MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas



A. JUDUL PROGRAM
Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas

B. LATAR BELAKANG PROGRAM
Kota Malang sebagai kota pelajar dan kota yang cocok untuk lahan bisnis membuatnya semakin hari semakin padat penduduk. Selain penduduk asli Malang, para pendatang ikut andil memadatkan wilayah ini. Setidaknya, padatnya jalanan dan berkurangnya lahan hijau akibat dibangunnya rumah-rumah menggambarkan hal tersebut.
Semakin banyaknya manusia bukan berarti tidak menimbulkan suatu masalah. Manusia sebagai makhluk hidup dapat dipastikan mengkonsumsi produk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sisa buang produk yang dikonsumsi tersebut akhirnya menjadi sampah tidak terkecuali yang terjadi di RW. 02 Kelurahan Tlogomas.
RW. 02 Kelurahan Tlogomas terdiri dari 6 RT. Dalam setiap RT, rata-rata terdiri dari 100 kepala keluarga, jadi dalam RW. 02 terdapat 600 kepala keluarga. Jika dalam setiap keluarga menghasilkan 1 kg sampah setiap hari, maka TPS akan terisi 600 kg sampah tiap harinya. Belum lagi jika perhitungan dilakukan dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun. Memang yang menangani masalah sampah ini adalah pemerintah, namun jika sampai pada suatu titik pemerintah tidak mampu menangani, maka masalah ini akan mengganggu masyarakat juga. TPA yang dibutuhkan semakin luas, wabah penyakit bermunculan, dan pencemaran udara akan terjadi jika tidak segera dicari pencegahannya.
Menumpuknya sampah di TPS RW. 02 Kelurahan Tlogomas ini hanya diatasi dengan menunggu pemerintah tanpa warga bisa membantu mengatasinya. Hal ini dikarenakan warga tidak memiliki pengetahuan mengenai manfaat ekonomis dari sampah yang telah didaur ulang dan tidak memiliki keterampilan mengenai cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos.
Sejauh ini yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah adalah mengubah sampah organik di TPA menjadi pupuk kompos dengan menggunakan mesin pencacah sederhana yang harganya sekitar 18 juta rupiah. Pengangkutan sampah warga ke TPS dan TPA, pemilihan antara sampah organik dan anorganik, dan pencacahan untuk menjadi pupuk kompos akan memakan biaya yang tidak sedikit. Imbal balik dari hasil pengolahan yakni pupuk juga tidak disalurkan kembali kepada masyarakat yang sebenarnya ikut menyumbang bahan pokok pupuk tersebut.
Biaya pengangkutan dan pengolahan yang tinggi, tidak adanya nilai tambah yang diberikan kepada masyarakat, kurangnya pengetahuan masyarakat akan manfaat ekonomis yang didapat dari sampah, dan kurangnya keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos itulah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan sosialisasi dan pelatihan mengenai penanganan sampah yang sederhana sehingga bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat dan bisa membantu masyarakat dari sisi ekonomi dengan usaha pupuk kompos .Penanganan sampah ini juga mengajak urun tangan lembaga lokal yakni RW dan RT sehingga dapat merangkul warga dengan lebih mudah.
Metode pelaksanaan program ini adalah sosialisasi, pelatihan, pemantauan dan pendampingan. Sosialisasi yang akan dilakukan dapat membuka wacana baru bagi masyarakat mengenai manfaat dari sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berharga. Sedangkan pelatihan akan menambah keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Keterampilan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi warga. Hasil daur ulang sampah mereka sendiri yakni pupuk kompos dapat digunakan pada lahan hijau di rumah masing-masing dan terlebih lagi dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha. Efek lainnya adalah sampah tidak menumpuk lagi di TPS menunggu untuk diangkut ke TPA sehingga lingkungan menjadi bersih.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Menumpuknya sampah warga di TPS tanpa memberi nilai tambah bagi warga namun sebaliknya menyebabkan lingkungan menjadi kotor.
2. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat mengenai manfaat ekonomis yang didapat dari sampah sehingga sampah menjadi barang yang tidak berharga dan terbuang begitu saja memenuhi TPS setempat
3. Kurangnya keterampilan yang dimiliki masyarakat mengenai cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos sehingga tidak memperoleh produk hasil daur ulang bernilai ekonomis yang mampu menambah pendapatan masyarakat
D. TUJUAN PROGRAM
Kondisi baru yang diharapkan terwujud setelah adanya program ini adalah :
1. Sampah yang menggunung di TPS akan berkurang karena masyarakat mengerti akan nilai ekonomis yang ditawarkan dari sampah sehingga lingkungan menjadi bersih
2. Masyarakat memiliki wacana baru mengenai manfaat ekonomis dari sampah
3. Masyarakat memiliki tambahan keterampilan baru dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai ekonomis sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
a. PENGEMBANGAN PENGETAHUAN
Program Kreatifitas Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PKMM) ini diharapkan mampu membuka wacana baru bagi masyarakat akan pentingnya sampah. Sampah tidak dipandang sebagai suatu barang tidak berguna yang hanya bisa membawa masalah namun masyarakat mampu melihat adanya manfaat degan pengetahuan baru yang didapat dan mampu memetik manfaat tersebut dengan adanya keterampilan yang dimiliki.

b. PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN
Setelah masyarakat mampu memetik manfaat dari sampah dalam bentuk pupuk kompos, maka diharapkan dapat dikembangkan menjadi suatu usaha pupuk kompos sehingga dapat meningkatkan income per kapita masyarakat. Selain itu, lingkungan menjadi bersih dan Pemerintah dapat terbantu dalam hal pengelolaan sampah.

c. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN
Program Kreatifitas Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PKMM) ini diharapkan mampu menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan sehingga ilmu yang dimiliki akan berguna karena dapat digunakan oleh banyak orang.
F. KEGUNAAN PROGRAM

a. ASPEK SOSIAL
Persoalan sampah akhirnya dapat diatasi bukan hanya dari peran pemerintah tapi juga peran aktif masyarakat. Semakin banyak pihak yang turut serta maka semakin cepat lingkungan menjadi bersih.
Jika persoalan sampah yang diatasi dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos dengan cara yang sederhana berkembang dengan baik maka dapat menjadi usaha yang dapat menyerap tenaga kerja.

b. ASPEK EKONOMI
Bila pengolahan sampah menjadi pupuk kompos berhasil sehingga memiliki hasil yang melebihi kebutuhan masyarakat pengolah, maka masyarakat dapat menjualnya kepada konsumen dan seterusnya dapat dijadikan sebagai usaha. Hasil penjualan ini akan menjadi suatu tambahan penghasilan bagi masyarakat yang nantinya dapat meningkatkan income per kapita.

G. GAMBARAN MASYARAKAT SASARAN
Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas memiliki jumlah penduduk yang padat. RW. 02 ini memiliki 6 RT dan setiap RT rata-rata terdiri dari 200 Kepala Keluarga. Masalah yang selama ini dihadapi oleh penduduk adalah menumpuknya sampah di TPS setempat karena belum dikelola dengan baik. Apalagi ketika ada keterlambatan pengangkutan sampah ke TPA oleh truk-truk sampah. Musim hujan juga menjadi suatu masalah karena membuat sampah-sampah berserakan terbawa air hujan ke jalan.
Penanganan sampah yang melibatkan lembaga lokal ini dapat membantu mengatasi hal tersebut. Masalah sampah akhirnya menjadi masalah bersama. Akan dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada perwakilan dari setiap RT yakni pengurus RT mengenai manfaat dan cara mengolah sampah menjadi pupuk kompos dengan menggunakan teknologi sederhana. Setelah itu, perwakilan tersebut yang mengkomunikasikan secara langsung kepada warga setempat dengan tetap dilakukan pemantauan dan pendampingan.
Setiap 2 RT memiliki satu tempat pengolahan dalam bentuk tong-tong. Tiap jenis sampah organik akan disekat dengan tanah dan menempatkan sisa makanan yang mudah busuk di lapisan paling atas. Tumpukan sampah organik yang sudah dilapisi dengan tanah disimpan selama 2 minggu. Setelah itu, hasilnya bisa dipanen. Murah, mudah, singkat, dan bermanfaat, itulah yang ditawarkan dari program ini.

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Observasi yang telah dilakukan di lingkunga RW. 02 Kelurahan Tlogomas mengungkapkan adanya masalah penumpukan sampah di TPS yang disebabkan sampah belum dikelola dengan baik karena kurangnya pengetahuan akan manfaat dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah. Berdasarkan hal tersebut akhirnya ditemuka sebuah dalam penangan sampah berbasis lembaga lokal yang akan dijalankan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. SOSIALISASI
Sosialisasi Program akan dilakukan melalui pengurus RT setempat. Sosialisasi kepada masyarakat akan secara langsung dilakukan pengurus RT. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini, seluruh pengurus RT akan paham tentang penanganan sampah yang akan dilaksanakan sehingga mereka akan mengerti manfaat dari program ini dan akhirnya akan termotivasi untuk menjalankannya.

b. PELATIHAN
Pelatihan cara menjalankan model penanganan sampah keluarga berbasis lembaga lokal ini akan dilakukan kepada perwakilan tiap-tiap RT. Perwakilan ini yang akan mengadakan pelatihan secara langsung kepada warga setempat. Pelatihan ini dilaksanakan mulai dari cara mengisi tong dengan tanah dan jenis sampah yang bisa didaur ulang menjadi pupuk kompos, waktu penyimpanan, dan panen.
c. PEMANTAUAN DAN PENDAMPINGAN
Pemantauan dan pendampingan dilakukan selama pelaksanaan kegiatan ini berlangsung sampai masyarakat dapat melakukan secara mandiri. Pemantauan akan dilakukan oleh anggota kelompok bersama pengurus RW dan RT untuk mengamati pelaksanaan program.
Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753
index='infeed'>index='infeed'>index='infeed'>