MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS LAMARAN PEKERJAAN DENGAN METODE TGT (TEAM GAMES TOURNAMENT) PADA SISWA KELAS X MAN 2 KOTA PADANG



ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan menulis surat lamaran kerjasiswa. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran kerja, yaitu dengan menerapkan metode Teams Games Tournament (TGT) dalam pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran kerja pada siswa kelas X MAN 2 Padang.
Hasil penelitian ini adalah metode pembelajaran dengan metode Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran kerja pada siswa kelas X MAN 2 Padang. Hasil proses menunjukkan dengan adanya peningkatan keaaktifan dan antusias siswa terhadap proses pembelajaran menulis surat laamran kerja dengan metode Teams Games Tournament (TGT). Hasil prestasi ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari hasil sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Nilai rata-rata siswa kelas X-A yang berjumlah 23 siswa pada tahap pratindakan sebesar 70,7, pada siklus I sebesar 82,2, dan pada akhir siklus II sebesar 83,4. Siswa yang mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada akhir tindakan atau siklus II yaitu sebanyak 21 siswa atau 91%, sedangkan 2 siswa atau 9% tidak mencapai nilai KKM.

Kata Kunci: Lamaran Kerja, Nilai, MAN


BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi untuk menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan proses pembelajaran, metode pembelajaran, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan agar relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa di masa yang akan datang, pemerintah perlu mengupayakan suatu pembaharuan terhadap sistem pendidikan.
Menurut Tarigan (1994:1) keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu menyimak (listening Skill), Berbicara (Speking Skill), Membaca (Reading Skill) dan Menulis ( Writing Skill). Penguasaan keempat aspek ini merupakan keterampilan dasar. Untuk menunjang keberhasilan tujuan umum pembelajaran bahasa Indonesia, maka siswa terampil dalam berbahasa yang mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan apresiasi sastra.
Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut, aspek keterampilan menulis merupakan aspek yang paling tinggi dan paling kompleks tingkatannya. Aspek keterampilan menulis jauh lebih sukar dan jauh lebih rumit dibandingkan aspek kebahasaan yang lainnya, seperti keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, dan keterampilan membaca. Menulis merupakan salah satu dari pokok bahasan bahasa Indonesia yang bertujuan memberikan bekal keterampilan dan kemampuan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide atau pesan. Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulis menulis juga dapat diartikan sebagai cara berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis
Keterampilan menulis dianggap sebagai keterampilan yang sulit dan rumit tetapi keterampilan menulis itu sangatlah penting untuk dipelajari dan dilakukan terus menerus. Keterampilan menulis harus didukung juga oleh keterampilan lainnya terutama keterampilan membaca, karena membaca dan menulis saling berkaitan. Menurut maksud dan menurut tujuannya surat dibagi menjadi empat macam surat yaitu: surat permohonan atau permintaan, surat keputusan, surat kuasa, dan surat lamaran.
Berdasarkan empat macam surat di atas, pelajaran menulis surat lamaran pekerjaan merupakan salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia yang pembelajarannya tidak difokuskan secara sungguh-sungguh, maka peneliti mengambil satu bentuk surat yang dijadikan penelitian yaitu surat lamaran pekerjaan karena dalam menulis surat lamaran pekerjaan siswa masih sangat sulit dalam menggunakan isi gagasan, pilihan kata, kalimat, paragraf, dan ejaan. Materi menulis surat lamaran pekerjaan ini diberikan pada siswa, untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan berbagai upaya perbaikan, khususnya dalam proses pembelajaran diperlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pemilihan metode yang tepat. Dalam upaya meningkatkan hasil menulis surat lamaran pekerjaan siswa kelas X MAN 2 padang, penulis perlu melakukan inovasi kreatif, yaitu dengan cara menerapkan motode pembelajaran yang dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa, sehingga menimbulkan proses pembelajaran yang aktif.
Rendahnya kemampuan menulis siswa dipengaruhi beberapa factor internal dan eksternal. Faktor internal terlihat pada kurang terampilnya siswa mempergunakan ejaan dan memilih kata sehingga penyusunan kalimat masih banyak mengalami kesalahan. Faktor eksternal muncul dari pemilihan strategi dan pendekatan yang digunakan guru. Guru masih terikat pada pola pembelajaran tradisional dan monoton. Kondisi seperti ini dapat menghambat para siswa untuk aktif dan kreatif sehingga menyebabkan rendahnya kualitas siswa. Sistem pembelajaran dengan pendekatan tradisional yang masih diterapkan guru tidak mampu menciptakan anak didik yang diidamkan, terutama untuk bidang keterampilan menulis. Hal ini dikarenakan dominasi guru dalam pembelajaran dengan pendekatan tradisional lebih menonjol dan dikuasai guru, sehingga keterlibatan siswa kurang mendapat tempat. Guru lebih banyak mendominasi sebagian besar aktivitas proses belajar-mengajar sehingga para siswa cenderung pasif. Jika keadaan tersebut terus berlanjut, tanpa ada solusi penanggulangannya secara tepat dikhawatirkan lamakelamaan akan menurunkan kemampuan dan kualitas siswa dalam menulis.
Pemilihan strategi dan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus betul-betul dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat mencapai sasaran.
Dalam meningkatkan partisipasi aktif fisik dan mental siswa, guru hendaknya tidak mendominasi aktivitas belajar-mengajar, tetapi memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk berinteraksi dengan guru, dengan materi pelajaran maupun dengan sesama manusia. Demikian juga siswa hendaknya diberi kesempatan berlatih pada saat guru menyampaikan pelajaran yang berupa suatu keterampilan. Untuk itu agar pembelajaran menjadi menyenangkan dan hasil menulis surat lamaran pekerjaan siswa menjadi lebih aktif maka guru menerapkan metode pembelajaran Metode TGT karena m rupakan sebuah proses interaksi yang terjadi lewat proses menulis. Seseorang yang menjalankan konsep “Metode TGT”, akan merasakan bahwa dirinya sedang berinteraksi dengan dirinya yang unik, materi tulisan yang sedang ditulisnya, dan dengan pikiran-pikiran orang lain yang telah dibicaranya sebelum dia menulis.
Pembelajaran dengan metode Metode TGT mempunyai tahap-tahap dalam proses pembelajaran dalam menulis, tahap-tahap tersebut, yaitu tahap persiapan, draft kasar, berbagi, revisi, penyuntingan, penulisan kembali, dan evaluasi.
Dari latar belakang tersebut, maka penulis memilih judul yang akan memperbaiki kemampuan belajar Bahasa Indonesia dengan menulis surat lamaran pekerjaan yaitu berupa “ PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS LAMARAN PEKERJAAN DENGAN METODE TGT PADA SISWA KELAS X MAN 2 KOTA PADANG.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan  permasalahan yang  terjadi  di  kelas  X MAN 2 Padang khususnya pada pembelajaran Bahasa Indonesia, maka masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran menulis surat yang dilakukan di MAN 2 Padang cenderung menggunakan pendekatan tekstual;
2. Siswa kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran;
3. Siswa kurang termotivasi dalam proses pembelajaran;
4. Siswa mengalami kesulitan dalam menuangkan pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka dalam bahasa surat karena mereka hanya sebatas berimajinasi dan tidak mengalaminya secara langsung.
C. Batasan Masalah
Mengingat  begitu  kompleks  permasalahan  pembelajaran  Bahasa Indonesia  di  MAN 2 Padang,  maka  tidak  semua  permasalahan yang  telah  dikemukakan  di  atas  dapat  dibahas  secara  keseluruhan. Berkaitan  dengan  hal  tersebut  maka  penelitian  ini  dibatasi  pada  masalah meningkatkan  keterampilan  menulis  surat lamaran kerjadengan  metode TGT  pada  siswa  kelas  X MAN 2 Padang.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan  identifikasi  masalah  yang  telah  dikemukakan,  maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah peningkatan  keterampilan  menulis  surat lamaran kerjapada siswa  kelas  X MAN 2 Padang yang  diajar menggunakan pendekatan Metode TGT?
2. Bagaimana  pelaksanaan  pembelajaran  menulis  surat  pribadi  dengan pendekatan latiha terbimbing pada  siswa kelas X MAN 2 Padang?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai  dengan rumusan  masalah  di  atas,  penelitian  ini  bertujuan untuk:
1. mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis surat lamaran kerja pada siswa  kelas  X MAN 2 Padang dengan  menggunakan pendekatan Metode TGT.
2. mendeskripsikan  pelaksanaan  pembelajaran keterampilan  menulis surat lamaran kerjapada siswa kelas X MAN 2 Padang dengan menggunakan pendekatan Metode TGT.
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a) Dapat  digunakan  sebagai masukan  agar  peneliti  dapat  terpacu  dan kreatif  dalam  meningkatkan  keterampilan  menulis  surat  bagi  anak didik.
b) Dapat  mengetahui  keefektifan  dari  penerapan  pendekatan Metode TGT dalam meningkatkan keterampilan menulis surat.
2. Bagi Guru
Hasil  penelitian  ini  dapat  dijadikan  sebagai  salah  satu  acuan dalam  menentukan  pendekatan  pembelajaran  bagi  siswa,  khususnya dalam mata materi menulis surat kelas X MAN 2 Padang.
3. Bagi Siswa
a) Dapat  meningkatkan  pemahaman  dan  keterampilan  siswa  dalam pelajaran Bahasa Indonesia materi menulis surat.
b) Siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar.
c) Siswa dapat mengaplikasikan langsung pelajaran  yang diperolehnya ke dalam kehidupannya sehari-hari.
d) Membantu  siswa  dalam  mengembangkan  kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.
4. Bagi Sekolah
a) Hasil  penelitian  ini  diharapkan  dapat  dijadikan  bahan  masukan dalam membuat layanan pendidikan bagi peserta didik.
b) Dapat  mencapai  apa  yang  menjadi  tujuan  kurikulum secara  umum dan pembelajaran Bahasa Indonesia secara khusus.
c) Dapat  menciptakan  iklim  dan  proses  pembelajaran  yang  dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah.












BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Hakikat Kemampuan Menulis
a. Pengertian
Dalam proses pembelajaran diperlukan adanya kemampuan. Kemampuan awal siswa adalah prasarat yang diperlukan siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar yang akan diikuti selanjutnya. Kemampuan awal siswa dapat dijadikan titik tolak untuk membekali siswa agar dapat mengembangkan kemampuan baru  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) kemampuan adalah suatu kecakapan / kesanggupan dalam melakukan sesuatu. Menurut Robbins kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang kompleks, karena penulis dituntut untuk dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisan serta menuangkannya dalam ragam bahsa tulis.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan kspresif. Dalam kegiatan menulis, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Dengan menulis seseorang dapat menyampaikan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud tertentu.
Menulis adalah menuangkan atau melukiskan lambanglambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang tersebut. Menurut Suparno dan Yunus menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Sedangkan menurut Akhadiah menulis adalah suatu aktivitas bahasa yang menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Pendapat lain mengatakan menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkan secara tersurat.
Menurut Slamet kemampuan menulis adalah kemampuan berbahasa yang bersifat produktif. Artinya, kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan, dalam hal ini menghasilkan tulisan. Sedangkan menurut Solehan kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diperoleh secara otomatis. Solehan menjelaskan bahwa kemampuan menulis seseorang bukan dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran. erhubungan dengan cara pemerolehan kemampuan menulis, seseorang yang telah mendapatkan pembelajaran menulis belum tentu memiliki kompetensi menulis dengan andal tanpa banyak latihan menulis.
Kemampuan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Selain harus banyak latihan dan praktik, menulis juga perlu adanya kesabaran. Kesabaran harus dimiliki setiap peserta didik yang ingin belajar, khususnya dalam belajar menulis surat pribadi. Karena menulis memiliki banyak manfaat untuk diri sendiri.
Menulis dapat dipergunakan untuk melaporkan, memberitahukan, dan mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh\ orang-orang yang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas, kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimplulkan bahwa kemampuan menulis adalah kemampuan menuangkan lambang-lambang grafik dengan Bahasa tulis secara sistematis serta mengungkapkan secara tersurat.
2.2 Pengertian Surat Menyurat
Menurut caca, (1992: 3) Surat merupakan suatu alat komunikasi tertulis yang digunakan untuk menyampaikan informasi tertentu kepada seseorang, badan, atau lembaga tertentu. Informasi yang disampaikan dapat berupa pemberitahuan, pernyataan, perintah, permintaan, atau laporan. Ferdinansyah (2007:29) Surat adalah suatu sarana untuk menyampaikan informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Informasi tersebut dapat berupa pemberitahuan, pernyataan, permintaan, laporan, dan sebagainya.
Soewito, dkk (1980: 8) menyatakan bahwa surat adalah suatu sarana untuk menyampaikan informasi atau pernyataan secara tertulis kepada pihak lain baik atas nama sendiri ataupun jabatannya dalam organisasi. Berdasarkan definisi penulis diatas dapat disimpulkan bahwa surat merupakan suatu sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi tertulis yang perlu diketahui orang tertentu atau suatu pernyataan yang harus direspon (dijawab ataudibalas) oleh penerimanya. Dengan kata lain, surat menyurat itu merupakan salah satu kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam komunikasi tertulis.
2.2.1 Jenis Surat
Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat banyak sekali jenis surat. Sebagaimana pendapat Ferdinansyah (2007: 29) surat memiliki berbagai jenis. Menurut Sudarsa (1992:3) mengemukakan bahwa dilihat dari segi bentuk, isi, dan bahasanya, surat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu surat pribadi, surat niaga, surat dinas.
a. Surat Pribadi
Surat Pribadi adalah surat yang berisi masalah pribadi yang biasanya ditujukan kepada keluarga, teman, atau kerabat. Surat pribadi sering digunakan untuk berkomunikasi antara anak dengan orang tua atau sebaliknya, antara sahabat dengan teman. Surat pribadi biasanya menggunakan bahasa yang akrab, ditulis dengan tangan.
b. Surat Niaga
Surat niaga adalah surat yang dipergunakan orang atau badan yang menyelenggarakan kegiatan usaha niaga, seperti perdagangan, perindustrian, dan usaha jasa misalnya perusahan angkutan, perusahaan bangunan, perusahaan asuransi, dan perbankan. (Sudarsa, 1992: 4). Dalam dunia usaha dikenal berbagai macam surat niaga, misalnya surat penwaran, surat pesanan, surat penagihan, surat pengiriman barang, surat pengaduan, dan surat proposi penjualan. Surat niaga memegang peranan penting dalam dunia usaha karena sebagian besar hubungan dengan pihak luar dilakukan melalui surat-menyurat. Oleh karena itu, surat niaga harus disusun dengan dengan sebaik-baiknya, jelas dan menarik, serta perlu dikelola secara profesional oleh pegawai yang mempunyai keahlian dalam bidang surat menyurat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis surat niaga yaitu:
1) Menetapkan tujuan
2) Menetapkan isi surat seperti;
a) nama dan jenis barang
b) merek dan kualitas barang
c) banyak barang yang di tawar
3) Penetapan tata urutan isi surat
4) Menyelesaikan setiap bagian isi surat satu persatu
5) Hindari penggunaan singkatan
c. Surat Dinas
Surat Dinas adalah surat resmi yang digunakan oleh intansi atau organisasi. Penulisan surat dinas menggunakan sistematika dan Bahasa yang baku. Surat dinas sering dipakai di instansi pemerintahan dan instansi pendidikan.
Dalam surat dinas ini penulis akan membahas mengenai surat lamaran pekerjaan. Sebagaimana pendapat Ferdinansyah (2007:57) surat lamaran pekerjaan adalah surat yang ditujukan kepada pemimpin suatu perusahaan, dengan tujuan menawarkan diri sebagai karyawan di perusahaan yang dituju. Pada surat ini biasanya pelamar mengemukakan keinginan untuk menduduki satu jabatan dengan memberikan keterangan-keterangan mengenai data riwayat hidup diri pelamar dengan pengalaman kerja bila ada.
Dalam membuat surat lamaran pekerjaan ini harus ditulis dengan baik dan menarik, jelas, mudah dibaca dan dimengerti. Bahan yang digunakan harus singkat, padat, sopan, dan tidak bertele-tele serta bersikap hormat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.2.2 Fungsi Surat
Surat merupakan alat komunikasi tertulis yang mempunyai kelebihan jika dibandingkan tertulis yang mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan alat komunikasi lain, yaitu biaya surat menyurat relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya telepon. Surat dapat pula mengurangi kesalahpahaman dalam berkomunikasi, karena penulis dapat menyampaikan maksudnya dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena itu, fungsi utama surat adalah sebagai alat komunikasi tertulis.
Surat selain sebagai alat komunikasi, surat juga mempunyai fungsi, seperti yang dikemukakan oleh (Sudarsa, 1992: 3) sebagai berikut:
a. Alat untuk menyampaikan pemberitahuan, permintaan atau permohonan buah pikiran atau gagasan;
b. Alat bukti tertulis, misalnya surat perjanjian;
c. Alat untuk mengingat, misalnya surat-surat yang diarsipkan;
d. Bukti historis, misalnya surat-surat yang bersejarah;
e. Pedoman kerja, misalnya surat keputusan dan surat perintah.
2.2.3 Isi surat
Isi surat merupakan bagian yang paling penting atau bagian yang paling menentukan, apakah maksud dan keinginan penulis surat tercapai atau tidak. Untuk itu isi surat harus jelas. Sebagaimana dikemukakan oleh Sudarsa (1992 : 18) bahwa Secara garis besar isi surat terbagi atas tiga bagian, yaitu
a. Bagian pertama merupakan paragraf pembuka,
b. Bagian kedua merupakan paragraf isi,
c. Bagian ketiga merupakan paragraf penutup,
Paragraf pembuka mengantarkan isi surat yang akan diberitahukan. Paragraf pembuka berisikan pemberitahuan, pertanyaan, pernyataan, atau permintaan. Di samping itu, paragraph pembuka berisi balasan (jawaban).
Dalam paragraf isi dikemukakan hal yang perlu disampaikan kepada penerima surat. Namun, isi surat harus singkat, lugas, dan jelas. Untuk itu kalimat surat hendaknya disusun menurut aturan tata bahasa dan menggunakan istilah yang mudah dipahami penerima surat.
Paragraf penutup merupakan simpulan dan kunci isi surat. Di samping itu, paragraf penutup dapat mengandung harapan penulis surat atau berisi ucapan terima kasih kepada penerima surat dan berfungsi untuk mengakhiri pembicaraan dalam surat.
2.2.4 Bentuk Surat
Yang dimaksud dengan bentuk surat ialah pola surat menurut susunan letak bagian-bagian surat. (Sudarsa, 1992:4). Setiap surat itu amat penting peranannya sebagai identifikasi atau petunjuk pengelolaan surat. Yang termasuk dalam bentuk surat ini adalah penempatan tanggal, nomor, salam pembuka, salam penutup, tembusan, dan lain-lain. Setiap bagian surat itu amat penting peranannya sebagai identifikasi atau petunjuk pengelolaan surat.
Menurut kenyataan dalam penulisan surat pribadi, dinas, ataupun niaga lebih dari 4 macam bentuk surat. Untuk itulah kita perlu memperhatikan keterpaduan, faktor kemudahan, kehematan dan keserasian.
2.3 Pengertian Surat Lamaran Pekerjaan
Subagyo (1997:114) mengatakan surat lamaran pekerjaan termasuk kedalam surat Prive Resmi disebut pula surat pribadi yang dibuat oleh seseorang atas namanya sendiri yang ditujukan kepada instansi atau badan resmi yang ditujukan kepada perusahaan. Menurut Ferdinansyah (2007:29) Surat Lamaran Pekerjaan adalah surat yang ditujukan kepada pemimpin suatu perusahaan, dengan tujuan menawarkan diri sebagai karyawan diperusahaan yang dituju. Pada surat ini biasanya pelamar mengemukakan keinginan untuk menduduki satu jabatan dengan memberikan keterangan- keterangan mengenai dari riwayat hidup diri pelamar dengan pengalaman kerja bila ada.
Dalam membuat surat lamaran pekerjaan ini harus ditulis dengan baik dan menarik, jelas, mudah dibaca dan dimengerti. Bahan yang digunakan harus singkat, padat, sopan, dan tidak bertele-tele serta bersikap hormat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ferdinansyah (2007:58) mengatakan ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam isi surat lamaran pekerjaan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Mengandung kualifikasi penulisnya
2. Memiliki sumber lamaran, yakni dari mana seseorang penulis mendapat informasi adanya kesempatan lamaran tersebut.
3. Mengandung ke inginan pelamaran secara jelas.
Menurut jenis pembuatannya surat lamaran pekerjaan terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Surat lamaran pekerjaan yang digabungkan dengan riwayat hidup (curriculum vitae). Dalam cara ini, riwayat hidup termasuk isi surat karena isinya berupa gabungan, cara ini juga disebut model gabungan.
b. Surat lamaran yang dipisahkan dari riwayat hidup. Dalam cara ini riwayat hidup merupakan lampiran dan cara ini disebut model terpisah.
Surat lamaran yang baik sekurang-kurangnya mempunyai ciri-ciri (Subagyo,1998: 8) :
a. Mempunyai bentuk yang menarik
b. Mempunyi bahasa yang menarik
c. Menggambarkan kemampuan pelamar
d. Tepat pada sasaran
Hal-hal yang harus dicantumkan dalam surat lamaran pekerjaan agar tercapai tujuan pembuatannya diantaranya (Caca, 1992:11)
a. Menyebutkan sumber lamaran
b. Identifikasi diri lengkap dari pelamar Identifikasi diri lengkap dari pelamar meliputi nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat lengkap,nomor telepon,hand phone atau alat bantu komunikasi lainnya. Identifikasi diri dari pelamar harus memudahkan pihak perusahaan menghubungi pelamar.
c. Posisi yang dikehendaki
d. Riwayat pendidikan
e. Riwayat pekerjaan (bila ada)
f. Kemampuan lain yang dimiliki
g. Referensi (bila ada dan pelamar memandang pihak pemberi referensi mempunyai pengaruh terhadap pengambilan keputusan)
Menurut Subagyo (1997: 114) Ada beberapa hal yang harus  diperhatikan dalam pembuatan surat lamaran yaitu sebagai berikut :
1. Surat lamaran ditulis tangan di atas kertas bergaris ukuran folio. Tulisan harus jelas, bersih, dan tidak ada coretan. Surat lamaranpun dapat dibuat menggunakan mesin tik atau komputer.
2. Pelamar menyebutkan dirinya bukan dengan kata ganti kami melainkan saya. Pelamar harus menyebut pimpinan instansi dengan Bapak/Ibu (jika sudah jelas pemimpinnya). Apabila masih belum jelas, dapat langsung menyebutkan jabatannya. Caca (1992:9) menyatakan bahwa unsur-unsur surat lamaran pekerjaan, yakni :
1. Kepala surat
2. Tempat dan tanggal penulisan surat
3. Salam pembuka
4. Pembuka surat
5. Tujuan surat lamaran pekerjaan
6. Lampiran persyaratan yang ditentukan
7. Penutup surat
8. Tanda tangan dan nama jelas pelamar

2.3 METODE TGT
Pengertian model pembelajaran TGT
Model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dengan kerja kelompok. Kelompok yang dimaksud di sini bukanlah sematamata sekumpulan orang, namun kelompok yang berinteraksi, memiliki tujuan, dan berstruktur. Model pembelajaran TGT merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Slavin (2005: 163) mengemukakan TGT adalah model pembelajaran kooperatif menggunakan turnamen akademik dan menggunakan kuis-kuis, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. Menurut Asma (2006: 54) model TGT adalah suatu model pembelajaran oleh guru dan diakhiri dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa. Setelah itu siswa pindah ke kelompok masing-masing untuk mendiskusikan dan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang diberikan guru. Sebagai ganti tes tertulis siswa akan bertemu di meja turnamen.
Lebih lanjut Huda (2011: 116) mengemukakan bahwa penerapan TGT mirip dengan STAD dalam hal komposisi kelompok, format instruksional, dan lembar kerjanya. Bedanya jika STAD fokus pada komposisi kelompok berdasarkan kemampuan, ras, etnik, dan gender, maka TGT umumnya fokus hanya pada level kemampuan saja. Trianto (2010: 83) menambahkan bahwa pada model TGT siswa dibagi menjadi  beberapa kelompok yang terdiri dari 3 – 5 orang untuk memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.
Model TGT pada mulanya dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edwards, merupakan metode pembelajaran pertama dari John Hopkins (Slavin, 2005: 13). Metode ini memiliki banyak kesamaan dengan STAD, tetapi TGT menambahkan dimensi kegembiraan dengan mengganti kuis pada STAD menjadi permainan atau tournament.
Menurut Huda (2011: 117) dengan TGT siswa akan menikmati bagaimana suasana turnamen, dan karena mereka berkompetisi dengan kelompok yang memiliki kemampuan setara, membuat TGT terasa lebih fair dibandingkan kompetisi dalam pembelajaran tradisional pada umumnya.
Penulis menyimpulkan model TGT merupakan model pembelajaran dengan belajar tim yang menerapkan unsur permainan turnamen untuk memperoleh poin bagi skor tim mereka. Berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, pembagian tim dalam TGT berdasarkan tingkat kemampuan siswa.
2.1.4 Komponen-komponen model TGT
Model TGT terdiri atas lima komponen utama. Deskripsi dari masing-masing komponen adalah sebagai berikut:
a. Presentasi di kelas. Presentasi kelas merupakan pengajaran langsung seperti diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, atau dapat juga dengan menggunakan presentasi audiovisual. Presentasi  kelas berbeda dengan pengajaran biasa, presentasi kelas harus benar-benar terfokus pada unit TGT. Sehingga siswa harus dapat benar-benar memperhatikan selama presentasi kelas, karena akan dapat membantu mereka dalam melakukan game turnamen.
b. Tim. Tim terdiri dari tiga sampai lima siswa yang memiliki komposisi kelompok berdasarkan kemampuan akademik, ras, etnik, dan gender. Siswa belajar bersama dalam tim untuk memastikan bahwa setiap anggota kelompoknya telah benar-benar siap melakukan pertandingan di meja turnamen. Skor turnamen yang diperoleh tiap individu akan mempengaruhi skor kelompok. Artinya, keberhasilan kelompok sangat dipengaruhi oleh keberhasilan masing-masing individu dalam kelompok. Belajar dalam tim biasanya berupa pembahasan permasalahan bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.
c. Permainan (Game). Pertanyaan dalam game dirancang dari materi yang relevan dengan materi yang telah disampaikan guru pada presentasi kelas untuk menguji pengetahuan siswa yang telah diperoleh. Game dimainkan di atas meja dengan tiga atau empat orang siswa (sesuai jumlah kelompok), perwakilan setiap kelompok. Setiap siswa mengambil sebuah kartu bernomor dan menjawab pertanyaan sesuai nomor yang tertera pada kartu.
d. Turnamen. Turnamen adalah susunan beberapa game yang dipertandingkan di meja turnamen. Turnamen dilakukan setelah  guru memberikan presentasi kelas dan kelompok melaksanakan kerja kelompok, biasanya dilaksanakan pada akhir minggu atau akhir unit. Pada turnamen pertama, guru menempatkan beberapa siswa berkemampuan tinggi dari setiap kelompok pada meja turnamen 1, siswa berkemampuan sedang di meja turnamen 2 atau 3, dan siswa berkemampuan rendah pada meja turnamen 4. Setelah turnamaen pertama, siswa bertukar meja sesuai kinerja mereka pada turnamen terakhir. Pemenang pada tiap meja “naik tingkat” ke meja berikutnya yang lebih tinggi dan yang skornya paling rendah “diturunkan”. Penempatan meja turnamen dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini:
 

e. Rekognisi Tim. Tim yang mencapai skor rata-rata berdasarkan kriteria tertentu akan mendapatkan penghargaan khusus, seperti sertifikat yang menarik atau menempatkan foto anggota tim mereka di ruang kelas. (Slavin, 2005: 166 – 168)
Tabel 2. Kriteria penghargaan.
2.1.5 Langkah-langkah penggunaan model pembelajaran TGT
Ada beberapa langkah dalam penggunaan model pembelajaran TGT yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah penggunaan model pembelajaran TGT menurut Slavin (2005: 170) sebagai berikut:
a. Presentasi di kelas.
b. Belajar tim. Para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi.
c. Turnamen. Para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen.
d. Rekognisi tim. Skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim, dan tim tersebut akan direkognisi apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Trianto (2010: 84) langkah-langkah pembelajaran TGT secara runtut, yaitu:
a. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku.
b. Guru menyiapkan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasi pelajaran tersebut.
c. Seluruh siswa dikenai kuis, pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.
Berlandaskan pada kedua teori di atas, penulis menyimpulkan ada lima langkah pembelajaran TGT, yaitu:
a. Membentuk kelompok yang heterogen beranggotakan 3 – 5 siswa.
b. Guru menyiapkan pelajaran, dan kemudian kelompok belajar dalam tim mengerjakan lembar kegiatan untuk menguasai materi.
c. Para siswa memainkan game turnamen dalam kemampuan yang homogen.
d. Memberi penghargaan kepada kelompok yang mencapai skor dengan kriteria tertentu.
e. Siswa mengerjakan kuis individual untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa.
2.1.6 Kelebihan dan kekurangan model TGT
Sebelum menerapkan model TGT dalam pembelajaran di kelas, ada baiknya untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan model TGT agar setidaknya dapat diminimalisir sebelum pembelajaran menggunakan model TGT dilakukan. Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan TGT menurut Taniredja (2012: 72 – 73).
Kelebihan:
a. Dalam kelas kooperatif siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya.
b. Rasa percaya diri siswa menjadi tinggi.
c. Perilaku mengganggu terhadap siswa lain menjadi lebih kecil.
d. Motivasi belajar siswa bertambah.
e. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi pelajaran.
f. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
g. Kerjasama antar siswa akan membuat interaksi belajar dalam kelas menjadi hidup dan tidak membosankan.
Kekurangan:
a. Sering terjadi dalam kegiatan pembelajaran tidak semua siswa ikut serta menyumbangkan pendapatnya.
b. Kekurangan waktu untuk proses pembelajaran.
c. Kemungkinan terjadinya kegaduhan kalau guru tidak dapat mengelola kelas.
Berdasarkan kajian teori model pembelajaran TGT yang diungkapkan di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran model TGT adalah pembelajaran kooperatif secara berkelompok dan menyenangkan yang beranggotakan 3 – 5 orang per kelompok untuk saling mendukung satu dengan lainnya sehingga berhasil dalam pembelajaran yang dilakukan secara turnamen atau permainan dalam pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran: (a) melibatkan siswa mencari informasi mengenai materi belajar; (b) memfasilitasi siswa belajar dalam kelompok dengan pemberian tugas LKS dan membimbing kelompok bekerja dan belajar; (c) memfasilitasi siswa menyajikan hasil kerja kelompok; (d) memfasilitasi siswa melakukan game turnamen; dan (e) memberi penghargaan kepada kelompok yang mencapai skor dengan kriteria tertentu.
2.4 Kerangka Berpikir
Suatu pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Indonesia akan lebih bermakna jika guru mampu menciptakan suasana belajar yang dapat membuat siswa aktif, pikirannya kreatif, dan membuatnya merasa senang mengikuti proses pembelajaran tersebut adalah dengan menerapkan metode Metode TGT.
Metode Metode TGT akan memunculkan potensi menulis khususnya pada anak punya keberanian dan kesiapan mental untuk menulis serta anak mempunyai kebaruan tentang menulis. Adapun langkah-langkah yang akan diterapkan dalam menulis karangan yaitu; (1) Persiapan, pengelompokan (clustering) menentukan jenis surat khususnya surat lamaran pekerjaan pada tahap ini hanya membangun suatu fondasi yang berdasarkan pada pengetahuan, gagasan dan pengalaman. (2) Draft Kasar, pada tahap ini mulai menekuni dan mengembangkan gagasan. Pusatkan dulu pada isi sebelum melangkah ke tata bahasa atau ejaan. (3) Berbagi proses ini sebagai penulis kita merasa sangat dekat dengan tulisan kita sehingga sulit bagi kita untuk menilai secara objektif. Untuk memperbaiki tulisan maka perlu meminta orang lain dan memberi umpan balik. (saling bertukat hasil tulisan).
(4) Revisi, pada tahap ini setelah mendapat umpan balik tentang tulisan mana yang baik dan mana yang perlu digarap lagi. Memanfaatkan umpan balik yang dapat memperbaiki hasil tulisan kita (memperbaiki hasil tulisan). (5) Penyuntingan, pada tahap ini perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata Bahasa dan tanda baca. (6) Penulisan Kembali, Pada tahap ini tulis kembali dan masukan isi yang baru dan perubahan penyuntingan. (7) Evaluasi, pada tahap ini, penulis memeriksa semua tulisannya dan memperbaiki semua tulisan apa ejaannya sudah tepat atau belum.
2.5 Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah pernyataan yang merupakan terkaan atau jawaban sementara tentang masalah yang sedang kita amati yang secara teoritis paling mungkin kebenarannya dan masih memerlukan pembuktian terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut.
1. Penerapan metode Metode TGT pada pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan aktifitas belajar dalam menulis surat lamaran pekerjaan di kelas X MAN 2 Padang.
2. Penerapan metode metode TGT pada pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis surat lamaran pekerjaan di kelas X MAN 2 Padang.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru ke kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksis pembelajaran (Arikunto, 2006:96). Penelitian tindakan kelas memiliki empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di kelas X MAN 2 Padang.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester genap di kelas kelas X MAN 2 Padang yang dilaksanakan dalam dua siklus. Dalam satu siklus terdiri dari dua kali pertemuan.
3.3 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah  siswa di kelas kelas X MAN 2 Padang yang berjumlah 20 orang terdiri dari laki-laki. Pada saat dilakukan observasi masih terlihat bersifat heterogen, antara siswa yang satu dengan siswa yang lain nampak jelas berbeda. Perbedaan ini terlihat pada saat siswa menulis surat hasil menulis surat siswa ada yang mendapat tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Perbedaan ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat tinggal, keluarga, teman dan minat dalam belajar.
Kemampuan yang menjadi fokus penelitian adalah kemampuan siswa dalam membuat surat lamaran pekerjaan yang dikemukakan isi gagasan, pilihan kata (Diksi), kalimat, paragraf, dan ejaan. Alasan memilih poin-poin di atas karena merupakan bagian terpenting dalam menulis surat lamaran pekerjaan.
3.4 Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan lebih dari satu siklus, dimana tiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu 1) tahap perencanaan (planning), 2) tahap pelaksanaan (action), 3) tahap pengamatan (observation), dan 4) refleksi (reflection). Empat tahapan tersebut digambarkan pada bagan berikut.
Berdasarkan penjelasan di atas maka prosedur penelitian ini dapat digambarkan seperti digambarkan seperti bagan 3.1.berikut:

Siklus I
Adapun tahap-tahap yang telah dilaksanakan dalam siklus I pertemuan I dan II ini adalah:
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini, observer menyiapkan berbagai komponen mengajar yang mendukung proses pembelajaran. Adapun rencana yang telah dilakukan antara lain :
1. Pengkajian kurikulum (Stándar Kompetensi dan Kompetensi Dasar)
2. Menyusun silabus pembelajaran pada standar kompetensi dan kompetensi dasar.
3. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
4. Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa.
b. Pelaksanaan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. Pada saat kegiatan pembelajaran dimulai, maka dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung yang ditujukan oleh aktivitas guru dan siswa guna mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan pada penelitian ini mencakup, antara lain :
1. Pendahuluan
Tahap Persiapan
a. Guru mengkondisikan kelas: menyiapkan seluruh warga kelas dan alat pembelajaran.
b. Guru memberikan salam.
c. siswa berdoa bersama, guru mengecek kehadiran siswa.
d. Apersepsi, Guru menanyakan siapa yang pernah membuat surat.
e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
f. Guru menyampaikan prosedur pembelajaran, secara individu.
2. Kegiatan inti
Tahap Draft Kasar
a. Guru dan siswa bersama-sama membahas unsur-unsur surat lamaran pekerjaan dan membahas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis surat lamaran pekerjaan.
b. Guru dan siswa membahas unsur-unsur surat lamaran pekerjaan dari sebuah contoh surat lamaran pekerjaan yang dibagikan guru dengan tanya jawab.
c. Siswa diminta untuk bertanya bila ada yang belum jelas.
d. Siswa diminta untuk menyiapkan kertas satu lembar yang akan digunakan untuk menulis surat lamaran pekerjaan.
e. Guru memutar musik pengiring belajar.
f. Guru meminta siswa untuk menulis surat lamaran pekerjaan analisis proses sesuai iklan dengan menggunakan kertas yang telah disiapkan.
Tahap Berbagi
a. Dengan bimbingan guru siswa diminta bertukar hasil tulisan dengan temannya.
b. Siswa membaca dan mengoreksi hasil tulisan teman mereka.
Tahap Revisi
a. Siswa dengan bimbingan guru memperbaiki isi tulisan, dan paragraf mereka masing-masing.
Tahap Penyuntingan.
a. Dengan bimbingan guru, siswa memperbaiki surat lamaran pekerjaan berdasarkan pilihan kata (Diksi), kalimat, dan ejaan.
Tahap Penulisan Kembali
a. Siswa dengan bimbingan guru menulis kembali hasil dari penyuntingan yang telah di lakukan.
3. Kegiatan Penutup
Tahap Evaluasi
a. Dengan bimbingan guru, siswa memeriksa dan memperbaiki semua hasil tulisannya.
b. Guru memberikan evaluasi.
c. Dengan bimbingan guru siswa menyimpulkan materi pembelajaran.
d. Guru merayakan pembelajaran dengan bernyanyi bersama.
c. Observasi
Selama melakukan proses kegiatan belajar mengajar, guru pembimbing, observer dan teman sejawat mengamati aktivitas guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran pada menulis surat lamaran pekerjaan dengan metode Metode TGT. Ada pun aspek yang diamati oleh pengamat (observer) mengenai aktifitas guru dan aktifitas siswa adalah dalam proses belajar mengajar sesuai dengan indikator yang telah di rencanakan.
d. Refleksi
Data yang diperoleh melalui observasi telah dianalisis dan dilakukan pengkajian dalam rangka meningkatkan keterampilan atau kemampuan menulis siswa, mengkaji keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan pembelajaran, menentukan kendala-kendala, peluang keberhasilan dan dampak lain dari tindakan yang direncanakan. Hasil dari kegiatan refleksi ini telah menentukan tindakan yang dilakukan pada siklus berikutnya sehingga memperoleh data yang menunjukkan keberhasilan tindakan kelas yang dilaksanakan.
Siklus II
Seluruh langkah-langkah yang telah dilaksanakan pada siklus I diulangi pada siklus ke II dengan mempertahankan hal-hal yang terlaksana di siklus I dengan baik dan memperbaiki hal-hal yang kurang dalam tindakan pembelajaran di siklus I.
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini, peneliti menyiapkan berbagai komponen mengajar yang mendukung proses pembelajaran. Adapun rencana yang telah dilakukan antara lain :
1) Pengkajian kurikulum (Stándar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) yang sesuai dengan menulis surat analisis proses.
Standar Kompetensi yang digunakan adalah menulis surat lamaran pekerjaan sesuai dengan aturan dan tujuan komunikasi. Kompetensi Dasar yang digunakan adalah menulis surat dengan memperhatikan jenis surat.
2) Menyusun silabus pembelajaran pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sesuai dengan menulis surat análisis proses.
3) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Metode TGT untuk menulis surat analisis proses materi cara membuat surat lamaran pekerjaan
4) Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa.
b. Tahap Pelaksanaan
Pertemuan I dan 2
1. Pendahuluan
Tahap Persiapan
a. Guru mengkondisikan kelas: menyiapkan seluruh warga kelas dan alat pembelajaran.
b. Guru memberikan salam.
c. siswa berdoa bersama, guru mengecek kehadiran siswa
d. Apersepsi, Guru lebih memaksimalkan lagi dalam menyampaikan apersepsi, dengan cara: menanyakan siapa yang pernah membuat surat.
e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan menulis surat lamaran
f. Guru menyampaikan prosedur pembelajaran secara individu.
2. Kegiatan inti
Tahap Draft Kasar
a. Guru lebih maksimal dalam menjelaskan tentang surat dinas terutama surat lamaran pekerjaan, unsur-unsur dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis surat lamaran pekerjaan.
b. Siswa diminta untuk bertanya bila ada yang belum jelas.
c. Siswa diminta untuk menyiapkan alat tulis yang akan digunakan untuk menulis surat lamaran pekerjaan.
d. Guru memutar musik pengiring belajar.
e. Guru meminta siswa untuk menulis surat lamaran pekerjaan analisis proses sesuai iklan dengan menggunakan kertas yang telah disiapkan.
Tahap Berbagi
a. Guru lebih maksimal lagi dalam membimbing siswa ketika diminta bertukar hasil menulis surat yang telah di buat dengan temannya.
b. Siswa lebih maksimal lagi membaca dan mengoreksi hasil menulis surat lamaran pekerjan teman.
Tahap Revisi
a. Siswa dengan bimbingan guru memperbaiki isi, dan paragraf.
Tahap Penyuntingan.
a. Guru lebih maksimal lagi membimbing siswa untuk memperbaiki penggunaan pilihan kata, kalimat, dan ejaan.
Tahap Penulisan Kembali
b. Dengan bimbingan guru yang lebih optimal siswa menulis kembali hasil dari penyuntingan.
3. Kegiatan Penutup
Tahap Evaluasi
a. Dengan bimbingan guru siswa memeriksa dan memperbaiki semua hasil tulisannya.
b. Guru memberikan evaluasi.
c. Guru mengarahkan untuk menyimpulkan pembelajaran.
d. Guru merayakan pembelajaran dengan bernyanyi bersama.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, aktivitas belajar siswa dan keterampilan menulis surat lamaran pekerjaan dengan menggunakan metode Metode TGT. Instrumen penelitian ini, yaitu lembar observasi (guru dan siswa).
1. Lembar Non Tes
Digunakan untuk memperoleh data proses belajar berupa lembar observasi. Lembar observasi adalah alat penilaian digunakan untuk mengukur tingkah laku individu maupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi buatan (Sudjana, 2006: 84). Lembar observasi dibagi menjadi dua kategori yaitu:
a. Lembar Observasi untuk Aktivitas Guru
Lembar observasi aktivitas guru digunakan untuk mengamati guru dalam pembelajaran dengan penerapan motode pembelajaran Metode TGT dalam kegiatan menulis surat pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Lembar observasi ini digunakan pada saat proses pembelajaran berlangsung, yang dilakukan oleh ibu Rosalia Widyaretno, M.Pd. selaku guru kelas dalam lembar observasi ini terdapat kriteria penilaian yaitu 1 (satu), 2 (dua), dan 3 (tiga) yang menjadi observernya yaitu peneliti dan teman sejawat.
b. Lembar observasi untuk aktivitas siswa
Lembar observasi aktivitas siswa digunakan untuk melihat aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan penerapan motode pembelajaran Metode TGT dalam keterampilan menulis surat pada pembelajaran Bahasa Indonesia, yang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia. Dalam lembar observasi ini terdapat kriteria penilaian yaitu 1 (satu), 2 (dua), dan 3 (tiga).
2. Lembar Tes
Lembaran ini digunakan untuk memperoleh data hasil menulis surat siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran. Berdasarkan lembar tes (hasil menulis siswa) ini maka dapat diketahui tercapai atau tidaknya ketuntasan belajar secara klasikal. Siswa menulis surat dengan arahan guru.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Teknik observasi adalah teknik penilaian dengan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu hal secara langsung, teliti dan sistematis (Nurgiyantoro, 2001 : 57). Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung, bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi terdiri dari lembar obsernasi guru dan siswa yang digunakan untuk mengamati keadaan siswa, keaktifan siswa dan sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran serta bagaimana guru mengelola pembelajaran. Pengamat hanya memberikan tanda cek (√) pada kolom observasi. terdiri dari lembar observasi guru dan siswa yang digunakan untuk mengamati keadaan siswa, keaktifan siswa dan sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran.
2. Tes
Tes ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa menulis Surat lamaran pekerjaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran. Berdasarkan lembar tes (hasil menulis siswa) ini maka dapat diketahui tercapai atau tidaknya ketuntasan belajar secara klasikal.
3.7 Teknik Analisis Data
Data yang merupakan hasil penelitian tindakan pertama dan kedua yang termuat dalam lembar observasi pada aspek keaktifan siswa telah dianalisis dengan menerapkan teknik persentase. Untuk menganalisis data observasi dilakukan dengan menghitug rata-rata skor pengamatan. Data observasi yang diperoleh digunakan untuk mereflesikan tindakan yang telah dilakukan dan diolah secara deskriptif (sudjana, 2006), yaitu dengan menggunakan rumus:
  1. Data Observasi

2. Data Tes
Menurut Jacobs dan Razavich (dalam Sudjana, 2006) untuk menghitung kualitas pembelajaran digunakan rumus sebagai berikut:
1)      Rata-rata Nilai

2) Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal
Keterangan:
Ns = Jumlah siswa yang mendapatkan nilai > 75
N = Jumlah siswa
(Depdiknas, 2007:62)
Tabel 3. Tingkat kemampuan siswa menulis surat lamaran
pekerjaan melalui metode Metode TGT.

Tabel 4. Skor setiap aspek penulisan surat lamaran pekerjaan
NO
Aspek yang dinilai
Skor maksimum
1
Isi gagasan yang dikemukakan
30
2
Pilihan kata (Diksi)
25
3
Kalimat
20
4
Paragraf
20
5
Ejaan
5
Jumlah
100


Penulis memberikan bobot nilai sesuai dengan aspek yang dinilai, diantaranya adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Aspek Penilaian Menulis Surat Lamaran Pekerjaan
Aspek
yang dinilai
Rentang nilai
Kriteria
Keterangan





Isi
27-30
Padat informasi *substansi* pengembangan tesis tuntas *relevan*dengan permasalahan
dan tuntas
Sangat baik
22-26
Informasi      cukup      *substansi                         cukup* pengembangan  tesis                             terbatas                     *relevan
dengan masalah tetapi tak lengkap
Baik
17-21
Informasi    terbatas    *substansi                    kurang* pengembangan  tesis                    tak            cukup
*permasalahan tak cukup
Cukup
13-16
Tak berisi *tak ada substansi* tak ada
pengembangan         tesis         *tak                                 ada permasalahan
Kurang

22-25
Konstruksi kompleks tetapi efektif *hanya terjadi sedikit kesalahan penggunaan bentuk kebahasaan.
Sangat baik
Aspek
yang dinilai
Rentang nilai
Kriteria
Keterangan





Isi
27-30
Padat informasi *substansi* pengembangan tesis tuntas *relevan*dengan permasalahan
dan tuntas
Sangat baik

22-26
Informasi       cukup  *substansi                  cukup* pengembangan           tesis                      terbatas            *relevan
dengan masalah tetapi tak lengkap
Baik

17-21
Informasi       terbatas                      *substansi        kurang* pengembangan          tesis     tak                 cukup
*permasalahan tak cukup
Cukup

13-16
Tak berisi *tak ada substansi* tak ada
pengembangan          tesis     *tak     ada permasalahan
Kurang

22-25
Konstruksi kompleks tetapi efektif *hanya terjadi sedikit kesalahan penggunaan bentuk kebahasaan.
Sangat baik

3.8 Indikator Keberhasilan
Menurut Depdiknas (2007: 62) nilai tes yang baik atau tuntas secara klasikal apabila di kelas mencapai 75% dan rata-rata nilai yang diperoleh siswa mencapai nilai ≥75.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Pelaksanaan Siklus I
Pembelajaran menulis surat lamaran pekerjaan pada Siklus I dilaksanakan dalam empat tatap muka. Setiap tatap muka menggunakan lembar tugas sebagai pedoman turnamen sekaligus dasar analisis proses.
a) Tatap Muka Pertama
Tatap muka pertama dilaksanakan pada hari Selasa pukul 08.30 – 09.15. Selama 15 menit awal dilakukan persiapan mulai penyusunan kelompok, memahami materi, membagi lembar tugas, dan penjelasan permainan.
Turnamen diawali dengan memerintahkan siswa mengerjakan pertanyaan pada ronde 1. Siswa melihat contoh penulisan yang benar. Siswa diminta menilai hasil pekerjaan berdasar kriteria.. Kendala berikut dicatat oleh pengamat maupun oleh guru. (1) Jawaban tidak bias dipakai menilai secara individual. (2) Waktu pelaksanaan lebih lama dari perkiraan. (3) Guru mondar-mandir melayani pertanyaan kelompok. (4) Proses penjumlahan nilai dan pengumuman skor tim tidak lancar karena tidak ada petugas khusus.
b) Tatap Muka Kedua
Tatap muka kedua dilaksanakan pada hari Selasa pukul 09.30 – 10.15. Siswa diberi kesempatan melakukan persiapan untuk ronde berikutnya. Guru memerintahkan siswa mengerjakan soal ronde 2 - 4. Siswa melihat contoh penulisan yang benar. Kompetisi antartim sudah mulai tampak. Tim dengan nilai tertinggi melakukan perayaan setelah jumlah nilai perolehan diumumkan. Kendala pada tatap muka pertama masih muncul di tatap muka kedua. Berdasarkan catatan pengamatan, ditemukan fakta bahwa pencapaian nilai/skor siswa belum menunjukkan hasil maksimal.
c) Tatap Muka Ketiga
Tatap muka ketiga dilaksanakan pada hari Rabu, 12.00 – 12.45. Siswa diberi kesempatan melakukan persiapan. Siswa mengerjakan pertanyaan ronde 5– 7. Proses berikutnya pencocokan. Hasil menunjukkan masih belum mencapai standar yang diharapkan. Kemampuan siswa menyusun kalimat belum maksimal. Kelengkapan isi surat lamaran pekerjaan kurang sempurna. Kalimat penutup surat lamaran pekerjaan masih banyak yang salah.
d) Tatap Muka Keempat
Tatap muka keempat dilaksanakan pada hari Kamis, pukul 07.45 – 08.30. Siswa diminta membawa masingmasing contoh iklan lowongan pekerjaan. Mereka diberi kesempatan melakukan persiapan menghadapi ronde terakhir permainan.
Siswa mengerjakan pertanyaan ronde 8. Hasil pengamatan menunjukkan sejumlah fakta, nilai tidak akurat, siswa mampu cenderung membantu siswa kurang mampu, kemampuan menulis surat belum memuaskan, dan kerja sama bersifat negatif.
4.1.2 Evaluasi Siklus I
a) Evaluasi Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran menunjukkan sejumlah kelemahan pada Siklus I. Tingkat partisipasi siswa hanya 67,67% dari seharusnya 75 %. Kelemahan lain, nilai individu tidak akurat; (2) waktu lebih lama dari perkiraan; (3) efektivitas waktu kurang; (4) tidak ada petugas khusus; (5) muncul sifat ketergantungan; dan (6) guru kesulitan memberi contoh jawaban yang benar.
Pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran belum sesuai harapan. Persentase siswa yang menguasai materi pembelajaran tiap-tiap ronde belum melewati 75 % (lihat Tabel 1).
b) Evaluasi Hasil Pembelajaran
Evaluasi hasil pembelajaran difokuskan ronde terakhir turnamen. Dari batasan 75 %, baru 65,80 % siswa yang menguasai materi pembelajaran. Ketidaksempurnaan tulisan siswa terlihat dari format surat, unsur surat, maupun bahasa surat.

Tabel 1: Rekapitulasi Hasil Pengamatan Ronde-ronde TGT Siklus I

No
Ronde dan Partisipasi
Persentase
1
R 1
70,17
2
R 2
63,67
3
R 3
65,50
4
R 4
64,83
5
R 5
64,00
6
R 6
63,67
7
R 7
65,67
8
R 8
65,80
9
Partisipasi Aktif
67,67


3.1.3    Refleksi Siklus I
Hasil evaluasi proses dan hasil pembe- lajaran belum mencapai kriteria yang dite- tapkan. Kegagalan terlihat pada pelaksanaan yang belum sempurna dan adanya sejumlah kelemahan.
Kelemahan menyebabkan pembelajaran kurang optimal. Misalnya, jawaban tidak bisa dipakai menilai kemampuan individu secara akurat. Pembagian dan pengelompokan siswa, pencocokan jawaban, dan adaptasi terhadap metode menyebabkan waktu menjadi lebih lama dari perkiraan.
Efektivitas waktu pembelajaran kurang. Proses penjumlahan nilai dan pengumuman skor tim kurang lancar. Muncul sifat ketergantungan yang merugikan kelompok. Iklan beragam menyulitkan guru dalam memberi contoh jawaban yang benar.
Pemahaman siswa terhadap materi pem- belajaran belum menunjukkan keberhasilan yang diharapkan. Persentase siswa yang menguasai materi tiap-tiap ronde belum terlewati. Evaluasi hasil pembelajaran masih rendah, baru 65,80 %.

3.2       Pembelajaran Menulis Surat La- maran Pekerjaan dengan TGT pada Siklus II

3.2.1    Pelaksanaan Siklus II
Pembelajaran menulis surat lamaran pekerjaan pada Siklus II dilaksanakan dalam empat tatap muka. Tatap muka menggunakan lembar tugas yang sama dengan Siklus I sebagai pedoman turnamen sekaligus dasar analisis proses.

a)         Tatap Muka Pertama
Tatap muka pertama dilaksanakan pada hari Selasa pukul 08.30 –09.15. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, selama 15 menit awal dilakukan persiapan. Guru memilih masing-masing seorang anggota kelompok untuk mengawasi kelompok lain agar tidak terjadi kecurangan.
Turnamen diawali dengan memerintahkan siswa mengerjakan pertanyaan pertama dan kedua pada ronde 1. Guru membagikan kepada masing-masing kelompok contoh penulisan yang benar. Siswa menilai hasil pekerjaan berdasar kriteria yang diberikan oleh guru di bawah pengawasan anggota tim lain.
Pelaksanaan ronde 1 memperlihatkan ke- majuan yang signifikan. Siswa yang menguasai materi pembelajaran mencapai 85, 50 %. Waktu pembelajaran lebih efektif. Tingkat objektivitas hasil yang dicapai setiap siswa lebih tinggi. Kontribusi siswa kepada kelompok lebih positif. Pengumuman hasil perolehan skor berjalan lancar karena dilakukan pengamat khusus dari kelompok lain.

b)         Tatap Muka Kedua
Tatap muka kedua dilaksanakan pada hari Selasa, pukul 09.30 – 10.15. Guru mengingatkan materi yang menjadi fokus pembicaraan pada ronde 2 – 4 selanjutnya mengerjakan soal ronde 2 – 4. Persaingan antartim menunjukkan peningkatan. Setiap kali jumlah nilai perolehan diumumkan, tim dengan nilai tertinggi merayakan denganyel- yel kebanggaan.
Keberhasilan ronde 2 – 4 cukup me- muaskan. Persentase penguasaan materi meningkat dari 63,67 % menjadi 79,33 % siswa di ronde 2. Dari 65,50 % menjadi 77, 83 % siswa di ronde yang ke-3. Dan dari 64,83 % menjadi 75,83 % di ronde 4.

c)         Tatap Muka Ketiga
Tatap muka ketiga dilaksanakan pada hari Rabu,pukul 12.00 – 12.45. Siswa diberi kesempatan mempersiap- kan diri menghadapi ronde 5 – 7 turnamen. Guru  menyampaikan  pertanyaan secara
bertahap.
Persentase penguasaan materi meningkat. Ronde 5 dari 64,00 % menjadi 77,67 % siswa.
Ronde 6 dari 63,67 % menjadi 75,00 % siswa.
Ronde 7 dari 65,67 % menjadi 75,33 % siswa.

d)         Tatap Muka Keempat
Tatap muka keempat dilaksanakan Kamis, pukul 07.45 – 08.30. Pada tatap muka ini disediakan contoh iklan lowongan pekerjaan. Guru menugasi siswa memahami dan mencermati iklan. Siswa melakukan diskusi persiapan menghadapi ronde terakhir.
Kemampuan siswa menulis surat lamaran pekerjaan meningkat. Siswa yang menguasai keterampilan menulis surat lamaran pekerjaan 65,80 % di Siklus I sedangkan Siklus II sebanyak 78,57 % siswa.

3.2.2    Evaluasi Siklus II
Evaluasi Siklus II mengacu Siklus I. Evaluasi didasarkan pada hasil pengamatan guru, catatan pengamat, dan nilai pencapaian siswa maupun tim. Evaluasi ditekankan pada catatan proses pembelajaran dan hasil pem- belajaran. Hasil evaluasi disampaikan dalam uraian berikut ini.

a)         Evaluasi Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran menunjukkan peningkatan kualitas. Keterlibatan siswa menunjukkan perubahan dari Siklus I ke Siklus
II. Persentase keaktivan siswa meningkat dari 67,67 % menjadi 75,17 %.
Kendala pembelajaran diatasi dengan perencanaan yang lebih cermat. Kerja sama dalam menjawab soal diantisipasi dengan penunjukan pengamat. Ketergantungan siswa tidak terjadi lagi. Objektivitas nilai lebih akurat untuk menilai kemampuan individu.
Kendala mengenai efektivitas waktu diatasi dengan penyiapan perangkat yang lebih lengkap, jawaban pertanyaan tinggal dibagikan kepada kelompok sehingga waktu tidak banyak terbuang.
Peningkatan juga dapat diamati melalui perubahan persentase siswa yang menguasai materi pembelajaran pada setiap rondenya (lihat Tabel 2).

b)         Evaluasi Hasil Pembelajaran
Hasil akhir menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Persentase siswa yang memenuhi kriteria keberhasilan meningkat 12,77 %, Siklus I 65,80 % menjadi 78,57 %.




Tabel 2: Perbandingan Pencapaian Keberhasilan Siklus I – Siklus II
No
Ronde dan Partisipasi
Persentase
Siklus I
Persentase
Siklus II
1
R 1
70,17
85,50
2
R 2
63,67
79,33
3
R 3
65,50
77,83
4
R 4
64,83
75,83
5
R 5
64,00
77,67
6
R 6
63,67
75,00
7
R 7
65,67
75,33
8
R 8
65,80
78,57
9
Partisipasi Aktif
67,67
75,17

3.2.3    Refleksi Siklus II
Hasil evaluasi Siklus II menunjukkan pembelajaran telah berhasil mencapai kriteria yang ditetapkan. Suasana kompetisi mening- katkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Keinginan menjadi pemenang membangkitkan motivasi siswa untuk tampil lebih baik. Metode TGT memberi kegembiraan dalam pembe- lajaran. Langkah pembelajaran menyadarkan siswa pada tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab kelompok. Kerja sama pembelajaran memberikan pengalaman berharga di samping perasaan dihargai atas prestasi dan kerja kerasnya.







BAB V
KESIMPULAN

Simpulan
Berdasarkan uraian dua siklus pembela- jaran menulis surat lamaran pekerjaan dengan metode TGT di atas dapat dirumuskan beberapa simpulan. Pertama, metode TGT cukup efektif dipergunakan dalam pembelajaran menulis surat lamaran pekerjaan. Kedua, metode TGT cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan. Ketiga,metode TGT cukup efektif meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran menulis surat lamaran pekerjaan. Keempat, metode TGT cukup efektif meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam pembelajaran menulis surat lamaran pekerjaan.
Saran
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dan simpulan di atas, saran yang dapat yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.Bagi guru kelas X khususnya guru bahasa Indonesia.
a) Guru hendaknya lebih melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
b) Guru dan siswa hendaknya dapat bekerja sama dengan baik dalam proses pembelajaran.





DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Finoza, Lamuddin. 2009. Aneka Surat Sekretaris & Bisnis Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kosasih, Yoce Aliah. 2009. Menulis Surat Dinas Lengkap. Bandung: Yrama Widya.
Marjo, Y.S. 2010. Surat-surat Lengkap. Jakarta: Setia Kawan Jakarta.
Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (CTL). Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas 2005. Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2002. Pendekatan Kontekstual (contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Departemen Pendidian Nasional.
Hadari, N. (2001). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajahmada Universitas Press
Hermawan, R. dkk. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Sekolah Dasar. Bandung. UPT Press.
Kosasih dan Sutari, Ice. 2003. Surat Menyurat dan Menulis Surat Dinas dengan Benar. Bandung: CV. Yrama Widya
Nurhadi, Agus, Gerred Senduk. 2003. Pembelajaran kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang Universitas Negeri Malang
Nurhadi, 2004. Kurikulum 2003 (pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Nuryatin, Agus. 2010. Mengabadikan Pengalaman dalam Cerpen. Rembang: Yayasan Adhigama.
Senduk dan Nurhadi. 2003. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.















LAMPIRAN

TGT



Pembagian Kelompok Siklus I dan Penempatan Meja Turnamen Siklus I

Pembagian Kelompok Siklus I

No.
PADANG
MINANG
DATO
BUNDO
AMBO
1
S9
S13
S19
S2
S7
2
S10
S20
S8
S16
S12
3
S14
S17
S22
S15
S23
4
S1
S6
S18
S4
S21
5

S5
S11
S3




Penempatan Meja Turnamen Siklus I

No.
Meja 1
Meja 2
Meja 3
Meja 4
Meja 5
1
S9
S12
S23
S1
S5
2
S13
S16
S15
S21
S11
3
S19
S8
S14
S4
S3
4
S2
S20
S17
S18

5
S7
S10
S22
S6



Lembar Skor Meja Turnamen Siklus I


Lembar Skor Meja Turnamen 1 (Siklus I)

Lembar Skor Meja Turnamen 1
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S22
PADANG
1
2
3
4
-
10
20
S16
MINANG
1
2
3
4
5
15
50
S20
DATO
1
2
-
4
-
7
10
S3
BUNDO
1
2
3
-
5
11
30
S13
AMBO
1
2
3
4
5
15
50


Lembar Skor Meja Turnamen 2 (Siklus I)

Lembar Skor Meja Turnamen 2
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S9
PADANG
1
2
3
4
-
10
30
S12
MINANG
1
2
-
4
5
12
60
S4
DATO
1
2
3
-
-
6
10
S10
BUNDO
1
-
3
4
-
8
20
S15
AMBO
1
2
3
-
5
11
40



Lembar Skor Meja Turnamen 3 (Siklus I)

Lembar Skor Meja Turnamen 3
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S17
PADANG
1
-
3
4
-
8
60
S5
MINANG
-
2
3
-
-
5
30
S7
DATO
1
-
-
-
-
1
10
S19
BUNDO
1
2
-
-
-
3
20
S8
AMBO
1
2
-
4
-
7
40


Lembar Skor Meja Turnamen 4 (Siklus I)

Lembar Skor Meja Turnamen 4
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S14
PADANG
1
-
3
-
-
4
40
S6
MINANG
1
2
-
-
-
3
30
S1
DATO
1
-
-
-
-
1
20
S18
BUNDO
-
2
3
-
-
5
60
S23
AMBO
1
-
-
-
-
1
20



Lembar Skor Meja Turnamen 5 (Siklus I)

Lembar Skor Meja Turnamen 5
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S11
DATO
1
2
-
-
-
3
60
S21
BUNDO
1
-
-
-
-
1
30
S2
AMBO
-
2
-
-
-
2
40



Lembar Rangkuman Tim Yudhistira
Nama Anggota
Poin Turnamen
S22
20
S9
30
S17
60
S14
40
Total Skor Tim
150
Rata-rata Tim
37,5

 
Lembar Rangkuman Tim Siklus I Lembar Rangkuman Tim PADANG (Siklus I)










Lembar Rangkuman Tim MINANG (Siklus I)

Lembar Rangkuman Tim MINANG
Nama Anggota
Poin Turnamen
S16
50
S12
60
S5
30
S6
30
Total Skor Tim
170
Rata-rata Tim
42,5




Lembar Rangkuman Tim DATO (Siklus I)

Lembar Rangkuman Tim DATO
Nama Anggota
Poin Turnamen
S20
10
S4
10
S7
10
S1
20
S11
60
Total Skor Tim
110
Rata-rata Tim
22



Lembar Rangkuman Tim BUNDO (Siklus I)

Lembar Rangkuman Tim BUNDO
Nama Anggota
Poin Turnamen
S3
30
S10
20
S19
20
S18
60
S21
30
Total Skor Tim
160
Rata-rata Tim
32






Lembar Rangkuman Tim AMBO (Siklus I)

Lembar Rangkuman Tim AMBO
Nama Anggota
Poin Turnamen
S13
50
S15
40
S8
40
S23
20
S2
40
Total Skor Tim
190
Rata-rata Tim
38






Pembagian Kelompok dan Penempatan Meja Turnamen Siklus II


Pembagian Kelompok (Siklus II)

No.
SEMANGAT
BANGKIT
Petruk
Bagong
Limbuk
1
S10
S4
S9
S19
S2
2
S16
S3
S1
S5
S12
3
S13
S7
S23
S8
S17
4
S22
S15
S20
S11
S6
5
S21
S14
S18




Penempatan Meja Turnamen (Siklus II)

No.
Meja 1
Meja 2
Meja 3
Meja 4
Meja 5
1
S10
S16
S13
S22
S21
2
S4
S3
S7
S15
S14
3
S9
S1
S23
S20
S18
4
S19
S5
S8
S11

5
S2
S12
S17
S6







Lembar Skor MejaTurnamen Siklus II


Lembar Skor MejaTurnamen 1 (Siklus II)

Lembar Skor Meja Turnamen 1
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S10
SEMANGAT
1
2
3
4
-
10
20
S4
BANGKIT
1
2
3
-
5
11
40
S9
Petruk
1
-
3
4
-
8
10
S19
Bagong
1
2
3
-
5
11
40
S2
Limbuk
1
2
3
4
5
15
60


Lembar Skor Meja Turnamen 2 (Siklus II)

Lembar Skor Meja Turnamen 2
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S16
SEMANGAT
1
2
3
4
-
10
20
S3
BANGKIT
1
2
-
4
5
12
40
S1
Petruk
1
2
3
4
5
15
60
S5
Bagong
1
-
3
-
-
4
10
S12
Limbuk
1
2
3
-
5
11
30


Lembar Skor Meja Turnamen 3 (Siklus II)

Lembar Skor Meja Turnamen 3
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S13
SEMANGAT
1
2
-
4
-
7
30
S7
BANGKIT
1
2
3
4
5
15
60
S23
Petruk
1
2
3
-
5
11
40
S8
Bagong
1
2
3
-
-
6
20
S17
Limbuk
1
2
3
-
-
6
20



Lembar Skor Meja Turnamen 4 (Siklus II)

Lembar Skor Meja Turnamen 4
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S22
SEMANGAT
1
2
-
-
-
3
10
S15
BANGKIT
1
2
3
4
-
10
40
S20
Petruk
1
2
3
-
5
11
60
S11
Bagong
-
2
3
-
5
10
40
S6
Limbuk
1
2
3
-
-
6
20






Lembar Skor Meja Turnamen 5 (Siklus II)

Lembar Skor Meja Turnamen 5
Pemain
Tim
Game
Total Poin
Poin Turnamen
I
II
III
IV
V
S21
SEMANGAT
1
2
3
-
5
11
60

S14

BANGKIT

1

2

3

4

-

10

40
S18
MERDEKA
1
2
-
-
5
8
30


Lembar Rangkuman Tim Semar
Nama Anggota
Poin Turnamen
S10
20
S16
20
S13
30
S22
10
S21
60
Total Skor Tim
140
Rata-rata Tim
28

 
Lembar Rangkuman Tim Siklus II Lembar Rangkuman Tim SEMANGAT (Siklus II)

















Lembar Rangkuman Tim BANGKIT (Siklus I)

Lembar RangkuIman Tim BANGKIT
Nama Anggota
Poin Turnamen
S4
40
S3
40
S7
60
S15
40
S14
40
Total Skor Tim
220
Rata-rata Tim
44



Lembar Rangkuman Tim Petruk (Siklus II)

Lembar Rangkuman Tim Petruk
Nama Anggota
Poin Turnamen
S9
10
S1
60
S23
40
S20
60
S18
30
Total Skor Tim
200
Rata-rata Tim
40

Lembar Rangkuman Tim Bagong (Siklus II)

Lembar Rangkuman Tim Bagong
Nama Anggota
Poin Turnamen
S19
40
S5
10
S8
20
S11
40
Total Skor Tim
110
Rata-rata Tim
27,5






Lembar Rangkuman Tim Limbuk (Siklus II)

Lembar Rangkuman Tim Limbuk
Nama Anggota
Poin Turnamen
S2
60
S12
30
S17
20
S6
20
Total Skor Tim
130
Rata-rata Tim
32,5



Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>