MaZ4MWt7MaR7NWV5NWpaMaFax7ogxTcoAnUawZ==
MASIGNCLEANSIMPLE103

ANALISIS INVESTASI SAHAM DAN RESIKONYA DI BEI PADA SEKTOR PROPERTI




BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor properti sebagai salah satu instrumen usaha biasanya dipilih investor . Properti dan Real Estate merupakan salah satu alternatif investasi yang diminati investor dimana investasi di sektor ini merupakan investasi jangka panjang dan properti merupakan aktiva multiguna yang dapat digunakan oleh perusahaan sebagai jaminan, oleh karena itu perusahaan properti dan real estate mempunyai struktur modal yang tinggi. Harga tanah yang cenderung naik dari tahun ke tahun yang dikarenakan jumlah tanah yang terbatas sedangkan permintaan akan semakin tinggi karena semakin bertambahnya jumlah penduduk dan penentu harga bukanlah pasar tetapi orang (pihak) yang menguasai tanah tersebut membuat industri properti dan real estate ini semakin banyak disukai oleh investor ataupun kreditor (Zarah. 2013). Sektor property dan real estate merupakan sektor yang paling rentan dalam industri makro terhadap fluktuasi suku bunga, inflasi dan nilai tukar yang pada akhirnya akan mempengaruhi pada daya beli masyarakat. Bahkan bagi sebagian orang justru digunakan untuk menyembunyikan dan memutar uang.
Pernyataan tersebut didukung oleh artikel ini : berdasarkan laporan property Asia, pasar sektor real estate di Indonesia naik 12 persen mencapai 5 miliar dolar AS selama pertengahan tahun 2010 dibandingkan periode yang sama tahun2009. Bahkan survei dari Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) memperkirakan pasar property dapat tumbuh 15 persen pada tahun 2010. Data juga menunjukkan sektor properti dan konstruksi di Indonesia memberikan kontribusi 9,3 persen terhadap PDB, serta menyumbang 73 persen terhadap total investasi di Indonesia. Kemudian data Bank Indonesia pada kuartal kedua tahun 2010 pinjaman di sektor properti melalui perbankan nasional mencapai Rp224,7 triliun atau naik 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2009. Kredit rumah dan apartemen naik dari 57 persen menjadi 59 persen. Pemerintah Indonesia juga sangat mendukung penyediaan rumah bagi masyarakatnya melalui PP No. 41 Tahun 1996, serta hal ini didukung kalangan perbank yang sejauh ini memiliki rasio keuangan yang sangat bagus.
Konsep mengenai investor (individu) yang rasional dalam teori pengambilan keputusan bermakna bahwa dalam mengambil keputusan, tindakan yang dipilih adalah tindakan yang akan menghasilkan utilitas (utility) tertinggi yang diharapkan (Puspitaningtyas, 2012; Shahzad dkk., 2013). Investor yang rasional akan melakukan analisis dalam proses pengambilan keputusan investasi. Analisis yang dilakukan antara lain dengan mempelajari laporan keuangan perusahaan, serta mengevaluasi kinerja bisnis perusahaan. Tujuannya ialah keputusan investasi yang diambil akan memberikan kepuasan (utility) yang optimal.
Pengambilan keputusan secara umum merupakan fenomena yang kompleks, meliputi semua aspek kehidupan, mencakup berbagai dimensi, dan proses memilih dari berbagai pilihan yang tersedia. Teori pengambilan keputusan didasari oleh konsep kepuasan, bahwa utilitas merupakan jumlah dari kesenangan atau kepuasan relatif yang dicapai, dengan jumlah ini individu dapat menentukan meningkat atau menurunnya utilitas dalam upaya meningkatkan kepuasan. Berdasarkan konsep ini, setiap tindakan individu bertujuan untuk memaksimalkan jumlah utilitas untuk mencapai kepuasan. Demikian halnya, pengambilan keputusan investasi oleh investor dilakukan secara rasional dalam rangka memaksimalkan utilitasnya. Para investor secara rata-rata memanfaatkan informasi akuntansi keuangan sebagai pertimbangan dalam keputusan investasinya (Prasetyo, 2012:3)
Pada umumnya, dalam proses pengambilan keputusan investasi, investor mempertimbangkan faktor informasi akuntansi. Informasi akuntansi diprediksi memiliki nilai relevansi, karena informasi akuntansi secara statistik berhubungan dengan nilai pasar. Relevansi nilai informasi akuntansi didefinisikan sebagai kemampuan menjelaskan (explanatory power) nilai suatu perusahan berdasarkan informasi akuntansi. Relevansi nilai diarahkan untuk menginvestigasi hubungan empirik antara nilai-nilai pasar saham (stock market values) dengan berbagai angka (nilai) informasi akuntansi yang dimaksudkan untuk menilai manfaat angka-angka tersebut dalam penilaian fundamental perusahaan (Puspitaningtyas, 2012).  Dengan adanya aspek perilaku investor tersebut, maka aspek psikologis investor menjadi sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan investasi. Seperti, persepsi investor terhadap keuntungan perusahaan di masa depan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perusahaan Real Estate dan Properti
Perusahaan properti dan real estate adalah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan berbagai keperluan konsumen berupa rumah dan property lainnya. Perusahaan ini biasanya membantu para konsumen yang tengah mencari dan membutuhkan sebuah hunian atau apapun yang berhubungan dengan property dan keperluan lainnya.
Jenis bantuan yang diberikan perusahaan properti dan real estate kepada konsumen bisa berupa penyediaan sebuah rumah hunian baru atau sekadar memberikan jasa pencarian rumah yang sudah jadi. Dewasa ini banyak sekali perusahaan real estate yang tersebar di berbagai kota dan daerah. Kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan sebuah hunian yang nyaman dan dengan berbagai kemudahan menjadi dasar mengapa perusahaan real estate semakin banyak dan terus berkembang. Namun, tidak semua perusahaan real estate dikenal dan dipilih oleh masyarakat.
Pada umumnya, masyarakat atau para calon konsumen pencari hunian baru hanya akan memilih perusahaan yang besar dan memiliki kredibilitas yang bagus dalam bisnis real estate. Di Indonesia sendiri, Ciputra Group dan Agung Podomoro Group merupakan sebagian contoh perusahaan properti dan real estate yang memiliki kredibilitas yang baik.
2.2 Pasar Modal
Menurut Lukman (2009:4), stock exchange atau stock market adalah “an organized market or exchange where shares (stocks) are traded” yaitu suatu pasar yang terorganisir di mana berbagai jenis efek-efek diperdagangkan. Sedangkan menurut Sundjaja (2003:21), “Pasar modal adalah tempat terjadinya transaksi asset keuangan jangka panjang atau long-term financial asset”. Jenis surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun. Bentuk umum surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal adalah obligasi, saham preferens, dan saham biasa. Setiap jenis instrument pasar modal tersebut merupakan bukti kepemilikan modal dari lembaga yang mengeluarkannya yang dapat diperjualbelikan. Pemegang instrument pasar modal mengharapkan memperoleh keuntungan dengan menahan instrument tersebut.
Pada dasarnya pasar modal hampir sama dengan pasar – pasar lain. Untuk setiap pembeli yang berhasil, selalu ada penjual yang berhasil. Jika jumlah orang yang ingin membeli lebih banyak dibandingkan dengan orang yang ingin menjual, harga akan menjadi semakin tinggi dan bila tidak ada seorang pun yang ingin membeli dan banyak yang mau menjual maka harga akan jatuh. Yang membedakan pasar modal dengan pasar lain adalah dalam hal komoditas yang diperdagangkan. Pasar modal dapat dikatakan sebagai pasar abstract, karena yang diperjual belikan adalah dana – dana jangka panjang, yaitu dana yang keterkaitannya dalam investasi lebih dari satu tahun.
Pasar uang dan pasar modal berkembang dengan pesat, baik dalam bentuk saham maupun instrument hutang. Banyak perusahaan yang relative kuat tidak lagi menggantungkan dana kepada bank, mereka memandang pasar modal sebagai alternatif pembiayaan yang sering sekali dianggap lebih murah serta lebih menguntungkan dari debt to equity ratio. Pasar modal sebagai pesaing bank dalam perannya adalah sebagai sumber pembiayaan maupun sebagai sumber investasi. Keterlibatan bank dalam pasar modal menjadi masalah yang cukup menarik, karena di satu sisi diharapkan akan menimbulkan sinergi antara perbankan dan pasar modal dalam membiayai pembangunan.
Tujuan dibentuknya pasar modal adalah untuk mempermudah dunia usaha memperoleh sebagian atau seluruh pembiayaan jangka panjang yang diperlukan. Selain itu pasar modal juga dimaksudkan untuk meratakan hasil – hasil pembangunan melalui kepemilikan saham – saham perusahaan serta penyediaan lapangan kerja dan pemerataan kesempatan usaha. Dalam hubungannya dengan kepemilikan saham melalui pasar modal masyarakat dapat ikut menikmati keberhasilan perusahaan melalui pembagian dividen dan peningkatan harga saham yang diharapkan.
Di sisi lain, pasar modal juga merupakan salah satu indikator ekonomi yang utama yang dapat digunakan oleh lembaga baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, keberadaan pasar modal dapat membuka kesempatan berusaha baik bagi emiten maupun lembaga penunjang pasar modal. Menurut Na’im (2010:10), Perkembangan pasar modal pada prinsipnya tertumpu pada dua hal yaitu; (1) efisiensi sistem pasar modal dan (2) kualitas produk yang diperdagangkan di pasar modal. Kedua kriteria ini merupakan kriteria utama yang menentukan berhasil tidaknya pasar modal sebagai alternatif pembiayaan perusahaan.
Salah satu keunggulan penting yang dimiliki pasar modal dibandingkan dengan bank adalah bahwa mendapatkan dana sebuah perusahaan tidak perlu menyediakan agunan, sebagaimana dituntut oleh bank. Hanya dengan menunjukkan prospek yang baik, maka surat berharga perusahaan tersebut akan laku dijual di pasar. Disamping itu dengan memanfaatkan dana pasar modal, perusahaan tidak perlu menyediakan dana setiap bulan atau setiap tahun untuk membayar bunga. Sebagai gantinya perusahaan harus membayar dividen kepada investor. Hanya saja tidak seperti bunga di bank yang harus disediakan secara periodik dan teratur, entah perusahaan dalam keadaan merugi ataupun untung. Keunggulan tersebutlah yang dinikmati emiten, bagi investor yang menginvestasikan dananya di pasar modal. Pasar modal juga memberikan keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh bank, yaitu berupa pembayaran dividen yang bukan tidak mungkin bisa melampaui jumlah bunga yang dibayarkan oleh pihak bank atas nilai investasi yang sama, sekalipun keuntungan ini diiringi resiko  yang tinggi. Bila perusahaan sedang merugi misalnya, maka investor tidak akan mendapatkan hak dividennya.
2.3 Saham
Menurut Moeljadi (2006:45), Saham adalah tanda bukti memiliki perusahaan di mana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang saham (shareholder atau stockholder). Bukti bahwa seseorang atau suatu pihak dapat dianggap sebagai pemegang saham adalah apabila mereka sudah tercatat sebagai pemegang saham atau dalam buku yang disebut Daftar Pemegang Saham (DPS). Pada umumnya, DPS disajikan beberapa hari sebelum Rapat Umum Pemegang Saham diselenggarakan dan setiap pihak dapat melihat DPS tersebut. Bukti bahwa seseorang adalah pemegang saham juga dilihat pada halaman belakang lembar saham apakah namanya sudah diregistrasi oleh perusahaan (emiten) atau belum. Adapun jenis – jenis saham menurut Moeljadi  (2006 : 45) adalah sebagai berikut :
1. Saham preferen (preferred stock) adalah jenis saham yang memiliki hak terlebih dahulu untuk menerima laba dan memiliki hak laba kumulatif. Hak kumulatif adalah hak untuk mendapatkan laba yang tidak dibagikan pada suatu tahun yang mengalami kerugian, tetapi akan dibayar pada tahun yang mengalami keuntungan, sehingga saham preferen akan menerima laba dua kali. Hak istimewa ini diberikan kepada pemegang saham preferen karena merekalah yang memasok
dana perusahaan sewaktu mengalami kesulitan keuangan.
2. Saham biasa (common stock) adalah jenis saham yang akan menerima laba setelah laba bagian saham preferen dibayarkan. Apabila perusahaan bangkrut, maka pemegang saham biasa yang menderita terdahulu. Penghitungan indeks harga saham didasarkan pada harga saham biasa. Hanya pemegang saham biasa yang mempunyai suara dalam RUPS.
Menurut keown (2011:330) kelebihan dan kelemahan saham preferen dan saham saham biasa adalah :
1. Saham preferen. Dari sisi perusahaan mengeluarkan saham preferen manfaat utama yang diperoleh adalah bahwa pembayaran dividen atas saham preferen relatif lebih fleksibel dibandingkan dengan bunga utang. Ketidakmampuan pembayaran dividen kepada pemegang saham preferen tidak berakibat terlalu buruk dibandingkan dengan ketidakmampuan membayar bunga utang yang dapat diancam bangkrut. Sedangkan kelemahan utama penggunaan saham preferen adalah biaya modal setelah pajak yang tinggi dibandingkan dengan biaya modal dari utang, karena dividen saham preferen dibayar setelah pajak atau tidak dapat dipergunakan sebagai pengurang pajak.
2. Saham biasa. Manfaat utama penggunaan saham biasa untuk memenuhi kebutuhan dana perusahaan adalah tidak adanya kewajiban tetap untuk membayar dividen kepada pemegang saham biasa. Keuntungan lain adalah saham biasa tidak memiliki jatuh tempo. Dengan demikian memberikan fleksibilitas yang tinggi kepada manajemen untuk mengelola dana yang diperoleh dari emisi saham biasa. Sedangkan kelemahannya adalah saham biasa memiliki biaya modal yang paling tinggi dibandingkan dengan sumber dana jangka panjang lainnya karena investor meminta tingkat keuntungan yang lebih besar daripada tingkat keuntungan obligasi maupun saham preferen.
Setiap investor yang melakukan investasi saham memiliki tujuan yang sama, yaitu mendaptkan capial gain, yaitu selisih positif antara harga jual dan harga beli saham dan dividen tunai yang diterima dari emiten karena perusahaan memperoleh keuntungan. Apabila harga jual lebih rendah dari harga beli saham, maka investor akan menderita kerugian atau disebut capital loss. Selain memiliki tujuan yang sama, investor juga memiliki tujuan yang berbeda, yaitu untuk mendaptkan keuntungan jangka pendek dan keuntungan jangka panjang. Investor membeli pada pagi hari dan segera menjual pada saat harga naik, yang kenaikannya melebihi biaya transaksi jual beli pada hari yang sama atau dalam beberapa hari berikutnya. Investor semacam ini lebih tepat disebut sebagai spekulator atau day trader. Investor yang sebenarnya adalah yang membeli saham untuk jangka panjang, yaitu untuk disimpan dan dijual setelah beberapa bulan.
2.4 Risiko Investasi
2.4.1 Pengertian Risiko Investasi
Alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh keuntungan. Dalam konteks manajemen investasi, tingkat keuntungan investasi disebut sebagai return. Suatu hal yang wajar jika investor menuntut tingkat pengembalian tertentu atas dana yang diinvestasikannya. Return yang diharapkan investor dari investasi yang dilakukannya merupakan kompensasi atas biaya kesempatan (opportunity cost) dan risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi. Seorang investor perlu membedakan antara return yang diharapkan (expected return), dengan return yang aktual (actual return). Antara tingkat pengembalian yang diharapkan dan tingkat pengembalian yang aktual yang diperoleh investor sangat mungkin berbeda dan perbedaan inilah yang merupakan risiko yang harus selalu dipertimbangkan oleh investor sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
Artinya bahwa risiko adalah kemungkinan kerugian atau lebih formal diartikan sebagai variabilitas pengembalian yang terkait dengan aset yang diserahkan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa risiko adalah suatu kemungkinan dimana investor tidak mendapatkan return yang sesuai dengan harapannya.

2.1.2 Jenis-Jenis Risiko Investasi
Adapun jenis-jenis risiko yang mungkin dihadapi oleh para investor dalam melakukan kegiatan investasi seperti yang dikemukakan oleh Gultom  (2012:4) diantaranya :
1. Business risk
Kemungkinan kerugian yang diderita perusahaan karena keuntungan yang diperoleh lebih kecil dari keuntungan yang diharapkan. Business risk ini berkaitan dengan cakupan usaha perusahaan.
2. Financial risk
Risiko yang timbul dari cara perusahaan membiayai kegiatannya, misalnya penggunaan utang dalam membiayai aset perusahaan.
3. Liquidity risk
Adanya ketidakpastian yang timbul pada saat sekuritas berada di pasar sekunder. Risiko ini berkaitan dengan kecepatan pembelian/penjualan suatu aset serta tingkat harga yang terbentuk dalam transaksi tersebut.
4. Exchange Rate Risk
Risiko ini berkaitan dengan fluktuasis nilai tukar mata uang domestik dengan nilai mata uang negara lainnya. Risiko ini biasanya dihadapi oleh investor internasional atau perusahaan yang menggunakan mata uang asing dalam kegiatan operasionalnya maupun pendanaan.
5. Country Risk
Risiko ini berkaitan dengan kestabilan politik serta kondisi lingkungan perekonomian di suatu negara. Kemudian Santosa (2009:8) menjelaskan pula mengenai risiko investasi. Menurutnya risiko investasi ada tujuh, yaitu :
1. Risiko Inflasi (Inflation Risk)
Risiko inflasi terjadi bila ada peningkatan harga barang/jasa akan menurunkan nilai mata uang.
2. Risiko Pasar (Market Inflation)
Risiko ini terjadi bila penurunan harga saham terjadi maka akan mengakibatkan capital loss. Risiko ini muncul sebagai akibat dari variability return pasar yang disebabkan oleh terjadinya bear /bull market karena adanya kondisi ekonomi yang terus berubah-ubah.
3. Risiko Sektoral
Risiko ini dipengaruhi oleh kinerja usaha industri-industri yang tergabung dalam suatu sektor yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (life cycle), kondisi peraturan dan iklim usaha.
4. Risiko Tingkat Suku Bunga (Interest Rate Risk)
Risiko ini muncul dari perubahan dalam tingkat suku bunga yang ada di pasar. Risiko tingkat suka bunga mempunyai pengaruh yang sama terhadap surat berharga. Perubahan tingkat suku bunga ini akan menyebabkan terjadinya fluktuasi harga surat-surat berharga.
5. Risiko Kredit ( Credit Risk)
Risiko timbul jika perusahaan menerbitkan efek hutang dan instrumen pasar
yang tidak mampu untuk membayar pokok hutang dan bunga tertunggak.
6. Risiko Mata Uang (Currency Risk)
Risiko ini timbul apabila terjadi perubahan nilai mata uang negara asing dibandingkan dengan mata uang domestik sehingga akan mengurangi tingkat hasil dari investasi asing. Hal ini terjadi karena nilai mata uang asing itu menurun sehingga nilai investasi langsungnya menjadi lebih kecil.
7. Assets Class Risk
Saham obligasi, dan kas (atau instrumen pasar yang lainnya) merupakan tiga kelas aset yang paling utama. Jika seorang investor tidak berimbang dalam melakukan diversifikasi terhadap investasinya, dengan demikian risikonya akan semakin mengecil.
Dengan adanya risiko-risiko investasi di atas, maka investor dituntut untuk berhati-hati dan melakukan analisa yang matang. Informasi yang lengkap dan pemahaman yang komprehensif akan membantu investor dalam melakukan keputusan instrumen investasi apa yang paling tepat untuknya.
2.5 Perilaku Investor di Pasar Modal
Investor di pasar modal adalah investor yang beragam. Keberagaman tersebut dikontribusikan oleh beberapa aspek, yaitu: motivasi investasi, daya beli (purchasing power) terhadap sekuritas, tingkat pengetahuan dan pengalaman investasi, serta perilaku investasi. Keberagaman tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan tingkat keyakinan (confidence) dan harapan (expectation) atas return dan risk dari kegiatan investasi. Adanya keberagam inilah yang sesungguhnya mendorong terjadinya transaksi (FIn, 2012:5). Disinilah pentingnya memahami perilaku keuangan (behavioral finance).
Perilaku keuangan merupakan sebuah model yang menekankan implikasi potensial dari faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku investor. Kemunculannya didorong oleh dugaan bahwa teori keuangan konvensional kurang memperhatikan bagaimana investor  sebenarnya membuat keputusan investasi. Berbagai teori dan model keuangan mengasumsikan bahwa investor selalu berperilaku rasional dalam proses pengambilan keputusan investasi. Investor diasumsikan mau dan mampu menerima dan menganalisis semua informasi yang tersedia berdasarkan pemikiran rasionalitasnya. Akan tetapi, dalam kenyataannya investor seringkali menunjukkan perilaku yang bersifat irasional (cenderung bersifat judgment), sehingga keadaan ini menyimpang dari asumsi rasionalitas dan memiliki kecenderungan bias. Perilaku keuangan bertujuan menginvestigasi karakteristik emosional investor untuk menjelaskan faktor subyektif dan anomali irasional dalam pasar modal.
Perilaku investor sangat dipengaruhi oleh infomasi yang diterima. Sebab, informasi adalah bersifat individu. Artinya, individu mungkin akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap sumber informasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa individu menerima informasi dan merevisi keyakinan secara berurutan dalam proses berkelanjutan melalui penerimaan informasi yang terkandung dalam laporan keuangan dan juga dari sumber informasi lain seperti media, dan pengumuman lain yang dapat mempengaruhi keputusannya. Sehubungan dengan hal tersebut sebagai sumber informasi, laporan keuangan adalah penyedia informasi akuntansi yang relevan dan reliabel. Bahwa, informasi yang bermanfaat (information usefulness) bagi pengambilan keputusan lebih menekankan pada isi atau kandungan informasi (content of information) serta ketepatan waktu dalam memberikan keyakinan bagi investor atau mengubah keyakinan awal (prior belief) pengguna laporan keuangan agar segera bereaksi dan informasi ini bersaing dengan sumber informasi lain (Sudana, 2011:34).
Pada dasarnya, informasi telah tersedia di pasar. Namun demikian, investor akan menerima dan menganalisis informasi yang tersedia dengan cara beragam. Sebagian besar teori yang berkaitan dengan pasar modal didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang  memperhitungkan keseluruhan dari semua informasi yang tersedia di pasar dan berperilaku dengan rasionalitas (Syamsudin, 2009:43).
Menurut (Gultom, 2012:7) menyatakan bahwa terdapat dua tipe investor dalam mencerna suatu informasi, yaitu informed investors dan uninformed investors. Informed investors ialah investor yang dapat menangkap informasi yang tersedia yang berkaitan dengan proses perdagangan serta mengetahui kapan melakukan keputusan beli atau jual di semua peristiwa.
Uninformed investors ialah investor yang kurang (tidak) mempunyai kesadaran atau kemampuan untuk menangkap serta memanfaatkan informasi yang tersedia. Natapura (2009) menyebutkan ada tiga tipe investor, yaitu: (1) tipe intuitif, adalah tipe investor yang mengambil keputusan berdasarkan insting, cenderung bertindak berdasarkan perasaan; (2) tipe emosional, adalah seseorang yang bertindak berdasarkan emosi, memiliki kecenderungan untuk memilih informasi yang mendukung tindakan atau opininya dan akan mengabaikan informasi yang tidak menyenangkan bagi dirinya. Investor tipe ini akan mengabaikan transaksi yang memiliki risiko yang tidak dapat diperhitungkan; dan (3) tipe rasional, adalah seseorang yang berfokus kepada alasan dibalik sesuatu, memiliki kecenderungan untuk menunda pengambilan keputusan. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketidakpastian, hingga diperoleh penjelasan yang rasional. Berupaya untuk dapat mengendalikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku pelaku pasar di masa depan yaitu informasi dan peramalan. Hal ini dilakukan dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Tujuan kegiatan investasi yang dilakukannya ialah bukan untuk memperoleh keuntungan secara cepat, melainkan peningkatan investasi yang tetap, dalam kurun waktu yang relatif lama (jangka panjang). Investor ini bersedia mengambil risiko jika diketahui bahwa investasi tersebut tidak memberikan keuntungan dalam jangka pendek, namun aman untuk jangka panjang. Jika tujuannya tidak dapat dicapai dengan tingkat risiko tertentu (atau bahkan tanpa risiko), maka setidaknya risiko tersebut harus dapat dikendalikan.







BAB III
PEMBAHASAN

Salah satu persyaratan pengambilan keputusan investasi ialah ketersediaan informasi. Persoalannya ialah informasi yang tersedia tidak semuanya relevan dengan kepentingan dan tujuan tiap-tiap investor. Sementara para investor dituntut untuk dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Sebab, apabila terlambat atau salah dalam mengambil keputusan maka akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan. Untuk itulah, investor perlu melakukan analisis informasi dalam proses pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan investasi juga terkait erat dengan perilaku investor. Perilaku merupakan evaluasi, perasaan, kecenderungan seseorang terhadap sesuatu. Perilaku menempatkan seseorang pada kerangka berpikir untuk mendekatkan diri dan menyukai sesuatu, atau menjauhkan diri dan tidak menyukai sesuatu. Prasetyo dkk. (2012:3) menyatakan bahwa perilaku investor terkait dengan pemilihan terhadap berbagai produk investasi dan bagaimana tindakan aktif investor dalam pasar modal.
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa investor dalam proses pengambilan keputusan investasi mempertimbangkan informasi akuntansi (fundamental) perusahaan. Akan tetapi, faktor psikologi investor yang tercermin sebagai sinyal pribadi lebih mendominasi. Jadi, meskipun hasil analisis empirik menunjukkan bahwa pengaruh informasi akuntansi terhadap nilai-nilai pasar adalah tidak konsisten, namun responden menyatakan bahwa informasi akuntansi yang disajikan oleh perusahaan tetap menjadi pertimbangan penting dalam proses pengambilan keputusan investasi.
Sinyal pribadi lebih mendominasi investor sebagai pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan investasi, sebab investor memiliki kecenderungan psikologis untuk lebih mempertimbangkan sinyal pribadi dibandingkan sinyal publik. Fenomena psikologis tersebut mengakibatkan harga saham tidak mencerminkan harga (nilai) wajarnya. Responden berpendapat bahwa pasar modal Indonesia berada dalam kondisi yang tidak efisien, manajer  dapat memilih waktu yang tepat untuk menerbitkan saham, yaitu pada saat harga cukup tinggi di atas nilai wajarnya. Artinya, nilai pasar cenderung dikendalikan oleh pelaku pasar dan tidak mencerminkan nilai wajarnya.
Sinyal pribadi tersebut menimbulkan adanya sentimen investor. Sentimen investor merupakan hasrat investor untuk bertransaksi berdasarkan informasi akuntansi (fundamental) perusahaan. Akibat adanya sentimen investor ialah dana investor mengalir pada sekuritas yang tidak memberikan return maksimum pada tingkat risiko tertentu. Efisiensi sebuah pasar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) pasar yang efisien secara operasional (efisien secara internal) dan (2) pasar yang efisien dalam penetapan harga (efisien secara eksternal). Pasar disebut efisien secara operasional jika para investor dapat memperoleh jasa transaksi yang mencerminkan biaya nyata yang berhubungan dengan meningkatkan jasa-jasa tersebut. Sedangkan, pasar modal yang efisien dalam penetapan harga adalah pasar dimana harga-harga pada segala waktu mencerminkan semua informasi yang tersedia yang sesuai dengan penilaian sekuritas. Tersedianya informasi yang akurat dan terpercaya bagi seluruh investor menjadi kebutuhan awal untuk pasar modal yang efisien dalam penetapan harga. Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan harga sama dengan factor dalam informasi yang masuk ke dalam pasar (Na’im, 2010:33). Namun yang terjadi pada harga saham di BEI adalah harga tidak mencerminkan ketersediaan informasi. Berbagai macam pelaku pasar yang tidak memiliki sumber informasi memainkan dan mengacaukan harga saham.
Perilaku para investor tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan yang menjadi dasar dari keinginan manusia, tujuan, dan motivasi. Selain itu, kebutuhan akan sesuatu juga dapat menjadi dasar dari kesalahan-kesalahan manusia yang berakar dari persepsi pribadi, percaya diri, ketergantungan kepada peraturan, dan emosi. Menurut Sudana (2011:88) mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisir, dan menginterpretasikan informasi  untuk membentuk sesuatu yang berarti. Cara seseorang bertindak dipengaruhi oleh persepsinya yang berbeda-beda mengenai situasi tertentu. Setiap orang membentuk persepsi secara berbeda-beda.
Persepsi yang berbeda, walaupun berasal dari stimulus yang sama, dikarenakan tiga proses persepsi, yaitu: (1) selective attention, merupakan kecenderungan dimana seseorang akan melewatkan sebagian besar stimulus yang dihadapkan; (2) selective distortion, merupakan kecenderungan seseorang untuk mengartikan informasi dengan cara tertentu yang akan mendukung sesuatu yang dipercaya sebelumnya; dan (3) selective retention, merupakan kecenderungan seseorang akan mempertahankan informasi yang mendukung kepercayaan dan perilakunya (Keown, 2011:76).
Karakteristik sebagian investor Indonesia akan turut menentukan faktor apa yang berperan penting dalam proses pengambilan keputusan. Studi ini mengelompokkan investor dalam dua tipe, yaitu: (1) investor rasional dan (2) investor tidak (kurang) rasional. Investor rasional akan berusaha menganalisis seluruh informasi yang diperolehnya dalam proses pengambilan keputusan investasi, baik informasi akuntansi (sebagai sinyal publik) maupun sinyal pribadi. Sedangkan, investor yang tidak (kurang) rasional, akan mengambil keputusan investasi dengan (hanya) berpedoman pada sinyal pribadi (seperti: naluri, ikut-ikutan, tidak terbiasa menganalisis detail situasi dan kondisi sektor usahanya, bahkan percaya pada aspek mistik dari investasi yang ditawarkan). Hal ini sangat berbahaya bagi kelangsungan investasinya. Jika keputusan yang diambil hanya berdasarkan pertimbangan yang tidak rasional, maka keuntungan dan/ atau kerugian yang diperoleh juga akan bersifat tidak rasional (irasional).
Peristiwa ekonomi senantiasa berdampak pada perusahaan baik secara individu maupun keseluruhan. Dampak kejadian ekonomi pada perusahaan dengan anggapan bahwa suatu peristiwa akan tercermin pada perdagangan harga saham. Bagaimana harga saham   merespon informasi suatu kejadian selama pemberitaan kepada publik. Laju reaksi harga saham terhadap informasi yang disampaikan selama pemberitaan apakah akan berlangsung secara searah ataukah secara berlawanan arah.
Investor (calon investor) harus mengetahui keadaan serta prospek perusahaan yang menjual saham. Hal ini dapat diperoleh dengan mempelajari dan menganalisis informasi akuntansi yang relevan. Semua informasi dikatakan relevan apabila informasi tersebut mampu mempengaruhi keputusan investor untuk melakukan transaksi di pasar modal yang tercermin pada perubahan harga.
Investor juga seharusnya fokus pada hal-hal penting berkaitan dengan keputusan yang akan diambil. Tiap-tiap investor memiliki ketersediaan informasi yang sama. Persepsi seseorang akan mempengaruhinya dalam mengambil keputusan. Kecenderungannya investor akan bertindak/ bergerak sesuai dengan persepsinya. Misalnya, jika Anda mempersepsikan harga saham A akan naik, maka kecenderungannya Anda akan bertindak/ bergerak untuk memperoleh informasi yang akan mendukung prediksi berdasarkan persepsi Anda tersebut



BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa investor (calon investor) cenderung berperilaku rasional. Investor (calon investor) perlu mempertimbangkan informasi secara jelas atas suatu peristiwa ekonomi jika akan melakukan pengambilan keputusan investasi. Pertimbangan tersebut dilakukan untuk dapat memperkirakan keterkaitan informasi tersebut dengan perubahan harga saham. Pasar menyajikan beragam informasi dan seharusnya investor menganalisis beragam informasi tersebut. Sebelum pada tahapan pemanfaatan informasi untuk mengambil keputusan, investor akan terlebih dahulu melakukan pencarian informasi secara aktif dan terus-menerus.
Rekomendasi BEI tergolong sebagai pasar yang tidak efisien dimana masih banyak terdapat perdagangan yang tidak sinkron dengan informasi yang tersedia, sehingga harga tidak sepenuhnya mencerminkan nilai saham. Disinilah diperlukan kedewasaan investor dalam berperilaku. Diharapkan semua investor berperilaku secara rasional dan tidak mengacaukan pasar hanya karena mengutamakan pertimbangan sinyal pribadi. Untuk itu diperlukan penelitian yang akan menghasilkan suatu model tentang pembentukan BEI sebagai pasar modal yang efisien, sehingga diharapkan perilaku investor dalam pengambilan keputusan investasi tidak didominasi rumour.
Saran
1. Dalam rangka mengembangkan dan memasyarakatkan pasar modal melalui reksa dana dengan mengharapkan partisipasi masyarakat (investor kecil) untuk ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan berinvestasi di pasar modal perlu difasilitasi informasi yang lengkap, cepat dan terjangkau kepada masyarakat luas tentang manfaat dan cara melakukan investasi saham di pasar modal. Kegiatan ini dapat ditempuh melalui pendidikan formal maupun informal.
2. Pemerintah diharapkan dapat mempertahankan stabilitas ekonomi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, terutama di bidang moneter dalam jangka panjang sehingga iklim investasi yang kondusif tetap dapat terwujud.
3. Diperlukannya peran pemerintah secara lebih dalam proses deregulasi moneter terutama dalam kebijakan menaikan ataupun menurunkan suku bunga deposito dan suku bunga kredit, disebabkan telah terbukti didalam penelitian secara empiris bahwa faktor makro ini tetap memiliki pengaruh paling besar dibandingkan faktor makro lainnya seperti PDB, Nilai Tukar Rupiah (Valas) dan Inflasi.
4. Bagi investor maupun calon investor serta para pelaku pasar modal yang akan melakukan kegiatan investasi khususnya investasi saham pada sektor properti agar lebih memperhatikan tingkat suku bunga deposito yang berlaku. Disamping itu tidak lupa ataupun mengabaikan faktor mikro seperti Struktur Modal dan Rasio Likuiditas, disebabkan kedua faktor mikro ini juga mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat risiko investasi saham pada sektor properti.
5. Bagi peneliti ataupun akademisi lain yang hendak melanjutkan atau mengembangkan penelitian yang sudah ada khususnya mengenai lingkungan tingkat risiko investasi saham pada sektor properti, diharapkan dapat menambah jumlah unit penelitian serta rentang atau periode penelitian yang akan digunakan sehingga keragaman hasil penelitian dapat terwujud dan dapat memberikan hasil analisis penelitian terbaru.







DAFTAR PUSTAKA
Fin, F Maurice Peat. THE IMPACT OF RESIDENTIAL PROPERTY INVESTMENT on portfolio performance. JASSA The Finsia Journal of Applied Finance. II (Maret, 2012), hal. 1-8.
Gultom, Hafsari Indri dan Khaira Amalia Fakhrudin. “ANALISIS RISIKO SAHAM PERUSAHAAN REAL ESTATE DAN PROPERTY DI BURSA EFEK INDONESIA”. Jurnal Manajemen FE USU. II (Desember, 2012), hal. 1-13.
Keown, Arthur J dan John D Martin et al. 2011. Manajemen Keuangan: Prinsip dan Penerapan. Terjemahan oleh Marcus Prihminto Widodo. Jilid 1. Edisi Kesepuluh. Jakarta: PT. Indeks.
Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan 1: Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Edisi Pertama. Malang: Bayumedia Publishing.
Na’im, Ainun (2010) Pengambilan Keputusan, Pertimbangan dan Bias. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada.
Puspitaningtyas, Zarah. “PERILAKU INVESTOR DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI DI PASAR MODAL. Conference Paper. Universtitas Jember. Jember. 2013
Prasetyo, Dimas, dkk. “ PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI DAN KEPUTUSAN PENDANAAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi pada Perusahaan Sektor Properti dan Real Estate yang Terdaftar di BEI Periode Tahun 2009-2011) “, Jurnal Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, I (November, 2012), hal. 1-5
Santosa, Heru Antonius. “ANALISIS RISIKO INVESTASI SAHAM PADA SEKTOR PROPERTI DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2003-2008”. Jurnal Universitas Gunadarma. I (maret, 2009), hal. 1-15.
Sudana, I Made. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan: Teori dan Praktik. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sundjaja, Ridwan dan Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan Satu. Edisi Kelima. Jakarta: Literata Lintas Media.
Syamsuddin, Lukman. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi dalam: Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan. Edisi Kesepuluh. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Share This Article :
ZAIF

Blogger sejak kuliah, internet marketer newbie

709486726018093753