MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

KONSEP TEOLOGI





BAB I
PENDAHULUAN
Agama merupakan fenomena universal umat manusia. Meski tidak semua manusia kemudian beragama, namun pada kenyataannya, mereka punya keyakinan masing-masing tentang yang transenden. Di sisi lain, ketika manusia beragama, yang sering terjadi adalah pemutlakan terhadap kebenaran agama masing-masing. Pemutlakan ini pada akhirnya bisa menutup pintu dialog. Karena itu, mendiskusikan kembali kebenaran agama menjadi penting dilakukan. Tulisan ini hendak menginventarisir berbagai pandangan para filsuf agama tentang makna kebenaran agama. Tokoh utama yang dijadikan dasar pengkajian adalah John Hiks dan W.C Smith berdasarkan teori kebenaran agama yang ditulis oleh Hendrik M. Vroom yang berjudul “Religions and The Truth, Philosophical Reflection and Perspectives”.
Tentang kebenaran agama, John Hiks menyimpulkan bahwa kebenaran bisa diperoleh dari agama apapun, karenanya jalan keselamatan dimiliki oleh semua agama. Sehingga pada akhirnya, semua manusia sebenarnya sedang menyembah pada Tuhan yang sama (divine One). Sementara itu W.C. Smith menyimpulkan bahwa dalam beragama yang paling inti adalah to love god (mencintai Tuhan). Kebenaran tunggal adalah milik Tuhan, sementara kebenaran pada tataran manusia adalah kebenaran dengan “b” kecil yang bersifat nisbi.


BAB II
PEMBAHASAN
Islam sebagai agama yang paling sempurna memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh agama manapun yang dianut oleh manusia. Karakteristik inilah yang menjadikan Islam benar-benar agama yang lengkap dan sempurna.  Muhammad Yusuf Musa (1988: 14-42) menguraikan sembilan karakteristik Islam yang tidak akan ditemukan pada agama-agama lain di muka bumi ini. Sembilan karakteristik itu adalah:
1. Islam mengajarkan kesatuan agama. Artinya, seluruh ajaran agama Islam yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi/rasul-Nya menyatu ke dalam ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.
2. Islam mengajarkan kesatuan politik. Artinya, Islam mempersilahkan penganutnya untuk membentuk kelompok atau organisasi dengan berbagai kepentingannya masing-masing. Namun demikian, yang harus menjadi tujuan utama dari kelompok-kelompok itu adalah untuk menegakkan agama Islam.
3. Islam mengajarkan kesatuan sosial. Artinya, Islam tidak membedakan latar belakang sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat, baik keturunan, ras, gender, warna kulit, maupun hal lain. Yang membedakan manusia di hadapan Allah Swt. hanyalah ketakwaannya (QS. al-Hujurat [49]: 13).
4. Islam merupakan agama akal dan pikiran. Artinya, semua ajaran Islam sangat rasional dan dapat diterima oleh akal atau pikiran manusia. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang bertentangan dengan akal manusia, meskipun banyak manusia yang tidak bisa menerima ajaran rasional Islam ini karena keterbatasan ilmu yang dimiliki dan karena kebodohannya.
5. Islam adalah agama fitrah dan kejelasan. Artinya, seluruh ajaran Islam sesuai dengan potensi-potensi bawaan manusia yang sudah ada sejak dilahirkan oleh sang ibu. Semua ajaran Islam juga memberikan kejelasan dalam setiap aspeknya. Hal-hal yang tidak jelas atau masih menimbulkan keraguan harus ditinggalkan.
6. Islam adalah agama kebebasan dan persamaan. Artinya, Islam benar-benar memberikan ajaran pembebasan dari belenggu kejahiliahan dan perbudakan sesama manusia (makhluk). Islam tidak membiarkan adanya perbudakan dan penindasan sesama manusia. Islam juga memberikan aturan yang sama kepada semua umatnya. Islam tidak membedakan kesempatan untuk meraih kebaikan dan prestasi yang terbaik.
7. Islam adalah agama umat manusia seluruhnya. Artinya, Nabi Muhammad saw. membawa Islam untuk seluruh umat manusia di muka bumi ini. Dari manapun datangnya, ketika seseorang memeluk Islam berarti ia telah menjadi umat Nabi Muhammad saw. (umat Islam).
8. Islam tidak memisahkan urusan agama dan negara. Artinya, Islam tidak memisahkan secara khusus masalah-masalah negara (urusan keduniaan) dengan masalah-masalah agama. Kedua masalah itu saling terkait dalam Islam. Islam bukan agama sekuler dan tidak menerima sekularisme, suatu paham yang memisahkan urusan agama dari negara.
9. Islam menetapkan hak-ahak asasi manusia. Seluruh hak asasi manusia dijamin dalam islam, begitu juga kewajiban-kewajibannya diatur oleh Islam. Melalui al-Quran bisa dilihat ketentuan-ketentuan mengenai hak asasi manusia tersebut.
Dalam pandangan Seyyed Hossein Nasr (2003: xiii), Islam bukan sekedar sistem agama, tetapi Islam juga spirit pencipta dan penggerak peradaban besar dunia dengan sejarah yang menoreh lebih dari empat belas abad. Sejarah Islam, menurutnya, berkaitan dengan eksistensi historis masyarakat dari beragam wilayah di muka bumi ini, dari Afrika Utara hingga Malaysia, melalui proses waktu yang amat panjang. Islam telah menjadi saksi pembangunan beberapa imperium paling besar dan proses integrasi tatanan sosial tunggal yang mengikat beberapa etnik dan latar belakang bahasa yang beragam. Nasr juga menambahkan bahwa Islam telah memberi pengaruh besar pada sejarah Eropa secara langsung lebih dari satu milenium, mempengaruhi sejarah India sejak abad ketujuh dan dengan beberapa aspek sejarah Cina selama satu milenium di masa lampau.
Nasr menegaskan, kedatangan Islam tidak akan merusak kultur lokal, namun mentransfernya menjadi realitas yang Islami. Yang ditolak adalah elemenelemen yang jelas-jelas bersifat tidak Islami. Sebagai hasilnya, peradaban Islam berkembang menjadi beberapa zona kultural yang khas, meliputi Arab, Persia, Afrika, Turki, India, Melayu, dan Cina. Tiap-tiap zona kultur dan seni Islami memiliki cita rasa lokal yang khas, pada saat yang sama mempertahankan karakter Islamnya yang universal (Nasr, 2003: xv).
Sementara itu akibat adanya kontak antara Islam dan kemajuan Barat yang dimulai pada pembukaan abad ke-19 yang lalu, umat Islam juga dipengaruhi oleh pemikiran modern Barat (Nasution, 1985: 33). Akibatnya, dalam Islam timbul pemikiran pembaruan yang terus berjalan dan masih menjadi persoalan hingga sekarang. Akhir-akhir ini bahkan muncul di Indonesia kelompok-kelompok Islam yang sering disebut Islam liberal yang membawa pemikiran Barat yang liberal ke dalam pemikiran Islam. Wacana Islam liberal cukup menjadi persoalan tersendiri bagi Islam di samping persoalan lama yang terus menggejala hingga sekarang, yakni Islam fundamentalis.

2. Mungkinkah terdapat kesamaan doktrin dan tujuan diantara bermacam-macam agama yang ada
konsep monoteisme dalam agama-agama Semit, ternyata belum terdapat penjelasan yang menunjukan kata sepakat dan sesuai dengan pengertian monoteisme itu sendiri. Agama Yahudi selaku agama awal dan tertua dari kedua agama setelahnya bersikeras menganggap agama mereka adalah monoteis. Akan tetapi pada praktiknya terdapat banyak pengaruh paganisme yang mengakibatkan mereka masih percaya terhadap banyak Dewa-Dewi. Hal ini ditambah dengan penamaan Tuhan itu sendiri yang belum mendapatkan kata sepakat, karena berangkat dari asumsi dan praduga.
Adapun agama Kristen, mengakui kemonoteisannya melalui doktrin Trinitas. Yaitu adanya keesaan di dalam tiga oknum yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Namun hal ini bertentangan dengan doktrin monoteisme secara eksplisit, jika dikaji asal usul Trinitas itu sendiri. Trinitas hadir jauh setelah wafatnya Yesus di tiang salib. Ia merupakan doktrin dari kesepakatan para uskup dan gerejawan pada konsili Nicea di bawah perintah Raja Konstantin. Dari situlah Konstantin memiliki andil besar untuk memetakan doktrin Trinitas itu sendiri. Faktanya, ia adalah seorang penganut paganisme bukan seorang Kristian. Trinitas sendiri merupakan doktrin pembeda dari agama Yahudi selaku asal muasalnya agama Kristen. Dari sini terlihat, bahwa Trinitas muncul dari usaha manusia, bukan bersandarkan pada kitab suci mereka.
Karena ayat-ayat di dalam Bibel sendiri masih menjadi misteri dan problematik, entah dari sisi keaslian dan penulisan. Sementara Islam, walaupun dianggap sebagai agama yang paling menjaga kemonoteisannya di antara kedua agama sebelumnya, Islam bukanlah penganut monoteisme, karena ia berlandaskan tauhid. Tauhid sangat berbeda dari pengertian monoteisme, baik dari sisi etimologis dan terminologis. Yang menjadi problem kemudian, jika monoteisme disamakan dengan monoteisme dengan tidak hati-hati dan melalui pemahaman mendalam sebelumnya, maka secara tidak langsung akan menyamakan tauhid dengan Trinitas Kristen dan monoteismenya agama Yahudi. Tapi faktanya, ketiga agama tersebut memiliki konsep ketuhanan yang berbeda-beda.

Sebagaimana telah diisyaratkan, ajaran tauhid tidak dikhususkan hanya pada Islam; tetapi para nabi Tuhan semuanya adalah penyeru tauhid:
“Dan tidaklah Kami mengutus  sebelum kamu dari seorang Rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku”. (Qs. al-Anbiyaa [21]: 25)
Berasaskan ayat ini tauhid mernjadi dasar pengajaran ketuhanan dari para nabi. Demikian pula kita membaca dalam surah An-Nahl:
“Dan sungguh Kami telah utus pada setiap ummat bahwa sembahlah Allah dan jauhilah Thagut”. (Qs. an-Nahl [16]: 36)
Amirul mukminin Ali As juga dalam maqam menjelaskan falsafah diutusnya para nabi, berkata:
“Tatkala kebanyakan ciptaan (manusia) menganti perjanjian Allah dengan mereka, maka mereka melupakan hak-Nya, dan mereka mengambil sekutu-sekutu bersama-Nya. Allah mengutus (membangkitkan) di antara mereka utusan-utusan-Nya sehingga mereka meralisasikan hak perjanjian fitrah”.[10]  
Ungkapan Imam Ali As menggambarkan bahwa dalam periode-periode awal sejarah manusia, kebanyakan manusia merusak perjanjian yang Tuhan ikat dengan mereka, dan dengan tidak menghiraukan kedudukan Tuhan, mereka malah menjadi musyrik; sebab itu Tuhan mengutus para nabi-Nya supaya mereka mengingat janji fitrinya tentang tauhid, dan membebaskan mereka dari jerat syirik serta memberi petunjuk mereka pada keimanan tauhid.
Al-Qur’an juga sebagai paling akhir kitab suci yang diturunkan, sangat  menekankan tentang tauhid. Semboyan-semboyan tauhid dengan berbagai ungkapan seperti; “Tidak ada Tuhan kecuali Allah”[11],  “Tidak ada Tuhan kecuali Dia“[12], “Tidak ada Tuhan kecuali Saya“[13], “Tidak ada Tuhan kecuali Engkau“[14], “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu“[15], “Tidak ada Tuhan kecuali Allah“[16], “Tidak ada Tuhan kecuali Tuhan yang satu“[17], “Tidak ada bagi kamu Tuhan kecuali Dia“[18] dan seterusnya puluhan kali diulang-ulang dalam kitab Al-qur’an.
Nabi Muhammad Saw juga dengan perintah Tuhan mengumumkan bahwa dasar risalah beliau adalah mengundang manusia pada tauhid: “Katakanlah bahwa saya diperintahkan hendaklah saya menyembah pada Allah dan saya tidak menyekutukan-Nya. Saya mengajak kepada-Nya dan kepada-Nya tempat kembali”[19], “Katakanlah bahwasanya diwahyukan kepadaku sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu, maka apakah kamu taslim (pada hak)? (Qs. ar-Ra’d [13]: 36)
Para nabi terdahulu juga menanggung risalah seperti ini, sebagai contoh al-Qur’an memperkenalkan risalah Nabi Nuh As semacam ini:
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh pada kaumnya, (Nuh berkata) sesungguhnya aku bagi kamu adalah pengingat yang nyata. Bahwasanya janganlah kamu menyembah kecuali Allah, sesungguhnya aku takut atas kamu azab pada hari pedih”.[20]
Di samping dari ini, al-Qur’an sangat banyak mengungkapkan ayat-ayat dalam menjelaskan tauhid dan cabang-cabangnya yang bermacam-macam, juga efek dari tauhid dan syirik, faktor-faktor kecenderungan manusia pada syirik dan akibatnya, dan sebagainya dimana pada pembahasan akan datang akan kami utarakan satu sudut dari masalah itu.            
Di samping al-Qur’an, riwayat-riwayat para Imam Maksum As  sebagai salah satu dari dua “tsiql” (pusaka berharga) agama, juga mengungkapkan hakikat-hakikat  dalam tentang masalah tauhid. Sebagai contoh, dalam sebagian khutbah-khutbah Nahjul Bal├ógah, terdapat penjelasan-penjelasan tinggi dari Amirul Mukminin Ali As, yang manusia setelah lewat berabad-abad, pemahaman dan pengetahuan masih belum menemukan jalan kedalamannya.
3. Kenapa saya hanya memilih Islam bukan agama yang lain?
Dalam menjalani kehidupan sebagai umat Islam kita wajib tahu mengapa kita memilih agama Islam atau apa alasan kita memeluk agama Islam?

Pertama, karena agama yang benar dan diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
Kedua, karena agama Islam adalah agama yang sempurna.
“Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maaidah: 3)
Ketiga, karena agama yang hanya diterima oleh Allah adalah Islam.
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85)
Ketiga jawaban di atas yang langsung merujuk kepada kitabullah itu sudah lebih dari cukup bahkan sempurna untuk menjadikan kita yakin akan agama yang kita anut. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melaksanakan ajaran agama Islam murni sesuai syariat yang telah ditetapkan Allah terhadap umat Islam. Berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan menjadi suatu keniscayaan.


BAB III
PENUTUP
Ajaran Islam tidak akan pernah selesai untuk dikaji baik orang Islam sendiri maupun orang-orang di luar Islam. Sekarang ini di Barat, khususnya Amerika Serikat, kajian Islam menjadi cukup menarik sehingga di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat muncul kelompok kajian bahkan program studi khusus tentang kajian Islam (Islamic Study). Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Perancis.
Islam juga merupakan agama yang paling tinggi, tidak ada yang melebihinya. Jika sekarang Islam tampil tidak demikian, ini bukan karena ajaran Islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan yang terjadi di muka bumi ini. Islam menjadi mundur dan dilecehkan banyak orang karena umat Islam sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang tidak memahami ajaran Islam yang sebenarnya, sehingga apa yang mereka perbuat justeru merendahkan Islam sendiri.
Karena itu, jadikan Islam sebagai agama sekaligus sumber ajaran yang dapat membawa umat Islam menjadi umat atau bangsa yang berkarakter Islami yang dapat membawa ketinggian dan keluhuran Islam, bukan sebaliknya yang akhirnya malah merusak citra Islam di mata dunia. Pada akhirnya Islamlah yang akan dapat menyelamatkan manusia (umat Islam) dalam menempuh kehidupannya di dunia dan dalam kehidupannya nanti di akhirat.






DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Aqqad, Abbas Mahmud. T.Th. Allah. T.K: Al-Maktabah al- ‘Ashriyyah. Al-Asyqar, Umar Sulaiman. 1991. Al-Tauh}i>d Mih}war al-H{aya>h. Amman: Da>r al-Nafais.
Al-Attas, Syed Muhammd Naquib. 1993. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC.
Albani, Wahbi Sulaiman Gowaji. 1977. Arka>n al-I<ma>n. Damaskus: Muassasah al-Risalah.
Albright, William Foxwell. 1940. From the Stone Age to Christianity Monotheism and the Historical Process. Baltimore: The Johns Hopkins Press.
Ali, Yunasril. 2012. Sufisme dan Pluralisme Memahami Hakikat Agama dan Relasi Agama-agama. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Armstrong, Karen. 2007. Sejarah Tuhan. Bandung: Mizan. Cet. XI.
Assmann, Jan. 2010. The Price of Monotheism. Terj. Robert Savage. Stanford: Stanford University Press.
Bagus, Loren. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Bahri, Media Zainul. 2011. Satu Tuhan Banyak Nama Pandangan Sufistik Ibnu ‘Arabi, Rumi dan Al-Jili. Jakarta: Mizan.
Barclay, Joseph. 1901. Hebrew Literature. New York: The Colonial Press.
Benko, Stephen. 2004. The Virgin Goddess Studies in the Pagan and ChristianRoots of Mariology. Leiden: Brill.
Bloom, Harold. 2005. Jesus and Yahweh the Names Divine. New York: Riverhead Books.

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753