dan SHU yang terus meningkat dari tahun ketahun. Dengan majunya KOPWAN “Kartika Candra” diharapkan juga mampu berperan dalam meningkatkan perekonomian Keluarga.

b. Rumusan Masalah
Berdasarkan dengan latar belakang masalah diatas tersebut timbul permasalahan - permasalahan yang akan didalami oleh penulis. Permasalahan - permasalahannya antara lain sebagai berikut:
1.      Bagaimana peran koperasi Wanita dalam meningkatkan perekonomian keluarga?
2.      Faktor - Faktor apa saja untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian keluarga di kab. Pasuruan?
3.      Kendala apa saja yang menghambat peran   koperasi Wanita dalam  meningkatkan perekonomian keluarga?



c. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui peran koperasi dalam dalam meningkatkan meningkatkan perekonomian keluarga di kab. Pasuruan
2.      Untuk mengetahui Faktor - Faktor apa saja untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomi keluarga di Koperasi Wanita “Kartika Candra”
3.      Untuk mengetahui Kendala apa saja yang menghambat peran   koperasi Wanita dalam  meningkatkan perekonomian keluarga

e. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan penelitian ini bermanfaat dan dapat digunakan oleh semua pihak yang membutuhkannya. Oleh karena itu dari penelitian yang dilaksanakan ini dapat bermanfaat:
Manfaat Praktis
a.    Akademis: Untuk memperkaya wawasan keilmuan dalam bidang disiplin administrasi publik yang kemudian dapat dijadikan sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan peran Kopwan dalam meningkatkan perekonomi keluarga.
b.   Pemerintah: Hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk pemerintah atau pihak terkait dalam meningkatkan ekonomi keluarga.
c.    Masyarakat: Hasil dari penelitian ini merupakan sebuah kajian yang dapat dijadikan akses untuk membuka wawasan yang nantinya dapat dikembangkan sesuai dengan prinsip ilmu sosial dan politik yang dinamis.
d.   Penulis: Penelitian ini adalah sarana peningkatan kemampuan ilmiah penulis dari berbagai macam teori dan data yang akurat dalam hal KOPWAN khususnya di Kota Pasuruan.
e.    Mahasiswa: Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan  ekonomi Keluarga di wilayah Kecamatan pada umumnya.
Manfaat Teoritis
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat secara teoritis khususnya untuk Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik dan sekurang – kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan di
dunia pendidikan dan keilmuan.

f. Definisi Konsep
Dalam konsep yang terdapat dalam penulisan karya ilmiah ini terdapat batasan-batasan pengertian dari istilah-istilah yang ada dalam penelitian ini. Hal ini bertujuan untuk menghindari perbedaan penafsiran atas arti dan maksud dari judul penelitian.

a.       Peran.
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu.
b.      Koperasi Wanita
Koperasi wanita adalah koperasi yang anggota-anggota terdiri dari para wanita yang mempunyai kepentingan untuk bersama. Koperasi wanita adalah suatu perkumpulan/organisasi yang berasal dari masyarakat, khususnya perempuan dan terbentuk atas kesadaran masyarakat itu sendiri, kebutuhan atau persoalan yang mereka hadapi  
c. Perekonomian Keluarga
Perekonomi keluarga adalah suatu kajian tentang upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan - kebutuhannya melalui aktivitas - aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang bertanggung jawab atas kebutuhan dan kebahagiaan bagi kehidupannya 1sekelompok dan meningkatkan pendapatan dalam suatu kelurga.

Dari penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan maksud dari judul ini adalah peran koperasi wanita dalam membangkitkan potensi yang dimiliki oleh perempuan yang dianggap terintegrasi secara langsung dengan tingkah laku umum sebagai satu kesatuan sosial sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga yang dilaksanakan oleh Koperasi wanita yang ada di Kecamatan Pandaan Kab. Pasuruan.

d. Metode Penelitian
Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif dengan analisis data kualitatif. Penulis menggunakan penelitian deskriptif karena hanya menggambarkan peranan koperasi wanita dalam meningkatkan perekonomian keluarga melalui program-program dan fungsi dari bagian pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan ekonomi keluarga di Kab. Pasuruan.
Pengertian  metode penelitian deskriptif menurut Moh. Nasir, Ph.D. adalah:
“ Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu subjek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskriptif, gambaran/lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena.
Maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggambarkan penjelasan tentang peranan pemerintah daerah dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan dibidang ekonomi.
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini bertempat di Penelitian ini bertempat di wilayah Koperasi Wanita desa Karang jati Kec. Pandaan Kab. Pasuruan yang membutuhkan waktu selama 5 bulan. Adapun jadwal penelitian “Peran Koperasi Wanita dalam meningkatkan perekonomian keluarga” dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 1.2

Jadwal Penelitian

No
                         Waktu
TH 2017  /  2018
          Kegiatan
Sept
Okt
Nov
Des
Jan
Feb
Keterangan
1
Rencana pengajuan judul






Konsultasi pembimbing
2
Pembuatan usulan penelitian






Konsultasi pembimbing
3
Penyempurnaan usulan penelitian






Konsultasi pembimbing
4
Perbaikan bab I






Konsultasi
5
Penyempurnaan Bab I






Konsultasi pembimbing
6
Observasi dan wawancara






Mandiri
8
Penyusunan draft laporan awal






Konsultasi pembimbing
9
Penyusunan laporan akhir






Konsultasi pembimbing
10
Pengadaan dan distribusi hasil penelitian






mandiri

2. Subjek Penelitian
Menurut Arikunto (2006:145) “Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti”, dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian  (yang mempunyai sifat - karakteristik / keadaan yang akan diteliti) itu adalah Koperasi Wanita Kartika Candra di Kab. Pasuruan karena tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana peranan Koperasi Kecamatan Pandaan dalam peran meningkatkan ekonomi keluarga
3. Fokus Penelitian
Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum. Moleong (2006 : 94), berpendapat bahwa penetapan fokus penelitian atau masalah dalam penelitian kualitatif bagaimana pun akhirnya akan dipastikan sewaktu peneliti sudah berada di area atau lapangan penelitian. Dengan kata lain, walaupun rumusan masalah sudah cukup baik dan telah dirumuskan atas dasar penelaahan kepustakaan dan dengan ditunjang oleh sejumlah pengalaman tertentu, bisa terjadi situasi di lapangan tidak memungkinkan peneliti untuk meneliti masalah itu. Oleh karena itu kepastian tentang fokus dan masalah itu yang menentukan adalah keadaan dilapangan. Dengan demikian permasalahan di penelitian ini difokuskan pada:
a.       Pelaksanaan program-program untuk meningkatkan ekonomi keluarga yang dilaksanakan Oleh Koperasi Wanita Kartika Candra di Wilayah Kecamatan Pandaan Kab Pasuruan.
b.      Kendala yang dihadapi Koperasi Wanita Kartika Candra dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga Wilayah Kecamatan Pandaan Kab Pasuruan.
c.       Upaya yang dilakukan oleh Koperasi Wanita Kartika Candra untuk membantu membuat usaha bagi perempuan Wilayah Kecamatan Pandaan Kab Pasuruan.
4. Sumber Informasi
Sumber informasi adalah orang yang diminta untuk memberikan keterangan tentang suatu fakta atau pendapat. Dalam penelitian ini yang dijadikan sumber informasi adalah adalah Kepala Koperasi Wanita Kartika Candra, Kepala Seksi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Ketua tim pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah kerja di Koperasi Wanita Kartika Candra, dan masyarakat kususnya perempuan yang menjadi sasaran program-program di Koperasi Wanita Kartika Candra
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

A.             Wawancara (Interview)`                       
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan model open interview (wawancara terbuka) dimana informan tahu bahwa ia sedang diwawancarai dan memahami maksud dari wawancara tersebut. Wawancara terbuka ini menggunakan metode unstructured interview (wawancara tak terstruktur), yakni
wawancara yang bebas leluasa, tidak kaku, dan tidak terpaku dengan
daftar pertanyaan yang ada, tetapi bisa berkembang sesuai dengan
jawaban yang diberikan. Peneliti juga membuat daftar pertanyaan,
namun hanya sebagai pedoman wawancara agar wawancara menjadi
fokus.
B.  Pengamatan (Observasi)
Pengumpulan data denga cara pengamatan langsung dari obyek penelitian. Pengamatan dilakukan terhadap pengalaman responden yang ada dengan kaitannya dengan obyek penelitian.
C.             Studi Pustaka
Studi Pustaka adalah pengumpulan data yang diperoleh dari buku, jurnal, dan web internet, yang bertujuan untuk memperkuat materi penelitian dan untuk memecahkan masalah. Pada penelitian ini pengumpulan data dari buku, jurnakl, dan web internet.
D. Dokumentasi
Pengumpulan data secara langsung dari dokumen-dokumen, arsip dan catatan lain yang dianggap perlu dalam penelitian ini. Dokumentasi ini dapat berupa laporan, skripsi, dan buku-buku yang sesuai dengan judul penulisan ini. Jadi dokumentasi dalam penelitian ini diambil dari data-data yang ada dari instansi dan literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

5. Teknik Analisis Data
Teknik pengolah data dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengolah data dilakukan secara terus menerus sejak awal hingga akhir penelitian. Pengolahan data dilakukan secara kualitatif, yaitu data yang berupa kalimat atau pernyataan yang diinterpretasikan untuk mengetahui makna serta untuk memahami keterkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
Pengolahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Menurut Nasution (dalam Sugiyono, 2008: 245), pengolahan telah mulai sejak merumuskan dan mejelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian.
Kegiatan dalam pengolahan data dalam penelitaian ini, yakni: pertama, kegiatan reduksi data (data reduction), pada tahap ini peneliti memilih hal-hal yang pokok dari data yang di dapat dari lapangan, merangkum, memfokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema dan polanya. Proses reduksi ini dilakukan secara bertahap, selama dan setelah pengumpulan data sampai laporan hasil. Penulis memilah-milah data yang penting yang berkaitan dengan fokus penelitan dan membuat kerangka penyajiannya.
Kedua, penyajian data (data display), setelah mereduksi data, maka langkah selanjunya adalah mendisplay data. Di dalam kegiatan ini, penulis menyusun kembali data berdasarkan klasifikasi dan masing-masing topik kemudian dipisahkan, kemudian topik yang sama disimpan dalam satu tempat, masing-masing tempat dan diberi tanda, hal ini untuk memudahkan dalam penggunaan data agar tidak terjadi kekeliruan.
Ketiga, data yang dikelompokan pada kegiatan kedua kemudian diteliti kembali dengan cermat, dilihat mana data yang telah lengkap dan data yang belum lengkap yang masih memerlukan data tambahan, dan kegiatan ini dilakukan pada saat kegiatan berlangsung. Keempat, setelah data dianggap cukup dan telah sampai pada titik jenuh atau telah memperoleh kesesuaian, maka kegiatan yang selanjutnya yaitu menyusun laporan hingga pada akhir pembuatan simpulan.
Pengolahan data dalam penelitian kualitatif menggunakan metode diskriptif. Penelitain ini tidak menguji hipotesis (akan tetapi hipotesis kerja hanya digunakan sebagai pedoman) tetapi lebih merupakan penyusunan abstraksi berdasarkan data yang dikumpulkan. Pengolahan dilakukan lebih intensif setelah semua data yang diperoleh di lapangan sudah memadai dan dianggap cukup, untuk diolah dan disusun menjadi hasil penelitian sampai dengan tahap akhir yakni kesimpulan penelitian.
6. Tahap-tahap Penelitian
Untuk melakukan sebuah penelitian kualitatif, perlu mengetahui tahap - tahap yang akan dilalui dalam proses penelitian. Tahapan ini disusun secara sistematis agar diperoleh data secara sistematis pula. Ada empat tahap yang bisa dikerjakan dalam suatu penelitian, yaitu :
1.      Tahap Pra-lapangan
Pada tahap pra-lapangan merupakan tahap penjajakan lapangan. Ada empat langkah yang dilakukan oleh peneliti yaitu :
a.    Menyusun rancangan penelitian
Pada tahap ini, peneliti membuat usulan penelitian atau proposal penelitian merencanakan tempat dan telah berdiskusi dengan dosen.
b.   Memilih lapangan penelitian
Peneliti memilih Kantor Koperasi Wanita “Kartika Candra” karena merupakan lembaga/instansi yang di bentuk pemerintah untuk mengurusi segala hal tentang perekomonian di Kabupaten Pasuruan.
c. Memilih dan Memanfaatkan Informan
Tahap ini peneliti memilih seorang informan yang merupakan orang yang benar-benar tahu dan terlibat dalam kegiatan di kantor Koperasi Wanita “Kartika Candra”. Kemudian memanfaatkan informan tersebut untuk melancarkan penelitian.
d. Menyiapkan Perlengkapan Penelitian
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu atau kebutuhan yang akan dipergunakan dalam penelitian ini.
2.      Tahap Lapangan
Dalam tahap ini kita langsung terjun ke lapangan untuk mendapatkan data dan melakukan penelitian.
3.      Tahap Analisa Data
Analisa data merupakan suatu tahap mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar agar dapat memudahkan dalam menentukan tema kerja yang sesuai dengan data. Pada tahap ini data yang diperoleh dari berbagai sumber, dikumpulkan, diklasifikasikan dan analisa dengan komparasi konstan.
4.      Tahap Penulisan Laporan
Penulisan laporan merupakan hasil akhir dari suatu penelitian, sehingga dalam tahap akhir ini peneliti mempunyai pengaruh terhadap hasil penulisan laporan. Penulisan laporan yang sesuai dengan prosedur penulisan yang baik karena menghasilkan kualitas yang baik pula terhadap














B. TINJAUAN PUSTAKA

a. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis. Namun penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian
pada penelitian penulis dan telah ada beberapa penelitian yang melakukan penelitian di koperasi wanita Kartika Candra ini. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang dilakukan penulis.





















































Kerangka Konseptual
 












Bagan 2.1 Kerangka Konseptual
Dalam upaya menangani peran koperasi wanita yang dilakukan oleh pemerintah daerah sesuai dengan peranan dan diiringi dengan pola perencanaan yang baik maka menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga upaya yang amat pokok adalah peningkatan taraf pendidikan dan derajat kesehatan, serta akses kepada sumber-sumber kemajuan ekonomi seperti modal, teknologi, informasi, lapangan kerja dan pasar bagi perempuan, untuk itu diperlukan peranan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemandirian masyarakat, melalui aktivitas pemerintah yaitu koperasi wanita untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Dalam  peran koperasi wanita dalam meningkatkan ekonomi keluarga maka harus meningkatkan kualitas perempuan agar lebih bemutu dan melakukan pemeberdayan agar kaum perempuan dapat meningkatkan ekonomi di dalam keluarganya.
Untuk melaksanakan fungsi pemberdayaan dengan baik, menurut Kartasasmita melalui tiga cara yaitu:
  1. Menciptakan suatu iklim yang memungkinkan potensi kaum perempuan berkembang.
  2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh kaum perempuan.
  3. Memberdayakan mengandung arti pula melindungi (Kartasasmita, 1996: 207).
Dengan demikian, maka peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan adalah membangkitkan motivasi/meningkatkan motivasi masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam program meninkatkan ekonomi keluarga agar dapat menimbulkan pengaruh positif atas produktivitas masyarakat, untuk mencapai kemandirian dan meningkatnya perekonomian masyarakat khususnya perempuan.
            Peranan koperasi wanita untuk meningkatkan penghasilan perempuan berdasarkan fungsi hakiki pemerintah menurut Ryaas Rasyid adalah pemberdayaan. Fungsi pemberdayaan perempuan adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap budaya, kemiskinan, dan keterbelakangan.
            Pemberdayaan perempuan untuk mempercepat proses pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan mengurangi pengangguran yang merupakan dampak krisis ekonomi. Dari uraian diatas maka penulis menggambarkan kerangka pemikiran ini sebagai berikut:

 






Bagan 2.2 Kerangka Berfikir
            Dalam meningkatkan ekonomi keluarga koperasi wanita berperan dalam perberdayaan perempuan dengan memberi pinjaman, member kesempatan kerja, member tempat kewirausahaan dan menjalin kemitraan. Sehingga memingkatkan pendapatan perempuan dan meningkatkan perokonomian keluarga.
b. Landasan Teori
A. Peran
1. Pengertian Peran
Istilah peran dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” mempunyai artipemain sandiwara (film), tukang lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu (Kozier Barbara, 1995, h.21).
Abu Ahmadi (1982, h.50) mendefinisikan peran sebagai suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosialnya. Peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita dan kita siapa. Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, komunitas sosial atau politik. Peran adalah kombinasi adalah posisi dan pengaruh. Anda di posisi mana dalam suatu strata sosial dan sejauh mana pengaruh Anda.
             2. Teori Peran
Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal itu sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Pentingnya peranan adalah karena ia mengatur perilaku seseorang (Soerjono Soekanto, 1990, h.268)
Peran menurut Udai Pareek (1985, h.2) dapat didefinisikan sebagai sekumpulan fungsi yang dilakukan oleh seseorang sebagai tanggapan terhadap harapan-harapan dari para anggota penting sistem sosial yang bersangkutan dan harapan-harapannya sendiri dari jabatan yang ia duduki dalam sistem sosial itu. Sedangkan Gross, Mason dan Mc-Eachern dalam David Berry yang diterjemahkan oleh Paulus (1983, h.99) mendefinisikan peranan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan.
Dari beberapa pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa peran adalah suatu sikap atau perilaku yang diharapkan oleh banyak orang atau sekelompok orang terhadap seseorang yang memiliki status atau kedudukan tertentu. Berdasarkan hal-hal diatas dapat diartikan bahwa apabila dihubungkan dengan dinas perhubungan, peran tidak berarti sebagai hak dan kewajiban individu, melainkan merupakan tugas dan wewenang dinas perhubungan.
Tabel 2.3
Definisi Peran Dan Pengelompokan Peran Menurut Para Ahli
        
Sumber ; http://nikinich.blogspot.co.id/2012/01/bab-1-peran-dan-deskripsi.html

Peran Wanita dalam Meningkatkan Ekonomi Keluarga
Pengertian peran menurut Suratman (2000:15) adalah fungsi atau tingkah laku yang diharapkan ada pada individu seksual sebagai status aktifitas yang mencakup peran domestik maupun peran publik. Berdasarkan pengertian peran yang ada dapat disimpulkan bahwa peran wanita merupakan kegiatan atau aktivitas yang dikerjakan atau dianggap menjadi tanggung jawab wanita. Suhandjati dan Sofwan (2001:7) menyatakan bahwa adanya anggapan sebagian masyarakat, bahwa wanita hanya sebagai pembantu dan pengatur bukan
sebagai salah satu pemimpin di dalam rumah tangga, yang fungsinya sebagai pendukung suami, yang bertugas untuk memperhatikan suami bukan subyek yang perlu mendapat perhatian. wanita hanya dianggap sebagai subyek yang pekerjaanya sebagai konsumen penghabis gaji atau pendapatan yang diperoleh suami. Anggapan seperti itu tidak dapat dibenarkan, karena disadari wanita juga berkemampuan untuk mencari nafkah atau gaji, untuk mendapatkan alternative pendapatan dan berprestasi.
Wanita yang berkarir adalah wanita yang bekerja untuk mengembangkan karir. Pada umumnya ‘wanita karir’ adalah wanita yang berpendidikan cukup tinggi dan mempunyai status yang cukup tinggi dalam pekerjaannya, yang cukup berhasil dalam berkarya.
Dalam kehidupannya, wanita karir yang berhasil dalam berbagai bidang disimpulkan pada hampir setiap kasus, orang tua atau orang lain mempunyai harapan yang tinggi terhadap anak. Baik orang tua maupun anak wanita itu sendiri menginginkan pencapaian pendidikan tinggi, walaupun hal itu tidak lazim pada teman sebayanya (Carp,1991). Wanita-wanita karir juga mempunyai tingkat energi yang tinggi dan pada umumnya menikmati kesehatan yang baik. Ciri-ciri lain yang nampak adalah mereka konsisten dalam ketetapan hati, dorongan yang kuat dan keuletan, kendatipun menghadapi rintangan yang berat dan cukup lama. Tentang pandangan para wanita karir terhadap hubungan materil mereka, Carp (1991) menyebutkan bahwa suami mereka membebaskan mereka untuk berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Di samping itu, suami sering menjadi petunjuk yang membantu istri memulai dengan karirnya. Mereka merasakan
suami memberikan dukungan penuh. Namun, peranan gender yang tidak sama juga menimbulkan ambiguitas dalam kehidupan marital wanita karir/kreatif. Mempunyai anak banyak dapat menyebabkan wanita jauh menjadi ketinggalan dengan suaminya dalam pengembangan karir. Baginya tidak selalu mudah untuk kemudian sejalan dalam bayangan suaminya, dan dibutuhkan banyak waktu untuk menemukan identitas dan keyakinan dirinya sebagai pakar. Jika kedua partner sama kuatnya, ketegangan yang timbul dapat menggoyahkan kehidupan mereka. Menurut Hubies (dalam Harijani 2001:20), analisis alternatif pemecahan atau pembagian peran wanita dapat dilihat dari perspektif dalam kaitannya dengan posisinya sebagai manager rumah tangga, partisipan pembangunan dan pekerja
pencari nafkah. Jika dilihat dari peran wanita dalam rumah tangga, maka dapat digolongkan:
1.      Peran Tradisional
      Peran ini merupakan wanita harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, dari membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengasuh anak serta segala hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dalam mengatur rumah serta membimbing dan mengasuh anak tidak dapat diukur dengan nilai uang. Ibu merupakan figure yang paling menentukan dalam membentuk pribadi anak. Hal ini disebabkan karena anak sangat terikat terhadap ibunya sejak anak masih dalam kandungan.
2.      Peran Transisi
      Adalah peran wanita yang juga berperan atau terbiasa bekerja untuk mencari nafkah. Partisipasi tenaga kerja wanita atau ibu disebabkan karena beberapa faktor, misalnya bidang pertanian, wanita dibutuhkan hanya untuk menambah tenaga yang ada, sedangkan di bidang industri peluang bagi wanita untuk bekerja sebagai buruh industri, khususnya industri kecil yang cocok bagi
wanita yang berpendidikan rendah. Faktor lain adalah masalah ekonomi yang mendorong lebih banyak wanita untuk mencari nafkah.
3.      Peran Kontemporer
      Adalah peran dimana seorang wanita hanya memiliki peran di luar rumah tangga atau sebagai wanita karir.
Wanita dalam keluarga memiliki peran dan kebutuhan gender. Menurut Astuti (1998:10), dalam peran dan kebutuhan gender peran wanita terdiri atas:
1.      Peran Produktif
            Peran produktif pada dasarnya hampir sama dengan peran transisi, yaitu peran dari seorang wanita yang memiliki peran tambahan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya. Peran produktif adalah peran yang dihargai
dengan uang atau barang yang menghasilkan uang atau jasa yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Peran ini diidentikan sebagai peran wanita di sector publik, contoh petani, penjahit, buruh, guru, pengusaha.
2.      Peran Reproduktif
            Pada dasarnya hampir sama dengan peran tradisional, hanya saja peran ini lebih menitikberatkan pada kodrat wanita secara biologis tidak dapat dihargai dengan nilai uang atau barang. Peran ini terkait dengan kelangsungan hidup manusia, contoh peran ibu pada saat mengandung, melahirkan dan menyusui anak adalah kodrat dari seorang ibu. Peran ini pada akhiranya diikuti dengan mengerjakan kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah.
3.      Peran Sosial
            Peran sosial pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan dari para ibu rumah tangga untuk mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat. Peran ini lebih mengarah pada proses sosialisasi dari pada ibu rumah tangga. Tingkat peranan  itu berbeda-beda disebabkan oleh budaya dan kondisi alam setempat kaum wanita harus mengadakan pilihan yang menetap dengan mengetahui kemampuannya. Kenyataannya, menunjukan makin banyak tugas rangkap yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai wanita karir.
Di Indonesia, gerakan untuk memperjuangkan kedudukan dan peranan wanita telah cukup lama dilakukan. Kartini adalah tokoh yang telah merintis membebaskan kaum wanita dari kegelapan melalui pendidikan. Pendidikan dianggap penting karena pendidikan sebagai jalan keluar dalam memecahkan semua masalah dan kesengsaraan bangsa-bangsa (Hardjito 1984:16-17).
Pengertian peran wanita dalam meningkatkan ekonomi keluarga adalah partisipasi wanita yang membantu dan menyokong perekonomian keluarga dengan berkerja sebagai pemulung sehingga diharapkan perekonomian keluarga yang tadinya serba kekurangan dapat bangkit dan meningkat sehingga diharapkan dengan wanita berkerja dapat mendukung perekonomian keluarga.
Pergeseran dalam peran (pembagian kerja) antara pria dan wanita dalam keluarga dan rumah tangga, terjadi ketika seorang ibu mempunyai peran yang sangat penting di dalam masyarakat dan negara. Wanita tidak hanya untuk dipimpin tetapi juga untuk memimpin. Pandangan yang menilai bahwa hasil kerja istri hanya sebagai pelengkap didasari oleh dua faktor. Pertama faktor budaya yang menempatkan suami sebagai kepala rumah tangga sehingga kontribusi apapun yang diberikan oleh istri terhadap rumah tangganya tidak dilihat sebagai hal yang esensial, yang kedua faktor pekerjaan umum yang digeluti oleh masyarakat. Dalam pandangan yang simbolis kedudukan istri yang berkerja dan kontribusinya terhadap
kehidupan rumah tangga secara kenyataan justru apresiasinya padahal terlepas dari pandangan simbolik tersebut peranan ekonomi istri sangat menentukan kelangsungan hidup rumah tangganya (Kusnadi dkk, 2006: 56)

B. Koperasi Wanita
 1. Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau kemampuan, dan atau pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya. Mahidin (2006), mengemukakan bahwa pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan seseorang atau kelompok sehingga mampu melaksanakan tugas dan kewenangannya sebagaimana tuntutan kinerja tugas tersebut. Pemberdayaan merupakan proses yang dapat dilakukan melalui berbagai upaya, seperti pemberian wewenang, meningkatkan partisipasi, memberikan kepercayaan sehingga setiap orang atau kelompok dapat memahami apa yang akan dikerjakannya, yang pada akhirnya akan berimplikasi pada peningkatan pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Konsep pemberdayaan yang dilakukan bertujuan pada pemberdayaan bidang ekonomi dan bidang sosial, dengan maksud kelompok sasaran dapat mengelola usahanya, kemudian memasarkan dan membentuk siklus pemasaran yang relatif stabil dan agar kelompok sasaran dapat menjalankan fungsi sosialnya kembali sesuai dengan peran dan tugas sosialnya
.
2. Pemberdayaan Perempuan

Dalam hal peningkatan ekonomi perempuan di Indonesia
khususnya di daerah perdesaan, perempuan memiliki keterbatasan
dalam menjalankan aktivitasnya, keterbatasan tersebut seperti
rendahnya pendidikan, keterampilan, sedikitnya kesempatan kerja,
dan juga hambatan ideologis perempuan yang terkait rumah tangga.
Selain itu perempuan juga dihadapkan pada kendala tertentu yang
dikenal dengan istilah “tripple burden of women”, yaitu perempuan
harus melakukan fungsi reproduksi, produksi dan fungsi sosial secara
bersamaan di masyarakat. Hal tersebut menyebabkan kesempatan
perempuan untuk memanfaatkan peluang ekonomi yang ada menjadi
sangat terbatas. Oleh karena itu program pemberdayaan bagi perempuan dibidang ekonomi sangat diperlukan karena pada dasarnya perempuan memiliki potensi yang luar biasa dalam perekonomian terutama dalam pengaturan ekonomi rumah tangga.
Penelitian ini akan mengkaji tentang pemberdayaan perempuan, dan teori pemberdayaan akan dijelaskan seperti di bawah ini.
Pengertian pemberdayaan perempuan  menurut Prijono, S. Onny dan Pranarka, A.M.W (1996:55), pemberdayaan adalah proses kepada masyarakat agar menjadi berdaya, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya dan pemberdayaan harus ditujukan pada kelompok atau lapisan masyarakat yang tertinggal.Dalam konteks pemberdayaan bagi perempuan, menurut Nursahbani Katjasungkana dalam diskusi Tim Perumus Strategi Pembangunan Nasional (Riant Nugroho, 2008) mengemukakan, ada empat indikator pemberdayaan.
1)      Akses, dalam arti kesamaan hak dalam mengakses sumber daya-
sumber daya produktif di dalam lingkungan.
2)      Partisipasi, yaitu keikutsertaan dalam mendayagunakan asset atau
sumber daya yang terbatas tersebut.
C. Koperasi
Koperasi sebagai lembaga di mana orang-orang yang memiliki kepentingan relative homogen, berhimpun untuk meningkatkan kesejahteraannya. Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka, melalui pembentukan sebuah perusahaan yang dikelola secara demokratis (Gilarso, 1989).
Definisi koperasi di Indonesia termuat dalam UU No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasiaan yang menyebutkan bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Dari pengertian tersebut dapat dirumuskan unsur-unsur penting koperasi yaitu:
1) koperasi merupakan badan usaha.
2) koperasi dapat didirikan oleh orang seorang dan atau badan
     Hukum koperasi yang sekaligus sebagai anggota koperasi yang
     bersangkutan.
3)koperasi dikelola berdasarkan prinsip-prinsip koperasi.
4) koperasi dikelola berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas koperasi dapat diartikan sebagai perkumpulan orang atau badan usaha yang memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai kesejahteraan ekonomi yang berlandaskan asas kekeluargaan. Koperasi disebut sebagai soko guru perekonomian di Indonesia. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi penopang perekonomian.
    
          



Tabel 2.3
Hubungan ideology, Sistem Perekonomian dan aliran  Koperasi
             Sumber ; http://nikinich.blogspot.co.id/2012/01/bab-1-konsep-aliran-dan-sejarah.html

 Perbedaan ideologi suatu bangsa akan mengakibatkan perbedaan sistem perekonomiannya dan tentunya aliran koperasi yang dianutpun akan berbeda. Sebaliknya, setiap sistem perekonomian suatu bangsa juga akan menjiwai ideologi bangsanya dan aliran koperasinya pun akan menjiwai sistem perekonomian dan ideologi bangsa tersebut. Dan Indonesia termasuk dalam Aliran Persemakmuran dengan menjunjung kekeluargaan dan gotong royong.
D. Koperasi Wanita
Koperasi wanita adalah koperasi yang anggota-anggota terdiri dari para wanita yang mempunyai kepentingan untuk bersama.  Menurut Bambang Rustanto, Koperasi wanita adalah suatu perkumpulan/organisasi yang berasal dari masyarakat, khususnya perempuan dan terbentuk atas kesadaran masyarakat itu sendiri, kebutuhan atau persoalan yang mereka hadapi. Dalam suatu wadah inilah mereka saling berbagi inforfamasi, saling memberi support baik secara material maupun secara emosinal, juga adanya rasa senasib dan sepenanggungan sehingga memiliki kepedulian. Sederhananya, koperasi bisa menjadi jalan keluar untuk masalah kemiskinan setidak-tidaknya di Pasuruan.
Keberadaan dan keberhasilan koperasi tidak dapat dilepaskan dari konsep kepercayaan (trust) dari anggota kepada Pengurus dan sebaliknya. Dalam hal ini ada prinsip hubungan timbal balik dalam arti materi atau inmateri, juga menunjuk pada hubungan pertukaran yang sebetulnya terbentang mulai dari yang paling tidak jelas pengukurannya sampai dengan jelas pengukurannya, mulai dari yang langsung sampai ke yang tidak langsung (Lawang R, 2006). Dalam hal ini kepercayaanantara koperasi dengan anggotanya terbangun jika kedua belah pihak saling memenuhi ekspektasi dari keduanya. Anggota akan percaya terhadap koperasi jika koperasi mampu memenuhi ekspektasi kebutuhan anggotanya melalui mekanisme yang memenuhi prinsip-prinsip perkoperasian yang menjadi kesepakatan.
Dengan kata lain bahwa koperasi akan dipercaya oleh anggotanya jika harapan-harapan anggotanya dapat dipenuhi tanpa membedakan apapun, termasuk perbedaan jenis kelamin. Sebaliknya koperasi ada, bertahan dan berkembang jika anggotanya memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Keberadaan kopwan digambarkan dengan kemajuan yang telah dicapai oleh dua kopwan yang ada di Pulau Jawa yaitu (1) Koperasi Setia Bhakti Wanita (KSBW) di Surabaya. Faktor yang keberhasilannya diantaranya ditentukan oleh sistem tanggung renteng dalam pengelolaan dana bergulir. Keberhasilan yang dicapai tersebut telah mendorong, Kementerian Negara Koperasi dan UKM mereplikasikan sistem tanggung renteng kepada 30 kelompok di 30 propinsi di Indonesia dengan menyediakan dana bergulir sebesar Rp. 225 juta atau Rp. 7,5 juta per kelompok. (2) Kopwan Kartika Chandra Pandaan (KCP) yang dinilai sehat dari segi pengelolaan dan besarnya omset. Indikator keberhasilannya dapat dilihat melalui kepemilikan supermarket, kenaikan simpan pinjam, kepemilikan pertokoan, persewaan dan sebagainya yang dicapai antara tahun 2003 – 2004 lalu. Dari konteks kasus ini diketahui bahwa wanita memiliki keunggulan khususnya dalam pengelolaan koperasi. Keunggulan tersebut mewujud dalam keuletan, kejujuran dan ketelitian dalam menangani berbagai dinamika persoalan kopwan. Dalam tulisan ini kasus keberhasilan yang dijelaskan adalah bagaimana dampak koperasi wanita terhadap lingkungan dan anggota koperasi. Melalui dampak keberhasilan mereka diharapkan dapat dipetik pembelajaran yang telah dicapai kopwan. Pembelajaran berguna untuk pemerintah sebagai pengambil kebijakan, dan pihak-pihak lain yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam mendorong perkembangan kopwan di masa mendatang. Dalam konteks kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan keluarga, peranan wanita menjadi sangat penting.karena koperasi dapat menjadi salah satu wadah yang sangat strategis untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, disamping kegiatan koperasi juga dapat dijadikan sebagai media aktualisasi diri wanita.
Wanita dan koperasi memiliki kaitan yang penting karenanya perlu ditingkatkan peranannya secara terus menerus dengan beberapa alasan yaitu:
(1)   wanita merupakan aktor yang penting dalam kaitan dengan program pengentasan kemiskinan,
(2)   wanita merupakan aktor penting dan terlibat langsung dalam kaitan 
dengan peningkatan kesejahteraan keluarga, dan
(3)   wanita sebagai individu membutuhkan media dalam kaitan dengan
aktualisasi diri agar dapat berperan lebih besar dari sekedar sebagai ibu rumah tangga.
Setelah dikeluarkan UU No. 25 tahun 1992 maka wilayah kerja Kopwan. “Kartika Candra” bisa diperluas se Kab. Pasuruan dan sekitarnya.
Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat maka KOPWAN pun juga berbanding lurus mengalami perkembangan yang menjadikan KOPWAN suatu organisasi yang serba usaha misalnya usaha pertokoan, usaha jasa, usaha simpan pinjam, usaha persalonan, usaha tataboga, usaha perternakan dan lain sebagainya.
3)      Kontrol, yaitu bahwa lelaki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kontrol atas pemanfaatan sumber daya-sumber daya tersebut.
4)      Manfaat, yaitu bahwa lelaki dan perempuan harus sama-sama menikmati hasil.
c. Landasan Teori
Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori
fungsioanalisme dari Malinowski dan teori peran dari Dahrendorf,  karena teori ini dianggap sesuai dengan tema dari penelitian. Menurut Malinowski (dalam Koentjaraningrat, 1987: 171) menjelaskan bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya..
Menurut Malinowski, fungsi dari satu unsur budaya adalah kemampuannya untuk mememnuhi kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan dasar yaitu kebutuhan sekunder dari para warga suatu masyarakat. Kebutuhan pokok adalah seperti makanan, reproduksi (melahirkan keturunan), merasakan enak badan, keamanan, kesantaian, gerak dan pertumbuhan. Dalam pemenuhan kebutuhan dasar itu, muncul jenis kebutuhan kedua yaitu kebutuhan sekunder, di mana kebutuhan sekunder juga harus dipenuhi oleh kebudayaan. Contohnya adalah unsur kebudayaan yang memenuhi kebutuhan akan makanan menimbulkan kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan untuk kerja sama dalam pengumpulan makanan atau untuk produksi, untuk ini masyarakat mengadakan bentuk – bentuk organisasi politik dan dan pengawasan sosial yang menjamin kelangsungan kewajiban kerja sama tersebut diatas.
Jadi menurut pandangan Malinowski tentang kebudayaan, semua unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat. Malinowski percaya bahwa pendekatan yang fungsional mempunyai suatu tujuan nilai praktis yang penting. Pengertian akan hal tersebut diatas dapat
dimanfaatkan oleh merekan yang bergaul dengan masyarakat primitif.
Malinowski menerangkan bahwa nilai yang praktis dari teori fungsionalisme adalah mengajarkan kita tentang kepentingan relatif dari berbagai kebiasaan yang beragam–ragam itu, bagaimana kebiasaan - kebiasaan itu tergantung satu dengan yang lainnya, bagaimana harus dihadapi oleh penyiar agama, oleh penguasa Kolonial dan oleh mereka yang secara ekonomis mengekploatir perdagangan dan tenaga orang – orang masyarakat. Berdasarkan uraian teori dari Malinowski maka dapat dikatakan bahwa peranan individu dalam masyarakat sangat berpengaruh antara yang satu dengan yang lainnya. seperti halnya dalam suatu organisasi misalnya saja Koperasi
Wanita Kartika Candra yang didalamnya terdapat suatu kumpulan anggota yang menggerakan kegiatn-kegiatan Koperasi tersebut. Oleh karena itu, setiap anngota yang bergabung dalam Koperasi Wanita Kartika Candra tersebut mempunyai peranan yang berbeda-beda satu sama lain. Peranan yang dimaksud dalam penelitian ini mengacu pada sebuah perangkat tingkah laku atau suatu lembaga yang mempunyai kedudukan di dalam masyarakat.
Dahrendorf dalam Poloma (2007:140) menegaskan bahwa peranan merupakan konsep kunci dalam memahami manusia secara sosiologis. Hal ini karena manusia menduduki posisi sosial dan posisi tersebut harus diperankannya. Peran merupakan kewajiban atau bisa disebut juga status subyektif. Sementara itu menurut Abdul Syani (2002:94), peranan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan individu dengan cara tertentu dalam usaha menjalankan hak-dan kewajiban sesuai dengan status.
Menurut Levinson dan Abdul Syani (2002) peranan mencakup tiga hal, yaitu:
1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi   atau tempat individu dalam masyarakat.
2. Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perikelakuan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.


Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>