MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

PAPER: MEMBEDAH FAKTOR-FAKTOR RESPONS IMUNITAS YANG RENDAH PADA TUBUH LANSIA DI INDONESIA





BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Dewasa ini terjadi peningkatan angka harapan hidup. Di negara maju seperti Amerika Serikat, angka harapan hidup meningkat dari 70,2 tahun pada 1965, menjadi 77,8 tahun pada 2010. Sementara di Indonesia, angka harapan hidup mencapai 72 tahun untuk pria, dan 76 tahun untuk wanita (Dinkes, 2011). Naiknya angka harapan hidup ini disebabkan peningkatan status sosial ekonomi, pelayanan kesehatan, dan pengetahuan masyarakat (Azizah, 2011; Eliopoulos, 2010).
Seiring bertambahnya usia, tubuh akan mengalami proses penuaan. Proses penuaan ini akan mempengaruhi seluruh sistem tubuh, termasuk system imun, yang mengakibatkan penurunan respon imun. Dengan menurunnya system imun, maka lansia akan mudah terserang penyakit, terutama penyakit infeksi. Penurunan fungsi organ tubuh lainnya, bersamaan dengan adanya penyakit kronis seperti diabetes, akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit infeksi.
Seringkali, infeksi ringan pada usia tua, akan lebih cepat meluas (Fatmah, 2006). Munculnya penyakit infeksi yang mudah meluas pada usia tua dapat menurunkan derajat kualitas hidup lansia. Selain mempengaruhi kualitas hidup, seringnya sakit pada lansia juga akan mempengaruhi kesehatan psikologis. Dari segi finansial, lansia akan membutuhkan biaya perawatan kesehatan yang lebih besar ketika sakit (Azizah, 2011).
Seharusnya, dalam usia tua, lansia memiliki keadaan tubuh yang tetap sehat, yang dikenal dengan healthy aging. Dengan keadaan sehat tanpa proses patologis dalam tubuhnya, lansia akan memiliki kualitas hidup yang baik, dan menekan biaya perawatan kesehatan (Darmojo dan Martno, 2004; Eliopoulos, 2010).
Untuk mendapatkan kesehatan yang baik dalam usia lanjut, ada banyak cara yang dapat dilakukan. Mengoptimalkan sistem imun dapat membawa dampak yang baik untuk tubuh. Ketika respon imunitas tubuh baik, maka tubuh akan memiliki kekebalan dari serangan patogen. Peningkatan respon imunitas ini dapat dilakukan dengan mengasup makanan yang mengandung zat yang dapat meningkatkan sistem imun, atau dikenal dengan imunonutrisi. Peningkatan imunitas juga dapat dilakukan dengan menjaga status gizi tetap ideal (Heyland dkk, 2001; Joseph dkk, 2008).
Nutrisi yang dapat meningkatkan sistem imun dapat berupa asam amino, asam lemak rantai panjang, nukleotida, serta antioksidan dari vitamin dan mineral. Antioksidan dari vitamin dan mineral antara lain berasal dari vitamin A, vitamin C, vitamin E, selenium, dan zink. Vitamin dan mineral tersebut dapat ditemukan pada bahan makanan sehari-hari. Ketika seseorang mengasup sumber vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup, maka sistem imun tubuhnya juga akan bekerja secara optimal (Calder, 2007; Junaidi, 2010).
Fungsi vitamin dan mineral untuk sistem imun antara lain membantu diferensiasi sel epitel sebagai barier imunitas pertama seperti yang dilakukan vitamin A. Selain itu, vitamin C dapat meningkatkan aktivitas sel limfosit, vitamin E dan selenium berperan sebagai antioksidan yang menghalangi kerusakan sel makrofag, sel dendrit, limfosit, dan sel NK. Sedangkan zink akan meningkatkan respon imun. Sejauh ini, penelitian mengeni efek pemberian imunonutrisi pada pasien dengan kondisi respon imunitas yan rendah, terbukti dapat mempercepat masa penyembuhan. Maka, diperkirakan manusia yang sehat pun akan memiliki respon imun yang optimal jika mengkonsumsi imunonutrisi dalam jumlah yang cukup (Bastian dan Weiman, 2002; Graat dkk, 2002; Holford, 2005; Ericson dkk, 2000).
Status gizi juga mempengaruhi imunitas. Kejadian infeksi sering terjadi pada seseorang yang mengalami malnutrisi. Dalam keadaan malnutrisi, tubuh tidak akan membentuk pertahanan imunitas yang baik. Sedangkan infeksi sendiri sering menurunkan nafsu makan sehingga membawa pada status gizi yang lebih buruk. Dalam keadaan obesitas, terutama pada lansia akan terjadi penurunan fungsi dari limfosit, aktivitas sel NK, dan mitogenesis limfosit, sehingga dapat menurunkan imunitas (Moriguchi dkk, 1998; Supariasa, 2001).






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Lansia
Lansia merupakan sekelompok orang yang sedang mengalami proses perubahan baik anatomi, fisiologi dan biokimia dalam jangka waktu tertentu pada jaringan atau organ. Proses penuaan tersebut akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh lansia. Lansia dapat didefinisikan secara kronologis dan biologis. Lansia kronologis dapat dengan mudah dihitung dan diketahui, sedangkan lansia biologis dilihat dari keadaan jaringan tubuhnya (Fatmah, 2010).
Di negara maju, seseorang dapat dikatakan lansia apabila berusia sama dengan atau lebih dari 65 tahun, sedangkan di negara sedang berkembang, yang disebut sebagai lansia adalah seseorang dengan usia sama dengan atau lebih dari 60 tahun (Oenzil, 2012). Menurut WHO, berdasarkan usia lansia dibagi menjadi empat kelompok yaitu usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun; lansia (elderly) 60-74 tahun; lansia tua (old) 75-90 tahun; usia sangat tua (very old) usia diatas 90 tahun (Fatmah, 2010).
2.2 Proses Penuaan
Penuaan merupakan proses hilangnya kemampuan jaringan secara bertahap untuk memperbaiki/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsinya secara normal. Proses tersebut akan menyebabkan tubuh tidak tahan terhadap infeksi dan kerusakan yang ada. Banyak konsep dan teori yang dikemukakan terkait proses penuaan antara lain sebagai berikut. (Darmojo, 2010).
1. Teori berdasarkan sistem organ
Penuaan terjadi karena adanya hambatan dari organ tubuh tertentu, yaitu sistem endokrin dan sistem imun. Kelenjar timus mengecil pada saat proses penuaan, yang menyebabkan penurunan imun tubuh sehingga mudah terserang infeksi (Fatmah, 2010).
2. Teori imunologi
Pada teori ini dikemukakan bahwa proses penuaan menyebabkan tubuh tidak dapat membedakan antara sel normal dan sel tidak norma,l sehingga terjadi penyerangan pada jaringan tubuh itu sendiri. Hal tersebut merupakan salah satu acuan terkait dengan penyakit degeneratif (Fatmah, 2010).
3. Teori eror catastrope
Teori yang mengemukakan bahwa penurunan kemampuan fungsional suatu sel diakibatkan adanya mutasi progresif pada DNA sel somatik. Hal tersebut menyebabkan kesalahan pada enzim yang terbentuk sehingga kerusakan sel terjadi dan dapat mempercepat kematian sel (Darmojo,2010; Fatmah, 2010).
4. Teori pesan yang berlebihan (redundant message)
Pesan pada DNA manusia yang berlebihan dapat menimbulkan proses penuaan (Fatmah, 2010).
5. Kerusakan akibat radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas maupun di dalam tubuh jika fagosit pecah dan sebagai produk sampingan dalam rantai pernafasan di mitokondria. Zat ini bersifat merusak karena sangat reaktif, yang dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak seperti halnya dalam membrane sel. Radikal bebas juga dapat dinetralkan dengan senyawa non enzimatik seperti vitamin C, provitamin A, dan vitamin E. Walaupun demikian, zat radikal bebas masih dapat lolos, bahkan semakin lanjut usia maka radikal bebas yang terbentuk semakin banyak, mengakibatkan kerusakan sel tubuh dan berakhir pada kematian sel (Fatmah, 2010 ; Darmojo, 2010).
2.3 Perubahan Fisiologi Lansia
Semakin lanjut usia seseorang maka semakin besar perubahan dan penurunan yang terjadi pada anatomi dan fungsional organ tubuhnya. Hal tersebut akan mempermudah terjadinya penyakit atau kerusakan dalam tubuh seiring dengan bertambahnya usia (Darmojo, 2010).
1. Perubahan pada panca indera
Pada sistem panca indera terjadi berbagai perubahan morfologik. Berbagai perubahan yang terjadi baik secara anatomi maupun fungsional akan memberikan dampak terhadap berbagai organ panca indera. Terjadinya penurunan fungsi penglihatan pada lansia adalah akibat sudah terjadinya perubahan struktur jaringan dalam bola matanya (Darmojo, 2010; Fatmah, 2010)
2. Perubahan pada sistem saraf
Pada lansia terjadi penurunan berat otak sekitar 10-20%. Penurunan ini terjadi antara usia 30−70 tahun. Terjadi penurunan neurotransmitter pada lansia (Darmojo, 2010; Fatmah, 2010).
3. Perubahan pada rongga mulut
Bagian rongga mulut yang lazim terpengaruh adalah gigi, gusi dan sekresi air ludah. Pada lansia banyaknya gigi yang tanggal serta kerusakan gigi karena proses degenerasi dan pemeliharaan yang kurang baik. Hal tersebut akan menyebabkan gangguan saat proses pengunyahan makanan. Penurunan sekresi air ludah sampai 75% dapat mengakibatkan kekeringan rongga mulut. Hal tersebut akan berpengaruh pada konsumsi makanan (Fatmah, 2010; Arisman, 2008).
4. Perubahan pada saluran cerna
Lemahnya otot esofagus pada lansia dapat menyebabkan gangguan dan kesulitan saat menelan makanan. Ukuran lambung juga mengecil sehingga daya tampung terhadap makanan menurun. Selain itu, diatas usia 60 tahun sekresi pepsin berkurang yang akan mengganggu proses perubahan protein menjadi peptin. Hal tersebut juga berdampak pada penurunan penyerapan vitamin B12 dan zat besi. Mukosa usus halus mengalami atrofi, yang akan menyebabkan berkurangnya luas permukaan dan menurunnya proses absorpsi (Fatmah, 2010; Arisman, 2008).
Konstipasi juga merupakan hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan aspek fisiologis dan patologis usus besar. Pada usus besar motilitasnya berkurang sehingga absorpsi air dan elektrolit meningkat, feces menjadi lebih keras, dan dapat menyebabkan konstipasi. Konstipasi disebabkan oleh adanya peristaltik kolon yang melemah akibat terjadinya kegagalan dalam mengosongkan rektum (Fatmah, 2010).
5. Perubahan pada sistem pernapasan
Setelah manusia berusia 20−25 tahun, terjadi penurunan pada fungsi pernapasan manusia. Fungsi paru-paru mengalami kemunduran karena penurunan elastisitas jaringan paru-paru dan dinding dada. Kesulitan bernafas juga terjadi akibat kekuatan kontraksi otot pernapasan yang berkurang. Gerak silia di dinding sistem respirasi juga menurun, demikian pula penurunan reflek batuk dan refleks fisiologis lainnya. Hal tersebut memungkinkan infeksi akut pada saluran pernafasan bagian bawah meningkat. Infeksi yang sering menyerang kelompok lansia antara lain penyakit, tuberkulosis (Fatmah, 2010; Darmojo, 2010).
6. Perubahan pada sistem imun
Pada lansia terjadi penurunan sensitivitas pada sistem imun. Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan kemampuan kelenjar-kelenjar imun seperti kelenjar timus, kelenjar limfe dan kelenjar limpa. Pada kelenjar timus terjadi penurunan ukuran organ seiring dengan bertambahnya usia seseorang, sehingga kemampuan dalam mendiferensiasikan sel limfosit T menurun (Fatmah, 2010).
Pada lansia terjadi penurunan imunitas seluler. Penurunan kecepatan dalam pembentukan limfosit T akan menyebabkan respon imun terhadap infeksi terganggu. Jumlah total limfosit dalam darah tepi tidak menurun seiring pertambahan usia. Penurunan jumlah sel imun yang responsif pada lansia diakibatkan oleh kegagalan sel T menghasilkan interleukin-2 (Fatmah, 2010). Interleukin-2 merupakan limfosit yang bersifat mitogenik, merupakan faktor penting yang berpengaruh pertumbuhan sel T, mempunyai kemampuan meningkatkan respon imun seluler melalui aktivitas sitotoksik limfosit T, serta aktivasi sel NK melalui interferon gamma maupun respon humoral dengan meningkatkan sintesis dan sekresi antibodi (Darmojo, 2010).
2.4 Imunonutrisi
Semakin berkembangnya ilmu gizi mengakibatkan terbentuknya suatu konsep tentang imunonutrisi. Imunonutrisi adalah sekelompok zat gizi yang spesifik seperti protein (khususnya arginin dan glutamin), nukleotida, asam lemak omega-3, antioksidan (vitamin A, vitamin C, dan vitamin E) dan zink yang diberikan sendiri ataupun bersama-sama, memiliki pengaruh terhadap imunologik dan inflamasi (Angraini, 2013). Imunonutrisi dapat digambarkan sebagai suatu kemampuan zat nutrisi untuk memodulasi dan memperbaiki inflamasi serta respon imun tubuh. Nutrisi dan sistem imun berinteraksi dalam berbagai tingkatan yang pada akhirnya dapat memodulasi sistem imun tubuh (Prins & Visser, 2012).
Zat-zat nutrisi yang spesifik tersebut memiliki pengaruh dalam aktivitas selsel imun dalam tubuh manusia dan bermakna secara klinis (Calder, 2007). Zat-zat nutrisi spesifik yang termasuk dalam golongan imunonutrisi adalah arginin, glutamin, branched chain amino acids (BCAA), taurin, asam lemak omega-3 eicosapentanoic acid (EPA) dan omega-6, nukleotida, antioksidan (likopen, vitamin A, vitamin C, vitamin E), vitamin B, vitamin D, zink (Zn), zat besi (Fe) dan asam folat (Alrasyid, 2007).
Banyak studi yang telah dilakukan untuk mengetahui fungsi dari berbagai komponen imunonutrisi. Pada studi RCT (randomized controlled trial) pasien rawat inap dewasa di China yang akan menjalani operasi gastrointestinal, diberikan suplementasi imunonutrisi perioperatif berupa arginin, glutamin, asam lemak omega-3, dan asam ribonukleat. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pemberian imunonutrisi terbukti efektif dan aman dalam menurunkan risiko infeksi paska operasi dan mengurangi lama rawat inap paska operasi (Zheng et al., 2007). Studi pada pasien trauma multipel yang dirawat di ICU (intensive care unit) menunjukkan bahwa angka-angka limfosit perifer (TLC (total lymphocyte count), imunoglobulin (IgG, IgM, IgA) dan sel limfosit-T 9CD-4, CD4/DC8) lebih tinggi pada pasien yang mendapat asupan imunonutrisi enteral daripada pasien yang mendapat nutrisi enteral saja, kemudian disimpulkan bahwa imunonutrisi enteral dapat memperbaiki fungsi imunitas seluler dan humoral (S. Li et al., 2011).
1. Protein
Protein merupakan suatu substansi kimia dalam makanan yang penting untuk tubuh. Protein berperan penting sebagai sumber energi, zat pembangun dan pemelihara sel, zat pembentuk senyawa esensial (hormon, enzim, dan sebagainya), serta mengatur regulasi keseimbangan air. Protein dalam plasma (serum) darah dapat berfungsi sebagai antioksidan. Sebagai zat pembangun, protein berfungsi untuk membentuk jaringan baru dan memelihara jaringan yang telah ada atau mengganti bagian-bagian yang telah rusak (Fatmah, 2010; Muchtadi, 2009).
Arginin dan glutamin merupakan asam amino yang efektif dalam memelihara fungsi imun tubuh dan menurunkan infeksi paska pembedahan. Arginin dapat berpengaruh pada fungsi sel T, penyembuhan luka, pertumbuhan tumor, dan sekresi hormon prolaktin, insulin, growth hormon (Fatmah, 2006b). Suplementasi arginin yang diberikan pada pasien paska bedah memberi pengaruh positif pada sel T dan penyembuhan luka (Alrasyid, 2007). Pada penyembuhan luka, arginine berperan untuk merangsang sintesis kolagen, sedangkan pada sistem imun arginin berperan untuk merangsang proliferasi dan aktivasi sel T, serta produksi sitokin (Dullo & Vedi, 2010). Pada pasien bedah gastrointestinal dengan suplementasi imunonutrisi yang mengandung arginin terbukti dapat menstimulasi proliferasi sel T, produksi IL-2, efek sitotoksik sel NK dan lymphokine activated killer cells, serta memproduksi nitrit oxide untuk meningkatkan efek makrofag dan aktivitas bakterisidal (Zheng et al., 2007).
Glutamin merupakan asam amino yang berfungsi untuk merangsang limfosit dan makrofag, meningkatkan fungsi sel T, pembentukan interleukin dan neutrofil (Arifin, 2011; Fatmah, 2006b). Pada jaringan yang aktif seperti sel-sel imun tubuh, glutamin berperan penting untuk menjaga integritas dan fungsi metabolisme jaringan tersebut. Glutamin dapat meningkatkan aktivitas sel limfosit dalam menghadapi infeksi. Struktur kerangka karbon pada glutamin akan digunakan sebagai sumber energi, sedangkan nitrogen akan digunakan untuk proses regenerasi sel-sel sistem imun (Arifin, 2011).
Glutamin juga berperan pada perbaikan atrofi mukosa akibat nutrisi parenteral dalam waktu lama, perbaikan fungsi imun spesifik dan usus, serta mengurangi episode translokasi bakteri dan sepsis klinis (Alrasyid, 2007). Glutamin dapat melindungi sel-sel, jaringan dan organ tubuh dari stres maupun cidera melalui mekanisme antara lain, dengan membatasi aktivasi NF (Nuclear factor)-kB, menjaga keseimbangan antara sitokin pro dan anti inflamasi, menurunkan akumulasi dari neutrofil, meningkatkan integritas sel mukosa usus serta fungsi sel imun dan ekspresi dari heat shock protein yang ditingkatkan (Arifin, 2011).
Asupan protein yang dianjurkan adalah 0,8 gr/kgBB/hari. Angka tersebut diperoleh berdasarkan perhitungan asupan energi 1900/kkal (wanita) dan 2300 kkal (pria). Tanpa penyakit ginjal dan hati, diet protein harus mengontribusi energi sebesar 12-15% total asupan kalori. Dengan demikian, jumlah perhitungan asupan protein yang dikonsumsi sehari-hari sebaiknya dihitung berdasarkan orang per orang. Apabila diliihat secara umum, besarnya kebutuhan protein yang dianjurkan untuk orang Indonesia adalah 50 gram per hari untuk pria di atas 60 tahun, dan 40 gram per hari pada wanita dengan usia yang sama (Fatmah, 2010; Arisman, 2008).
2. Vitamin A
Vitamin A adalah kristal alkohol berwarna kuning yang larut dalam lemak dan merupakan kunci dari perkembangan serta fungsi hampir seluruh sel tubuh. Vitamin A merupakan nama generik yang menyatakan bahwa semua retinoid dan prekursor provitamin A (karotenoid) mempunyai aktivitas biologik sebagai retinol (Andriani & Wijatmadi, 2012). Pada tubuh vitamin A terdapat dalam tiga bentuk, yaitu retinol (alkohol), retinal (aldehid) dan asam retinoat. Retinol dapat diubah menjadi retinal atau sebaliknya; tetapi asam retinoat tidak dapat diubah kembali menjadi retinal atau retinol (Muchtadi, 2009).
Vitamin A memiliki peranan penting dalam berbagai fungsi fisiologis tubuh. Peran vitamin A antara lain, dalam fungsi penglihatan, regulasi ekspresi gen, diferensiasi sel-sel tubuh, fungsi kekebalan tubuh, pertumbuhan dan reproduksi, serta merupakan salah satu antioksidan bagi tubuh (Andriani & Wijatmadi, 2012; Muchtadi, 2009; Murray, Granner, & Rodwell, 2009).
Vitamin A pada sistem imun tubuh manusia berperan penting dalam proses pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T, sehingga sel T dapat menjalankan fungsinya untuk melawan antigen asing (Fatmah, 2006b; Jason et al., 2002). Beta karoten yang merupakan prekursor vitamin A, berfungsi untuk meningkatkan jumlah monosit, dan kemungkinan berkontribusi terhadap sitotoksik sel T, sel B, monosit dan makrofag. Retinol memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit
B (leukosit yang berperan dalam proses kekebalan humoral) (Fatmah, 2006b). Asam retinoat dapat mengatur penurunan ekspresi gen interferon gamma (IFN-ᵞ) sehingga defisiensi asam tersebut berhubungan dengan peningkatan produksi interferon gamma yang diikuti dengan penurunan produksi interleukin-5 (IL-5) dan IL-10 (Jason et al., 2002).
Kekurangan vitamin A dapat menurunkan sistem imunitas tubuh berupa penurunan respon antibodi yang bergantung pada sel T (limfosit yang berperan pada kekebalan seluler). Penurunan sistem imunitas tubuh dapat menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi. (Almatsier, 2009; Fatmah, 2010; Muchtadi, 2009). Pada penelitian terkait pengaruh status zat gizi mikro pada fungsi imunitas NK-cell, menujukkan bahwa status zat gizi mikro termasuk vitamin A pada individu yang berusia lanjut dapat mempengaruhi jumlah dan fungsi NK cell. Selain itu, kekurangan vitamin A pada berbagai tingkatan, termasuk limpopoiesis, distribusi, ekspresi dan produksi sitokin akan mempengaruhi imunokompeten dari sel T (Siagian, 2010).
2.5 Imunitas Lansia
Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan untuk mempertahankan keutuhan tubuh, sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Darmojo, 2010). Sistem imunitas tubuh memiliki fungsi dalam membantu perbaikan DNA; mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus maupun organisme lain; serta menghasilkan antibodi (Fatmah, 2006b).
Pada proses penuaan terjadi penurunan fungsi sistem imunitas pada tubuh, yaitu berupa penurunan kemampuan tubuh melawan infeksi termasuk kecepatan respon imun tubuh. Hal tersebut bukan berarti manusia lebih sering terserang penyakit, tetapi saat menginjak usia tua risiko kesakitan semakin meningkat, seperti penyakit infeksi, kanker, kelainan autoimun atau penyakit kronis. Hal tersebut terjadi karena perjalanan alamiah penyakit yang berkembang secara lambat dan gejala-gejalanya tidak terlihat sampai beberapa tahun kemudian. Infeksi merupakan penyebab kematian sekitar 30% pada usia lanjut (Fatmah, 2006; Darmojo, 2010).
Pada salah satu studi disebutkan bahwa penambahan usia membawa perubahan penting pada respon imun alami dan adaptif. Perubahan yang terjadi disebut sebagai immunosenescene. Immunosenescene adalah suatu kondisi menurunnya fungsi sistem imun yang diikuti dengan proses penuaan. Konsekuensi dari hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kerentanan terhadap infeksi, keganasan, penyakit autoimun, penurunan respon vaksinasi serta gangguan proses penyembuhan luka pada Lansia(Ongrádi & Kövesdi, 2010; Putri & Hasan, 2014).
Penurunan sensitivitas imun pada lansia berhubungan dengan penurunan kemampuan kelenjar-kelenjar imun, seperti kelenjar timus, kelenjar limfe, limpa dan jumlah jaringan hematopoietik secara keseluruhan dalam sumsum tulang juga menurun (Fatmah, 2010; Hazzard et al., 2009). Penurunan kompartemen hematopoietik sumsum tulang sejalan dengan usia, tidak mempengaruhi jumlah dan kapasitas proliferasi sel induk hematopoiesis (Putri & Hasan, 2014).
Salah satu perubahan yang terjadi pada penuaan adalah proses thymic involution. Thymic involution merupakan suatu penurunan ukuran hamper keseluruhan organ, infiltrasi kelenjar oleh jaringan fibrous dan lemak serta berkurangnya massa seluler. Sentrum germinativum jumlahnya berkurang dan menjadi fibrotik serta terjadi kalsifikasi. Pemeriksaan anatomis pada kelenjar timus menunjukkan bahwa ukuran maksimal terjadi pada usia pubertas, dan dengan meningkatnya usia terjadi proses pengecilan. Timus yang terletak di atas jantung dibelakang tulang dada adalah organ tempat sel T menjadi matang. Sel T sangat penting sebagai limfosit untuk membunuh bakteri dan membantu tipe sel lain dalam sistem imun. Seiring perjalanan usia, maka banyak sel T atau limfosit T kehilangan fungsi dan kemampuannya melawan penyakit (Darmojo, 2010; Fatmah, 2006; Hazzard et al., 2009). Perubahan kemampuan kompartemen sel T tersebut terjadi akibat involusi timus. Hal tersebut mengakibatkan perubahan untuk menghasilkan interleukin-10 (IL-10). Perubahan substansial pada fungsional dan fenotip profil sel T dilaporkan sesuai dengan peningkatan usia (Fatmah, 2006; Hazzard et al., 2009).
Secara umum limfosit tidak berubah banyak pada usia tua tetapi konfigurasi limfosit dan reaksinya melawan infeksi berkurang. Manusia memiliki jumlah sel T yang banyak dalam tubuhnya, tetapi dengan meningkatnya usia seseorang jumlahnya akan berkurang. Hal tersebut ditandai dengan rentannya tubuh terhadap serangan penyakit (Fatmah, 2006b; Darmojo, 2010). Perubahan imunitas sistemik yang berkaitan dengan usia lanjut dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada imunitas alami dan imunitas adaptif. Imunitas alami adalah elemen kunci respon imun terdiri dari beberapa komponen seluler seperti makrofag, sel NK dan neutrofil yang menjadi pertahanan lini pertama terhadap invasi mikroba patogen. Produksi makrofag, sel NK dan neutrofil meningkat, tetapi kemampuan makrofag untuk menyekresi tumor necrosis factor (TNF) yang merupakan sitokin proinflamasi utama telah berkurang. Hal tersebut menyebabkan penurunan respon imun di tubuh manusia usia lanjut (Dey et al., 2012; Ongrádi & Kövesdi, 2010).
Pada penuaan terjadi penurunan toll-like receptors (TLRs). Penurunan TLRs tersebut akan mengakibatkan penurunan produksi sitokin pro-inflamasi dan kemokin serta deregulasi sistem imunitas adaptif. Produk aktivasi TLRs berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan respon imun. Proses penuaan juga menekan sel stroma sumsum tulang untuk menyekresi interleukin-7 (IL-7), yang merupakan sitokin penting untuk perkembangan limfosit (Ongrádi & Kövesdi, 2010). Proses penuaan menyebabkan produksi dari sitokin terganggu dan tidak efektifnya ekspresi dari reseptor IL-2 serta afinitas ikatannya dengan reseptor menurun. Interleukin-2 merupakan limfokin yang berperan pada pertumbuhan sel T dan mempunyai kemampuan meningkatkan respon imun seluler melalui aktivitas sitotoksik limfosit T, aktivasi sel NK melalui interferon gamma maupun respon humoral dengan cara meningkatkan sintesis dan sekresi antibodi (Darmojo, 2010). Penuaan dapat berpengaruh pada fungsi dan dinamika sel NK. Pada orang tua tingkat produksi sel NK sekitar setengahnya karena penurunan kemampuan reaksi pada IL-2. Hal tersebut dapat mengakibatkan peningkatan risiko terjadinya infeksi pada lansia (Dey et al., 2012).
Pada proses penuaan terjadi penurunan kapasitas fagositosis neutrofil dalam membunuh mikroba sehingga akan mengakibatkan penurunan aktivitas bakterisidal (Hazzard et al., 2009). Pada orang tua, terjadi penurunan dari kedua subset sel T, yaitu CD4+ dan CD8+. Penurunan tersebut akan mengakibatkan kemampuan merespon reinfeksi secara adekuat menurun.
Penurunan ekspresi MHC kelas II berdampak pada aktivasi sel T CD4+. Pada Lansiapenurunan CD4+ akan mengakibatkan menurunnya CD40L, suatu ligan ko-stimulan penting untuk interaksi antara sel T dan sel B (Putri & Hasan, 2014; Hazzard et al., 2009). Penurunan fungsi sel T pada orang tua akan mempengaruhi fungsi sel B. Sel T dan sel B bekerjasama untuk mengatur produksi antibodi. Sel T menginduksi sel B agar menghasilkan perbedaan antibodi untuk mengenali jenis-jenis antigen. Pada orang tua terdapat jenis antibodi yang lebih sedikit dibandingkan pada orang muda. Semakin tua usia seseorang maka kadar IgA dan IgG dalam serum akan meningkat, tetapi kadar IgM cenderung menurun. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan jumlah antibodi yang diproduksi untuk melawan infeksi (Fatmah, 2006b; Darmojo, 2010).
Penurunan proliferasi sel B karena usia akan menurunkan aktivasi sel B. Penurunan tersebut akan berdampak pada afinitas reseptor dan sinyal permukaan sel B. Penurunan imunitas humoral akan menyebabkan produksi antibodi berafinitas tinggi menjadi rendah sehingga melemahkan respons antibodi Lansia(Ongrádi & Kövesdi, 2010; Putri & Hasan, 2014). Penilaian terhadap sistem imunitas diperlukan untuk mengetahui kondisi kekebalan tubuh seseorang terutama lansia, yang semakin meningkat usianya maka keadaan fisiologis tubuh juga mengalami perubahan. Pada lansia perubahan sistem imunitas yang lebih mengalami penurunan terkait penuaan adalah imunitas seluler dibandingkan dengan imunitas humoral. Evaluasi awal fungsi imun dimulai dengan menentukan jumlah sel imunokompeten pada darah tepi antara lain jumlah sel darah putih dan jumlah komponen utama menurut morfologinya (limfosit, monosit, neutrofil), pemeriksaan kuantitatif imunoglobulin (IgG, IgA, IgM), pemeriksaan fungsi sel T secara in vivo dan lain sebagainya (Fatmah, 2006b; Darmojo, 2010; Sugeng et al., 2013).
Nilai hitung limfosit merupakan salah satu yang dapat digunakan sebagai parameter stastus nurtisi. Hal tersebut karena rendahnya nilai hitung limfosit merupakan salah satu komponen penilaian dalam menentukan malnutrisi. total hitung limfosit kurang dari 1.200 dapat dihubungkan dengan kondisi malnutrisi dan total hitung limfosit kurang dari 800 dapat dihubungkan dengan kondisi malnutrisi yang berat (González Madroño et al., 2011; Gunarsa et al., 2011).






BAB III
PEMBAHASAN
PATOFISIOLOGI
Pertambahan usia, ditambah dengan factor lingkungan, menyebabkan perubahan anatomi – fi siologi tubuh. Pada tingkat awal, mungkin merupakan homeostasis normal, kemudian berkelanjutan dan mengarah pada reaksi adaptasi yang merupakan proses homeostasis abnormal. Tahap paling akhir terjadi kematian sel. Salah satu sistem organ yang mengalami perubahan anatomi – fi siologi adalah sistem pernapasan.
Lansia lebih mudah terinfeksi penyakit karena adanya gangguan refl eks muntah, melemahnya imunitas, gangguan respons pengaturan suhu dan berbagai derajat kelainan kardiopulmoner. Kelainan sistem saraf pusat dan refl eks muntah juga turut berperan mengakibatkan penyakit aspirasi. Selain itu, kelainan kardiopulmoner secara langsung mempengaruhi penurunan fungsi jantung dan paru.
Gangguan respons pengaturan suhu terkait proses penuaan meliputi gangguan respons simpatoneural - vasomotor yang terjadi bersama gangguan produksi panas tubuh dan gangguan persepsi suhu. Selain itu suhu basal tubuh pada lanjut usia lebih rendah dibanding pada dewasa muda. Sistem imunitas humoral tergantung pada keutuhan fungsi limfosit B. Pasien Lansiac memiliki banyak gangguan sistemik yang dapat mengganggu fungsi limfosit B sehingga menurunkan produksi antibodi.
Gangguan ini juga menjadi faktor predisposisi infeksi mikroorganisme patogen yang merupakan penyebab umum penyakit bakterial. Sekali mikroorganisme pathogen berada di alveolus, mediator proinfl amasi akan dilepaskan dan respons infl amasi terpicu sehingga menimbulkan manifestasi klinis.
RESPONS IMUN PADA PENYAKIT DI USIA LANJUT
Respons imun terhadap infeksi bakteri Bakteri ekstraseluler dapat hidup dan berkembang biak di luar sel pejamu, misalnya pada sirkulasi, jaringan ikat, lumen saluran napas dan saluran cerna. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ekstraseluler dapat berupa infl amasi yang menimbulkan destruksi jaringan di tempat infeksi dengan membentuk radang supuratif.
Komponen imunitas alami yang utama terhadap bakteri ekstraseluler adalah komplemen, fagosit dan respons infl amasi. Bakteri yang mengekspresikan manosa pada permukaannya, dapat diikat lektin yang homolog dengan C1q, sehingga mengaktifkan komplemen melalui jalur lektin, meningkatkan opsonisasi dan fagositosis. Produk dari aktivasi komplemen berperan dalam mengerahkan dan mengaktifkan leukosit. Fagosit yang teraktivasi melepaskan sitokin yang menginduksi infi ltrasi leukosit ke tempat infeksi, menginduksi panas dan sintesis acute phase protein.
Antibodi merupakan komponen imunitas humoral utama terhadap bakteri ekstraseluler yang berfungsi untuk menyingkirkan mikroba dan menetralkan toksinnya melalui berbagai mekanisme. Sel T helper (Th) 2 memproduksi sitokin yang merangsang respons sel B, aktivasi makrofag dan infl amasi.
Respons imun terhadap infeksi jamur
Resistensi alamiah terhadap jamur pathogen tergantung fagosit. Neutrofi l merupakan sel paling efektif, terutama terhadap candida dan aspergilus. Jamur merangsang produksi sitokin, seperti interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosing factor-α (TNF-α) yang meningkatkan ekspresi molekul adhesi di endotel setempat sehingga meningkatkan infi ltrasi neutrofi l ke tempat infeksi. Makrofag merupakan pertahanan pertama terhadap spora jamur yang terhirup dengan membentuk granuloma melalui aktivasi Th1. Natural killer cell (sel NK) diaktivasi oleh TNF dan interferon-γ (IFN-γ) untuk melepaskan granul yang mengandung sitolisin yang dapat membunuh jamur.
Sawar fisik kulit dan membran mukosa, faktor kimiawi dalam serum dan sekresi kulit berperan dalam imunitas alami. Efektor utamanya adalah neutrofi l dan makrofag. Neutrofi l diduga melepas bahan fungisidal seperti reactive oxygen intermediate (ROI) dan enzim lisosom.
PERUBAHAN SISTEM IMUN DALAM MEKANISME PERTAHANAN PARU PADA LANSIA
Studi pada subjek manusia sehat menyimpulkan bahwa penambahan usia membawa perubahan penting pada respons imun alami dan adaptif, disebut immunosenescence. Konsekuensi klinis immunosenescence meliputi peningkatan kerentanan terhadap infeksi, keganasan dan penyakit autoimun, penurunan respons vaksinasi serta gangguan proses penyembuhan luka pada pasien Lansiac.
Immunosenescence karena deregulasi imunitas adalah proses yang sangat kompleks dan perlu dipahami dengan baik. Proses penuaan normal ditentukan secara genetik, namun faktor eksternal dapat mempengaruhi immunosenescence. Sistem imunitas tubuh pada dewasa tua adalah hasil proses renovasi berkelanjutan. Stres oksidatif diyakini menjadi faktor utama percepatan penuaan melalui peningkatan kecepatan pemendekan telomere karena kerusakan DNA. Kerusakan tersebut berupa kegagalan aktivitas enzim telomerase untuk menambahkan urutan telomer ulangan sampai akhir kromosom.
Dampak proses penuaan terhadap imunitas alami
Perubahan imunitas sistemik yang berkaitan dengan usia lanjut dapat diamati dari perubahan-perubahan pada imunitas alami dan imunitas adaptif. Imunitas alami adalah elemen kunci respons imun terdiri dari beberapa komponen seluler seperti makrofag, sel NK dan neutrofi l yang menjadi pertahanan lini pertama terhadap invasi mikroba patogen.
Fungsi sel-sel tersebut menurun sejalan usia. Walaupun produksinya meningkat pada pasien Lansia, kemampuan makrofag mensekresi TNF yang merupakan sitokin proinfl amasi utama telah berkurang. Studi pada manusia sehat telah menunjukkan penurunan fungsi ekspresi toll-like receptors (TLRs) yang terkait usia, mengakibatkan penurunan produksi sitokin pro-infl amasidan kemokin serta deregulasi sistem imunitas adaptif. Modulasi sistem imunitas alami, baik dengan ligan TLRs atau produk aktivasi TLRs, dapat meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, meningkatkan respons imun dan meningkatkan efektivitas vaksinasi pada orang tua.
Proses penuaan meredam sel stroma sumsum tulang untuk menyekresi (IL-7). Interleukin-7 merupakan sitokin penting dalam mengembangkan limfosit. Interaksi antara TLRs dan patogen menstimulasi sekresi berbagai peptida antibakteri dan memicu respons infl amasi melalui sekresi sitokin dan kemokin. Ligan TLRs juga dapat meningkatkan produksi IL-2. Akibat proses penuaan tersebut, efi kasi kemotaksis dan kegiatan fagositik neutrofi l menurun, mengurangi kemampuan makrofag dan neutrofi l untuk menghilangkan mikroba dan menghancurkan sel-sel kanker.
Proliferasi sel NK terutama terjadi di sumsum tulang dari sel-sel progenitor yang sama dengan limfosit T; kemampuan fungsional penuh sel NK diperoleh setelah menjalani proses pematangan serial sebelum dilepaskan ke dalam sirkulasi. Kelangsungan hidup sel NK dewasa bergantung pada sitokin, yaitu IL-15 melalui faktor anti-apoptosis Bcl-2. Sel NK juga berperan dalam interaksi antara respons imun alami dan adaptif.19,20 Tingkat produksi sel NK turun menjadi setengahnya pada orang tua karena gangguan respons IL-2. Pengurangan fungsi dan dinamika sel NK yang dimediasi aktivitas sitotoksik secara klinis relevan bila dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi dan kematian pasien Lansia.
Perlindungan sawar fi sik kulit-mukosa terhadap mikroba yang tidak efektif, termasuk kerusakan sistem imunitas lokal di rongga mulut dan gusi, sistem kemih serta gastrointestinal pada Lansiaadalah tanda melemahnya imunitas alami.
Penurunan imunitas diperantarai-sel terkait usia
Produksi dan pemeliharaan beragam sel T perifer sangat penting untuk fungsi normal sistem kekebalan tubuh. Pada orang tua, terjadi penurunan integritas keragaman dan fungsional dari kedua subset sel T, yaitu CD4+ dan CD8+, yang berkontribusi dalam penurunan kemampuan merespons reinfeksi secara adekuat. Perubahan CMI terkait usia sangat tergantung pada fungsi timus.19 Saat penuaan, timus mengalami involusi progresif sehingga output sel-sel baru berkurang signifi kan sejak usia 40 tahun. Perubahan morfologi dan fungsional berupa perluasan ruang perivaskular (adiposit, limfosit perifer, stroma) menyebabkan pergeseran rasio ruang epitel timus yang sesungguhnya dengan ruang perivaskular; ruang epitel timus menyusut hingga <10% dari jaringan timus total pada usia 70 tahun. Timus baru akan berhenti menghasilkan sel T di sekitar  usia 105 tahun. Atrofi timus dan penurunan timopoisis adalah proses aktif yang dimediasi oleh sitokin timosupresi, terutama IL-6, factor penghambat leukemia (LIF) dan oncostatin M (OSM). Produksi IL-7 yang diperlukan dalam  timopoisis untuk menjamin kelangsunga hidup sel dengan mempertahankan protein anti-apoptosis Bcl-2 secara signifi kan menurun.
Atrofi kronis timus disebabkan oleh kekurangan reseptor leptin dan progenitor sel T yang bertambah tua. Leptin berperan sebagai zat perlindungan terhadap bakteri endotoksin yang mengawali proses atrofi . Sedangkan sel T yang menua mengakibatkan produksi sitokin timus menurun, seperti IL-1, IL-3, TGF-β, OSM dan LIF yang berperan merangsang fase dini hematopoiesis serta IL-6, IL-7 yang berperan sebagai sitokin timosupresi. Selain usia, atrofi timus dapat disebabkan karena kemoterapi, radiasi pra transplantasi, syok septik, dan stress akut.
Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan penurunan sel T naif pada output timus (CD45RA+, CD28+, CD26L) dan penurunan konsentrasi dalam darah perifer dan kelenjar getah bening selama masa penuaan. Akibatnya, terjadi pergeseran rasio sel T memori naif di perifer untuk mempertahankan homeostasis sel T perifer. Sel memori Th1 pada Lansia menghasilkan lebih sedikit IL-2 dibanding dewasa muda, sedangkan sel memori Th2 menghasilkan jauh lebih sedikit IL-4 dan IL-5.19
Penurunan CD4+ pada Lansia juga menurunkan CD40L, suatu ligan ko-stimulan penting untuk interaksi antasa sel T dan sel B, akibat defi siensi IL-2. Interaksi sel T – sel B secara signifi kan berperan pada penurunan respons humoral terkait usia. Kemotaksis dan fagositosis dapat terganggu pada orang tua. Sel dendritik dewasa muda dan tua dilaporkan sama baiknya dalam merangsang CD8+, tetapi pada dewasa tua gagal merangsang CD4+ akibat perubahan jalur sinyal transduksi.
Peningkatan kadar kolesterol yang umum terjadi pada dewasa tua juga berperan terhadap penurunan kemampuan T-cell signaling akibat pengaruh usia. Kolesterol tinggi diketahui dapat mempengaruhi ketebalan lapisan lipid berupa berkurangnya cairan plasma membran sel T dibanding pada dewasa muda, mengakibatkan aktivasi sel T terhambat.
Dewasa tua mengalami penurunan kadar tirosin kinase yang penting untuk stimulasi sel T. Untuk membangun respons imun yang adekuat, T cell receptor (TCR) harus dijaga keberadaannya secara terus-menerus pada populasi klon sel T yang beragam. Keragaman TCR masih terjaga baik hingga usia 60-65 tahun, meskipun telah terjadi penurunan output timus; keragaman ini sangat berkurang pada usia 75-80 tahun, mengakibatkan rendahnya respons imun dalam menghadapi infeksi dan vaksinasi.
Penurunan keragaman TCR naif berkaitan dengan menurunnya kemampuan orang tua untuk merespons antigen baru. Selain itu, pada Lansia sekitar 10% sel T mengekspresikan penanda penuaan CD57, yaitu penanda terjadinya pemendekan telomere pada setiap replikasi DNA (replication senescence marker)
Pengaruh Aging terhadap Perubahan Sistem Imun Tubuh
Sistem imunitas tubuh memiliki fungsi yaitu membantu perbaikan DNA manusia; mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, dan organisme lain; serta menghasilkan antibodi (sejenis protein yang disebut imunoglobulin) untuk memerangi serangan bakteri dan virus asing ke dalam tubuh.
Tugas sistem imun adalah mencari dan merusak invader (penyerbu) yang membahayakan tubuh manusia. Fungsi sistem imunitas tubuh (immunocompetence) menurun sesuai umur. Kemampuan imunitas tubuh melawan infeksi menurun termasuk kecepatan respons imun dengan peningkatan usia. Hal ini bukan berarti manusia lebih sering terserang penyakit, tetapi saat menginjak usia tua maka resiko kesakitan meningkat seperti penyakit infeksi, kanker, kelainan autoimun, atau penyakit kronik.
Hal ini disebabkan oleh perjalanan alamiah penyakit yang berkembang secara lambat dan gejala-gejalanya tidak terlihat sampai beberapa tahun kemudian. Di samping itu, produksi imunoglobulin yang dihasilkan oleh tubuh orang tua juga berkurang jumlahnya sehingga vaksinasi yang diberikan pada kelompok lansia kurang efektif melawan penyakit. Masalah lain yang muncul adalah tubuh orang tua kehilangan kemampuan untuk membedakan benda asing yang masuk ke dalam tubuh atau memang benda itu bagian dari dalam tubuhnya sendiri.
                Salah satu perubahan besar yang terjadi seiring pertambahan usia adalah proses thymic involution   3. Thymus yang terletak di atas jantung di belakang tulang dada adalah organ tempat sel T menjadi matang. Sel T sangat penting sebagai limfosit untuk membunuh bakteri dan membantu tipe sel lain dalam sistem imun. Seiring perjalanan usia, maka banyak sel T atau limfosit T kehilangan fungsi dan kemampuannya melawan penyakit. Volume jaringan timus kurang dari 5% daripada saat lahir.
Saat itu tubuh mengandung jumlah sel T yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya (saat usia muda), dan juga tubuh kurang mampu mengontrol penyakit dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Jika hal ini terjadi, maka dapat mengarah pada penyakit autoimun yaitu sistem imun tidak dapat mengidentifikasi dan melawan kanker atau sel-sel jahat. Inilah alasan mengapa resiko penyakit kanker meningkat sejalan dengan usia.  Salah satu komponen utama sistem kekebalan tubuh adalah sel T, suatu bentuk sel darah putih (limfosit) yang berfungsi mencari jenis penyakit pathogen lalu merusaknya.
Limfosit dihasilkan oleh kelenjar limfe yang penting bagi tubuh untuk menghasilkan antibodi melawan infeksi. Secara umum, limfosit tidak berubah banyak pada usia tua, tetapi konfigurasi limfosit dan reaksinya melawan infeksi berkurang. Manusia memiliki jumlah T sel yang banyak dalam tubuhnya, namun seiring peningkatan usia maka jumlahnya akan berkurang yang ditunjukkan dengan rentannya tubuh terhadap serangan penyakit.
Kelompok lansia kurang mampu menghasilkan limfosit untuk sistem imun. Sel perlawanan infeksi yang dihasilkan kurang cepat bereaksi dan kurang efektif daripada sel yang ditemukan pada kelompok dewasa muda. Ketika antibodi dihasilkan, durasi respons kelompok lansia lebih singkat dan lebih sedikit sel yang dihasilkan. Sistem imun kelompok dewasa muda termasuk limfosit dan sel lain bereaksi lebih kuat dan cepat terhadap infeksi daripada kelompok dewasa tua. Di samping itu, kelompok dewasa tua khususnya berusia di atas 70 tahun cenderung menghasilkan autoantibodi yaitu antibodi yang melawan antigennya sendiri dan mengarah pada penyakit autoimmune. Autoantibodi adalah faktor penyebab rheumatoid arthritis dan atherosklerosis. Hilangnya efektivitas sistem imun pada orang tua biasanya disebabkan oleh perubahan kompartemen sel T yang terjadi sebagai hasil involusi timus untuk menghasilkan interleukin 10 (IL-10). Perubahan substansial pada fungsional dan fenotip profil sel T dilaporkan sesuai dengan peningkatan usia.
Fenotip resiko imun dikenalkan oleh Dr. Anders Wikby yang melaksanakan suatu studi imunologi longitudinal untuk mengembangkan faktor-faktor prediktif bagi usia lanjut. Fenotip resiko imun ditandai dengan ratio CD4:CD8 < 1, lemahnya proliferasi sel T in vitro, peningkatan jumlah sel-sel CD8+CD28-, sedikitnya jumlah sel B, dan keberadaan sel-sel CD8T adalah CMV (Cytomegalovirus). Efek infeksi CMV pada sistem imun lansia juga didiskusikan oleh Prof.   Paul Moss dengan sel T clonal expansion (CD8T) 4.
Secara khusus jumlah sel CD8 T berkurang pada usia lanjut. Sel CD8T  mempunyai 2 fungsi yaitu: untuk mengenali dan merusak sel yang terinfeksi atau sel abnormal, serta untuk menekan aktivitas sel darah putih lain dalam rangka perlindungan jaringan normal. Para ahli percaya bahwa tubuh akan meningkatkan produksi berbagai jenis sel CD8 T sejalan dengan bertambahnya usia.
Sel ini disebut TCE (T cell clonal expansion) yang kurang efektif dalam melawan penyakit. TCE mampu berakumulasi secara cepat karena memiliki rentang hidup yang panjang dan dapat mencegah hilangnya populasi TCE secara normal dalam organisme. Sel-sel TCE dapat tumbuh lebih banyak 80% dari total populasi CD8. Perbanyakan populasi sel TCE memakan ruang lebih banyak daripada sel lainnya, yang ditunjukkan dengan penurunan efektifitas sistem imunitas dalam memerangi bakteri patogen.
 Hal itu telah dibuktikan dengan suatu studi yang dilakukan terhadap tikus karena hewan ini memiliki fungsi sistem imunitas mirip manusia. Ilmuwan menemukan tikus berusia lanjut mempunyai tingkat TCE lebih besar daripada tikus normal, populasi sel CD8 T yang kurang beragam, dan penurunan kemampuan melawan penyakit. Peningkatan sel TCE pada tikus normal menggambarkan berkurangnya kemampuan melawan penyakit. Ilmuwan menyimpulkan bahwa jika produksi TCE dapat ditekan pada saat terjadi proses penuaan, maka efektifitas sistem imunitas tubuh dapat ditingkatkan dan kemampuan melawan penyakit lebih baik lagi. Aging juga mempengaruhi aktivitas leukosit termasuk makrofag, monosit, neutrofil, dan eosinofil. Namun hanya sedikit data yang tersedia menjelaskan efek penuaan terhadap sel-sel tersebut.
Upaya Pemeliharaan Kesehatan Lansia terhadap Sistem Imunitas Tubuh: Vaksinasi dan Nutrisi
Sistem imunitas tubuh orang tua ditingkatkan melalui upaya imunisasi dan nutrisi. Tujuan imunisasi untuk memelihara sistem imunitas melawan agen infeksi. Imunisasi/vaksin mengandung substansi antigen yang sama dengan patogen asing agar sistem imun kenal patogen asing dengan menghasilkan sel T dan sel B. Influenza dan pneumonia adalah dua penyakit yang paling sering diderita oleh orang tua sehingga perlu diberikan vaksinasi influenza bagi mereka. Tetapi respons antibodi tubuh dan response sel T orang tua terhadap vaksin lebih rendah daripada orang muda mempengaruhi efek pemberian vaksin tersebut. Karakteristik penyakit infeksi yang sering diderita oleh orang tua disajikan pada Tabel .
                Nutrisi  berperan penting dalam peningkatan respons imun. Orang tua rentan terhadap gangguan gizi buruk (undernutrition), disebabkan oleh faktor fisiologi dan psikologi yang mempengaruhi keinginan makan dan kondisi fisik serta ekonomi. Gizi kurang pada orang tua disebabkan oleh berkurangnya kemampuan penyerapan zat gizi atau konsumsi makanan bergizi yang tidak
Vitamin E dan Zn khususnya berperan penting dalam memelihara sistem imun. Defisiensi Zn jangka panjang menurunkan produksi cytokine dan merusak pengaturan aktivitas sel helper T. Vitamin E merupakan treatment yang baik dalam mencegah penyakit Alzheimer, meningkatkan kekebalan tubuh, dan sebagai antioksidan yang melindungi limfosit, otak, dan jaringan lain dari kerusakan radikal bebas.
                Nutrisi dan Mineral–Mineral yang dapat Meningkatkan Sistem Imun Orang Tua
             Beta-glucan  Adalah sejenis gula kompleks (polisakarida) yang diperoleh dari dinding sel ragi roti, gandum, jamur (maitake). Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa beta glucan dapat mengaktifkan sel darah putih (makrofag dan neutrofil)
             Hormon DHEA. Studi menggambarkan hubungan signifikan antara DHEA dengan aktivasi fungsi imun pada kelompok orang tua yang diberikan DHEA level tinggi dan rendah. Juga wanita menopause mengalami peningkatan fungsi imun dalam waktu 3 minggu setelah diberikan DHEA.
             Protein: arginin dan glutamin. Lebih efektif dalam memelihara fungsi imun tubuh dan penurunan infeksi pasca-pembedahan. Arginin mempengaruhi fungsi sel T, penyembuhan luka, pertumbuhan tumor, dans ekresi hormon prolaktin, insulin, growth hormon. Glutamin, asam amino semi esensial berfungsi sebagai bahan bakar dalam merangsang limfosit dan makrofag, meningkatkan fungsi sel T dan neutrofil.
             Lemak. Defisiensi asam linoleat (asam lemak omega 6) menekan respons antibodi, dan kelebihan intake asam linoleat menghilangkan fungsi sel T. Konsumsi tinggi asam lemak omega 3 dapat menurunkan sel T helper, produksi cytokine
             Yoghurt yang mengandung Lactobacillus acidophilus dan probiotik lain. Meningkatkan aktivitas sel darah putih sehingga menurunkan penyakit kanker, infeksi usus dan lambung, dan beberapa reaksi alergi.
             Mikronutrien (vitamin dan mineral). Vitamin yang berperan penting dalam memelihara sistem imun tubuh orang tua adalah vitamin A, C, D, E, B6, dan B12. Mineral yang mempengaruhi kekebalan tubuh adalah Zn, Fe, Cu, asam folat, dan Se.
             Zinc. Menurunkan gejala dan lama penyakit influenza. Secara tidak langsung mempengaruhi fungsi imun melaluiperan sebagai kofaktor dalam pembentukan DNA, RNA, dan protein sehingga meningkatkan pembelahan sellular.Defisiensi Zn secara langsung menurunkan produksi limfosit T, respons limfosit T untuk stimulasi/rangsangan, dan produksi IL-2.
             Lycopene. Meningkatkan konsentrasi sel Natural Killer (NK)
             Asam Folat 9. Meningkatkan sistem imun pada kelompok lansia. Studi di Canada pada sekelompok hewan tikus melalui pemberian asam folate dapat meningkatkan distribusi sel T dan respons mitogen (pembelahan sel untuk meningkatkan respons imun). Studi terbaru menunjukkan intake asam folat yang tinggi mungkin meningkatkan memori populasi lansia.
             Fe (Iron). Mempengaruhi imunitas humoral dan sellular dan menurunkan produksi IL-1.
             Vitamin E 10. Melindungi sel dari degenerasi yang terjadi pada proses penuaan. Studi yang dilakukan oleh Simin Meydani, PhD. di Boston menyimpulkan bahwa vitamin E dapat membantu peningkatan respons imun pada penduduk lanjut usia. Vitamin E adalah antioksidan yang melindungi sel dan jaringan dari kerusakan secara bertahap akibat oksidasi yang berlebihan. Akibat penuaan pada respons imun adalah oksidatif secara alamiah sehingga harus dimodulasi oleh vitamin E.
             Vitamin C. Meningkatkan level interferon dan aktivitas sel imun pada orang tua, meningkatkan aktivitas limfosit dan makrofag, serta memperbaiki migrasi dan mobilitas leukosit dari serangan infeksi virus, contohnya virus influenzae.
             Vitamin A. Berperan penting dalam imunitas non-spesifik melalui proses pematangan sel-sel T dan merangsang fungsi sel T untuk melawan antigen asing, menolong mukosa membran termasuk paru-paru dari invasi mikroorganisme, menghasilkan mukus sebagai antibodi tertentu seperti: leukosit, air, epitel, dan garam organik, serta menurunkan mortalitas campak dan diare. Beta karoten (prekursor vitamin A) meningkatkan jumlah monosit, dan mungkin berkontribusi terhadap sitotoksik sel T, sel B, monosit, dan makrofag. Gabungan/kombinasi vitamin A, C, dan E secara signifikan memperbaiki jumlah dan aktivitas sel imun pada orang tua. Hal itu didukung oleh studi yang dilakukan di Perancis terhadap penghuni panti wreda tahun 1997. Mereka yang diberikan suplementasi multivitamin (A, C, dan E) memiliki infeksi pernapasan dan urogenital lebih rendah daripada kelompok yang hanya diberikan plasebo
             Vitamin D. Menghambat respons limfosit Th-1.
             Kelompok Vitamin B. Terlibat dengan enzim yang membuat konstituen sistem imun. Pada penderita anemiadefisiensi vitamin B12 mengalami penurunan sel darah putih dikaitkan dengan fungsi imun. Setelah diberikan suplementasi vitamin B12, terdapat peningkatan jumlah sel darah putih. Defisiensi vitamin B12 pada orang tua disebabkan oleh menurunnya produksi sel parietal yang penting bagi absorpsi vitamin B12. Pemberian vitamin B6 (koenzim) pada orang tua dapat memperbaiki respons limfosit yang menyerang sistem imun, berperan penting dalam produksi protein dan asam nukleat. Defisiensi vitamin B6 menimbulkan atrofi pada jaringan limfoid sehingga merusak fungsi limfoid dan merusak sintesis asam nukleat, serta menurunnya pembentukan antibodi dan imunitas sellular.











BAB IV
PENUTUP
  • Aging (penuaan) dihubungkan dengan sejumlah perubahan pada fungsi imun tubuh, khususnya penurunan imunitas mediated sel. Fungsi sistem imunitas tubuh (immunocompetence) menurun sesuai umur. Kemampuan imunitas tubuh melawan infeksi menurun termasuk kecepatan respons immun dengan peningkatan usia.
  • Kadar serum seng dan jumlah CD4 pada lansiacenderung rendah. Meskipun kadar serum seng masih dalam batas normal, tetapi berada pada batas bawah (defisiensi marginal). Penurunan jumlah CD4 pada lansia berhubungan dengan penurunan kadar serum seng karena seng mempengaruhi aktivitas hormon thymulin yang diperlukan dalam pembentukan dan diferensiasi sel limfosit T
  • Setiap sel membutuhkan mineral Zinc (Zn) agar tetap hidup sehat dan dapat berfungsi dengan baik. Zn merupakan mikromineral dibutuhkan dalam jumlah sedikit akan tetapi mutlak harus ada di dalam pakan, karena dia tidak bisa dikonversi dari zat gizi lain. Fungsi Zn sebagai kofaktor berbagai enzim, struktur dan integritas sel, sintesis DNA, penyimpanan dan pengeluaran hormonal, dan berperan dalam system tanggap kebal. Zn mampu berperan di dalam meningkatkan respon imun yang bersifat non-spesifik dan spesifik.
  • Status gizi merupakan determinan penting bagi respons imunitas. Perbaikan pada fungsi imunitas merupakan factor antara peran gizi pada pencegahan penyakit infeksi. Gizi dan penyakti infeksi berkaitan secara sinergistis. Penelitian mutakhir menghasilkan paradigma baru kaitan antara gizi (diet) dan patogen (agen), yaitu diet diketahui mempengaruhi agen (misalnya terjadi mutasi virus)


DAFTAR PUSTAKA
Paratmanitya Y, Hadi H, Susetyowati. Citra tubuh, asupan makan, dan status gizi wanita usia subur pranikah. Jurnal Gizi Klinik Indonesia 2012;8(3):126-34.
Fatmah. Respon imunitas yang rendah pada tubuh manusia usia lanjut. Makara Kesehatan 2006;10(1):47- 53.
BRATAWIDJAJA, K.G. 2000. Imunologi Dasar. Edisi 4. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. hlm. 60 – 129.
Soeroso A. Sitokin. Jurnal Oftalmologi Indonesia. 2007;5:171-80
Hadisaputro, S., & Martono, H. 2006. Infeksi Pada Usia Lanjut. In R. B. Darmojo, Buku Ajar Geriatri (pp. 355-390). Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Prasad, AS. 2007. Zinc: Mechanisms of Host Defense. Journal of Nutrition. 137(5): 1345-1349.
Mocchegani, E., Muzzioli, M., Gaetti, R., Veccia, S., Viticchi, C., & Scalise, G. 1999. Contribution of Zinc to reduce CD4 risk factor for severe infection relapse in aging: parallelism with HIV. International Journal of Immunopharmacology. 21(4): 271-281
Supariyasa I.D.N., Bakri B., dan Fajar I. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.
Beck, F., Prasad, A., Kaplan, J., Fitzgerald, J., & Brewer, G. 1997. Changes in cytokine production and T cell subpopulations in experimentally induced zinc- deficiency humans. American Journal of Physiology. 272(6): E1002-7
Institut Rosell – Internal Reports. (Product Monograph R-52 & R-11). Dexa Media, J Kedokteran dan Farmasi ; 1 (20); 6-7
Muis. Gizi Pada Usia Lanjut. Di dalam: Matrono H. H & Boedhi-Darmojo R, editor. Buku Ajar Geriatri : Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2006.
Depkes RI. 2003. Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Ditjen Binkesmas.
Lubis I. Peranan Nyamuk Aedes dan Babi dalam Penyebaran DHF dan JE di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran. 1990; Vol. 60.


Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753